Mengenalkan Konsep Rezeki kepada Anak lewat ASI

Saya pikir awalnya sulit untuk mengenalkan konsep rezeki kepada anak, terutama balita yang masih 15 bulan. Tapi setelah menjelajah internet, baca blog ibu-ibu lainnya, saya jadi menemukan ide segar.

Saat sedang menyusu malam ini, baby K menempel pada saya kemudian saya berkata kurang lebih seperti ini, berharap K mendengarkan dan mengerti apa yang saya ceritakan. Semoga.

“K tau ga, mimi ini datangnya dari mana? Dari ibu? Bukan. Mimi ini datangnya dari Allah. Lewat ibu. K enak kalau mimi langsung ada. K haus, ibu datang. K lapar, ibu datang. Alhamdulillah ya. Terima kasih Allah. K masih diberi rezeki dengan mudah sama Allah. K harus bersyukur. Masih banyak bayi lain yang ga bisa langsung mimi kayak gini.”

Dia pun tetap enjoy saja minum Air Susu Ibu (ASI). Sambil menyusu, kepalanya saya elus-elus. Berusaha memanfaatkan waktu yang ada bersama K. Siapa yang tahu, mungkin saja nantinya saya tidak diberi kesempatan lagi untuk sedekat ini dengan K. Jadi saya mau menghabiskan waktu dengan maksimal bersamanya.

Kemarin K habis sakit panas 2 hari. Datangnya tiba-tiba saja. Saya bawa ke dokter, niatnya untuk imunisasi MR (Measles Rubella), tapi kok kondisinya belum sehat dan direkomendasikan dokter RS bahwa dia ikut imunisasinya tanggal 27 September saja. 

Saat ini alhamdulillah kondisinya sudah membaik. Miminya juga makin sering. Alhamdulillah Allah telah menganugerahkan ASI yang cukup untuknya. 

Kalau dihitung-hitung, jika membeli susu kaleng 1 bulan 10 kaleng @ 100ribuan, berapa jumlah uang yang habis selama 2 tahun untuk anak minum susu saja? Belum dotnya, pembersih dot, dan lain-lain. Hayo coba hitung. 24 juta rupiah ya kira-kira… Wah lumayan itu buat beli 2 laptop mac bekas. Hehehe. Tapi bagian hitung-hitungan ini saya ceritakan ke suami, bukan ke anak saya, ngapain juga hehe. 

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, ASI memang ajaib. Dia datang ketika diminta oleh bayi. Dia menjadi sarana banyak pembelajaran bagi ibu dan anak. Dia menjadi satu-satunya makanan yang masuk ke tubuh di 6 bulan pertama kehidupan bayi. Masyaa Allaah.

Begitulah sedikit cerita tentang ASI dan rezeki. Semoga bayiku yang belum paham ini suatu saat bisa paham akan konsep rezeki, yang tidak selalu berupa uang. Rezeki sudah dijamin oleh Allah.

Aktivitas menyusui juga bisa jadi satu sarana menumbuhkan fitrah keimanan anak, lho. Contohnya seperti dialog saya dengan K di atas. Eh monolog, ding, kan si K belum ikut menjawab :))

Soal ASI, kalau ibu bahagia, atas izin Allah ASI akan lancar. Jadi, percaya diri dan terus berdoa pada Allah agar stok ASInya cukup, Moms!

Semoga para ibu di seluruh dunia bisa menyusui anaknya selama dua tahun penuh dan melakukan inisiasi menyusu dini langsung setelah kelahiran bayi, ya. Aamiin. Selamat mengASIhi!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: