Menjadi Ibu Bahagia Apa Adanya Bukan Seadanya #1 [by: Kiki Barkiah]

Bahagia itu …..

“Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih), Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.”(QS. Hud: 106-108)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, bagi mereka surga-surga yang penuh kenikmatan (8) Kekal mereka didalamnya; sebagai janji Allah yang benar. Dan dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (9) Q.S Luqman 8-9

Bahagia itu….
ketika semua kerja, pengorbanan, perjuangan, ikhtiar, kesakitan, kelelahan, air mata bahkan kekecewaan, kesedihan dan kemarahan saat menjalankan peran ibu, dibalas oleh Allah dengan surga.

Menjadi ibu bahagia apa adanya, bukan seadanya

Apa adanya itu berbeda dengan seadanya.

Hindari berfikir “ya mau diapain lagi, gua kan emang begini”
Ini cara berfikir ibu seadanya

Kenapa jangan seadanya?
1. Seadanya ilmu –> Gak mau belajar
2. seadanya pengamatan –> tidak mau menggali hikmah, tidak mau melihat masalah secara komperhensif
3. seadanya pandangan –> tidak mau melihat sudut pandang orang lain
4. seadanya kemampuan –> tidak mau mendobrak diri

Maka yang dilakukan para ibu seadanya:
1. Usaha seadanya
2. Pengabdian seadanya
3. Perjuangan seadanya
4. Menyelesaikan masalah seadanya
5. Target seadanya

Maka jangan protes bila:
1. Pahala seadanya
2. Pencapaian seadanya
3. Bahagia seadanya

Jadilah ibu apa adanya!
Tidak berlebihan, tidak juga seadanya

Bisa jadi kita tidak bahagia karena masih ada perintah Allah yang dilanggar

Maka menjadi ibu bahagia apa adanya artinya bergerak sesuai dengan apa adanya perintah dari Allah

1. Apa adanya tugas dari Allah sebagai hamba

Beribadah dengan ikhlas
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” – (QS.98:5)

Maka kita insya Allah akan bahagia, jika semua kerja, pengorbanan, perjuangan, ikhtiar, kesakitan, kelelahan, air mata bahkan kekecewaan, kesedihan dan kemarahan saat menjalankan peran ibu, kita niatkan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT

2. Apa adanya tugas dari Allah sebagai orang tua

a. Memberi makan dan pakaian
“Dan kewajiban (orang tua) ayah memberi makan dan pakaian kepada anak dan ibu-ibunya dengan cara yang makruf (baik dan wajar).
(QS Al-Baqarah : 233)

Mungkin diantara kita ada yang tidak bahagia karena sang imam keluarga belum memberikan makanan dan pakaian dengan cara yang baik, padahal ini kewajiban para imam keluarga.

b. Menanamkan akidah
“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah kezaliman yang besar.” (QS Luqman :13)

Mungkin diantara kita ada yang tidak bahagia karena tidak menjadikan penanaman akidah sebagai isu besar dalam keluarga, sehinga anak-anak tumbuh menjadi anak yang jauh dari kebaikan

c. Memerintahkan shalat dan dakwah
“Hai anakku dirikanlah shalat dan
suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS Luqman : 17).

Menjadi ibu bahagia itu salah satunya menjadi ibu dari keluarga dakwah. Keluarga yang mengerjakan kebaikan dan menghindari diri dari kemungkaran serta mengajak orang lain unutk berbuat ma’ruf dan menceah orang lain untuk berbuat mungkar. Bagaimana tidak bahagia, karena pahala kebaikan akan senantiasa mengalir bagi keluarga dakwah. Ibarat bisnis multi level marketing, siapa yang memiliki downline terbanyak, insya Allah dapat bonus yang terbesar. Maka jika ibu ingin bahagia jadilah ibu dalam keluarga dakwah.

d. Memperbaiki akhlak
“Hormatilah anak-anakmu dan perbaikilah akhlak mereka.” (HR Ibnu Majah)

Mungkin diantara kita ada yang tidak bahagia karena akhlak anak-anak jauh dari kebaikan. Ingat bahwa memperbaiki akhlak anak-anak adalah tanggung jawab orang tua, bukan tanggung jawab guru atau sekolah. Hormatilah anak-anak kita, bisa jadi sikap buruk mereka saat ini karena kita sering lupa menghormati mereka, menghormati hak mereka, keinginan mereka, pendapat mereka. Kita terlalu sering mengabaikan perasaan, pandangan dan pendapat mereka sehingga mereka pun tak merasa perlu untuk mengharagai harapan dan keinginan orang lain.

e. Memastikan keistiqomahan islam
Artinya :”Apakah kamu hadir ketika Ya’kub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalkku?” Mereka menjawab : “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk dan patuh kepada-Nya.”
(QS Al-Baqarah : 133).

Apalah arti perjuangan kita sebagai ibu jika pada akhirnya kita menyaksikan mereka berada di dalam neraka jahanam. Maka memastikan keistiqomahan islam adalah isu yang paling utama diantara semua isu dalam hal mendidik anak. Perjalanan kita begitu panjang dalam mendidik anak, tak sekedar menyibukkan diri pada pemenuhan pangan, sandang dan papan. Selama nafas masih dapat kita hirup, selama itulah tugas kita menjaga gawang agar anak-anak kita senantiasa berada dalam jalan syariat. Namun bila waktu kita tiba untuk menghadap Alah, maka yang bisa kita lakukan hanya menitipkan anak-anak kita kepada Allah untuk dijaga dengan sebaik-baik penjagaan dari-Nya.

Maka kita insya Allah akan bahagia memetik hasil panen kita sebagai orang tua, jika kita menanam dengan cara yang baik dan benar, melaksanakan semua perintah Allah terkait peran kita sebagai orang tua.

3. Apa adanya perintah tugas dari Allah sebagai istri

a. Taat kepada suami
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih)

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.”
(HR. Ahmad 1: 131. Sanad hadits ini shahih kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth)

Mungkin diantara kita ada yang merasa tidak bahagia karena terlalu banyak bertengkar dan berselisih dengan suami. Padahal betapa banyak permasalahan rumah tangga yang dapat kita selesaikan dengan satu kunci, yaitu taat kepada suami kita. Jika kita telah berupaya mengutarakan perasaan, pandangan dan pendapat kita, maka kita akhiri semua itu dengan ketaatan kepada suami kita selama keputusan suami tidak bertentangan dengan hukum Allah. Mintalah keberkahan dari Allah ketika kita menaati suami pada perkara yang tidak kita setujui. Biarlah Allah yang mengganti dengan yang lebih baik dan memuaskan hati kita untuk menerima ketetapan Allah melalui keputusan suami yang kita taati.

b. Taat pada suami dalam hal pemenuhan kebutuhan biologis
‘Apabila seorang laki-laki mengajak istrinya ke ranjanganya, lalu sang istri tidak mendatangainya, hingga dia (suaminya) bermalam dalam keadaan marah kepadanya, maka malaikat melaknatnya hingga pagi tiba (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak permasalahan rumah tangga yang berawal dari ketidakpuasan pemenuhan biologis pasangannya. Islam menempatkan perkara pemenuhan biologis khususnya suami sebagai perkara yang penting. Maka jika kita ingin menjadi seorang ibu yang bahagia hendaklah kita juga memperhatikan hal yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan biologis kedua belah pihak.

c. Tidak berpuasa sunnah kecuali atas ijin suami
“Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya”.
(HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

d. Tidak mengijinkan orang lain masuk rumah tanpa ijin suami
“Tidak halal bagi seorang isteri untuk berpuasa (sunnah), sedangkan suaminya ada kecuali dengan izinnya. Dan ia tidak boleh mengizinkan orang lain masuk rumah suami tanpa ijin darinya. Dan jika ia menafkahkan sesuatu tanpa ada perintah dari suami, maka suami mendapat setengah pahalanya”.
(HR. Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)

islam adalah agama yang preventif. Betapa banyak masalah yang mampu di redam ketika para istri mampu menjaga adab-adab dalam pergaulan termasuk diantaranya menghindarkan diri dari berbagai fitnah. Banyak sumber ketidakbahagiaan keluarga hari ini berawal dari permasalahan menjaga diri terhadap sesuatu yan tidak halal bainya, Mungkin hari ini pintu rumah kita tertutup dari hal-hal yang tidak diijinkan oleh suami, tetapi pintu inbox akun sosial media, atau media komunikasi lainnya begitu terbuka bagi kehadiran siapa saja. Oleh karena itu kepandaian kita untuk menjaga dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah akan turut menentukan tingkat kebahagaiaan kita sebagai ibu.

e. Tidak keluar rumah kecuali atas ijin suami
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS. Al Ahzab: 33).

Di satu sisi kemajuan zaman terjadi karena berbagai kiprah perempuan di setiap lini kehidupan, namun disisi lain kebobrokan zaman juga terjadi karena banyak perempuan yang meninggalkan rumah sebagai ranah utama perannya didalam kehidupan. Bisa jadi berbagai permasalahan yang membuat kita tidak bahagia justru muncul karena kita meninggalkan amanah yang paling utama di dalam rumah kita. Pastikanlah kita keluar rumah dengan keridhoan Allah dan suami kita. Pastikanlah kita keluar rumah dalam rangka ibadah kepada Allah dan menjaga adab-adab yang sesuai dengan hukum-hukum Allah.

f. Menyenangkan suami dan tidak berselisih yang membuat suami menjadi benci
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,
Pernah ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah wanita yang paling baik?” Jawab beliau, “Yaitu yang paling menyenangkan jika dilihat suaminya, mentaati suami jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya sehingga membuat suami benci” (HR. An-Nasaino. 3231 dan Ahmad: 251. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih)

Mungkin diantara kita ada yang merasa tidak bahagia karena terlalu banyak berselisih pendapat dengan suami. Semoga Allah mudahkan diri kita menjadi para istri yang menyejukkan bila dipandang. Semoga Allah memudahkan hati, pikiran dan gerak langkah kita untuk menaati suami kita dan memberikan hidayah bagi suami kita untuk senantiasa memberikan perintah yang mengandung banyak kemaslahatan. Sehingga kita dapat menjadi sebaik-baiknya perhiasan bagi suami kita

Maka insya Allah kita akan memetik kebahagian sebagai seorang istri dalam membangun hubungan suami istri yang berlandaskan hukum Allah. Allah mengabarkan kepada kita melalui firman-Nya, jika hidup tanpa berlandaskan hukum Allah maka Allah akan memberikan penghidupan yang sempit

“Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thoha: 123-124)

Bersambung……..

oleh Kiki Barkiah

oleh Kiki Barkiah

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: