Menjadi Ibu dan Bapak Rumah Tangga (Bagian 1)

Tepat sebulan lebih seminggu, saya dan suami secara bersamaan mendapatkan gelar. Bukan gelar dari sebuah institusi bernama kampus, namun gelar kehormatan yang telah lama kami impikan: Ibu dan Ayah.

Tak terasa, sudah setahun lebih pula kami berumahtangga. Berdua, menjalankan segala hal bersama-sama. Mulai dari meninggalkan rumah masing-masing, lalu hijrah ke kota lain, hingga ke negara lain, semua kami lakukan berdua. Jarang sekali kami berpisah, mungkin bisa dihitung dengan jari. Selama satu tahun ini, mungkin hanya ada 1 minggu saja kami tidak berdua di rumah. Memiliki anak di usia muda, apalagi sedang menjalankan kuliah, sebenarnya adalah pilihan yang menantang. Namun, kami mengembalikannya lagi sebagai niat untuk ibadah. Sempat diikuti keraguan, namun kami kembalikan pada Al-Qur’an. Walaupun berat dan beresiko, kami tetap memilih untuk memiliki anak segera, entah siapa pun yang berkata untuk menundanya saja. Bagi kami, anak adalah investasi berharga. Jadi, mengapa harus ditunda?

Tiga bulan lamanya setelah akad terucap, rahim saya tak kunjung ada isinya. Perasaan gundah gulana pun tak pernah pergi dari hati ini. Apa yang salah dengan diriku? Apa yang salah dengan suamiku? Mengapa kau tak segera memberikan kami keturunan, ya Tuhan? Malam-malam saya pun penuh dengan tangisan. Hati ini bingung antara menerima ketentuannya, namun juga menginginkan kehadiran makhluk mungil mengisi rahim. Apalagi melihat teman-teman yang baru menikah, begitu cepatnya dikaruniai buah hati. Ah, hati ini makin teriris-iris saja rasanya.

Sampai tiba suatu saat, kami sudah berada di negeri Mesir. Malam itu, kami baru saja pulang dari mengendarai unta. Tubuh saya tidak nyaman rasanya. Keadaan itu berlanjut sampai keesokan harinya. Hati ini terus-menerus bertanya, “Mengapa, ya? Ada apa, ya?” Ternyata saya baru ingat, ada yang datang terlambat. Ya, saya terlambat datang bulan sudah satu bulan lamanya. Apakah ini pertanda? Akhirnya saya berkata pada suami, “Coba belikan test pack.” Ia pun segera pergi ke apotek dan membawakan sebatang alat kecil itu pada saya.

Bersambung…

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: