Menjadi Ibu dan Bapak Rumah Tangga (Bagian 2)

Saya lalu melakukan tes kehamilan. Tapi saya sebenarnya tidak mau menyimpan harapan palsu kalau hamil. Karena sudah sekitar 4 kali tes selama di Indonesia, tapi hasilnya nihil. Dibantu suami, saya melihat reaksi yang terjadi setelah pipet berisi cairan air seni saya diteteskan. Awalnya cairan mendeteksi tulisan T (Test). Oke, 1 garis tebal. Tidak hamil. Kemudian, kami menunggu, sembari berkata, “Wah, tidak hamil.” Dan ternyata garis tebal satu lagi muncul di tulisan C (Control).
 
Mungkin selama di Indonesia dulu, kami belum benar-benar siap dari segi ilmu, fisik, dan mental, juga kurang yakin. Namun, pada malam itu, begitu kami tahu alat tersebut menunjukkan dua garis yang sejajar dan berwarna merah, kami langsung berpelukan dan menangis bersama. Alhamdulillah, akhirnya kami akhirnya dititipi Tuhan untuk mengemban amanah sebagai calon ayah dan calon ibu. Setelah kami mengevaluasi diri kami masing-masing, berdiskusi dari hati ke hati, akhirnya kami menemukan hipotesis beberapa penyebabnya mengapa dulu kami tak langsung diberi keturunan.
 
Entah mengapa, semacam pertanda, sejak beberapa minggu sebelum itu, kami brainstorming tentang rencana jika mempunyai anak. Kami juga pergi ke perpustakaan dekat asrama, sebelah kampus saya, untuk membaca buku tentang kehamilan. Entah mengapa pertama kali berkunjung ke perspustakaan kota itu, saya mengambil buku tentang itu. Mungkin memang sudah pertanda. Lalu kami memotret seluruh isi buku itu. Akhirnya saya mempelajari buku itu habis-habisan dan membuat rangkuman kecil semacam mind-map. Saya pelajari apa yang harus dilakukan ibu hamil dan bagaimana cara mempersiapkannya. Dari Indonesia, saya juga membawa buku “Don’t Worry to be a Mommy” tulisan dr. Meta Hanindita dan membacanya sampai tuntas. Tak lama kemudian, saya benar-benar hamil.
 

Menjalani Kehamilan di Negeri Orang

Selama bulan September 2015 sampai akhir Februari 2016, kami berada di Mesir. Suami yang seorang freelance programmer and animator pun menemani saya untuk menuntut ilmu ke negeri para nabi. Ia rela melepas karirnya di Jogjakarta dan startup yang baru ia buat, demi menemani saya kuliah di luar negeri. Alhamdulillah suami adalah orang yang suka belajar hal-hal baru sehingga saya tidak takut pergi jauh sekali dari Indonesia, apalagi ke benua yang belum pernah kami kunjungi. Banyak sekali suka duka yang kami alami selama berada di sana. Namun, kami sangat bersyukur Tuhan mengirimkan kami ke sana. Bahkan kadang kami sampai sekarang masih takjub, akhirnya kami bisa sampai di sana.

Menjalani kehamilan di negeri orang, gampang-gampang susah. Susahnya, selain makanan dan minumannya tidak sama dengan yang di Indonesia (apalagi untuk ibu hamil yang mengidam makanan/minuman tertentu), itu akan menjadi hal yang merepotkan. Lalu, kendala bahasa yang mungkin membuat kita agak sulit menyampaikan hal-hal terkait kandungan kepada dokter dan tenaga kesehatan. Terlebih, Mesir bukanlah negara yang berbahasa Inggris. Tak semua orang, terutama karyawan bisa berbahasa Inggris. Selain itu, alhamdulillah hamil di negeri orang banyak sukanya.

Selama hamil, asupan makanan dan minuman saya sangat dijaga. Kami menghindari makanan ber-MSG, juga mengonsumsi buah dan sayur secara rutin. Selain itu, karena harga yoghurt, susu, dan keju di sana murah, kami juga jadi sering membelinya. Menurut saya, masa kehamilan di Mesir adalah masa kehidupan saya yang tersehat, walaupun pasti diiringi keluhan-keluhan ibu hamil: mual, muntah, pusing, pegal, dll. Beruntung suami rela menemani saya studi sambil ia bekerja jarak jauh. Kondisi ekonomi yang tak pasti, tetap tak menyurutkan semangatnya, justru kehadiran si kecil dalam rahim saya membuatnya makin semangat bekerja. Pernah beberapa kali di dompet kami tak ada uang sepeser pun, namun tak lama kemudian, ada proyek mendatanginya, ataupun rezeki yang entah dari mana saja. 

Pernah pula suatu hari suami dapat pekerjaan offline yaitu menjadi penjaga toko emas. Saya yang agak berat dan sedikit berfirasat buruk dengan pekerjaannya, menyuruhnya salat Istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah apakah duterima atau tidak. Memang saat itu kami butuh sekali pemasukan, apalagi uang untuk kontrol janin. Namun ternyata Allah menggagalkannya menerima pekerjaan itu yang menurut kami memang banyak mudharatnya.

Cuti Hamil Sepertinya Lebih Baik

parental-leave

Bismillah. Setelah salat istikharah berkali-kali, air mata buaya di sana-sini, saya dan suami akhirnya mantap memutuskan untuk cuti sejenak dari perkuliahan S2 ini. Seharusnya saya ditemani suami terbang ke Jerman pada bulan Maret 2016 ini untuk meneruskan semester 2.

Selain pertimbangan kondisi saya saat nanti akan melahirkan, saat melahirkan dan pasca melahirkan, saya dan suami juga bertekad mencari uang dulu untuk biaya kebutuhan hidup di Jerman (yang tentunya jauh lebih mahal dari Mesir), karena saya berangkat tanpa beasiswa dari lembaga manapun. Saya masih menggunakan uang orangtua saya untuk membayar biaya kuliah dan keberangkatan ke Mesir.

Hidup di negeri orang memang tidak mudah. Apalagi saat baru menikah dan mendapat amanah berupa janin di perut. Waktu itu saya sedang stres saat trimester pertama kehamilan, saya sering menangis karena kangen rumah, badan tidak enak semua rasanya, dan lain-lain. Saya merasa kalau itu adalah titik terendah dalam hidup saya. Walaupun saya bahagia kalau saya hamil, tapi nyatanya saya kehilangan semangat. Entah kenapa.

Saya pun bertanya kepada Allah, bagaimana solusi terbaik dari semua ini. Saya akhirnya ingat, seorang pegawai administrasi di kampus saya pun menawarkan untuk cuti hamil. Saya pun mendiskusikan pilihan itu dengan suami dan kedua orangtua saya. Belum satu minggu, saya diberi kemantapan hati untuk mengajukan cuti.

Saya pun segera mengisi formulir Urlaubsantrag (pengajuan cuti) dan meminta bukti hamil dari rumah sakit untuk dikirimkan ke email administrasi kampus. Kebetulan rumah sakitnya ada di depan asrama saya dan dekat sekali dengan kampus.

Dokter pun memberikan selembar surat yang menyatakan bahwa saya hamil 12 minggu (waktu itu). Beliau juga menyarankan saat saya mau pulang nanti, harus kontrol lagi karena akan diberi surat untuk bepergian oleh dokter. Namun, dokter kandungan di sana semua laki-laki (yang perempuan sudah tidak praktek di sana lagi), jadi saya ke El Gouna Hospital itu hanya untuk konsultasi. Kalau Ultrasound/USG saya dan suami pergi ke kota lain yang bernama Hurghada (kurang lebih 30 menit dari El Gouna) naik bis. Dan itu selalu malam hari. Anginnya dingiiiin sekali.

Orangtua pun mendukung saya cuti supaya bisa fokus mempersiapkan kelahiran, melahirkan, dan memberikan ASI setelahnya. Alhamdulillah Aamiin semoga ini memang keputusan yang terbaik yang Allah berikan.

Saya tidak khawatir teman-teman seangkatan saya lulus duluan nantinya. Saya sudah teguhkan keputusan ini dalam hati, saya akan membesarkan anak saya dulu, beradaptasi dengan keadaan, baru insyaAllah jika memang diizinkan melanjutkan kuliah semester 2, saya akan berangkat ke Jerman bersama keluarga kecil saya 🙂 Saya percaya ketentuan Allah untuk menunda keberangkatan saya ke Jerman adalah yang terbaik untuk semua. 

 

Setelah Jabang Bayi Lahir

Sepulangnya ke Indonesia, kami ditawari oleh papa saya untuk mengontrak rumah yang beliau jadikan usaha kontrakan. Kebetulan sedang kosong (tidak ada yang mengontrak) dan kami pikir lokasinya strategis, dekat fasilitas umum, dekat saudara, keluarga serta dekat masjid.

Selama di Indonesia, tepatnya Surabaya, kami menunggu selama 4 bulan. Di masa itu kami mengikuti bermacam-macam seminar mulai dari kepenulisan, komunikasi suami-istri, hingga menyusui. Kami tetap menggali ilmu walaupun bekerja dari rumah. Kami tidak mau gagal dalam mendidik anak. Kami juga berjualan apapun yang kami bisa untuk menyambung hidup, mulai dari buku yang kami tulis berdua yaitu Twin Path, hingga spaghetti Mesir.

Bulan Juni, awal puasa Ramadhan kemarin, lahirlah bayi yang kami tunggu sejak lama. Mengenai proses kelahirannya akan saya bahas di artikel terpisah InsyaAllah.

Pembagian Tugas Suami dan Istri

Membantu pekerjaan rumah tangga istri tidak akan merendahkan derajat suami sebagai pemimpin rumah tangga. Begitu pula dengan suami saya, ia bisa melakukan apapun pekerjaan rumah tangga.Inilah salah satu rahasia kehangatan hubungan suami istri yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW kepada kita. Suami saya bisa melakukannya, mungkin karena biasa hidup jadi anak kos. Berbeda jauh dengan saya yang sejak kecil tidak pernah lepas atau pergi jauh (dalam waktu yang lama) dari orangtua. Jadi, di awal pernikahan dulu, saya benar-benar newbie dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Sebenarnya bukan newbie sih, saya bisa namun tidak terbiasa. Memasak pun begitu. 

Nabi Muhammad SAW ternyata selalu melakukan pekerjaan rumah tangga secara mandiri tanpa membebani istri-istrinya, salah satunya kesaksian Aisyah ra. yang memberitahukan ternyata Nabi Muhammad SAW selalu menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya tanpa menyuruh kepada istri-istrinya.

‘Aisyah berkata, “Rasulullah mengerjakan apa yang biasa dikerjakan salah seorang kalian di rumahnya. Beliau menambal sandalnya, menambal bajunya dan menjahitnya“. [H.R. Bukhari]

Al-Aswad bin Yazid bertanya kepada ‘Aisyah, “Apa yang biasa dilakukan Nabi s.a.w. di dalam rumah?” ‘Aisyah menjawab, “Beliau biasa membantu pekerjaan istrinya. Bila tiba waktu shalat, beliau pun keluar untuk mengerjakan shalat“. [H.R. Bukhari]

Selama di Mesir, saat saya kuliah, dari jam 10 pagi hingga jam 5 sore (seringnya), suami di rumah jadi memasak makan siangnya sendiri. Terkadang malah dia yang membuatkan saya sarapan pagi karena bumil macam saya ini sering ngebo alias tidur lagi setelah subuh sampai mau kuliah. Ia pula yang belanja ke supermarket di tengah kota dengan jalan kaki, karena kalau naik kendaraan tuk-tuk, harganya cukup mahal. Ia menyuplai saya dengan makanan dan minuman sehat. Hampir tak pernah saya belanja sendirian di sana. Asrama tempat tinggal kami pun berada di lantai 3, jadi ialah yang angkat galon dan selalu ia yang angkat barang apa saja. Ia yang mencucikan baju-baju kami selama di sana. Di asrama kami, ada sebuah mesin cuci di lantai 3 (alhamdulillah masih selantai dengan kamar saya dan jaraknya dekat), sehingga suami selalu membawa tas berisi baju kotor untuk dicuci. Ketika antrian cuciannya banyak (karena harus bergantian dengan mahasiswa lain), ia pun kembali lagi ke kamar, “Nyucinya besok aja ya. Lagi banyak (yang antre).” Juga beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya yang selalu ia kerjakan sendiri. Entahlah apa yang bisa saya balas untuk kebaikan-kebaikan suami saya itu. Bahkan sepulangnya di Indonesia, ia pun tetap seperti itu. Ya, semua itu ia lakukan karena saya hamil, demi menjaga kesehatan saya dan bayi, mungkin. Saya merasa cukup tidak berguna menyandang status istri kala itu, lho, sebenarnya. 

Di Indonesia, setelah kami tinggal di rumah kontrakan hanya berdua (eh, sekarang sudah bertiga), kami jadi makin solid dalam membangun team keluarga. Kami telah menulis dream list untuk tahun 2016, memperbarui visi tahunan, serta menjalin komunikasi yang makin hangat. Kami sadar, pengalaman-pengalaman baik dan buruk kami selama di Mesir telah makin mengakrabkan kami.

Setelah punya anak, kami mencoba menjadi orangtua yang baik, hasil membaca-baca buku, bertanya pada orang-orang, juga mengikuti seminar. Kami merasa harus makin kompak. Kehadiran jabang bayi bukan menjadi beban, tetapi kami jadikan bahan belajar bersama-sama. 


Perasaan Suami Menjadi Seorang Bapak Rumah Tangga

“Menjadi seorang bapak, yang terpikir yaitu menjadi pemimpin, perencana, penanggung jawab dan pencari nafkah, tentunya. Pada umumnya, seorang bapak pergi kerja di pagi hari, pulang di sore hari atau bahkan malam hari. Mungkin yang membuat pikiran bertambah adalah tuntutan mencari nafkah lebih, karena ada satu lagi anggota keluarga, yaitu anak yang membutuhkan pengasuhan dan kebutuhan lainnya. Tetapi ternyata tidak hanya itu saja, bapak juga harus siap sedia menjadi semuanya (terutama bagi bapak yang bekerja di rumah atau bekerja remote seperti saya). Memasak, mencuci dan menjemur, semua harus dilakukan bergantian dengan istri. Menjadi GO-MI (bukan GO-JEK), alias harus siap kalau malam hari istri menginginkan atau membutuhkan sesuatu, atau kalau anak kehabisan popok sekali pakai, dan masih banyak lagi. Manajemen waktu sangatlah penting tentunya. Semua tidak bisa ditunda dan harus dikerjakan di sela waktu antara pekerjaan satu dengan pekerjaan lain. Apalagi kalau memiliki target atau proyek samping yang ingin diwujudkan. Yang harus dilakukan yaitu PAKSA. Kerjakanlah, entah itu belum siap atau sudah siap, mood sedang bagus atau tidak. Semua memang terlihat melelahkan dan merepotkan, tapi pada kenyataannya tidak 100% benar. Karena jika seorang bapak tahu waktu yang dimiliki banyak, otomatis bila bekerja atau mengerjakan sesuatu akan produktif dengan sendirinya. Saya yang tadinya bekerja 5 jam sehari sekarang bisa bekerja hanya 3 jam sehari tapi lebih banyak to-do yang diselesaikan. Penggunaan social media sebenarnya memakan waktu sekitar 2 jam sehari.” – Kenniko, full-stack father.


Pesan kami untuk para calon ibu, calon bapak, ibu muda, bapak muda, diskusikanlah segala hal dengan pasangan. Bagi tugas dan kerjakan dengan ikhlas. Jika istri tak bisa mengerjakan, cobalah suami yang menggantikan. 

Bersambung..

Selanjutnya saya akan menceritakan tentang suka duka merawat bayi selama 40 hari pertama.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: