Menjemput Kampus Idaman (Bagian 1)

Semenjak saya mengunggah screenshot Letter of Acceptance (LoA) dari kampus idaman beberapa waktu lalu di Facebook dan Tumblr, pertanyaan-pertanyaan seperti “Gimana cara dapetnya?” dan yang semacamnya pun cukup sering saya terima dari teman-teman saya. Baik melalui inbox Facebook, SMS, bertanya langsung, hingga yang baru-baru ini, dari fanmail Tumblr:

“Assalamualaikum Kak Ersti, salam kenal, maaf nggak sopan. Kenalkan namaku ***, dari **********************. Kak, aku pernah randomly baca postingan Kakak di Tumblr yang Preliminary Letter of Acceptance dari TU Berlin. Kak aku mau tanya seputar gimana cara apply program master ke Jerman, gimana bisa dapet beasiswa, rekomendasi les Bahasa Jerman, apa kira kira Kak Ersti berkenan? Terimakasih, maaf nggak sopan.”

 

Mendapatkan selembar pernyataan diterima di kampus idaman memang melegakan dan menyenangkan. Walaupun masih preliminary, belum yang final, yang penting diterima. 

Pergi ke Jerman adalah salah satu impian besar yang harus saya lakukan sebelum batas waktu saya di dunia ini habis. Hehehe. Jerman adalah tanah kelahiran saya, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Darmstadt. Kedua orangtua saya adalah alumni Technische Universität Darmstadt. Mereka berdua sama-sama mendapatkan beasiswa dari lembaga Deutscher Akademischer Austauschdienst (DAAD). 

Pengalaman Mencicipi Tes ke Luar Negeri
Sejak dulu saya ingin merasakan belajar di luar negeri. Entah itu mengikuti pertukaran pelajar atau benar-benar studi lanjut. Alhamdulillah di tahun ke dua dan tahun ke empat menjelang lulus kuliah S1, Allah mengizinkan saya mencicipi program pertukaran pelajar ke Taiwan dan ke Jepang. 

Dulu selepas lulus SMA, saya juga pernah mendaftar beasiswa Monbukagakusho Jepang. Saya mendaftar program D2 karena nilai UNAS saya cukup buruk waktu itu. Namun setelah sampai pada tahap wawancara di Jakarta, orangtua saya tidak menyetujui saya untuk melanjutkannya, karena pertimbangan ini itu. Saya pun ternyata diterima di Jurusan Arsitektur ITS dan menjalani perkuliahan di sana sebagaimana harusnya. Itu bukan kegagalan pertama saya untuk berangkat ke luar negeri. 

Sebelumnya, waktu SMA, saya juga pernah mengikuti program AFS. Namun mungkin karena dulu saya masih pemalu akut dan plin-plan bin labil, jadi tidak bisa lolos. 

Memasuki dunia perkuliahan, setiap ada kesempatan pertukaran ke luar negeri, selalu saya coba. Seingat saya, pernah satu kali mengikuti seleksi pertukaran ke Korea, dua kali mengikuti seleksi Community College Initiative Program Aminef, dan Kumamoto University Short-Term Exchange. Tetapi selalu gagal. Namun, mungkin Allah memberikan sesuatu sesuai kebutuhan dan kemampuan kita. Maka, yang berhasil diloloskan oleh Allah hanya dua, yaitu program pertukaran ke Taiwan dan Jepang, walaupun hanya selama beberapa hari.

Walaupun dilahirkan di Jerman dan sempat merasakan kehidupan di sana selama kurang lebih 3,5 tahun, namun sayangnya, saya tidak bisa berbahasa Jerman. Apa karena waktu itu saya tidak mengenyam bangku TK atau SD di sana, ya? Mungkin saja. 

Seiring waktu berjalan, saya tetap membaca buku-buku dongeng milik saya yang dibeli orangtua dari pasar barang bekas, yang semuanya berbahasa Jerman. Saya selalu suka membacanya dan melihat gambar-gambarnya, meskipun saya tidak mengerti artinya. 

Menginjak bangku SMP dan SMA, saya membeli buku-buku belajar bahasa Jerman dan mencoba belajar secara otodidak. Sayang sekali, di SMA saya, kelas IPA malah mendapat bahasa Mandarin. Sedangkan kelas IPS mendapat bahasa Jerman. Huhu ingin sekali rasanya pindah IPS saat pelajaran bahasa waktu itu. Hehehe. 

Waktu terus bergulir, hingga akhirnya saya kuliah di Arsitektur ITS. Saat semester tiga, saya mengambil kursus bahasa Jerman di UPT Pusat Bahasa ITS. Saya lulus dari buku 1. Saat melanjutkan ke buku 2, saya memutuskan untuk mengakhiri les di pertemuan kedua karena jadwal les yang bentrok. 

Keinginan untuk kuliah di luar negeri membuncah di semester 5. Kala itu ada program Double Degree dari Saxion University Belanda dengan jurusan saya. Saya pun meminta uang kepada orangtua saya untuk mengikuti les persiapan TOEFL iBT di tempat yang direkomendasikan senior saya yang sudah terlebih dulu mengikuti program Double Degree itu. Saya mengikuti les selama dua bulan dan dua kali pula mengikuti tes TOEFL iBT. Hasilnya? Skor saya hanya selisih 1 poin. Dan parahnya, itu turun. Dari 66 menjadi 65. Fine. Padahal, untuk lolos seleksinya, saya butuh nilai 80. Pupus sudah harapan saya untuk pergi ke Belanda. 

Tahun 2013, saya mengikuti pameran pendidikan tinggi Eropa (European Higher Education Fair) dan beberapa pameran-pameran pendidikan lainnya. Brosur-brosur dan buklet saya ambil semua. Namun tetap saja, negara incaran tetap Jerman dan Belanda. Walaupun kala itu seorang representatif menjelaskan tentang pendidikan di Irlandia, yang ternyata juga tak kalah menggoda. 

***


Baiklah, daripada saya bertele-tele dengan masa lalu, lebih baik saya mulai menceritakan bagaimana saya bisa memilih kampus itu sebagai tujuan berikutnya dalam hidup saya, hingga kegelisahan yang saya hadapi hingga hari ini. Semoga bisa menjadi pelajaran untuk siapa saja yang membaca, terutama yang membutuhkan informasi untuk mendaftar beasiswa ke Jerman.

Tahun 2014, saya mulai tahu apa itu beasiswa LPDP, dari senior saya yang mengikuti program Double Degree tadi. Saya pun mempersiapkan diri untuk mengikuti seleksi LPDP setelah lulus dari Arsitektur ITS nanti. 

September 2014, ijazah sudah saya genggam di tangan. Pergulatan selanjutnya dimulai. Setelah bertanya-tanya dan mengikuti seminar dan pameran ini itu, saya mulai galau. Kemana saya harus melanjutkan studi? Ke Jerman atau Belanda? Apa alasan saya ke sana? Hanya untuk pulang kampung? Jalan-jalan? Membangun negara? Atau apa? Universitas mana yang akan saya ambil? Mengapa harus universitas itu dan bukan yang lain? Kelas apa yang akan saya ambil? Kelas internasional atau bukan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui hari-hari saya, setiap hari, bahkan makin santer sejak teman-teman saya mulai ‘menemukan’ universitas yang akan mereka jadikan destinasi studi magister (S2).

Seperti mahasiswa baru lulus pada umumnya, saya hampir setiap hari menerima pertanyaan, “Habis ini mau lanjut ke mana? Kerja atau kuliah?” Saya memang sudah kerja saat itu, jadi saya pasti menjawab: kuliah. Masalah selanjutnya, pasti akan disambung dengan pertanyaan “Kuliah ke mana?”, saya yang galau dan masih bimbang, segera saja menjawab “Belanda” atau kalau sedang tidak dalam mood yang baik, “Ke luar negeri.” Saya selalu membohongi diri sendiri. Selalu tidak sreg kalau menjawab pertanyaan itu. Seperti hanya di mulut saja. Di hati sebenarnya galau. “Kalau lanjut ke Jerman, nanti seperti kedua orangtua, dong. Masa’ sama sih?” konflik batin seperti itu sering muncul pula di dalam hati.

Saya juga sempat ingin melanjutkan studi Psikologi, yang ternyata Mama saya kaget mendengarnya. Maka segera saya kubur dalam-dalam impian itu dan kembali membangun mimpi yang ‘tidak jauh-jauh’ dari dunia arsitektur.

Saya pun mengecek ulang ke dalam diri. “Sebenarnya minat saya di arsitektur ini di mana, sih?” Jawaban atas pertanyaan tersebut tak kunjung saya temukan. Namun tiba-tiba saya ingat, selama ini saya kan ingin jadi seperti Papa saya, yang berkutat di dunia tentang lansekap dan perkotaan. Sejak kecil saya selalu tertarik akan bidang yang Papa kerjakan. Bukan bidang Mama saya. Oh ya, saya lupa bilang, Papa dan Mama saya adalah teman satu angkatan di Arsitektur ITS dan sama-sama menjadi dosen di jurusan tersebut hingga kini. Namun sayangnya, saya tidak tertarik dengan bidang yang digeluti Mama saya. Hehe, maaf Mama. Peace.

Ternyata, minat saya ada pada bidang urban alias perkotaan. Saya pun segera mencari kata kunci “urban” di mastersportal.eu. Hasil pencariannya banyak sekali. Tetapi karena negara incaran saya tetap Jerman dan Belanda, saya lalu menyaring dua negara itu saja. Saya sudah tidak kepikiran lagi untuk mencari di negara lain. Hehehe. Walaupun katanya kalau belajar Urban bagus di Amerika dan Inggris, saya sudah tidak peduli lagi. Walaupun dulu saya juga bercita-cita melanjutkan studi di Jepang, tetapi karena sudah pernah ke Jepang, saya malah urung untuk melanjutkan studi magister ke sana.

Karena tidak mau repot, saya memilih kelas internasional, atau kelas dalam bahasa inggris. Hasil pencarian pun mulai mengerucut. Lalu saya saring lagi, saring terus, dan ternyata saya menemukan beberapa nama kampus dan jurusan yang cocok. Karena orientasi saya masih pada beasiswa LPDP waktu itu, segera saya cocokkan nama kampus yang tertera di hasil pencarian dan di daftar universitas tujuan LPDP. 

Tak berhenti di hari itu saja. Hari-hari selanjutnya saya terus mencari dan mencari…. Hingga akhirnya saya ingat. Jika kita bingung, sebaiknya Salat Istikharah. Ada yang saya lupakan dalam perjuangan ini. Yaitu melibatkan Allah. Alhasil saya pun melakukannya dan ternyata benar, jalan saya semakin terang dan dipermudah.

Perlahan, nama Belanda tak lagi mencuri perhatian saya. Saya pun makin fokus mencari universitas di Jerman. Saya menemukan dua besar nama universitas yang saya incar. TU Berlin dan Universitat Stuttgart. Keduanya sama-sama tentang urban dan menggunakan bahasa Inggris. Istikharah makin rajin saya lakukan agar jalan menuju sana semakin dimudahkan.

Seperti Menemukan Separuh Jiwa
Suatu malam, saya merasa senaaaaang sekali. Seperti menemukan separuh jiwa yang telah lama pergi, atau mungkin sama rasanya seperti bertemu jodoh [lho?] saya pun semakin tertarik dengan program yang ditawarkan TU Berlin. Apalagi logo kampusnya warna merah. Ditambah lagi, saya menemukan penjelasan bahwa kampus saya tersebut ternyata berada di Mesir! Lho kok Mesir? Kan Berlin di Jerman? Mesir di Timur Tengah? Itu kan impian saya sejak lama untuk pergi ke Mesir. Ya, terlebih sejak film Ayat-Ayat Cinta yang berlatar di Mesir itu booming di tahun 2008, disusul kehadiran film Ketika Cinta Bertasbih di tahun 2009.


Saya langsung berkata kepada kedua orang tua saya kalau mantap ingin mengambil jurusan dan kampus tersebut. Saya pun lalu membuka website TU Berlin Campus El Gouna, dan sedikit kepo lalu makin merasa tertarik. Awalnya saya ingin sekali langsung mendaftar supaya bisa langsung kuliah tahun 2014 juga. Namun, sepertinya tidak mungkin. Karena saat itu bulan September dan perkuliahan pasti dimulai bulan Oktober. Hahaha.

Setelah aksi kepo dilancarkan, saya makin mantap dan mencari cara bagaimana bisa mengontak universitas incaran ini. Segeralah saya mengetikkan nama TU Berlin Campus El Gouna di kolom pencarian (search bar) Facebook. 

Saya masih ingat, tanggal 10 September 2014, saya mengirimkan pertanyaan ini via Facebook message. 

Can we register master program using ITP Toefl? Not IELTS or TOEFL iBT. Thanks.

Ternyata, fast response, bro! Bagaikan sms dibalas oleh pujaan hati, saya juga senang dan senyum-senyum sendiri waktu dibalas 

Dear Adiar,

thank you very much for your message. 
Yes, you can register for our Master’s programs with a ITP Toefl test.


Best regards,

Your Team Campus El Gouna

Saya pun segera bilang ke orangtua saya kalau universitas incaran ini bisa dimasuki dengan bermodalkan TOEFL ITP. Segeralah saya mencari info untuk tes TOEFL ITP di ITS. 



[bersambung…]

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

2 Comments

  1. Hello,
    Can you please tell me about the El Gouna campus, any information that you may have is welcome.
    I have already gone thru the university website.
    If you gave any information regarding student experience or any else, kindly share with me.

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: