Menulis Tema Parenting

🌺RESUME KULWAP IIP SBY#1🌺
⏰Rabu, 10Feb2016/19.45wib
💁🏻Ibu Anna Farida /kepsek Sekolah Perempuan,  Juru siar EYD, penulis Parenting with heart dll.
Memulai menulis, terutama tema Parenting
〰〰〰〰〰〰〰〰
🌻Mengapa Kisah Parenting?
·         Rekam jejak pengasuhan
·         Cermin diri, cermin bagi keluarga lain
·         Persembahan buat anak-anak
·         Semua berhak menulis kisah parenting
🌻Bagaimana langkahnya?
1.      Pilih segmen pembaca
·         Ortu anak usia dini?
·         Ortu ABK?
·         Ortu remaja?
·         Ortu tunggal?
2.      Cara mengumpulkan data
·         Lihat foto keluarga
·         Lihat catatan harian
·         Amati anak orang lain
·         Baca pemberitaan terkini
·         Baca referensi
3.      Yang perlu diingat
·         Apakah ada privasi yang perlu dilindungi?
·         Apakah perlu izin menulis kisah orang lain?
·         Apakah wajib menyertakan pendapat ahli?
4.      Mulai menulis
·         Awali dengan kisah
·         Sampaikan pandangan Anda
·         Libatkan pembaca
·         Beri solusi alternatif
Salam takzim,
Anna Farida
www.annafarida.com
〰〰〰〰〰〰〰〰
Tanya Jawab
1⃣ Shanty
Ibu Anna yang baik hati,  saya sangat awam dengan dunia tulis menulis.  Dahulu kala,  masih suka menulis diary, makin tua makin jauh dari tulis menulis 😁.  Seringkali banyak yang mau di tuangkan dalam tulisan,  tapi seringnya kalo ditunda waktu nulisnya.. momen nya udah hilang,  jadi lupa apa yang mau di tulis,, atau berasa hal itu biasa aja.. tidak layak ditulis.  Bagaimana memulai menulis dengan sebuah kisah itu? apakah kisah kita sendiri atau orang lain?
Ide adalah sesuatu yang paling berharga. Kalau misalnya terbangun, merasa ada sesuatu yang sangat layak untuk dituliskan, tuliskan segera di manapun itu. Direkam dengan cara seperti ini. Misal lagi masak. Suatu saat punya waktu luang, moodnya akan kembali. Karena kita mendengarkan suasana. Kalau punya ide dicatat. 
 
Kisah kita sendiri. Karena yang kita kenal adalah kita sendiri. Kita punya banyak sumber. 
2⃣Syahda
assalamu’alaykum Bunda Anna.  Bunda, biasanya ketika sedang beraktifitas, tidak jarang saya mendapatkan banyak ide untuk di tulis. Tetapi karena tidak sempat buka laptop saat itu juga, jd harus menunggu sampai sempat buka laptop. Dan ketika mau di ketik, ide-ide yg td terfikir malah jd mampet. Tipsnya gmana ya bun, biar ga mampet gitu?
Kemudian, apakah perlu untuk mengalokasikan waktu khusus untuk menulis setiap harinya? berapa lama dan biasanya jam berapa? Sehubungan dengan padatnya aktifitas irt 😂😂
Apakah kita punya tangan 2 atau 14? Nyetrika, nyuci, wa, facebook, dll hehehe. Luar biasa. Ketika kita punya waktu untuk melakukan itu semua, kita punya waktu untuk menulis, walaupun sekitar 10 menit sehari. Penulis buku yang menganjurkan free writing. Jadi ketika kita sedang mampet atau sulit mengungkapkan ide. Kemudian mengetikkan apapun yang ada di pikiran. Jadi tangan dituntut untuk bergerak terus. Aktivitas jari di keyboard diyakini bisa membuka simpul-simpul di otak. Tulis saja: aku tidak punya ide. nulis apa ya? . . . . . 
 
Bu Anna mengalokasikan waktu untuk menulis. Setelah bangun tidur, masih fresh. Menuliskan apapun yang ingin ditulis. Kalau sudah bekerja tidak ada waktu. 10 menit saja. Merefleksikan apa yang terjadi kemarin, dan merencanakan hari ini.
3⃣Hepi
bagaimana agar saat menulis kita tidak cenderung menghakimi? maksud saya, ketika saya harus menulis dengan tema perempuan misalkan, maka saya akan cenderung menghakimi si lelaki pada saat perempuan tersebut mengalami hal tdk menyengkan dalam rumah tangganya. padahal kenyataanya, bisa saja tdk selalu demikian?
4⃣Farda
Salam Bu Anna Farida, terimakasih sudah hadir disini. Saya mau bertanya bu…
1. Untuk menulis ttg parenting setiap ortu pasti berhak menuliskan kisahnya dan pertanyaan saya kisah parenting perjalanan dg anak kita selama pengasuhan tsb, hal hal apa saja yg bisa-boleh-tidak boleh ditulis atau dishare kan? Karena saya berpendapat anak juga punya hal yg tidak ingin diceritakan pd orang lain.
2. Berhubungan dg menulis kisah parenting, apa perlu juga bu memperhatikan personal  branding? Mengingat dunia menulis jika di pasarkan juga membutuhkan amunisi saat menjualnya…ada tips khusus bu?
3. Jika ingin belajar lebih mendalam ttg hal ini, key word  apa yg harus saya kuasai bu?
Terimakasih banyak atas jawabannya Bu😊🙏
  1. Orangtua mempunyai hak untuk menuliskan buku parenting.
Hak anak dijaga dengan menceritakan hal-hal yang bermanfaat bagi orangtua lain.
Anak-anak ketika masih kecil tidak tahu kalau kasusnya dijadikan buku.
Tidak menuliskan buku parenting secara personal.
Kita bahasakan sebagai kisah umum, tidak selalu anak kita.
Misalnya untuk kasus tentang toilet training, ngompol, namanya dialihkan dengan orang lain.
Ada anak-anak yang tidak suka tentang ngompolnya diceritakan.
Peserta sekolah perempuan, biasanya ibu-ibu ingin cerita tentang anak-anaknya, katanya sebagai buku kenang-kenangan, tapi jangan 1 full tentang anak kita. 
Jadi buku tidak terlalu personal pada akhirnya.
Kalau misalnya ada tokoh besar, kemungkinan dari sisi penerbit mungkin oke.
Tapi kalau penulis pada umumnya, biasanya yang bisa dipakai oleh semua orangtua, kisahnya tidak melulu 1 keluarga.
  1. Branding bukan pencintraan. Kita orangtua punya minat khusus pada pendidikan anak. Banyak orangtua yang tidak tertarik dengan dunia pengasuhan anak. Dengan membaca buku, berjejaring dengan teman-teman psikolog, guru-guru PAUD, jadi kita akan melibatkan diri di sana. Apa yang ada di dalam diri kita akan terpancar ke luar. Bisa saja kita membuat kesan di media sosial, nanti akan luntur, bosan hanya awal-awal saja semangatnya. Jika ingin memperdalamnya, kita harus melibatkan diri di bidnag ini.
5⃣ Wita
Bu Anna. Sy baru mulai menulis beberapa karya fiksi. Pertanyaanny :
1. Apa yg perlu diluruskan jika niat sy menulis fiksi untuk terbit dlm sebuah karya dan dibaca orang banyak.
2. Sy ingin mendapat kritikus supaya dapat mengetahui kekurangan sy, dimana kritikus tsb?.
Terimakasih banyak 😊
Wita.
 
  1. Walaupun fiksi sifatnya imajinasi, mengandung nilai-nilai kebaikan. Bu Anna tidak mau ikut ambil bagian dalam hal tentang keburukan.
  2. Pembaca pertama yang menjadi sasaran. Kecuali minta ke penulis buku anak, dikomentari teknisnya, bukan isinya.
6⃣ Euis.
1. Bgmn menilai tulisan kita layak atau tidak menjadi sebuah buku? Bagaimana prosesnya sampai tulisan kita layak terbit?
Setiap naskah yang memenuhi kriteria penerbit itu berbeda. Misal penerbit yang mensyaratkan temanya lagi tren. Atau misalnya buku cerita anak. Ada penerbit yang menghendaki tema-tema sedang in, atau tema-tema yang bisa sepanjang waktu. Gali ide, bikin outline, mulai melakukan penelitian, mencari rujukan, tulis naskah, buat proposal pengajuan naskah ke penerbit, yang penting kita tahu sasaran pembaca.  
2. Mohon berkenan mengkoreksi dan memberi masukan tulisan (lama) saya. Sekedar share di facebook, dan salah satu kelemahan saya masih senang membuat singkatan dan tidak sesuai EYD 🙈
[2/10, 16:52] IIP Euis k: Sengaja, 7 tahun ini rumah kami tidak ada tv. Bukan karena tak mampu beli, tapi memang mencoba mempertahankan prinsip. Mengingat banyaknya tayangan kurang sehat dan kurang mendidik bagi kami, terlebih bagi anak2 kami. Ya bisa dibilang sebagai sarana proteksi lah. 
Kuper dong gak pernah liat tv,gak bisa dapat update info terbaru dan kekinian. Hmm,, alhamdulillah ndak juga sih. Kami masih tetap bisa mengakses info2 yang kami butuhkan dari gadget yang ada di genggaman. Namanya juga smartphone. Hehehe.
Nah bbrp bulan belakangan kami pasang wifi yg sangat cepet aksesnya. 100 mbps.
Anak2 bisa nonton youtube dengan mudah dr laptop maupun gadget ayah bundanya. Gak ingin kebablasan apalagi sampai kecanduan, kami kasih jatah nonton buat kakak dan adek. 
Sore boleh nonton maksimal 1 jam, malam boleh nonton maksimal 1 jam juga.
Itupun tetap didampingi dan dengan sepertujuan ayah bundanya mau lihat apa. Karena meski dikemas dalam animasi kartun, banyak juga yang ternyata yang gak mendidik. Entah ada adegan fisik, kalimat2 kasar, kebiasaan agama lain dsb. 
Melibatkan mereka dalam membuat keputusan ternyata cukup ampuh bagi kami. Termasuk dalam hal kapan waktunya nonton dan durasinya. 
Misal, mereka bilang bunda mau nonton. Bundanya jawab, maaf skrg blm waktunya nonton. Kita nonton nanti sore, jam 3 ya| jangan bunda, jam 4 aja 😀 *krn aslinya mereka jg gak paham jam saat ini | oke,,, 
Bundanya akan nunjukan jam, nanti kalau yg pendek di angka ini dan jarum panjang di angka ini, berarti sudah boleh nonton. Mereka pun mengangguk dengan semangat. 
Kesepakatan waktu ini sangat membantu mereka nyaman. Sama seperti kita, misalnya saat lampu mati. Kalau gak jelas berapa lama bakal mati lampu, kita pasti bingung, panik. Tapi kalau sudah dapat pemberitahuan sebelumnya, bahwa akan mati lampu jam sekian dengan durasi sekian jam, pasti rasanya beda. Hati lebih “nyaman” meski waktunya lebih lama. Kenapa? Karena jelas. Gak di PHP. Hehehe. Begitu juga yg saya lihat di anak2. 
Mereka ndak bingung liatin jam terus. 
Mereka ndak bolak balik tanya kurang berapa lama lagi. Mereka happy dan enjoy menikmati waktu tanpa nonton. Bahkan gak jarang sudah waktunya nonton, mereka juga masih asyik maen berdua. 
Begitu juga saat jatah nonton mau habis, bunda udah warning dulu. Kakak adek waktu nontonnya kurang 7 menit ya. Coba liat jamnya, nanti kalau angkanya sudah muncul 17.01 berarti kita matikan ya.. 
Cara ini lebih ampuh dan nyaman buat mereka daripada mengatakan : oke, waktu nontonnya habis. Laptopnya bunda matikan sekarang. 
Warning beberapa menit sebelumnya buat mereka sekaligus memberikan kesempatan untuk mengatur “perasaan” untuk menyudahi “sesuatu yg menyenangkan” dan beralih pada aktivitas lain. 
Alhmdlh berhasil dan sangat ampuh untuk 2krucil. Saat si adek (³ thn) msh pengen nonton dan minta jatah nambah, kakak yg giliran nasehati. Maaf adek,, waktu nontonnya kita udah habis. Kita maen aja yok..
Tanpa tv, dibatasi waktu nonton/ maen game di gadget. Akhirnya mereka berdua lebih banyak eksplore yang lain. 
Entah baca buku, maen fun thinkers, maen puzzle, bikin prakarya, maen dokter2an, masak2 sama bunda, maen ayunan di teras, maen petak umpet, maen gelembung sabun, belajar belanja ke pasar, belajar ke taman sakura, menggambar di taman flora, apa aja deh. Kadang mereka yg punya ide, kadang ayah bunda yg melempar ide. Kadang ide muncul spontan, kadang harus kepo cari inspirasi di mbah google. 
Ah,, bener2 harus belajar terus jadi orang tua. Bisnis mungkin bisa gagal, karir mungkin boleh gagal, toh masih bisa diulang. tapi mendidik anak gak boleh gagal, karena gak mungkin bisa diulang lagi.
Mohon bimbinganMu Ya Rabb untuk mendidik dan membesarkan mereka. Tak sekedar karena mereka adalah darah daging kami, tapi krn mereka adalah amanahMu yg kelak harus kami pertanggungjawabkan dihadapanMu.. 
#belajar lagi 
#belajar terus
Udah asyik ya. Keuntungan tidak punya televisi. Dari sisi tema itu utuh.
Suka nulis pakai singkatan.
Dari sisi bahasa, enak juga dibaca. Pembaca para ibu itu sudah cukup nyaman.
Kalau nanya kritik jujur itu ke pembaca. Jangan nanya ke guru nulis ibu-ibu. 
Kalau di facebook, diberi komentar nyambung, berarti tulisannya memang kena.
Diskusi Bebas
〰〰〰〰〰〰
🌻shanty ➡bu Anna,  bagaimana mengemas suatu kisah yang sederhana tapi bisa jadi luar biasa.
saya sering baca, kisah yg tampak sederhana dan sehari hari tapi bisa dimaknai dan dituangkan dalam tulisan dengan apik, sehingga membawa perasaan pembaca.
Kisah hal-hal sehari-hari tapi membuat tersentuh banget. Ketika hal-hal diungkap dengan bahasa yang tertata, sebenarnya kita tahu tapi sudah terkubur lama. 
 
Problem penulis yang baru menulis adalah pengen bikin kisah yang wow, mengharukan, nangis.
Latihan-latihan dan latihan terus. Apakah nanti kisahnya akan menjadi luar biasa bagi seseorang.
Kadang menurut kita luar biasa, belum tentu kata pembaca luar biasa.
Prinspnya adalah latihan saja.
 🌻shanty➡apakah bila tdk ada bakat menulis bisa juga dengan latihan extra?
Kalau terus menerus menggerakkan tangannya, akan terbentuk ototnya. Melatih tulisannya agar karakter tulisannya terbentuk.
🌻Euis
Ibu, apakah menulis harus dengan bahasa baku dan sesuai EYD? Bolehkah pakai bahasa dengan style kita misal gue, ndak, mupeng dsb?
EYD itu menuliskan apa yang diucapkan. Itu tidak selalu terkait dengan baku dan tidak baku, tanda baca. EYD bikin naskah jadi kaku? Tidak. Itu ranahnya pilihan kata / diksi selama dia menaati kaidah penulisan huruf besar, tanda baca, perpindahan paragraf, dll. Gaya-gaya teenlit tidak apa-apa.
Kalau di FB ada bbrp tulisan saya yg banyak like dan di share ulang,  apa ini bisa jadi benih buku bu? Tapi temanya acak. Ada yang parenting, pernikahan, agama maupun sosial
Bisa jadi apa yang dituliskan itu mewakili curhat banyak orang, atau bisa jadi membuka gagasan baru. Tema itu gali lagi. Diperkaya lagi. Dari situ kita akan tahu, ternyata kalau nulis ini diminati orang. Oh saya senangnya di bidang ini, nulisnya enjoy, akhirnya beresonansi ke pembaca. 
🌻shanty&heppi
Bu,  melatih bikin kerangka, biar menulisnya tidak loncat loncat, bagaimana?
Banyak metode, salah satunya membuat outline, semua yang terkait dengan tema itu dituliskan. Buku itu bisa dibaca dari sisi manapun. Kumpulan artikel tapi temanya sama. Itu yang biasa dilakukan penulis pemula. 
🌻Euis➡ adakah komunitas online via wa yang bisa diakses oleh kami yang baru belajar nulis? Siapa tahu bisa tersemangati, bisa bantu koreksi dan pasti akan banyak ilmu kepenulisan disana
Semangat di awal kemudian buyar dan kalau misalnya dipertahankan pun paling hanya beberapa orang. Belajar dibuat semenarik apapun, kembali ke komitmen. Kalau misalnya niat, membuat 1 karya, apakah itu antologi (tulisan bersama), tulisan sendiri. Fungsi teman tidak hanya teman belajar tapi menyemangati.
➡Bisa klik di www.sekolahperempuan.com
❄❄❄❄❄❄❄❄
Metode kulwap➡pertanyaan dgn text,  jawaban dgn voice 😃

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: