Menumbuhkan Semangat Keislaman dalam Keluarga

Menumbuhkan Semangat Keislaman dalam Keluarga

#hari8 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

DAILY REVIEW KELUARGA SURGA

Tanggal: KAMIS, 9 FEBRUARI 2017

Tempat: Mobil

Daily review keluarga Surga merupakan forum keluarga inti kami yang dilaksanakan setiap hari untuk mengevaluasi apa yang sudah kami lakukan, akan kami lakukan, serta hal menarik apa yang kami temukan. Sebisa mungkin kami libatkan anak untuk mengikuti review ini walaupun dia belum bisa mengerti, agar dia mendengarkan.

***

WHAT’S INTERESTING

Forum kali ini lagi-lagi kami lakukan di mobil. Hari ini kami melakukan spontaneous trip ke daerah wisata religi Ampel. Saya yang mengusulkan kepada suami untuk pergi jalan-jalan ke luar hari ini. Sebenarnya saya mengusulkan ke Madura. Begitu di tengah jalan hampir belok ke arah Madura, saya iseng menyeletuk, “Aku belum pernah ngajak kamu ke Ampel, ya.” Lalu seketika dia berubah pikiran, kami mencari Google Maps arah ke Ampel dan tibalah kami di sana. Hehehehe, sangat random. Mengapa bisa tiba-tiba mengubah arah? Usut punya usut, suami sangat tertarik mencoba kuliner arab di Ampel. 

Kami mengunjungi masjid Sunan Ampel lalu mencari warung untuk makan di Foursquare. Lalu kami dapati Warung Jumbo di daerah sekitar Kantor Bank Muamalat. Nah, sepulang dari Ampel, kami kekenyangan. Saya telah makan Nasi Kebuli Ayam dan suami makan Nasi Biryani Kambing. Dilengkapi sepiring roti canai tanpa minyak. Wuenaaak… Alhamdulillah. Di perjalanan pulang, saat kami baru duduk di mobil, suami berkata sebenarnya tidak apa-apa tadi tidak usah ke Masjid Ampel, yang penting dia sudah merasakan kulinernya. 

Sebenarnya saya tidak terlalu kaget dengan pernyataannya. Namun gaya traveling-nya sangat berbeda dengan saya 100%. Saya tidak terlalu memedulikan sisi kulinernya. Bagi saya, kuliner adalah yang penting makan, makanan tidak khas daerah tersebut tidak apa-apa, makanan khas? malah Alhamdulillah. Yang saya incar adalah tempat-tempat bersejarah, bangunan, suasana, interaksi dengan penduduk sekitar, dan hal-hal yang berhubungan dengan sisi arsitekturnya. 

Kami lalu menelusuri, apa sebenarnya yang melatarbelakangi kebiasaan kami itu. Ternyata pengalaman kami di masa kecil-lah kuncinya. Sejak kecil, saat bertamasya bersama keluarga, saya jarang sekali mengutamakan kuliner atau makanan, selalu mengutamakan pergi ke tempat wisatanya, memotret bangunan, suasana, sedangkan foto kami atau foto yang ada orangnya hanya sedikit saja. Sedangkan keluarga suami, sangat suka makan rame-rame, dan suka membawa oleh-oleh berupa makanan sepulang dari bepergian. 

MENUMBUHKAN SEMANGAT KEISLAMAN DALAM KELUARGA

Nah, ternyata itulah yang menyebabkan kami memiliki kebiasaan seperti ini sampai sekarang. Perlahan kami sadar bahwa pengalaman di masa kecil yang membawa kami jadi seperti ini.

Nah? Apa hubungannya artikel ini dengan menumbuhkan semangat keislaman dalam keluarga? Akhirnya kami ingin menerapkan itu ke anak. Bahwa menciptakan atmosfer atau mengondisikan suasana semangat keislaman dalam keluarga, In Syaa Allah akan melekat hingga besar nanti.

Misalnya, mengondisikan semangat 1 bulan sejak sebelum bulan Ramadhan. Membuat countdown menuju bulan Ramadhan, menghias rumah, kemudian membangun suasana ibadah yang menyenangkan. Lalu untuk membuat anak terbiasa melakukan sunnah, kami ingin membiasakan anak mengucapkan Bismillah sebelum beraktivitas, membuat anak tidak merasa bahwa kewajiban dalam agama merupakan “kewajiban” tapi kebutuhan. Jadi, setiap mau shalat adalah saat yang ditunggu-tunggu, setiap ada adzan dijawab panggilannya, setiap hujan berdoa, dan lain-lain. 

Memang berat sekali pikir kami saat ini, tapi mudah-mudahan dengan niat kami yang tulus untuk menciptakan generasi yang sholeh/ah berbasis pendidikan fitrah, maka semua akan dilancarkan oleh Allah yang menitipkan buah hati pada kami. In Syaa Allah.

WHAT’S CHANGED

Karena suami sedang menyetir saat di mobil, jadi intensity of eye contact dan bahasa tubuh kami minim. Tentang choose the right time, saya tidak tahu apakah waktu berdiskusi sambil menyetir mobil itu tepat atau tidak. Tetapi menurut saya, berdiskusi sambil melihat keramaian di jalan itu menyenangkan. Tapi memang sih, pikiran dapat terdistraksi. Namun sebisa mungkin kami tetap menggunakan kaidah clear and clarify dan I’m responsible for my communication result.

Bismillaahirrahmaanirrahiim, mudahkanlah kami dalam mendidik anak-anak kami, generasi zaman yang semakin edan ini.


Ciptakanlah surga sebelum Surga di rumahmu.

Salam sejuk,

Keluarga Surga

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: