Merah, Putih, dan Senyum Kita

            Entahlah, mengapa rasanya ada yang berbeda di hati ini ketika mengetikkan kata ‘Indonesia’ di situs mesin pencari ternama. Klik pilihan ‘Gambar’ dan lihat warna yang mendominasi layar komputer. Merah, Putih. Kobaran optimisme terpancar cerah dari kedua warna sakral yang kontras tersebut, yang dipakai di bendera negeri kebanggaan kita, Indonesia.
            Setelah mengetikkan kata ‘Indonesia’ di mesin pencari, ketikkan lagi ‘Prestasi Indonesia’. Ratus ribuan gambar berbicara mengenai hebatnya negeri ini. Mengenai otak-otak cerdas di bumi pertiwi ini. Raihan medali di bidang olahraga dan akademis anak negeri ini tak boleh diremehkan.
            Sekarang, mari kita lihat surat kabar pagi ini. Semakin hari, minat untuk membaca surat kabar semakin menurun. Apa penyebabnya? Berita-berita negatif tentang negeri ini dan penduduknya selalu saja menghiasi lembar demi lembar surat kabar. Seribu satu bencana. Ekspos berita negatif terlalu berlebihan baik di media cetak maupun elektronik. Berita baik dengan berita buruk rasionya tak imbang.
            Faktanya, berita negatif saat ini menjadi makanan favorit bagi media dan pembaca. Layaknya junk food, membuat ketagihan. Artis-artis yang salah pergaulan, politikus-politikus yang entah semakin tak benar kelakuannya, dan lain-lain. Tak adakah berita baik hari ini? Wajah yang mana lagi yang akan kita tunjukkan ke wisatawan luar negeri ketika berkunjung ke negeri kita? Tidak malukah kita ketika mereka membaca surat kabar produksi negeri ini.
            Masyarakat yang overpesimistis, mudah galau, memang harus sering didoktrin dengan ungkapan ini, “Berhenti mengecam kegelapan. Nyalakan lilin. Ini negeri besar dan akan lebih besar. Sekedar mengeluh dan mengecam kegelapan tidak akan mengubah apapun. Nyalakan lilin, lakukan sesuatu.” Seperti dikutip dari situs gerakan termahsyur, Indonesia Mengajar, yang diprakarsai oleh seorang pemuda Indonesia, Anies Baswedan.            
Puluhan juta rancangan hebat Tuhan –para pemuda- yang sebentar lagi akan menduduki kursi-kursi pemerintahanlah yang seharusnya dibenahi mulai dari sekarang. Untuk apa? untuk menjadikan INDONESIA BERSINAR bukan lagi impian. Kita punya beratus-ribu calon generasi penerus yang belum terlambat jika kita cekoki rasa optimisme terhadap diri sendiri khususnya, baru kepada negaranya. Optimisme harus dipupuk sejak kecil. Mari tularkan optimisme kepada adik-adik, anak-anak, dan calon-calon pemimpin bangsa ini. Salah satunya, dengan mengajar.
            Puluhan ribu proposal Program Kreativitas Mahasiswa akan menjadi puluhan ribu ide yang membuat negeri ini menjadi lebih baik. Baik yang nantinya lolos ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) maupun tidak.
            Satu lagi, jika kita punya banyak waktu luang, silakan buka goodnewsfromindonesia.org,baca buku karya Pandji Pragiwaksono yang berjudul Nasional.is.me, dan buka website Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI) di kdri.web.id. Yakinlah bahwa Indonesia bisa bersinar seperti dulu lagi. Tak inginkah kita ulang masa kejayaan itu lagi? CHANGE, WE NEED. Perubahan paling krusial ada di tangan kita, dengan dua cara, ubah mindset negatif kita dan tersenyum. Satu senyum selain berarti sedekah, juga dapat menumbuhkan optimisme. Senyum, dapat mengaktifkan hormon yang membuat diri kita bersemangat. Senyum. Negara kita terkenal dengan keramahan dan kesopansantunannya.
            Mungkin, ada dua ratus juta lebih senyum yang menghiasi bibir para penduduk negeri ini, bila kita semua hidup dengan damai dan berpegang teguh pada asas negara kita sendiri, pancasila. Sekali lagi, Indonesia bersinar bukanlah impian yang tak tergapai. Salam merah putih!


Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: