Model dan Metode Homeschooling: Catatan tentang Webinar Rumah Inspirasi Sesi 2

Selesai ujian tulis mata kuliah Real Estate pukul 11.00 waktu Mesir, saya langsung pulang ke asrama dan ngebut menyelesaikan membaca e-book Model & Metode Homeschooling. Mengapa harus ngebut? Ya, supaya saya sudah paham kisi-kisi materinya sebelum webinar dimulai. E-book ini termasuk dalam set materi yang diberikan oleh Rumah Inspirasi. Selain e-book, untuk sesi ke-2 ini para peserta diberikan materi sebagai berikut:

BONUS

Setelah menyelesaikan membaca e-book, karena kelaparan, saya dan suami mencari makan di luar. Kami makan dengan cepat sehingga sudah pulang sebelum webinar dimulai. Webinar akan dimulai pukul 19.00 WIB alias 14.00 waktu Mesir. 

Screen Shot 2016-02-16 at 2.06.46 PM
E-Book Aneka Model & Metode Homeschooling oleh Pak Aar
Screen Shot 2016-02-16 at 2.31.04 PM
Sebuah kutipan yang saya sukai di E-Book Aneka Model & Metode Homeschooling

Saya langsung membuka WizIQ, platform virtual class yang digunakan untuk webinar, lalu meng-klik buttonLaunch Class‘ yang berwarna oranye. 

Screen Shot 2016-02-16 at 1.55.01 PM

Oh ya, di webinar sebelumnya telah dijelaskan tentang Basic dan Legalitas Homeschooling. Setelah para peserta mengenal apa itu homeschooling (HS) dan statusnya di negeri ini, di webinar kedua, akan diperkenalkan Model dan Metode Homeschooling.

Screen Shot 2016-02-16 at 1.47.26 PM
Tampilan Kelas Virtual Webinar Sesi 2, 16 Februari 2016

“Di mana saja

kapan saja

Bersama siapa saja aku belajar.”

 
Setelah lagu pengiring berjudul ‘Belajar di Mana Saja’ itu diputar, mereka memutarkan lagu berjudul ‘Brownies‘. Nadanya lucu, liriknya pun seru. Baru kali ini saya mendengar resep Brownies dibuat lagu. Memang kreatif sekali keluarga mbak Lala ini 😃 Ternyata lagu-lagu anak-anak karyanya bisa diunduh gratis di pelanginada.com, lho! Ada lebih dari 50 lagu. 
 

Tepat pukul 19.00 WIB, webinar dimulai. Di sesi kedua dari sepuluh ini, tema kali ini tidak terlalu populer, jarang ditanyakan karena relatif tidak terekspos oleh macam-macam metode pendidikan. 

Menegaskan Kembali…

Setelah itu, Pak Aar mengajak peserta mengingat kembali apa yang sudah dipelajari di materi minggu lalu:
 
  • Orangtua memilih untuk bertanggungjawab sendiri atas pendidikan anak-anaknya. Seberapa mungkin? Sangat mungkin, karena sudah diterapkan oleh banyak keluarga di seluruh dunia. Dari sisi kepuasan, baik dari orangtua maupun anak, hasilnya luar biasa. 
  • Tantangannya, bagaimana sih HS dijalankan? HS itu bukan memindahkan sekolah ke rumah. Jangan memindahkan sekolah ke rumah. Nanti bawaannya stres. “Gimana ngajarnya? Orangtua kan tidak pinter, orangtua kan bukan pengajar yang hebat.” Sudut pandang orang yang tidak menjalani HS: “Guru di sekolah saja susah kok, bagaimana orangtua mengajari anaknya di rumah?”

Tetapi ketika Anda menjalani HS dan bertemu dengan keluarga-keluarga yang sudah HS, maka Anda akan memiliki perspektif yang berbeda.

  • HS adalah model pendidikan alternatif. Kita memiliki kesempatan untuk melihat berbagai proses pendidikan dari sudut pandang yang berbeda dengan sekolah. Karena kita menjalani model pendidikan alternatif, salah satu hal penting yang harus kita siapkan adalah mental karena kita akan menjadi perintis yang berbeda dari mayoritas, yang pertama kali di masyarakat, di keluarga besar, di kota kita, dan lain-lain. Butuh sebuah ketahanan mental karena kita membuat sebuah pilihan yang benar, serius, dan berdampak pada keluarga dan anak kita. Bukan sekedar ikut tren, gaya, tapi sebuah pilihan sadar.
  • HS adalah pendidikan berbasis keluarga. Bukan lembaga, tempat kursus, bimbingan belajar. Bagaimana sebuah pendidikan bisa diterapkan oleh keluarga tanpa kehilangan esensinya dan tetap berkualitas.
  • Standar/model HS tergantung tiap keluarga. Karena setiap keluarga unik, berbeda, pengalaman, beragam latar belakang sosial, latar belakang pendidikan, sehingga tidak ada sebuah standar yang berlaku di dalam HS. Model HS beragam, tergantung desain yang dibuat oleh keluarga. Oleh karena itu, tugas penting bagi Anda yang akan menjalani HS:

Apa sih yang akan saya lakukan untuk anak-anak? Modelnya seperti apa? Mau ke mana anak-anak ini saya bawa?  

Itu yang perlu didiskusikan dengan pasangan. Kegiatan apa yang akan kita lakukan dengan anak-anak kita, semua itu dipengaruhi visi pendidikan keluarga. 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.04.34 PM
Menegaskan kembali makna HS

Mengapa perlu belajar model HS?

  • Kita hanya belajar dari satu jenis sekolah. Selama ini model pendidikan yang kita tahu hanya sekolah. Kita hanya mengenal satu kurikulum. Di Amerika Serikat, setiap negara bagian punya kurikulum yang berbeda-beda. Ada lembaga-lembaga swasta yang menyediakan kurikulum (Curriculum provider). Di Indonesia kita mengenal 1 jenis kurikulum yang dipakai secara nasional. 
  • Sudut pandang tentang anak & pendidikan sangat beragam. Ada banyak teori pendidikan, filosofi proses belajar. Tidak semua gagasan sama: tujuan & cara bisa berbeda. 
  • Walaupun tidak menjalani HS nantinya, dengan mengenal aneka model bisa memperkaya proses parenting.
 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.10.25 PM
Pentingnya belajar model HS

Lalu, berbagai sudut pandang tentang anak dan proses belajarnya:

  • Ada yang memandang anak-anak itu seperti kertas kosong. Ada yang memandang anak-anak seperti rumah kosong. Seperti plastik, lilin, dibentuk oleh orang dewasa. Tapi di sisi lain, anak adalah individu dengan segala rasa, pendapat, dia tidak hanya menerima, tapi merespon. Kita masuk yang mana? 
  • Siapa yang berhak menetapkan tujuan pendidikan untuk anak? Ada yang menganggap itu ditetapkan orang dewasa. Ada juga yang menyatakan, tugas itu ditetapkan oleh anak, orangtua hanya menemani, mendampingi, memaparkan. 
  • Tujuan dari proses pendidikan ini apa? Menuju sosok ideal. Di sisi lain, tidak ada yang ideal, semua berproses.
  • Bagaimana sikap terhadap belajar? Anak kalau ga dikasih tahu, ga akan belajar. Di sisi lain, anak sebenarnya punya keinginan belajar yang alami sehingga tugas orangtua hanya memfasilitasi saja. Mereka waktu kecil tanya ini itu dan sebagainya. Mana yang benar?
  • Cara belajar alami anak adalah harus diarahkan, ini alatnya, ini tools-nya, ini materi belajarnya. Tapi ada yang mengatakan, eksplorasi, berubah-ubah sesuai usianya. 
  • Apakah peran orangtua? Mengarahkan atau menyediakan lingkungan?

Pak Aar tidak memberikan justifikasi mana yang benar, karena setiap keluarga mempunyai nilai sendiri. Silakan pilih mana yang paling sesuai untuk Anda.

Screen Shot 2016-02-16 at 2.12.40 PM
Perbedaan sudut pandang tentang anak dan cara belajarnya

 

Apa saja model HS yang ada?

Ada dua model utama HS, yang pertama yaitu School-at-home, mengambil sekolah sebagai sebuah model, sangat terstruktur. Yang kedua, di ujung yang berbeda dan Unschooling, sangat tidak terstruktur. 
 

School-at-home

  • Mengambil inspirasi dari sekolah. Sekolah sebagai model utama.
  • Belajar berdasarkan textbook. Textbook learning.
  • Kurikulum: scope & sequence. Kurikulum itu adalah berbasis sekolah, kita merasa butuh panduan, apa saja yang perlu dipelajari. Namun di Unschooling tidak ada kurikulum.  
  • Pelajarannya berbasis mata pelajaran: Matematika, Bahasa, dll.
  • Berjenjang: Kelas 1 sampai kelas 12.
  • Evaluasi secara periodik. Bisa ujian harian, semester, tertulis, lisan, dll.
  • Mengajar, teacher-centered. Belajar bukan suka-suka anak, belajar sudah ditentukan. Ada orang dewasa yang mengajari anak-anak.

Model ini cukup populer, paling dikenal orang-orang. Paling dikenal oleh para birokrat dan para pengelola pendidikan. Sehingga sebagian besar kebijakan HS, modelnya pada School-at-home.

 

Screen Shot 2016-02-16 at 2.17.16 PM
School-at-home

 

Kurikulum Homeschooling

  • Panduan untuk proses belajar (materi dan urutan) yang akan dipelajari oleh anak.
  • Di Indonesia hanya ada 1 kurikulum ditentukan oleh pemerintah pusat dan dipakai masyarakat secara luas. 
  • Kurikulum paket atau per pelajaran. 
  • Contoh kurikulum luar: Coba googling ‘Homeschooling Curriculum’, banyak pilihan tersedia. Anda bisa menggunakan kurikulum lokal, luar negeri, atau gabungan.
    • Lesson pathways (free) -> sign up, ada level dari preschool sampai kelas 5.
    • Time4Learning (online) -> situs berbayar, ada 4 pelajaran: mathematics, science, social studies, language & art. Keluarga Sumardiono pernah memakai kurikulum ini tapi merasa tidak cocok.
    • Calvert -> Ada materi online ada juga yang 1 box: buku panduan orangtua, alat evaluasi, rencana belajar, jadwal, materi percobaan, dll. Tinggal beli dan praktekkan. Namun harganya mahal. Harga satu paket sekitar $1100 untuk TK. 
    • ACE (Accelerated Christian Education) -> berbasis agama 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.22.32 PM
Kurikulum HS

Mau ujian di mana? Ujian lokal? Perhatikan kurikulum Indonesia. Namun kita bisa memperkayanya dengan materi lain. 

Tantangan School-at-home

  • Memindahkan sekolah ke rumah bukan pekerjaan yang mudah karena nature rumah berbeda dari sekolah. Fasilitas berbeda, komunikasi berbeda. Guru-murid: komunikasi formal, orangtua-anak: komunikasi informal. Anak bisa membantah orangtua. Jadi, ada proses belajar yang perlu diadaptasi.
  • Cara belajar di sekolah berdasarkan mata pelajaran tidak natural. Kita tidak menjalani kehidupan sehari-hari per mata pelajaran. Ketika ke pasar, belajar bahasa, berkomunikasi, etika, matematika yaitu berhitung uang kembalian. Kalau belanja sayur-mayur, mereka belajar tentang IPA. Pelajaran terintegrasi dalam keseharian.
  • Orangtua bukanlah guru. Ilmunya ga banyak, terbatas sehingga ini tidak mudah juga untuk dipraktekkan.
  • Kecenderungan belajar-untuk-lulus-ujian (learn-for-test). Pandai mengerjakan soal, bukan menjalani kehidupan.
Screen Shot 2016-02-16 at 2.28.18 PM
Tantangan School-at-home

Peran Orangtua (dalam school-at-home)

  • Untuk kurikulum nasional:
    • Membeli buku-buku pelajaran
    • Mempelajari standar dan target setiap jenjang pelajaran & tingkat
    • Setelah tahu bukunya, mencari tools dan cara belajar yang efektif dan menyenangkan. Yang penting tujuannya tercapai.
  • Untuk kurikulum luar:
    • Cari yang sesuai dengan nilai-nilai Anda. Di luar banyak sekali kurikulum, bandingkan komentar atau testimoni dari pemakainya, apakah sesuai dengan nilai-nilai yang ingin Anda kembangkan untuk anak-anak.
    • Anda bisa membeli paket (seluruh pelajaran) atau per pelajaran, seperti kurikulum Calvert.
    • Praktekkan dan praktekkan. 
    • Adaptasikan dan selaraskan dengan kebutuhan. Seberapa cocok dengan anak-anak, jangan sampai sudah keluar uang banyak, tapi tidak cocok, bisa bikin stres.
Screen Shot 2016-02-16 at 2.31.24 PM
Peran orangtua dalam School-at-home

 

Inovasi School-at-home

Agar tidak terjebak dalam metode sekolah konvensional:

  • Ambil perspektif jangka panjang. Misal anak masih SD, ketika anak masih kelas 1, 2, 3, lebih banyak kesempatan untuk eksplorasi. Logika matematika dan bahasa dibangun. Konten materi SD boleh berat ketika kelas 4, 5, 6. Anak-anak disiapkan untuk ujian paket (saat kelas 6 SD). 
  • Bersikap fleksibel di dalam proses belajar (waktu, materi). Anda bisa mulai belajar mulai jam 9, atau mulai subuh. Ada yang mulai belajar sore, ada yang malam. Pagi siang main, malam belajar bersama orangtua, tergantung kondisi keluarga. Carilah mana yang paling tepat. 
  • Gunakan model belajar modular, bukan paket. 
  • Perkaya materi dan alat belajar: unit study, project, multimedia, magang, dsb. Materi belajar online, ngobrol, dan lain-lain. Tools yang dipakai oleh: IXL Math untuk matematika. Ada keluarga yang tidak online. Ibunya penjual kue, bapaknya pembalap. Belajarnya ikut bapak ibunya, belajar segala sesuatu dengan kue, bagaimana ibunya membuat kue, eksplorasi alam bersama dengan bapaknya. Betul-betul disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Tidak hanya menggunakan buku. 
  • Solusi praktis: buku soal/tutor/bimbel/internet. Jika mau ujian, beli buku soal di toko buku, undang tutor, atau bimbel. 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.33.42 PM
Inovasi School-at-home

Unschooling

Keluarga Sumardiono terinspirasi oleh model ini. Sangat tidak terstruktur. Unschooling itu berarti sang anak belajar apa saja yang dia mau, ketika dia mau, dengan cara yang dia mau, di tempat yang dia mau, untuk alasan-alasan yang dia mau. Dikelola dan ditentukan oleh anak. Panduan hanya diberikan ketika anak-anak menghandaki. Tidak ada lesson plan. Betul-betul mengalir bersama kehidupan. Biasanya diterapkan di usia preschool. 

“What children need is not new and better curriculum but access to more of the real world, plenty of time and space to think over their experiences, and to use fantasy and play to make meaning out of them.”

Sekolah terlalu teoritis. Yang diperlukan adalah belajar langsung di dunia nyata. Sekolah berasumsi bahwa anak adalah kertas kosong. Sedangkan di Unschooling:

  • Anak adalah sosok individu. Anak senang diapresiasi, tidak senang dimarahi. Sikap itu yang diterapkan oleh orangtua-orangtua Unschooling. Pendapat mereka betul-betul didengarkan.
  • Keinginan belajar itu alami. Unschooling belajar karena butuh, atau karena ingin. Ketika anak ingin menonton TV, sudah mau mulai belum acaranya? Maka anak butuh materi tentang jam. Yang membuat proses belajar itu berhenti, adalah sikap orangtua, terlalu ketus, banyak melarang, dan lain-lain. Bukan berarti orangtua tidak boleh memberikan feedback, tapi anak belajar konsekuensi. Anak-anak belajar bahwa setiap kegiatan ada konsekuensi/implikasinya.
  • Dunia nyata adalah ruang belajar paling baik. Ketika kita berinteraksi langsung dengan kuda, maka lebih baik daripada belajar tentang kuda dari buku. Hanya rasio yang berkembang, jika dari buku. Jika secara langsung, maka seluruh indera terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Proses belajar menjadi lebih kaya. Misalnya ke pasar, membantu pekerjaan orangtua, sebagaimana orang dewasa, itu merupakan proses pembelajaran Unschooling.
  • Keharusan-keharusan orangtua/orang dewasa cenderung menghambat anak. Maka orangtua harus menyediakan lingkungan yang kondusif.
  • Tidak ada kurikulum.
Screen Shot 2016-02-16 at 2.38.09 PM
Unschooling

Peran orangtua (dalam Unschooling)

  • Menjadi inspirator kegiatan anak. Orangtua adalah idola anak. Orangtua senang masak, bersolek, di depan komputer, pegang gadget, memperbaiki kendaraan, maka anak-anak akan mengikuti. Orangtua HS menjadi inspirator. 
  • Menyediakan lingkungan belajar yang kaya stimulus. Orangtua mencontohkan, tidak hanya menyuruh. Misalnya: membaca. Ingin anak senang membaca, bangunlah lingkungan di keluarga itu agar senang membaca. 
  • Membantu memberikan perspektif jangka panjang. Memberikan makanan yang rendah gula dan rendah garam saat fase MPASI (Makanan Pendamping ASI), anak terbiasa dengan makanan tawar. Maka secara otomatis, pola makannya terbentuk. 
  • Membantu perencanaan dan alokasi sumber daya. Bikin proyek membuat boneka. Apa saja yang dibutuhkan? Ketika proses sering diulang, itu akan menjadi keterampilan. 
  • Memperkaya proses yang dijalani anak. Diekspos dari hal-hal di luar rumah. Jalan-jalan, keluar rumah, melakukan hal-hal lain di luar kebiasaan di rumah.
Screen Shot 2016-02-16 at 2.46.58 PM
Peran orangtua dalam Unschooling

 

Tips Unschooling

Unschooling memanfaatkan keseharian. Sandra Dodd adalah salah satu praktisi unschooling. Berikut tips dari Sandra Dodd:

  • Let go & trust. Orang tua biasanya panik apalagi kalau mulai HS di tengah-tengah. Tapi kalau kita mulai sejak anak usia dini masih bayi, maka itu lebih mudah. Percayalah pada anak-anak, mereka selalu punya minat.
  • Joy & connection. Nikmatilah keseharian, bangunlah hubungan. 
  • Being a better person:
    • Principles over rules (freedom, golden rule, kindness, respect) Staying in the moment (mindfulness, play, connection, joy). Mengucap salam, berterima kasih, bersyukur, berdoa, dst. Contoh sederhana dalam keseharian.
  • Tools for daily life:
    • Create a rich environment. Pola kegiatan tidak rutin. Anak dilibatkan dengan dagang, anak dilibatkan dengan dunia nyata tempat orangtua beraktivitas.
    • Ride the waves of interest & passions. Manfaatkan dengan diskusi, fasilitasi, agar proses belajar berkualitas.
    • Follow your heart & encourage them to follow theirs. 
    • Creative brainstorming.
Screen Shot 2016-02-16 at 2.50.27 PM
Tips Unschooling
 
 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.54.00 PM
Model Charlotte Mason

 

Charlotte Mason

Charlotte Mason adalah pendidik Inggris 1842-1923.

Beberapa prinsip dalam metode CM:

  • Habit training:
    • Disiplin dan karakter anak tidak bisa dibangun dari lingkungan, tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kegiatan yang teratur atau regular, terencana, dan bertahap. Misalnya berlatih jujur, bersikap sopan harus dilatih secara rutin, diberi feedback, diingatkan kalau melakukan kesalahan.  
    • Apa yang ingin dikembangkan di dalam pendidikan anaknya. Misalnya ingin mengerjakan sesuatu dengan sempurna, anak-anak dilatih sesuatu harus dilakukan sampai selesai. Dia tidak boleh asal mengerjakan. Itu dibangun terus-menerus. 
  • Living books: Buku-buku pelajaran terlalu kering. Tidak bisa membuka perasaan anak-anak. Salah satu kebutuhan anak: anak-anak harus punya ide-ide besar, belajar dari tokoh-tokoh besar (tokoh agama & tokoh masyarakat). Anak-anak harus punya ide-ide bagaimana manusia harus hidup lebih baik, hal-hal besar yang bermanfaat bagi orang banyak. Anak-anak harus membaca buku-buku yang menggugah dan berkualitas. Anak-anak itu pintar, mereka tidak seharusnya membaca buku-buku yang sederhana karena mereka punya kemampuan dan kapasitas yang baik.
  • Narration: Belajar untuk menarasikan, menceritakan ulang isi buku.  
 

Source: Buku “Cinta yang Berpikir” oleh Ellen Kristi, Ambleside Online, Komunitas Charlotte Mason Indonesia.

Screen Shot 2016-02-19 at 1.41.31 AM
Model dan Metode Lain

Di luar metode itu, ada Classical, unit studi, Montessori, eklektik, dan lain-lain. Ketika punya kesempatan, baca buku, eksplorasi metode yang sesuai untuk anak kita, tidak hanya metode School-at-home, Unschooling, Charlotte Mason, dll. 

3 Jalur Homeschool

  • Jalur akademis
    • Mengikuti pola sekolah: SD-SMP-SMA-Kuliah. Yang penting anak-anak ikut ujian. 
    • Proses: ujian kesetaraan
  • Jalur professional
    • Profesi-profesi berbasis output. Contoh: fotografer, programmer, desainer, dll. Banyak profesi yang mengutamakan output dan portfolio, bukan ijazah. Diperkirakan akan semakin berkembang di masa depan.
    • Proses: skills, expertise/keahlian, portfolio, sertifikasi. Itu yang akan dilihat oleh employer.
  • Jalur bisnis
    • Entrepreneur.
    • Proses: magang, startup. 
Screen Shot 2016-02-16 at 2.59.36 PM
3 Jalur HS

Bagaimana model HS keluarga Pak Aar dan Mbak Lala?

Nah, kita semua pasti ingin tahu model HS yang dijalani keluarga Sumardiono ini sejak belasan tahun yang lalu. Proses memilih metode ini adalah bisa berlangsung satu kali atau berkali-kali.

  • Pada awalnya, proses Unschooling. Lalu tertarik model ijazah Cambridge International Examination. Seiring berjalannya waktu, ternyata materinya terlalu berat, tidak sesuai dengan keluarga Sumardiono. Berproses seiring waktu.
  • Model eklektik dengan spirit unschooling
  • Jalur professional
  • Fokus:
    • Attitude: pekerja keras, rajin, melayani, dll.
    • Expertise
    • Kemampuan menghasilkan output
Screen Shot 2016-02-16 at 3.03.15 PM
Model HS Keluarga Sumardiono

Tips Memilih Model Homeschooling

Eksplorasi! Ciri keluarga HS ialah senang membaca, banyak belajar, baca-baca blog keluarga HS. Sudah ada macam-macam alternatif. Yang perlu kita perhatikan adalah: 

  • Jangan panik dan jangan kusut
  • Anda memiliki banyak sekali pilihan
  • Gunakan cara berfikir kritis dan common sense
  • Pilih dan mulai dari yang Anda kuasai & nyaman. Sambil berjalan, kembangkan.
  • Orientasi pada yang praktis. Jangan adu keren, adu sulit. Yang penting orangtua puas, anak menikmati. Bukan mencari yang paling keren, tapi yang paling cocok di keluarga. Jika anak tidak nyaman dengan proses itu, adaptasi lagi, cari yang baru.
  • Subyek adalah anak & keluarga
  • Belajar & bertumbuh terus sambil praktek

Cari model mana yang paling sesuai untuk keluarga Anda.

Screen Shot 2016-02-16 at 3.04.58 PM
Tips Memilih Model HS

 

Sesi Tanya Jawab

Screen Shot 2016-02-16 at 3.07.56 PM
Sesi Tanya Jawab
 
 
 

Berikut pertanyaan yang diajukan para peserta yang bisa saya rangkum:

1. School-at-home jadi konsepnya seperti les privat? Jawab: School-at-home konsepnya seperti sekolah. Apakah diajar sendiri atau tutor, boleh.

2. Jadi apakah HS menjadi pengganti pendidikan formal atau hanya menjadi pendukung? Jawab: HS adalah anak tidak sekolah. Kalau proses tambahan namanya afterschooling/kursus.

3. Evaluasi school-at-home jadi skor yang dicapai ditentukan sendiri ya? Jawab: Evaluasi akan dibahas di sesi ke-8. Mulai dari evaluasi informal maupun formal. Baik lisan, maupun tertulis. Ada yang bersifat narasi, proyek, dan lain-lain.

4. Apakah bisa menerapkan disiplin bagi anak? Apa bisa menerapkan schedule waktu, misalnya bila hari ini harus  lakukan ini itu atau dalam minggu ini harus lakukan A-Z? Jawab: Kalau unschooling nilai-nilai di keluarganya bukan disiplin, tapi eksplorasi. Kalau sangat khawatir dengan kedisiplinan, maka Anda harus mencari metode lain yang lebih tepat. Disiplin itu intinya adalah proses parenting. Intinya adalah self-consciousness/kesadaran pribadi anak untuk menaati kesepakatan/aturan main. Apa konsekuensi kalau bangun siang, dll. Kalau di sekolah, disiplin dilaksanakan secara eksternal, ada pihak yang memaksa. Tetapi di HS, disiplin lebih banyak dibangun dari kesadaran pribadi. Prosesnya lebih sulit? Ya, namun setelah disiplin tertanam akan lebih kuat. Ada atau tidak ada orangtua, anak akan tetap disiplin. Berbeda dengan eksternal, begitu sistem tidak ada, maka akan cenderung ditinggalkan. 

5. Anak saya yang pertama passion-nya di dunia otomotif, yang kedua kepingin usaha, yang ketiga ingin menjadi koki. Metode apa yang saya harus gunakan? Apakah bisa menggunakan metode berbeda untuk ketiga anak? Jawab: Salah satu keunggulan HS, kesempatan HS adalah customized education. Setiap keluarga bisa membangun model yang berbeda untuk setiap anaknya. Anak pertama yang cenderung otomotif, orientasikan skill: kejar sertifikasi, magang, bikin proyek bisnis, magang, ikut pelatihan, dll. Bisnis: bikin proyek-proyek bisnis, magang di keluarga, pelatihan MLM, dan lain-lain. Tugas orangtua membangun anak merancang jalur proses karirnya masing-masing.  

6. Saat akan menentukan jalur mana yang dipilih, baik berupa jalur akademisi, jalur profesional, maupun jalur bisnis, berarti kita harus tau dulu kan minat dan bakat anak sejak usia dini? Lalu bagaimana cara tau apa minat bakat anak sejak dini? Jawab: Usia dini biasanya menggunakan Unschooling atau Charlotte Mason. Kalau bicara School-at-home, jalur akademis, profesional, dan enterpreneur itu untuk anak-anak yang sudah besar. Kalau masih preschool, yang dibangun adalah karakter, psikologis. Jadi santai saja. Bonding dengan anak diperkuat, skill dasar: bisa ngomong, bisa cerita, fisik/kesehatan -> untuk anak usia dini. Minat dan bakat tidak dibicarakan di anak usia dini. Anak dari usia dini sampai remaja distimulasi, belum dikerucutkan pada sebuah bidang tertentu. Tapi dipaparkan. Minatnya nyanyi, dieskpos terus, siapa tahu memang di sana bakatnya.

7. Apakah ada batasan usia bagi anak untuk memahami suatu mata pelajaran tertentu? Jawab: Pada dasarnya tidak. Belajar tergantung kesiapan anak. Belajar hal-hal baru sampai tua. Misal: anak 7 tahun ingin belajar bikin game, programming, tapi skill-nya masih terbatas. Tugas orangtua memaparkan sesuai kapasitas anak. Ingin belajar masak, sekarang anak bisa bantu-bantu dulu. 

8. Untuk anak yang cenderung pasif, gimana caranya orang tua mensimulasi minat belajar anak dengan metode unschooling? Dan bagaimana melatih anak untuk menyelesaikan apa yang dimulai (jika kita tidak menetapkan jadwal/aturan untuk kegiatan anak)? Jawab: Kalau anak pasif berarti mencari metode lain. Metode-metode ini hanya sebagai wawasan. Kita tidak harus melabeli diri kita metode apa.  Eklektik – mix and match, gado-gado, campuran: metode yang diterapkan di keluarga Sumardiono.  Ketika anak pasif -> pendiam, cenderung mengamati, menunda action, lebih lambat. Adakah karakter orangtua yang pendiam? Apakah ayah pendiam? Ibu pendiam? Berikan kesempatan sesuai kenyamanan. Anak baru bergerak ketika ia merasa nyaman dengan lingkungannya. Pastikan dia nyaman dengan lingkungannya. Stimulasi dengan obrolan. Orangtua jangan berhenti untuk mengobrol. Menyelesaikan apa yang dimulai. Ketika anak belum tahu, tugas ortu memberitahu dan menemani prosesnya. Anak tidak bisa dimarahi. Berkali-kali dicontohkan, dikurangi porsinya, dan itu diulangi bertahun-tahun. Tantangan HS ialah karena 24 jam bersama anak, sehingga membutuhkan daya tahan dan kesabaran. Kita bukan berlari sprint, tapi kita melakukan marathon yang panjang. Anak tumbuhnya pelan-pelan, seperti pohon. 

9. Kalau baru mau HS usia SD, tidak perlu cari sekolah payung dulu ya? Kalau kita belum menentukan mana dari 3 jalur yang kita sreg. Jawab: Kalau mau cari sekolah payung boleh saja. Tidak ada rumus yang benar dalam proses HS. Rumus yang benar adalah yang sesuai dengan keluarga kita. Mau cari sekolah payung? Cari saja. Sekolah Payung tidak ada, cari Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk ujian paket. Fokus pada proses pembelajaran anak.

10. Anakku autis ringan. 8 tahun. Apa ada metode khusus (program khusus) untuk anak Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Saya bisa contact kemana untuk anak ABK ? Jawab: HS memberikan kesempatan pada orangtua untuk merancang proses belajar yang tidak standar seperti sekolah pada umumnya. Anak ABK memiliki kebutuhan yang berbeda, lebih khusus sesuai kebutuhannya. Oleh karena itu, orangtua ABK adalah mencari partner dari sisi kebutuhan khusus, apakah psikolog, atau terapis. Ada keluarga HS ABK tapi tidak banyak yang membuka diri. Kalau googling, materi-materi HS ABK dari luar malah banyak.

11. Pilih yang anda kuasai. Misal kita mulai dari school-at-home karena saya guru, kemudian kalau ingin ke unschooling biasanya proses perpindahannya bagaimana dari teman-teman yang sudah HS? Jawab: Tidak apa-apa. Jika baca buku Linda Dobson, bagaimana memulai HS di tahun-tahun pertama. Ada keluarga yang awalnya terstruktur, seiring waktu menjadi tidak terstruktur. Caranya adalah melihat kebutuhan, jika terlalu ketat -> longgarkan, terlalu serius -> buat lebih santai. Karena setiap anak unik. Maka kita membuat rancangan. Anak Pak Aar yang nomor satu belajar lewat podcast. Cari yang sesuai untuk anak kita.  

12. Terkait  metode unschooling yang keinginan belajar itu muncul secara alami, bagaimana menstimulus anak agar mau belajar berbagai hal baru lainnya tanpa menjadi memaksa? Karena kecenderungan anak akan bermain dan belajar hal yang mereka sukai secara terus menerus sampai bosan sendiri. Jawab: Itu asumsi orangtua. Dikenalkan pakai buku. Anak unschooling bukan berarti orangtua tidak berperan apa-apa. Orangtua ingin anaknya belajar apa. Maka orangtua memulainya. Mengajak anaknya bercocok tanam bareng. Dilibatkan. Diajak. Tidak memaksa. Kita memang produk sekolah. Saat itu kita belajar dengan hal yang tidak ingin kita pelajari. Tidak dekat dengan dunia nyata. Kadang harus dipaksa. Dalam metode Unschooling, anak betul-betul pada momen ketika mereka mau belajar, dalam dirinya memang berbeda, jangan khawatir anak tidak suka belajar, akan main terus. Itu berarti kita sendiri tidak yakin dengan hal itu. Tapi kalau memang tidak yakin, tidak apa-apa. Pilihlah apa-apa yang menurut kita, kita yakini. Unschooling satu paket dengan penyikapan orangtua, ketika memilih Unschooling itu alami. Jika kita tidak yakin, maka kita akan mengintervensi, kemrungsung dan tidak nyaman. Anak juga akan tidak nyaman, takut mencoba, takut salah. Coba saja metode lain. Yang penting HS paduan orangtua nyaman dengan anak & proses belajar anak. 

13. Bagaimana jika belum ada kesepakatan pada orangtua mengenai model HS yang akan dijalankan? Jawab: Tidak apa-apa. Mulailah dari apa yang dikenal. Jalanin aja dulu. Sambil berjalan sambil mencari model yang sesuai. Anak berkegiatan. Keseharian berkualitas. Orangtua melihat anak menikmati keseharian. Metode-metode yang dipaparkan tadi di atas tidak ada yang paling bagus. 

14. Apa hal penting yang perlu diperhatikan dalam menentukan metode yang akan diterapkan untuk anak? Jawab: Mau orangtuanya apa. Akan dibahas di sesi 3. Di dalam keseharian menjalani HS, orangtua merasa puas dan nyaman, anak-anak bahagia dengan kesehariannya.  

15. Untuk metode School-at-home dengan target lulus paket A B C, apakah harus terdaftar di Diknas? Karena dari awal ini berorientasi untuk punya ijazah. 16. Kalau melihat perkembangan kurikulum di sekolah formal sekarang memakai kurikulum 2013 atau kurnas, apakah perlu mensinkronkan kurikulum HS dengan dari pemerintah? Jawab 15 & 16: Silakan lihat video rekaman webinar sesi 1. Ada aturan tentang mendaftar. Ijazah dibahas lagi di sesi ke-8. Sampai saat ini yang ada masih mengikuti kurikulum 2006. Teman-teman HS tidak terlalu terpengaruh dengan pergantian kurikulum. Materi mengikuti yang ada di toko buku dan diadaptasi.

17. Apakah untuk anak ABK kira-kira cocok untuk HS ? Jawab: Bisa cocok, bisa tidak. Tidak bisa digeneralisasi. Ada keluarga yang awalnya HS, tapi akhirnya menyekolahkan anaknya. Karena merasa pendampingan yang lebih bagus dari ahlinya. Kecocokan tergantung penilaian keluarga masing-masing. Apakah keluarga bisa meng-handle anaknya? Jika tidak memungkinkan, maka lebih baik disekolahkan.

18. Untuk HS jalur akademis bisa tidak kalau yang diajarkan & diberi evaluasi itu hanya mata pelajaran yang diujikan dan mata pelajaran sesuai bakat minat anak misal ilmu alam, ilmu sosial atau ilmu bahasa? Jadi tidak semuanya. Jawab: Di evaluasi nanti akan dibicarakan. Evaluasi: kebutuhan internal, kebutuhan eksternal (ujian kesetaraan). 

19. Kalau memakai jalur profesional atau bisnis berarti ga belajar pelajaran sekolah ya? Ga bisa ikut ujian paket/kesetaraan? Jawab: Itu adalah pilihan. Mau atau tidak mau. Jika mau ijazah, harus disiapkan. Tidak harus jalur itu murni. Metode, jalur, pengelompokan, itu adalah sebuah cara untuk membedakan gagasan. Tetapi dalam prakteknya, kita boleh memilih dan mencampurkan.  
20. Jika pilih jalur profesi, masih perlukah kita ikut ujian paket A, B dan C? (berdasarkan referensi HS yang sudah ada sebelumnya) Jawab: Masih perlu? Ya pakai. 
21. Kalau tadi ada ACE kurikulum berbasis agama Kristen, adakah yang Islam? mungkin ada link seperti Calvert tadi. Jawab: Sebagian berbasis agama kristen. Coba di-googling kurikulum berbasis Islam. 
22. Untuk keluarga Mas Aar sendiri yang berorientasi pada profesi dengan sertifikasi tertentu (tidak bertujuan punya ijazah). Apakah Mas aar dan Mba Lala ga daftar di Diknas? Jawab: Ada di sesi 1.
 
23. Gimana kita bisa objektif mendidik anak kita sendiri, terutama waktu anak-anak melakukan kesalahan yang perlu dikoreksi? Mas Aar dan Mba Lala punyakah pengalaman semacam ini? Jawab: Orang cenderung subjektif berkaitan dengan kepentingan. Objektivitas terhadap anak kita bangun kalau kita menyiapkan anak-anak untuk dunia nyata. Ada kecenderungan anak sendiri paling hebat. Perbandingan eksternal. Evaluasi ada sifatnya internal, supaya tidak terlalu subjektif. Saya merasa anak saya jago basket, seberapa yakin kita dengan kemampuannya, ikutkan kompetisi basket. Kompetisi adalah cara menguji sesuai standar eksternal.
 
24. Katanya kalau mau HS jangan coba-coba, padahal kan kalau tidak dicoba kita ga akan tahu model mana yang cocok untuk keluarga kita. Menurut Mas Aar gimana? Jawab:  Maksudnya jangan coba-coba itu, semua dilakukan dengan kesadaran, jangan ikut tren. Ketika memilih HS, ilmu berdasarkan keseharian dan praktek di lapangan. Seperti renang, naik sepeda, harus dipraktekkan. Kita tahu teori HS, ketika kita mempraktekkan sedikit banyak pasti ada unsur coba-coba. Setelah kita coba ternyata, oh bukan. Ada proses adaptasi, koreksi, itu dilakukan dalam proses HS. Kita punya pengetahuan, assesment awal terhadap kondisi anak, terhadap apa yang dibutuhkan, apa yang disukai. Tetapi ketika di praktek terjadi ketidaksesuaian, kita siap beradaptasi dan mengalami perbaikan.
 

25. Apakah tidak ikut ujian kesetaraan, misalkan karena fokus pada aspek profesionalisme, dapat dilakukan secara total. Artinya anak sama sekali tidak ikut ujian? Jawab:  Boleh juga begitu. 

 

26. Untuk anak yang super aktif yang butuh interaksi dengan teman, metode apa yang cocok? Jawab: Butuh kegiatan yang di luar. Tergantung jenisnya. Intinya mencari hal-hal yang berkaitan dengan pertemanan. Pertemanan menjadi krusial bagi anak yang pernah sekolah. Apakah kebutuhannya berkaitan dengan belajar atau main? Maka kita janjian playdate dengan sahabat-sahabat lain, ikut kegiatan bersama atau kelompok misalkan basket, futsal, sepakbola yang memberikan anak baik. Kalau dari sisi pembelajaran, harus cari teman, keluarga HS lain, berkegiatan bersama. Intinya mencari solusi dari kebutuhan anak.

27. Anak saya anak special need (diagnosa psikolog Speech Delay dan ADHD). Tetapi dari umur 3 tahun sampai sekarang 7 tahun minat dan bakatnya sudah muncul dan itu tidak berubah yaitu menyanyi dan memasak. Apakah saya harus hanya memilih jalur profesi saja atau harus mencoba metode lain? Jawab: Di dalam kondisi paling umum, biasanya orangtua ingin anaknya punya ijazah. Itu di Indonesia. Hal yang kedua adalah proses profesional atau bisnis sering menjadi hal yang utama. Ijazah menjadi bantalan. Proses pengenalan minat dan bakat itu sampai remaja, ada anak yang fokus dari awal, dan itu tidak bisa dipungkiri. Ada anak yang memang sukanya kegiatan renang dan kegiatan fisik, maka ia menjadi perenang profesional dan kegiatannya berkaitan dengan renang. Kemudian anaknya tidak ikut ujian. 

28. Jadi kalau masih berubah-ubah minat dan intensitas anak dalam mempelajari sesuatu adalah lumrah dan tidak perlu dikhawatirkan ya? Jawab: Tips: ngobrol dengan anak. Orang yang paling tahu yang dibutuhkan anak kita, ya kita sebagai orangtua. Beda dengan sekolah, kita menyerahkan hal itu kepada lembaga. HS memberi kesempatan orangtua bertanya, anak berpendapat. >90% anak SMA tidak tahu mau kuliah di mana. 

29. Terkait dengan kesiapan orang tua terhadap materi, bagaimana caranya apabila orang tua tidak menguasai suatu materi sehingga tidak maksimal dalam membimbing mereka? Jawab: Dibahas lebih detail di sesi ke-5 tentang menyiapkan anak menjadi pembelajar mandiri. Setiap orangtua HS punya keterbatasan. Mengapa anak HS bisa berhasil? Sesuatu itu yang akan dibahas nanti.
30. Untuk model belajar yang dipakai dikeluarga mas memakai sistem bagaimana? Apakah modular, tematis atau paket? Jawab: Modular. Anak belajar sesuai kecepatan masing-masing. Yudhis (salah seorang anak pak Aar) kelas 9, sudah selesai pelajaran SMP, pelajaran matematika sesuai SMA, bahasa Inggris untuk tes TOEFL atau IELTS, materi sesuai mahasiswa. Jadi tidak satu paket. Anak belajar per mata pelajaran sesuai kecepatan masing-masing.

31. Lingkungan tempat saya tinggal merupakan kawasan wisata, perkebunan dan peternakan. Metode apa kira-kira yang cocok untuk mengorbitkan anak kita ke arah situ? Jawab: Eksplorasi sekitarnya. Magang, dari sekedar tahu hingga terampil, lalu masuk industri rumahtangga dan industri. 

 

Screen Shot 2016-02-16 at 4.01.23 PM

Di sesi 1 kemarin Pak Aar menjanjikan akan memberikan hadiah buku untuk para peserta yang menceritakan pengalaman dan rangkuman webinar hari itu. Alhamdulillah, akhirnya nama saya ternyata muncul sebagai salah satu pemenang giveaway buku “Apa itu Homeschooling.

Screen Shot 2016-02-16 at 4.02.56 PM

Kunci sukses HS ialah paduan antara: pemahaman matang, siap mental, visi jelas, teguh dan lentur menjalani keseharian.

***

Sekian dulu catatan webinar sesi 2 kali ini. Minggu depan akan dibahas tentang “Memulai Homeschooling“. Sekadar info, minggu depan adalah minggu terakhir saya di Mesir, karena saya akan pulang ke Indonesia. Jadi, mulai sesi ke-4, akan saya ikuti di Indonesia, yeeey. 

Selanjutnya…

Sesi 3 nanti akan membahas tentang persiapan HS. Apa yang perlu disiapkan dan dilakukan di awal HS?

  • Mengenali alasan dan rancangan HS di keluarga. Apa yang perlu dirancang? Bagaimana merancangnya? Dalam webinar akan dibahaskan studi kasus beberapa contoh rancangan yang dijalani beberapa praktisi HS.
  • Persiapan memulai HS untuk berbagai tingkat usia. Apa yang harus dipersiapkan? Bagaimana memulai HS untuk anak bayi, preschool, SD, SMP-SMA? Di mana titik-titik kritis yang perlu diketahui dan diantisipasi?
  • Deschooling (peralihan dari sekolah ke HS). Apa itu deschooling, mengenali perbedaan budaya sekolah & HS, tujuan deschooling, kegiatan selama deschooling.

Penasaran, kan? Mau daftar? Silakan langsung ke Rumah Inspirasi.

Keep learning every time everywhere, Moms!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: