Nice Homework #3 Matrikulasi IIP – Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Nice Homework #3

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Menulis surat cinta untuk suami sudah saya mulai sejak awal menikah. Surat-surat kami sejak berproses hingga awal menikah kami kumpulkan dan tulis menjadi sebuah buku. Buku itu kami jadikan proyek pertama keluarga kecil kami. Pada bulan Agustus 2015, dua bulan setelah kami menikah, terlahirlah Twin Path (twinpathbook.com). Setelah kalo tinggal serumah, kami tetap memberlakukan metode surat cinta untuk mengungkapkan terima kasih, saat ada konflik, untuk curhat, dan lain sebagainya. Dari buku kami dan surat-surat cinta yang sudah kami tulis hingga berjalan 1,5 tahun pernikahan ini, dapat diambil beberapa kesimpulan:

  • Saya dan suami masih terus berbenah dunia maya karena itulah yang sering menjadi awal mula konflik. Karena jejak kami di masa lalu, kami tidak mau anak kami tahu tentang buruknya kelakuan kami, sehingga kami sepakat menghapus semua akun sosial media.
  • Saya dan suami bebas menuliskan apa saja di surat, berbeda saat berbicara langsung, karena kami sama-sama berkepribadian introvert. Sehingga seluruh unek-unek terdalam di lubuk hati bisa tersalurkan dengan baik dan tanpa perlu nada tinggi atau teriak.
  • Di surat cinta kami yang paling baru, suami menuliskannya di blog pribadinya: fullstackfather.wordpress.com. Jujur saya terharu karena mungkin itu baru pertama kali dia berani mempublish sendiri perasaanya kepada saya, melalui dunia maya. Itu yang sudah lama saya nanti-nantikan.
  • Di surat cintanya yang lain, suami berkata bahwa ia menganggap saya sebagai orang yang paling menyejukkan hati setelah ibunya. Saya juga bisa menjadi partner yang tidak menggurui dan asyik diajak ngobrol. Itulah yang harus saya pegang erat, saya harus stay up-to-date dengan obrolannya. Walaupun hal-hal yang remeh sampai hal-hal serius pun saya belajar untuk selalu merespon suami dengan tidak asal jawab, selalu memberi feedback yang tidak sederhana. Saya juga mendapati bahwa suami ternyata tidak terlalu mempedulikan saya yang kurang pintar berdandan, bagi dia, cukup saya enak dilihat, cekatan mengurus rumah tangga, lebih pintar mengatur waktu dan prioritas. Sebagaimana yang dia katakan bahwa laki-laki itu urusannya hanya dari pusar sama lutut. Alias dua kebutuhan utamanya terpuaskan.
  • Ke depannya, kami membudayakan menulis lewat KakaoTalk, di mana di app chat itu hanya kami yang saling mengirim pesan. Jadi setiap ada notifikasi dari KakaoTalk, kami tahu kalau itu pasangan kami yang mengirim pesan. Dan harus direspon walaupun dengan emoticon saja.

Mengenai potensi kekuatan diri anak, saya belum sepenuhnya mengerti karena ia masih berusia 4 bulan menuju 5 bulan. Sejauh ini yang saya tangkap, ia antusias terhadap buku. Ketika dibacakan, ia selalu diam mendengarkan. Begitu pula ketika saya atau suami membacakan AlQuran. Ke depannya kami ingin menjadikan buku sebagai teman anak saya. Ia akan kami didik untuk mencintai ilmu agama, ilmu pengetahuan dan sumber ilmu (buku).

Mengenai potensi kekuatan diri, karena saya berkepribadian INFP, maka saya mengambil kesimpulan bahwa pekerjaan yang cocok untuk saya: penulis, guru, psikolog, serta penyebar agama. Berdasarkan pengalaman dan portfolio selama ini, saya juga menemukan kekuatan diri saya adalah menulis serta menyebarkan inspirasi. Saya jadi memahami bahwa saya ditakdirkan untuk lahir ke dunia dengan misi khusus. Saya harus menjadi khalifah fil ardh dengan cara saya sendiri. Yaitu menebar kebaikan melalui tulisan. Di mana komunikasi verbal saya lebih baik daripada non verbal. Saya juga lebih terstruktur dalam menulis dibanding berbicara.

Mengenai lingkungan, saya juga jadi paham mengapa keluarga kami dihadirkan di lingkungan yang seperti ini. Kami hadir untuk memberikan pemahaman melawan hal yang dianggap suatu kewajaran melalui contoh dari kami.

Pasti ada alasan mengapa aku dan kamu dipertemukan – @twin_path


Resume Review NHW #3
 
Review NHW #3
Matrikulasi Institut Ibu Profesional
 
Waktu : senin, 7 nov 2016 (12.00-13.00)
 
 
MEMBANGUN PERADABAN DARI DALAM RUMAH
 
Kalau kamu ingin berbincang-bincang dg DIA, maka temuilah DIA dengan caramu,  Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendakNya padamu, maka IQRA’, bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cintaNya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita
 
Apa yang sudah teman-teman lakukan di proses nice homework #3  ini adalah proses IQRA'( membaca).
 
Dimulai dari membuat surat cinta. Mengapa harus membuat surat cinta? karena bagaimana anda bisa merasakan surat cintaNya, kalau anda sendiri tidak pernah menghargai betapa beratnya menuliskan sebait demi sebait surat cinta untuk kekasih anda.
 
Dan kita semua belajar bagaimana melihat respon, surat cinta yang disampaikan dengan hati, kadang tidak pernah berharap apapun, mulai dari dicuekin, meski tanda centang sudah berubah warna biru 😀 sampai dengan surat cinta balasan suami yang ditulis di wall FB yang membuat hati makin mengharu biru.😍
 
Demikianlah Sang Maha Pemberi Cinta, kadang memberi tanpa meminta. Surat cinta sudah dikirim, waktu pertemuan sudah ditentukan, candle light dg hidangan istimewa di sepertiga malam terakhir sudah disiapkan, tapi kita kekasihnya tetap dingin dengan seribu satu alasan.
 
Tetapi DIA tetap mencintai kita, tanpa Pamrih.
 
Menyitir puisi Sapadi Djoko Damono,
 
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
 
dengan kata yang tak sempat diucapkan
 
kayu kepada api yang menjadikannya abu
 
aku ingin mencintaimu dengan sederhana
 
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
 
Maka tetaplah alirkan cinta kepada pasangan anda, anak-anak anda, jangan pernah berhenti, seberapapun menyakitkannya balasan yang anda terima.
 
Terima kasih untuk kebesaran hati teman-teman mempercayakan grup ini untuk menerima aliran rasa anda.
 
“Kemudian mulailah dengan melihat dua fase ini.”Kalimat ini yang perlu teman-teman pahami dari hari ke hari”
 
Pahamilah bahwa semua menginginkan ‘keberadaan’ anda, anda diciptakan dengan tidak sia-sia.”
 
“Maka bersungguh-sungguhlah dalam menjaga “amanah” yang sudah diberikan dengan sepenuh cinta untuk kita.”
 
Inilah VISI HIDUP kita semua dalam membangun peradaban, terlalu berat apabila dikerjakan sendiri-sendiri, maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.
 
Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain. Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri. Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.
 
Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa BERSUNGGUH_SUNGGUH nya kita dalam menjalankan MISI HIDUP kita”
 
Sumber Bacaan
materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2016
 
Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP, 2016
 
Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani
Salam Ibu Profesional,
 
 
/Tim Matrikulasi IIP/

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: