Pagi Ini Empat Tahun yang Lalu

Empat tahun yang lalu…

Ya, empat tahun setelah kita dipertemukan di dunia nyata oleh Allah.

Pagi ini empat tahun yang lalu, kita berada dalam satu travel yang mengarahkan kita pada kota di mana teman kita menikah. Tasikmalaya.

Pergi bersama dari kota Kembang. Yang ternyata adalah awal dari hubungan kita.

Pagi itu kita bertemu. Rasanya biasa saja. Bahkan cenderung malas berbicara dan bertatap muka. Aku mengenalmu hanya sebatas nama panggilan saja.

Aku yakin benar yang dikatakan seorang teman bahwa carilah orang baik di 4 tempat: perpustakaan, masjid, pemakaman, dan pernikahan. Maka aku bertemu dengan kamu di saat yang terakhir disebutkan.

Di pesta pernikahan teman kita itu, aku dan kamu berbincang-bincang. Walaupun belum tercipta rasa kecenderungan, tapi Allah telah sisipkan keyakinan yang dalam.

Entah mengapa pagi hari itu saat akad nikah teman kita dilaksanakan, aku yakin dan tiba-tiba berdoa agar namamu lah yang kelak disandingkan.

Gayung bersambut, obrolan kita tampak sevisi. Takdir mempertemukan kita lagi, tanpa tahu ke mana sebenarnya arah dari semua ini.

Duapuluh dua juni tahun 2013, rasanya hari itu aku menjadi aku yang baru. Belum lama hati dipatahkan, tiba-tiba aku dipertemukan dengan penyembuhnya.

Tuhan Maha Baik dan akan selalu baik. Diciptakannya kesedihan dan kebahagiaan bersama-sama. Bersama kesulitan ada kemudahan.

Setelah masa-masa galau jodoh itu selesai, aku diberi kemudahan untuk menjemput separuh hati melalui tanda-tanda-Nya.

Pertemuanku denganmu, kapan pun itu, selalu kuingat detilnya. Baju pertama yang kukenakan saat bertemu denganmu pun masih kusimpan. Walaupun mungkin sudah kekecilan.

Hai mas Suami, apakah kau bahagia dipertemukan denganku?

***

Pagi ini hujan. Damai sekali rasanya di hati. Si kecil masih tidur. Saya dan suami pun berbincang santai sejenak.

Kami mendiskusikan apakah rumah tangga kami ini bahagia atau tidak, apakah ia bahagia bersama saya, dan sebaliknya.

Tak terasa empat tahun berkenalan. Lama juga ya. Namun, kata suamiku, ini masih sebentar. Lalu saya berkata bahwa jangan bandingkan dengan usia perkenalannya dengan yang lain. 

Ia membantahnya dan berkata bahwa dia membandingkan dengan usia pernikahan yang akan kami jalani. Saya pun manggut-manggut.

Saya pun bertanya padanya apakah dia bahagia selama mengenal saya. Sambil agak ngantuk dia menjawab, “Kalau kamu?” 

Saya pun sewot. “Lho kok balik nanya?” Mengapa seperti dilempar boomerang. Pertanyaannya balik lagi.

Dia menjawab bahwa harusnya dia yang berkata seperti itu karena logikanya kan saya dibawa olehnya untuk menjadi istrinya.

Saya pun berkata, “Kalau aku kan sudah pernah menuliskannya di halaman terakhir buku Twin Path kita.”

Dia pun berkata, “Emangnya ga boleh update? Aplikasi aja ada updatenya. Itu kan dulu waktu baru nikah.”

Saya pun manggut-manggut lagi, oh iya ya, dipikir-pikir kan itu tulisan tahun 2015. Wkwkwk. Sekarang udah pertengahan 2017.

Saya menjawab agak lama, sambil berpikir dulu. “Hmm.. kalo aku sih yes.” Lalu saya ralat, “Hehehe ya bahagia lah… Ya bersyukur terus udah dikasih kayak gini. Tapi kadang kalau mengeluh ya jadi ketutup semua rasa syukurnya.”

“Mengeluh itu karena sering lihat ke atas. Target, keinginan, rencana, future, dan lain-lain.” Ujar saya sedikit serius.

“Dulu minta kondisi A, sekarang dikabulkan A sama Allah. Tapi karena tertutup kacamata mengeluh, jadinya lupa menikmati yang A, malah minta B,” saya pun terus terang daripada sekedar bilang “Aku selalu bahagia sama kamu.” Oh no, itu bohong besar.

Memang ada saat di mana kondisi pernikahan so carut marut alias hectic alias mbulet kayak entut hansip atau ruwet kayak kaset rusak. Ketika itu biasanya kita (((istri yang lagi ga waras))) mengeluh habis-habisan, menyalahkan suami, menyalahkan anak, menyalahkan rumah, menyalahkan tetangga #nahlho. Di saat itulah pintu kesyukuran dan kesabaran harus dipertebal dimensinya dan dibuka lebar-lebar. Agar saat ada angin yang bernama Mengeluh, kita bisa tutup pake pintu kesyukuran dan kesabaran itu rapat-rapat.

Suami pun menjawab pertanyaan saya dengan ending yang manis, “Ada kamu dan Kindi aja aku udah bahagia. Apalagi yang lain.”

Ah, memang pernikahan itu nano-nano. Manis asam asin ramai rasanya!

***

Postingan ini kayak gado-gado banget ya. Di atas, pembukaannya mendayu-dayu. Ke tengah makin jujur dan blak-blakan. Ya itulah dua sisi gaya kepribadian saya dalam bercerita. 

Intinya cuma pengen bersyukur hari ini genap empat tahun mengenalmu, Suamiku. Juga pengen cerita kalau ga usah lah menutupi bahwa pernikahan itu selalu mulus, tanpa godaan syaiton, hmm asyik kalo beneran ada pernikahan kayak gitu.

Rasulullah SAW saja rumah tangganya pernah ada konflik terutama saat berumahtangga dengan Aisyah ra. Seringnya karena masalah cemburu sih ya. Jadi, laki-laki alias suami harus paham kalau Rasulullah pun pernah dicemburui 🙂

Akhirul kalam, semoga hubungan kami bisa dipertahankan sampai ke Surga-Nya. Semoga dipermudah bagi yang ingin menikah atau menjemput jodoh. 

Ya sudah saya ngantuk, tidur dulu ya. 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: