Pahami Fitrah Bakat Agar Tidak Salah Jurusan

Setelah seharian workshop FBE (Fitrah based Education) di kota Malang, keesokan harinya saya breakfast meeting, bertemu dengan para pengusaha muda Muslim yang penuh semangat. Pada bagian dada di baju mereka tersemat kata “pengusaha anti riba”. Luar biasa! 

Alhamdulillah, kita bersepakat untuk menghidupkan kembali Sunnah Rasulullah SAW untuk memagangkan anak usia pre aqilbaligh 11-15 tahun agar mukalaf dan mandiri ketika aqilbaligh, dengan membangun jaringan pemagangan. 

Setidaknya, jaringan pemagangan ini untuk kota Malang dahulu, kelak disambungkan dengan jaringan pemagangan di kota lainnya. Kota lainnya pada saat inipun perlahan mulai bergerak merajut jaringan pemagangan bakat dan akhlak berbasis komunitas.

Kota Malang sendiri cukup banyak praktisi, professional dan pengusaha yang hebat dan kehebatannya bisa ditularkan kepada generasi mendatang. Mimpi kita melahirkan generasi yang mukalaf dan mandiri ketika berusia aqilbaligh (rentang usia 15-18 tahun)

Seorang pengusaha muda yang hadir berseloroh, “…agar jangan ada lagi anak anak kita yang membawa mahar seperangkat alat sholat, karena junjungan kita maharnya 100 unta merah (konon sekelas 100 BMW)…”

Saya berjanji kepada teman teman yang baik ini untuk mengirimkan bisnis model manajemen pemagangan berbasis fitrah, khususnya fitrah bakat dan akhlak.

Kemudian saya menuju bandara udara Juanda di kota Surabaya. Di perjalanan, teman teman yang mengantar, sambil lewat, menunjukkan sebuah sekolah Islam Fullday yang konon paling “bagus” di Kota Malang. 

“Semua anak Pak Mendiknas sekolah di sana”, seorang teman yang mengantar memberi info. Saya bergumam, pantas saja, pak Mendiknas begitu terobsesi dengan model fullday school, ini rupanya. 

Cara pandang beliau tentang fullday school juga persis apa yang dijajakan sekolah berjenis ini, yaitu “agar anak tidak keluyuran karena seharian ada di sekolah”.  Ini mindset sekolah sebagai tempat penitipan banget dengan mengabaikan peran mendidik orangtua apalagi komunitas. 
Teman teman melepas saya di Bandara Udara Juanda Surabaya, untuk melanjutkan perjalanan ke Jogjakarta. Tidak lama, pesawat kecil berpenumpang puluhan orang sampai di Bandara Adi Sucipto. 

Setelah mengambil koper, memesan taksi, lalu saya sudah berada di jalan khas Jogja. Jalan penuh kenangan semasa bulan madu dan masa masa sesudahnya.

Sebelah saya seorang sopir tampan, wajah khas Jogja (mirip Kanjeng Sultan) berbadan tegap atletis, usia 30an, ayah dari dua orang putri usia 7 tahun dan 3 tahun. Usut punya usut ternyata dia alumni UGM Fakultas Kedokteran Hewan. Nampaknya dia malu betul mengungkapkan bahwa dia alumni UGM.

“Saya sebenarnya pengennya di IT, mas, namun waktu itu kampusnya swasta. Walau itu kampus IT terbaik di Jogja, namun ayah saya lebih bangga kalau saya bisa kuliah di UGM, apapun jurusannya. Ya inilah saya sekarang, dokter hewan yang tak suka hewan, sukanya nyetir, hahahaha…”

Tawanya lepas namun terdengar kecut. Saya teringat sebuah riset tahun 2015, bahwa 87% mahasiswa Indonesia salah jurusan”. Begitulah nasib generasi muda bangsa ini, sejak selesai menyusui sampai sekolah tinggi, tak ada seorangpun yang bertanya “siapa kita” tetapi semua bertanya “ranking berapa kita”, “berapa banyak hafalan kita” dstnya.

Tentu saja kita harus mensyukuri apapun “jurusan” yang Allah berikan, namun kita sebaiknya lebih dahulu mensyukuri karunia potensi keunikan (fitrah bakat) yang Allah karuniakan sebelum “salah jurusan”.
Andai mas Sopir tadi, jika memang bakatnya di dunia IT misalnya sebagai system analyst atau analyst programmer dll, sudah fokus dikembangkan sejak usia 10 tahun, dan mulai pemagangan sejak usia 12 tahun sebagaimana Rasulullah SAW mulai magang berdagang bersama pamannya ke Syams (Syiria) sejak usia tsb maka insyaAllah mas Sopir tadi sudah aķan mapan di usianya sekarang dan tidak perlu memubazirkan waktunya untuk obsesi orangtuanya

Dan untuk menjadi professional tidak selalu harus melalui jenjang perkuliahan, bisa juga sertifikasi profesi. Misalnya di Thailand, anak anak seusia SMP sudah certified Java Programmer dan itu berlaku worldwide, artinya bisa bekerja dimanapun.

Sebagai tambahan, bahwa para Ayah yang tidak menjalani peran professional sesuai fitrah bakatnya atau panggilan hidupnya, akan membawa masalahnya kemana mana, termasuk akhlak buruk pada anak dan pasangannya bahkan dirinya.

Saya melamun membayangkan betapa berat para Ayah yang harus menjalani peran mendidik anak dan keluarganya sementara mereka belum selesai dan tidak bahagia dengan dirinya. 

Mobil terus melaju menuju arah Gunung Merapi, yang menjadi saksi betapa banyak generasi yang menjadi korban obsesi dan sistem yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. 
Salam Pendidikan Peradaban 

#fitrahbasededucation

From FB Ustadz Harry Santosa

My FBE Journey, July 2017

***

Catatan kecil dari kami terkait fenomena salah jurusan:

Saya merasa fitrah bakat saya yang sesungguhnya belum dipupuk dengan baik dan serius. Bukan, saya tidak merasa salah jurusan waktu kuliah S1 dan S2 kemarin, saya percaya apa yang diberikan Allah itu yang terbaik. Saya hanya kurang nyaman belajar waktu S1 dan S2 kemarin karena itu bukan bidang yang benar-benar saya cintai dan ingin tekuni. Namun pengalaman di luar perkuliahan, saya mencoba “balas dendam” menekuni fitrah bakat saya. Waktu saya kuliah dulu mungkin bisa lebih maksimal jika fitrah bakat saya dipupuk dan difasilitasi. Tapi tenang saja, semua pasti ada hikmahnya. Saya sama sekali tidak menyesali keputusan kuliah S1 dan S2 kemarin. Apalagi kuliah S2 saya terbengkalai di tengah jalan.

Nanti ibu dan ayah tidak akan menyuruhmu sekolah apapun, Nak. Ibu dan ayah akan membuatmu nyaman dengan belajar di mana saja dan kapan saja. Kalau kamu minta sekolah, di mana pun silakan, asal punya alasan kuat mengapa ingin sekolah. Cari sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu, gunakan AlQuran sebagai buku petunjukmu.

Pesan kami, jangan sampai waktumu terbuang percuma alias dihabiskan untuk sesuatu yang tak mendukung peran hidupmu.

Ibu lihat kamu sudah bisa meniru gerakan salat sejak usia 1 tahun. Ibu juga liat kamu tahu mana bangunan masjid dan yang mirip masjid dan selalu mengangkat tangan seperti gerakan takbiratul ihram. Jangan-jangan kamu memiliki kepekaan terhadap bangunan, khususnya masjid, Nak. Apapun itu, ibu akan dukung, Nak. Wallahua’lam. Dampingilah kami dalam menemukan fitrah bakatnya dan misi spesifik hidupnya, ya Rabb.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: