Pengalaman Menyusui Bayi Selama Setahun Ini (Bagian 1)

Finally, kembali lagi bersama saya di blog yang udah jamuran selama ditinggal di bulan Syawal. Terakhir saya bikin postingan mengucapkan selamat Idul Fitri. Udah gitu aja. Lalu satu bulan penuh konsentrasi saya dialihkan ke pindahan.

Ya, saya rasa, hidup keluarga kami butuh penyegaran. Baik dari segi keseharian sampai penentuan tujuan. Oleh karena itu kami memutuskan hijrah ke Jogjakarta. Kota di mana saya mengenal suami setelah menikah, selama 3 bulan lamanya.
Sebulan ini saya sampai kelupaan kalo harus bikin poster bayiku lulus S2 ASI. Sudah setahun ini dia lekat padaku, mungkin sehari hampir 10x atau lebih. Enam bulan pertama kehidupannya, satu-satunya sumber makanan hanya dariku. Lalu enam bulan berikutnya, dia diperkenalkan pada makanan-makanan orang dewasa yang tanpa garam, gula, dan MSG. Lalu tahun kedua hidupnya, alias 12 bulan ke atas, dia mulai dicobakan makanan dan minuman orang dewasa. 

Hmm perjalanan panjang, penuh cobaam dan jalan terjal. “Ternyata menyusui itu susah banget!” Mungkin begitu dulu batinku saat menjadi ibu baru, 1-2 bulan lamanya. Saya sangat bosan menyusui. Saya memberikannya susu hanya saat dia meminta.

Sejak mulai mengandung, saya bertekad untuk memberikan ASI 2 tahun penuh untuk Kindi. Namun tekad saja ga cukup. Usaha googling, tanya pakar, tanya dokger, tanya ibu-ibu lain, baca blog, baca buku, ikut seminar, dan juga minta suami untuk nyenengin kita, rupanya harus digencarkan. Because I thought breastfeeding is not easy… buat saya yang waktu itu belum pernah punya anak.

Seiring waktu berjalan, bayi saya lahir juga. Di RSI Jemursari Surabaya, pagi itu pascamakan rawon (dan minum Teh Kotak) wkwk penting banget, saya menyusui anak saya… Dan air susunya alhamdullilah keluar. 

Tumpahlah air mata buaya saya. Tumpahlah rasa lega, takut, was-was, bersyukur, amazed, apapun itu jadi satu. Mixed fruit. Mixed feelings, ding.

Bibir mungilnya menghisap air susu dan 15 menit kemudian, bayi merahku itu melepaskannya. Masyaa Allaah… saya sudah resmi jadi ibu. Tiada tara bagaimana rasa hati saya waktu itu. 

Sebulan alias 40 hari pertama, menyusui terasa sangat berat. Saya harus 24/7 menyusuinya, tidak ada libur, tidak boleh menyerah pakai susu formula (sufor), tidak boleh pumping, dan setiap satu jam sekali. Everyday…

Saya bosan. Saya pengen jeda sebentaaar aja masa ga bisa. Tapi lagi-lagi saya ingat perintah menyusui di AlQuran, 2 tahun penuh. Cuma 2 tahun, kok… Buat anakmu.

Segala macam peralatan tempur menyusui pun dibelikan oleh suami dan orangtua serta mertua:

– bantal menyusui merk CuddleMe

– penutup/apron menyusui merk Peek n Drink

– botol ASI merk BKA beserta barang-barang pencuci botol lainnya

– alat pumping ASI merk Dr Browns (yang hanya sempat dipakai 2 kali karena saya toh ga butuh, bukan ibu bekerja atau yang ASInya susah keluar, dan bukan yang ASInya melimpah banget).

– baju menyusui dari Hijup.com dan dari toko lainnya

– camilan buat selama menyusui, usahakan camilan sehat dan bergizi, seperti: kurma, sayur dan buah-buahan lainnya

Masih banyak peralatan tempur lainnya bergantung kebutuhan ibu menyusui. Kalo saya ga butuh kursi menyusui, karena lebih suka menyusui sambil tiduran (pegang buku atau hape, wkwkwk jadinya sering sampe ketiduran). 

Semua peralatan itu demi lancarnya ASI yang keluar untuk si bayi. And it works, kenyamanan kita saat menyusui berpengaruh besar pada keluar atau enggaknya ASI.

Trus nih ya, buat meminimalisir baper dan galau, apalagi karena masa lalu atau omongan orang, mending matiin tuh sosial media. Mending sibukkan dirimu untuk hal yang lebih penting. Sekarang zaman udah makin edan, mending menyusui anak dengan fokus daripada disambi baca timeline instagram orang bahkan baca akun gosip. Saya menghapus semua akun sosial media sampai yang tersisa hanya blogku sayang, WhatsApp, serta Telegram. Pinterest buat cari referensi apapun. Cookpad juga buat cari referensi masakan. Udah deh. Matiin juga TV. Kalo bisa, ga usah punya sekalian. Jaga banget deh diri kita dari pikiran, pendengaran, penglihatan, dan perkataan buruk, Moms.

Alhamdulillah dulu 1 minggu sebelum melahirkan, saya dan suami juga ikut kelas Menyusui AIMI ASI yang posternya pernah saya share di blog ini.

Pengen banget bikin resume atau upload intisari seminarnya. Tapi kok ya malasnya setengah mati.

Sekian dulu pengalaman menyusui selama setahun ini. Suka dukanya akan dibahas kemudian.

Nah, untuk mommies yang concern banget sama ASI, atau belum tahu urgensi menyusui, yuk ikut acara bagus di Surabaya tanggal 5-6 Agustus 2017 ini:

Kan saya lagi di Jogjakarta, ga bisa ke Surabaya. Rencananya mau titip minta tolong catatkan resume acaranya gitu wkwk.

Pokoknya penting banget deh menyusui dengan bahagia. Positive thinking walaupun susah banget di masa kini. Manjakan dirimu. Buat dirimu bahagia. Bahagia ga perlu menunggu orang lain atau benda lain, kok. Apalagi nunggu dibelikan es krim. Bahagia itu bisa dari baca buku, atau mengelus si bayi saat menyusui, memandang wajahnya, mendoakannya, dll. Kamu sendiri lah yang tau.

Kamu juga bisa bikin sertifikat lulus ASI,, ASIX, MP-ASI Homemade, cukup dengan men-download-nya di situs resmi AIMI. Terus jangan lupa bubuhkan namanya dan nama kita. Bisa pakai app di HP, photoshop, atau bahkan powerpoint. Wkwkwk. Dijamin seneng dan bakal keinget perjuangannya.

Happy breastfeeding, Moms! Air susu ibu mencerdaskan, melekatkan, dan awal dari terciptanya perubahan baik di dunia.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: