7 Pelajaran dari Khadijah Binti Khuwailid [by Gadget Muslimah]

Tujuh Pelajaran dari Sosok Sang Wanita Suci Khadijah Binti Khuwailid _Radhiyallahu ‘Anha_

Khadijah, seorang wanita suci, wanita terbaik sepanjang masa, istri Rasulullah Muhammad SAW di dunia dan di akhirat. Dia adalah salah satu dari empat sosok yang oleh Baginda Rasulullah SAW sebutkan sebagai wanita yang sempurna. Ya, Rasulullah menyatakan, bahwa yang sempurna dari kalangan wanita itu sangat sedikit, mereka diantaranya : “Asiyah istri Fir’aun, Maryam binti ‘Imran, Khadijah dan Fathimah.” (Musnad Abi Ya’la Al Mosuli : 2722)

Khadijah, wanita yang dimuliakan Allah, yang Allah dan Jibril menyampaikan salam untuknya. Wanita yang telah Allah persiapkan untuknya rumah dari qashab di surga. Qashab, yang ditakwilkan sebagai permata atau kayu yang memiliki rongga-rongga. (Musnad Abi Ya’la Almisuli : 6089, 6797)

Siapakah sesungguhnya sosok wanita yang Allah muliakan itu?

Nasabnya bertemu dengan Rasulullah pada figur Qushay. Ia adalah Khadijah Binti Khuwailid Bin Asad Bin ‘Abdul ‘Uzza Bin Qushay. Khadijah memiliki satu saudara yang seayah dan seibu bernama Halah. Halah binti Khuwailid adalah ibu dari Abu al ‘Ashi Bin Rabi’ bin Abdul ‘Uzza Bin ‘Abdu Syams Bin ‘Abdi Manaf Bin Qushay.

Abu Al ‘Ashi menikahi putri pertama Rasulullah, Zainab. Jadi Zainab menikah dengan sepupu dari pihak ibu. Halah, saudara Khadijah seayah dan seibu hidup lebih lama dari Khadijah, berislam dan berhijrah. Ibu dari Khadijah dan Halah bernama Fathimah.

Saudara Khadijah yang seayah berjumlah sangat banyak. Diantaranya Al ‘Awwam dan Huzam. Al ‘Awwam adalah suami Shafiyyah Binti Abdul Muththalib bibi Rasulullah. Dari rahim Shafiyyah diantaranya terlahir Zubayr Bin Al ‘Awwam Bin Khuwailid. Diantara keturunan Huzam yang menjadi sahabat Rasulullah adalah Hakim Bin Huzam Bin Khuwailid. Adapun saudara seibu yang tercatat bernama Umaimah Bintu Ruqaiqah, berislam dan berbai’at kepada Rasulullah.(Muwaththa Imam Malik, jilid 6 hal 122, cetakan Muassasah Zayed Bin Sulthan)

Khuwailid adalah pemimpin keluarga Bani Asad Quraish. Ia mewakili Bani Asad melakukan tugas-tugas yang diwarisi dari Qushay. Kepemimpinan Khuwailid tercatat dalam peristiwa perang Fijar, beberapa riwayat menyebut Khuwailid gugur dalam perang tersebut. Meskipun dalam riwayat lain disebutkan bahwa Khuwailid hidup hingga Khadijah menikah dengan Rasulullah.

Bani Asad Quraish pernah bertekad menjodohkan Khadijah dengan Waraqah Bin Naufal. Perjodohan yang tidak pernah terlaksana, Waraqah tak kunjung melamar dan menikahi Khadijah. Hingga datang Abu Halah meminang dan menikahi Khadijah. Abu Halah adalah seorang pria dari Bani Tamim. Abu Halah wafat dan Khadijah diperistri seorang pria lain bernama ‘Atiq.

Kaum Quraish adalah para pedagang, mereka juga kaum pencerita hebat. Kalangan wanita Quraish yang terbatas geraknya tetap bisa menikmati keindahan kota-kota yang dijelajahi kaum lelakinya dari cerita yang seolah dapat menggambarkan keadaan kota-kota tersebut. Wanita-wanita Quraish yang memiliki bakat dagang pada umumnya berperan sebagai investor, mereka menitipkan harta perniagaan mereka kepada lelaki terpercaya, demikian pula dengan Khadijah.

Sepeninggal ‘Atiq, Khadijah tidak menikah, demikian ayahnya pun tidak ingin menikahkan Khadijah. Dalam riwayat yang menyebut bahwa Khuwailid menikahkan Khadijah dengan Rasulullah, disebutkan bahwa Khadijah perlu membuat ayahnya mabuk agar mau menikahkannya dengan Rasulullah.

Banyak hal yang dapat kita jadian sebagai pelajaran dari kehidupan Khadijah, diantaranya :

1. Bergaul dengan tetap menjaga kehormatan

Khadijah muda adalah gadis periang dengan sifat-sifat mulia. Pergaulannya luas tetapi ia sangat terjaga. Sehingga ia dijuluki Ath Thahirah, sang wanita suci.
Tatkala Waraqah tidak kunjung melamarnya, Khadijah menyadari arti penting pernikahan dalam menjaga kesucian diri. Meskipun kemudian bukan lelaki Quraisy yang menikahinya, Khadijah tetap berbahagia dengan dua pernikahan sebelum Rasulullah menikahinya.

2. Mengikuti kabar zamannya

Khadijah senantiasa mengumpulkan kabar dari seantero negeri. Seluruh kawasan yang menjadi tujuan perniagaannya. Ia mengenal masyarakatnya dan agama yang berkembang disetiap daerah. Khadijah mempelajari tentang millah Ibrahim, sebuah agama Hanif. Ia telah mengetahui apa yang Waraqah Bin Naufal pelajari, bahwa Waraqah telah menjadi seorang Nashrani. Khadijah memantau terus perkembangan Zayd Bin ‘Amr yang tak ingin menyembah berhala.

Saat Rasulullah genap berusia 40 tahun, pada suatu malam Ramadhan, jibril datang sewaktu Rasulullah sedang berkhalwat. Ini bukan kali pertama Rasulullah didatangi Jibril. Sebelumnya apabila sedang berjalan-jalan di kota Mekkah, Rasulullah pernah mendengar ada yang memanggilnya tetapi tak berwujud, hanya terdengar suara. Kini suara itu ada dihadapannya, membawa wahyu dari Allah.

Rasulullah dilanda ketakutan teramat sangat. Apakah yang mendatanginya? Jiwanya terguncang. Khadijah dengan penuh kesabaran menenangkan suaminya. Khadijah menenangkan dengan sikap, kata-kata dan pelayanan.

Khadijah membantu Rasulullah meyakinkan dirinya bahwa yang datang adalah malaikat utusan Allah. Rasulullah melaksanakan serangkaian test. Ia yang telah mempelajari sifat-sifat makhluk Allah menemukan bahwa apa yang mendatangi suaminya adalah malaikat dan bukan jin. Malaikat malu apabila melihat suami istri bercumbu mesra, sedangkan jin tidak. Khadijah juga terus menerus mengikuti apa yang diturunkan Allah pada suaminya. Tatkala turun surat Al Muddatsir semakin yakinlah Khadijah bahwa yang mendatangi suaminya adalah Jibril. Pada surat Al Muddatstsir terdapat perintah bertakbir mengagungkan Allah.

3. Antusias dengan kebaikan

Pernikahan dengan Rasulullah membawanya kepada apa yang senantiasa diidam-idamkannya, pencerahan. Sewaktu gadis, Khadijah pernah mendapat kabar ramalan seorang penyihir, bahwa ia akan bersuamikan seorang nabi, seorang pembawa kabar berita langit. Kabar-kabar ajaib yang dibawa Maisarah tentang Rasulullah menghadirkan ingatannya akan itu semua.

Saat itu di masa gadisnya, saat bermain dengan teman-teman sebayanya, tidak ada satupun teman-temannya yang mengerti arti penting posisi nabi. Tidak ada seorang pun dari mereka yang menegakkan kepala dan bersedia menjadi istri seorang nabi. Adapun Khadijah ia sangat antusias, ia memahami dua kebaikan yang terkumpul saat menjadi istri seorang nabi, pertama kebaikan menjadi istri, kedua kebaikan menjadi pengikut seorang nabi.

4. Menjadikan akhlak sebagai parameter

Sesudah ditinggal ‘Atiq, saat banyak lelaki meminangnya, Khadijah yang telah matang meyakini, bahwa lelaki terbaik adalah lelaki yang mulia akhlaknya. Dan tatkala disampingnya ada seorang lelaki berakhlak mulia, Khadijah memuliakan suaminya. Di sampingnya, ada lelaki yang tidak pernah menundukkan kepalanya kepada berhala. Seorang lelaki yang berusaha untuk menyembah Tuhannya, menyembah Allah.

Firasat Khadijah tentang akhlak mulia Rasulullah benarlah adanya. Pun sebaliknya, Rasulullah teramat menghormati Khadijah. Rasulullah mencintai dan membesarkan anak-anak Khadijah dari pernikahannya yang terdahulu.

5. Melayani suami seutuhnya

Khadijah melayani suaminya dengan penuh suka cita. Kehidupan rumah tangga yang amat bahagia. Khadijah telah memberikan keturunan dua anak laki-laki dan empat anak perempuan. Anak-anak lelaki yang segera meninggalkan dunia fana.

Khadijah tidak pernah menolak keinginan suaminya yang disampaikan dengan cara apapun. Tatkala Rasulullah sangat terpukau dengan Zayd Bin Haritsah, Rasulullah berandai-andai, seandainya Zayd adalah budaknya. Khadijah bersegera membeli Zayd. Tatkala Rasulullah berandai-andai, seandainya Zayd adalah miliknya maka akan ia bebaskan, Khadijah pun langsung memberikan Zayd pada Rasulullah.

6. Mendukung aktivitas suami dengan harta dan jiwa

Saat mendekati masa kenabian, tiba-tiba saja Rasulullah banyak bermimpi. Mimpi-mimpi yang terbukti dalam kehidupan. Rasulullah semakin gelisah. Rasulullah ingin mendekatkan diri pada Allah. Saat tidak ada cara diketahui bagaimana mendekatkan diri pada Allah, Rasulullah berkhalwat ke Gua Hira. Hal itu dilakukan Rasulullah setiap bulan Ramadhan. Kesendirian yang diperuntukkan untuk Allah. Jika Rasulullah selesai dari khalwatnya maka Rasulullah thawaf mengelilingi Ka’bah dan bersedekah makanan pada fakir miskin. Semua perbekalan dan apa yang Rasulullah berikan pada fakir miskin dipersiapkan oleh Khadijah

Ketika Bani Hasyim dan Bani Muththalib diboikot, Khadijah tetap setia meski kelaparan. Tiga tahun dalam pemboikotan di usia yang tak lagi muda.

7. Mengenali Suami dengan mendetail

Khadijah mengenal Rasulullah dengan sangat detail, mengenal seluruh kebaikannya, serta mengenal bahagia dan sedihnya. Tatkala Rasulullah gundah gulana dan wahyu lama tak turun, Khadijah langsung bisa menyimpulkan bahwa kesedihan suaminya bukanlah kesedihan yang diakibatkan sebab-sebab keduniaan. Maka Khadijah pun berkata kepada Rasulullah, “Tuhanmu telah meninggalkanmu, maka kami melihat kesedihan yang nyata di wajahmu”

Khadijah yang Allah cintai, langsung mendapat pendidikan dari Rabbnya. Allah langsung memperbaiki persepsi tentang apa yang terjadi saat wahyu tidak kunjung turun, maka turunlah surat Adh Dhuha (Mushannif Ibnu Abi Syaibah : 31764).

Demikian sosok dan pelajaran dari seorang wanita yang Allah muliakan, yang Allah telah ridha kepadanya, pendamping Rasulullah di masa awal kenabian, Khadijah binti Khuwailid.

Penulis : Tutik Hasanah
Editor : Inayah
Ilustrator : Dewi Safitri

Fanpage Gadget Muslimah

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: