Perjuangan Seorang Mahmud dengan Bayi Terinfeksi Rubella [Review Buku “Letters to Aubrey”]

  • Judul Buku : Letters to Aubrey
  • Penulis : Grace Melia
  • Editor : Triani Retno A
  • Proof Reader : Herlina P. Dewi
  • Desain Cover : Teguh Santosa
  • Layout Isi : Deeje
  • ISBN : 978-602-7572-27-0
  • Tanggal Terbit : 16 Mei 2014
  • Jumlah Halaman : 266
  • Berat Buku : 250
  • Dimensi : 13 X 19
  • Jenis Cerita : Nonfiksi – Kisah Inspiratif – Ibu dan Anak (MomLit)
  • Didistribusikan oleh : CV. Diandra Primamitra Media

 

Siapkan tisu sejak membaca halaman pertama buku ini.

 

Ialah Grace Melia Kristanto (Ges), seorang mahmud alias mamah muda yang sangat kuat! Di usianya yang masih muda (23 tahun saat itu) ia sudah harus menjalani sekian banyak ujian. Saat kebanyakan dari anak seusianya masih ber-haha-hihi di Mall dan bersenang-senang dengan kehidupan di awal usia 20-an, Ges sudah harus ‘menikmati’ sepaket ujian oleh Tuhan.

 

19 Mei 2012, terlahirlah Aubrey Naiym Kayacinta, buah hati yang diharap-harapkan oleh Ges dan Adit sang suami, ternyata terlahir dengan ‘bonus’. Ujian memang diberikan Tuhan untuk meningkatkan derajat manusia.

 

Aubrey Naiym Kayacinta, terlahir ke duniaAubrey Naiym Kayacinta, terlahir ke dunia

 

Ibu mana yang tidak sedih mendengar bahwa jantung bayinya bising…?

Ibu mana yang tidak terluka hatinya ketika menemukan benjolan di ketiak bayinya…?

Ibu mana yang tidak merana mengetahui bahwa bayinya terkena Profound Hearing Loss alias tidak bisa mendengar…?

Ibu mana yang tidak menderita begitu menyadari bahwa sang buah hati terkena penyakit campak Jerman atau Congenital Rubella Syndrome…?

 

Berikut salah satu kutipan di halaman 31 buku ini, yang membuat saya tak bisa berkata-kata:

“Maaf, Mami nggak bisa menunggu lebih lama lagi untuk melihat Ubii aktif dan merespons suara. Mami sedikit memaksa dokter untuk memberi surat rujukan guna melakukan tes BERA pada Ubii. Skor di hasil tes BERA Ubii menunjukkan angka 105 dB. Itu artinya Ubii baru bisa mendengar suara yang sangat keras seperti suara pesawat terbang atau mesin pemotong rumput. Bayangan-bayangan negatif langsung muncul di pikiran Mami. Bagaimana Ubii bisa bertahan nanti? Bagaimana jika Ubii diejek teman-teman Ubii? Apa Ubii harus selamanya hidup di dunia yang sunyi? Bagaimana jika nanti Ubii kesepian? Bagaimana jika Ubii ketakutan? Apa kita tidak bisa bernyanyi bersama? Buat apa lagi Mami menyanyikan lagu untuk menidurkan Ubii? Buat apa lagi Mami memanggil nama Ubii? Untuk apa Mami menutup pintu pelan-pelan dan berjalan mengendap-endap ketika Ubii tidur? Ubii tidak bisa mendengar semua itu. Hancur hati Mami. Mami menangis saat itu juga di hadapan dokter dan perawat. Papi hanya diam.” 

 

Ubii saat tes BERAUbii saat tes BERA

 

Di buku ini, Ges dengan runtut menulis surat untuk Ubii, panggilan akrab buah hatinya yang cantik itu. Ges dapat menjelaskan dengan detail bagaimana perkembangan sang buah hatinya dari waktu ke waktu. Saya sendiri tidak dapat membayangkan, mungkin satu hari terasa lama sekali untuk Ges. Surat-surat itu sebenarnya berasal dari blog Ges. Dan sampai hari ini kita masih bisa membaca lanjutan surat-suratnya walaupun sudah diterbitkan menjadi buku.

 

Bahasa yang Ges gunakan sederhana. Seperti bahasa remaja pada umumnya, namun tetap tak mengurangi substansi dan pesan mendalam yang ingin ia sampaikan. Memang, segala sesuatu yang ditulis dari hati akan sampai ke hati pula.

 

Satu hal yang menarik, Ges ternyata produktif sekali. Ges suka membuatkan pernak-pernik lucu untuk Ubii. Hal itulah salah satu aktivitas yang dapat membuatnya kuat menghadapi semua ini. Apalagi ketika pernak-pernik itu sudah dipakai oleh Ubii, alangkah cantiknya si Ubii.

 

Ternyata Ges terinfeksi virus Rubella saat bekerja di sebuah pertambangan batu bara di Kalimantan Timur. Itulah yang membuat Ubii terkena semua ujian itu. Nah, di buku ini, Ges mengampanyekan deteksi Rubella sejak dini dengan melakukan pemeriksaan TORCH, yaitu Toxoplasma gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), dan Herpes Simplex Virus (HSV). Untuk para perempuan alias calon ibu, jangan lupa sempatkan melakukan pemeriksaan TORCH sebelum menikah agar bisa dideteksi dan ditangani sejak dini. Pemeriksaan kesehatan pra nikah itu penting!

 

Rumah Ramah Rubella pun lahir dari buah pikir Ges, agar ibu-ibu lain yang juga diberi ujian yang sama, tidak berkecil hati. Di sana, Ges mengajak semua orangtua yang memiliki anak yang terkena Rubella seperti Ubii, dan juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya untuk saling berbagi.

 

Logo Rumah Ramah RubellaLogo Rumah Ramah Rubella

 

Mami Ges dengan UbiiMami Ges dengan Ubii

 

Selain surat dari Ges, ada juga surat dari Adit (sang suami), di bagian belakang buku ini untuk Ubii. Inilah beberapa kutipan suratnya:

 

“Papi jadi sering telat ngantor dan ditegur bos Papi. Anehnya, Papi sama sekali nggak ngerasa bersalah. Papi justru lebih ngerasa bersalah kalau nggak becus ngurusin ubii malem-malem atau nggak bisa ngebantuin Mami mandiin Ubii. Saat itulah Papi sadar, Ubii sudah memengaruhi sudut pandang Papi yang mengagungkan pencapaian karier.”

 

“Andai saja Ubii nggak lahir, Papi pasti masih jadi anak manja yang tahunya cuma senang-senang.”

 

“Terima kasih, Ubii sudah memilih Papi sebagai ayahmu. papi tahu, Papi masih jauh dari sempurna buat Ubii. Papi masih sering ceroboh dan kurang telaten kalau nyuapin kamu. Papi masih sering lupa waktu kalau keasyikan baca komik atau main Nintendo 3DS. Papi juga selalu pulang malam pas hari kerja gara-gara kerjaan di kantor. Perlu Ubii tahu, Papi akan terus berusaha jadi ayah yang baik buat Ubii. Ubii sudah mengubah Papi jadi manusia yang lebih baik. Selanjutnya adalah tugas Papi untuk mengubah diri Papi menjadi lebih dari itu. Untuk Ubii.”

 

***

 

Ges diberi ujian bertubi-tubi, namun tetap kuat menjalani hari-harinya. Siapa lagi yang membuatnya kuat, kalau bukan Tuhan, Ubii, dan sang suami?

 

Ibu yang kuat dan anak yang kuat pasti bisa menjalani semua ini dengan baik. Anak adalah ujian bagi kedua orangtuanya. Anak juga sekaligus pembelajaran dan motivasi bagi kedua orangtuanya agar terus mempertahankan hidup.

 

Kita boleh menangis ketika menghadapi masalah, namun jangan terlalu lama. Kita harus lekas bangkit untuk menghadapinya. Tuhan tidak pernah berlaku tidak adil kepada hamba-hambanya. Pasti Tuhan memiliki maksud dari semua ujian yang Ia berikan. Kita boleh jatuh tujuh kali, namun bangkit harus delapan kali!

 

Dear Aubrey Naiym Kayacinta,

beruntunglah kamu diberikan kekayaan cinta oleh kedua orangtuamu.

Ubii, jika kau sudah besar nanti dan mengerti dunia, hormatilah Ibu dan Bapakmu, Nak.

Semoga cepat besar, Ubii. Jadilah anak yang membanggakan kedua orangtuamu.

 

Ges dan Adit. Dua insan yang berbahagia dikaruniai seorang UbiiGes dan Adit. Dua insan yang berbahagia dikaruniai seorang Ubii

 

Beruntunglah kamu punya mami yang seorang blogger, penulis, sehingga kamu tahu dengan detail bagaimana perjuangan mereka sejak kamu terlahir ke dunia, Ubii. Begitu juga papimu yang seorang penulis, Ubii. 🙂

 

Pada akhirnya, Letters to Aubrey ini menjadi lebih dari sekedar buku. Sebuah curahan cinta bertubi-tubi seorang Ibu pada sang buah hati, motivasi untuk terus bangkit setiap hari, dan pembelajaran bagi para pembaca tentang pentingnya menjaga kesehatan diri.

 

Sampul depannya yang manis dan tagline yang lugas tentunya menjadikan buku ini semakin keren. Apalagi ditambah dengan endorsement dari Andy F. Noya.

 

Jujur saja, di buku ini banyak istilah-istilah yang baru saya tahu, seperti: patent ductus arteriosus (PDA), atrial septal defects (ASD), Kuesioner Pra Skrining Perkembangan (KPSP), Air Susu Ibu Perahan (ASIP), tes BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry), dan lain-lain. Tetapi itu berarti menjadi sebuah nilai plus bagi buku ini. Tidak hanya sekedar curahan hati, tetapi juga mengedukasi!

 

Akhirnya, penghargaan setinggi-tingginyalah yang bisa saya berikan kepada Ges dan Adit, serta seluruh orangtua di dunia. Selamat membaca buku yang menguatkan ini 🙂

 

Rating: *****

 

http://gimmegaiety.blogspot.com/2014/10/lomba-review-letterstoaubrey.htmlhttp://gimmegaiety.blogspot.com/2014/10/lomba-review-letterstoaubrey.html

*Ditulis dalam rangka mengikuti lomba review Letters to Aubrey, yang diselenggarakan oleh Gracie Melia bekerja sama dengan Stiletto Book, Mothercare, Fitinline, dan Blackmouz.

 

Sumber Foto: letters-to-aubrey-with-rubella.blogspot.comdan gimmegaiety.blogspot.com

Juga ditulis di sini.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: