Persiapan Menuju Pernikahan (Resume Kuliah WhatsApp #1 To be Wonderful Wife Chapter 37 NonSBY)

Resume Kuliah WhatsApp #1 

To be Wonderful Wife (2bWoW) Chapter 37 NonSBY 

Kamis, 17 Desember 2015, 20.00 – 21.35 WIB 

Narasumber: Euis Kurniawati (Ibu 2 putri, trainer, founder To be Wonderful Wife) 

Admin: Adiar Ersti Mardisiwi 

Dalam perbincangan seputar pernikahan, seringkali kita mendengar istilah “menyegerakan atau tergesa-gesa?”

Sebenarnya apa yang membedakan 2 kalimat ini? Apakah soal berapa lama kita ada dalam masa penantian? Ataukah tentang seberapa cepat dan pada usia berapa kita bertemu sang pangeran dan bersanding di pelaminan?
Ternyata tak sepenuhnya demikian.

Menyegerakan dan tergesa-gesa lebih pas jika dimaknai dalam konteksnya seberapa lama persiapan yang kita lakukan untuk menuju gerbang pernikahan. Ia berbicara masalah waktu dan seberapa matang persiapan.

Ust Salim A.Fillah misalnya, beliau menikah di usia 20 tahun. Tapi sejak usia 15 tahun beliau telah mempersiapkan diri. 5 tahun persiapan. Ini namanya menyegerakan.

Berbeda dengan seseorang yang menikah di usia 30 tahun misalnya, tapi baru melakukan persiapan dengan penuh kesadaran 6 bulan sebelum menikah. Ini masuk kategori tergesa-gesa.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih bujang, saya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek di kota Batu. Saat itu hampir tengah malam, kami berhenti sejenak dan saya turun dari mobil untuk pesan nasi goreng di seberang alun-alun kota apel ini. Ternyata di sana sudah ada beberapa anak punk yang ngumpul dan ngobrol heboh. Secara fisik penampilan mereka tidak jauh beda dengan anak-anak punk kebanyakan. Rambut di cat warna warni, pakai tindik di beberapa titik, pakaian dominan hitam dan bertampang “sangar”. Bukan berniat mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi karena volumenya tidak kecil, mau ndak mau saya juga bisa ikutan dengar.

Ada yang menarik, saat salah satu dari mereka bercerita dengan sangat antusias tentang pacar barunya. Tentang keindahan fisiknya, tentang kemolekan tubuhnya, tentang kelincahan sikapnya. Wow banget deh menurutnya. Tapi tiba-tiba ada salah seorang diantara meraka yang tanya: emang kamu mau jadikan istri?

Spontan dijawab oleh sang pacar: ya enggak lah.. Yang bener ajaaa. Aku kalau cari istri ya yang sholehah, minimal jilbaban, biar bisa ndidik anak-anakku ntar!”
Mak jlebbbbb..

Saya terkejut dengan jawaban spontannya.
Anak-anak punk yang dalam bayangan saya agak “ngeri dan sesuatu” ternyata mereka juga mendambakan sosok istri yang baik sebagai pendamping hidupnya dan ibu dari anak-anaknya kelak.. Ma sya Allah…

Apalagi kita, in sya Allah.. Pasti juga mendambakan sosok suami yang baik, yang shalih dan bisa menjadi imam bagi kita dan anak-anak kita kelak.
Tapi pertanyaannya adalah : apakah kita sudah mempersiapkannya??? Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan?

Setidaknya ada 5 persiapan menuju pernikahan. Persiapan mental, ilmu, fisik, finansial dan sosial. Tapi kali ini kita hanya akan membahas persiapan pertama saja. Yakni, persiapan mental.

Dipersiapan ini setidaknya kita membahas tentang 3 dimensi :
1. Membangun wacana yang benar & meletakkan paradigma yang proposional.
Bahwa ia tidak hanya berisikan sebuah keindahan dan segala hal yang menyenangkan semata. Akan ada ujian dan tanggung jawab besar disana.
Kita dapati sosok mulia Ibunda Khadijah, misalnya. Lembut, keibuan, dermawan, kaya, support perjuangan dsb. Semua laki-laki pasti tidak menolak jika dapat sosok istri seperti itu. Tapi tidak semua laki-laki siap beristri dengan wanita yang rentang usianya jauh diatasnya. Jika ia bersedia, belum tentu keluarga besar kedua belah pihak bisa menerimanya. Apalagi budaya masyarakat saat ini yang ada stigma kurang pas kalau anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang lebih muda.

Ngomong-ngomong saya termasuk yang ini lho. Kebetulan Allah menjodohkan saya dengan berondong ganteng yang usianya lebih muda 2 tahun dari saya. Hehehe,

Kita dapati pula sosok Aisyah yang tidak hanya shalihah, tapi juga cantik, cerdas, dan lincah. Semua laki-laki pasti ingin mendapatkan sosok demikian, tapi tidak semua laki-laki siap menghadapi sikap cemburu beliau yang bisa banting piring di depan tamu..

Dalam pernikahan selalu ada ujian. Ujian tentang bagaimana beradaptasi dengan laki-laki asing yang menjadi suami kita berikut keluarga besar beliau dengan karakter atau latar belakang yang tak sama, misalnya.

Contoh, saya beberapa kali menjumpai ada diantara kawan-kawan yang sering update status di FB ataupun status di bbm dan berkeluh kesah tentang sikap suaminya. Terkadang bahkan masalah yang sangat sederhana tapi bisa memicu ketidaknyamanan. Misal pencet pasta gigi dari tengah, padahal kebiasaan kita pencet dari bawah. Misal kalau habis makan kotoran di piring tidak pernah dibuang langsung ke tempat sampah padahal kebiasaan kita sebaliknya. Misal suami tidak pernah mengembalikan barang-barang di tempat semula dan ditaruh berserakan, padahal kita memiliki kebiasaan rapi. Dan sebagainya.

Yang jadi pertanyaan; Kenapa di publish di medsos? Entahlah, beberapa mengaku biar suaminya tersindir dan sadar. Beberapa mengaku suaminya gak bakal tahu karena memang gak punya FB, postingan itu sekedar untuk menyalurkan emosi dan bikin plong.

Tapi apakah memang demikian penyikapan yang tepat? Apakah tidak justru memicu permasalahn lain di kemudian hari?

Di point ini kita juga berbicara Tanggung jawab yang tak ringan terlebih saat telah dikaruniai keturunan, misalnya. Itulah kenapa dikatakan menikah itu memenuhi setengah agama. Karena tanggung jawabnya pun tak ringan.
Itulah kenapa paradigma yang benar dalam memandang pernikahan harus benar-benar kita siapkan sejak awal, biar ndak terkejut dan shock saat menghadapinya. Biar kita juga siap dengan berbagai sikap yang bijak dan tepat saat menghadapinya. Bahwa menikah tak sekedar berbicara tentang cinta dan romantisme, tapi ada ujian dan tanggung jawab besar yang menyertainya
Pasti akan dipergilirkan antara nikmat dan ujian, dipergilirkan suka dan duka, dipergilirkan gelak tawa dan derai air mata. Itulah kenapa sabar dan syukurpun akan menjadi sebuah keniscayaan dalam biduk rumah tangga.

2. Mengubah Ekspektasi Menjadi Obsesi
Persiapan mental dalam dimensi ini adalah berbicara tentang mengubah espektasi menjadi obsesi. Apa maksudnya?

Seringkali saat masih single kita berharap, berespektasi kelak mendapatkan sosok suami yang shalih, yang bisa jadi imam yang baik untuk kita. Tidak salah, memang. Tapi akan “sakit dan mengecewakan” jika espektasi ini ternyata tidak kita dapati dalam dirinya kelak.

Alangkah indah seandainya kita ubah espektasi ini menjadi sebuah obsesi. Berpikir, kira-kira apa ya yang bisa aku lakukan untuk suamiku kelak agar ia bisa jadi imam yang baik untukku? Apa ya yang bisa aku bantu nanti saat sudah menikah agar suamiku bisa jadi ayah juara untuk anak-anakku, dan sebagainya.

3. Make sure on the right track.
Persiapan lain dalam dimensi Ruhiyah/mental selanjutnya adalah menata ketundukan pada semua ketentuan-Nya. Memastikan bahwa semua on the track dalam tiap prosesnya. Jika menikah adalah sesuatu yang baik, maka segala sesuatunya kita pastikan juga baik dalam versi-Nya.
Baik saat menyiapkannya.
Baik saat dalam proses menuju pernikahannnya (berkenalan, lamaran, dan sebagainya).
Baik pula saat mengarungi bahtera berikutnya..

Dulu sebelum menikah saya pernah membaca salah satu buku karya penulis favorit saya, Ust. Salim. A. Fillah.
Mungkin sering kita dengar tentang hadits bahwa wanita (dan sebaliknya bagi laki-laki) dinikahi karena 4 hal bukan? Karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan karena agamanya.

Tapi saat itu saya terhenyak dengan redaksi lainnya yang kurang lebih begini (ndak hafal, buku pas lagi dipinjam):
“Kalau kita menikah karena kecantikannya, tunggulah sampai Allah mempercepat buruk wajahnya.”
Maksudnya kalau ada laki-laki tampan yang datang meminang bukan berarti kita terima pinangannya nunggu dia nggak ganteng lagi lho ya.. Hehehe, Tapi kalau kita menikah karena gantengnya, silau dengan ketampanannya, maka bisa jadi dia akan menjadi suami kita tapi setelah itu Allah akan mempercepat hilangnya ketampanan yang kita puji-puji itu..

Begitu juga dengan 2 hal yang lainnya.
Kalau kita menikah karena keturunannya, tunggu saja sampai Allah membuka aib dan menurunkan kehormatannya.
Kalau kita menikah karena hartanya, tunggu saja sampai Allah menghilangkannya.
Apakah berarti kita tidak boleh menikah dengan laki-laki yang ganteng, kaya dan dari keturunan terhormat? Tentu saja bukan demikian. Di sini menegaskan bahwa kebaikan agama lah yang jadi standar utama kita.
Agama : nilainya 1
Tampan : nilainya 0
Kaya : nilainya 0
Keturunan terhormat : nilainya 0
Kalau dapat suami tampan dan kaya. Berarti nilainya 0
Kalau dapat suami yang baik agamanya nilai 1
Dapat suami baik agama, dan ganteng/kaya nilainya 10
Dapat suami baik agama, ganteng, kaya, dari keturunan terhormat, wah itu yg asyik. Bonusnya banyak. Hehehe,

Menata ketundukan pada-Nya dalam tiap proses, termasuk untuk urusan niat. Ini pengalaman pribadi, menjadi hikmah pribadi setidaknya bagi saya dan suami.

Niat kami berdua in sya Allah seperti pasangan lainnya. Menjalankan perintah agama, mengikuti sunnah, menghindari fitnah, membentuk keluarga dakwah yang nantinya bisa bermanfaat bagi kebaikan lingkungan masyarakat dan bangsa yang lebih luas. Tidak ada yang salah menurut kami dengan niatan ini. Tapi saya dan suami punya lintasan pikiran yang lain. Mohon digaris-bawahi. Lintasan pikiran. Bukan niatan.

Saat itu suami punya lintasan pikiran bahwa kalau sudah nikah enak ntar punya PW alias Pendamping Wisuda saat seremonial kelulusan. Yap, kami menikah memang saat suami saya masih berstatus mahasiswa, semester 9. Kondisi “mengharuskan” suami nambah 1 semester karena amanah masa jabatan beliau sebagai presiden BEM Unair saat itu belum tuntas. Hmm, pendamping wisuda. Pasti asyik ya, ada yang bisa digandeng saat wisuda. Tapi kondisi real ternyata berkata lain. 14 Maret kami menikah, April ternyata Alhamdulillah saya positif hamil. Dan di bulan April itu juga suami akan wisuda. Tapi beberapa hari sebelum yudisium saya mengalami pendarahan hebat yang mengharuskan saya bedrest 1 minggu lebih di tempat tidur dan melewatkan impiannya bergandengan saat wisuda. Tapi Alhamdulillah kandungan saya masih bisa dipertahankan sampai lahir Tsabita Kamila Hasana, putri pertama kami.
Niat saya menikah seperti tadi disebutkan di atas. Tapi saya juga punya lintasan pikiran, bukan niatan. Ah, enak ntar kalau sudah nikah ada yang nyari maisyah, ndak lagi ngerepotin orang tua, ndak perlu bingung masalah maisyah.
Tapi yang terjadi berbeda. Setelah menikah kami sepakat keluar dari rumah orang tua untuk segera belajar mandiri dan di sana saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan lintasan pikiran tadi. Kami pernah ada dalam kondisi minim uang. Pernah hanya bisa beli telur 2 biji, beras 2 kg. Pernah juga “terpaksa” beli soto ayam di langganan kami yang hanya dengan uang 5000 bisa dapat kuah soto plus potongan ayam yang tidak sedikit. Kenapa beli soto? Biar kalau kuah sotonya habis, sisa potongan ayamnya bisa dicuci dan diolah lagi untuk bikin sop dan sebagainya.

Saat itu kami mencoba introspeksi dan baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada bulan-bulan di awal pernikahan kami saat itu MUNGKIN adalah teguran Allah untuk meluruskan paradigma kami. Bagi suami saya, PW mungkin tidak perlu dijadikan sebuah lintasan pikiran apalagi naudzubillah jika menjadi pemicu kesombongan. Bagi saya, kesulitan ekonomi saat itu seolah menjadi tamparan keras dari Allah untuk mengingatkan bahwa rizki itu bukan dari suami. Tapi mutlak dari Allah Sang Penjamin Rizki..

Berdua kami tersadar, menangis dan beristighfar bersama. Memohon ampun atas khilaf yang mungkin tidak pernah kami sadari selama ini dalam melalui proses menuju pernikahan. Alhamdulillah sejak saat itu kehidupan rumah tangga termasuk kondisi ekonomi kami berangsur-angsur membaik.
Cerita lain. Ada seorang kawan yang bercerita tengah berproses dengan seorang laki-laki. Dari cerita beliau saya merasa intensitas dan cara berkomunikasinya kurang ahsan dan perlu dibenahi.
Tidak berdua-duaan seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram melainkan ketiganya adalah syetan. Yup, tapi apakah makna berdua-duaan itu hanya dalam dimensi fisik saja? Kalau sms-an, bbm-an, inbox FB, mention-mentionan di twitter, apakah juga ndak termasuk dalam konteks berdua-duaan??
Menurut saya, itu termasuk berdua-duaan.

Kembali ke cerita. Saya merasa beliau dan calonnya perlu membenahi pola komunikasi mereka. Biarpun sudah khitbah atau dilamar sekalipun, belum tentu dia akan jadi suami kita. Loh kok? Iya lah. Sebelum ada ijab qabul alias akad yang diucapkan belum bisa dikatakan dia PASTI akan jadi suami kita bukan? Pernah ada cerita di ujung pulau Jawa, seorang perempuan yang akan menikah, semua persiapan sudah matang dilakukan, undangan telah disebar, kwade-catering telah di pesan, bahkan souvenir bertuliskan nama ke-2 mempelai pun telah siap dibagikan. Ternyata takdir Allah berkata lain.
2 hari sebelum hari H pernikahan, pihak calon mempelai pria tiba-tiba memutuskan sepihak batal menikah! Bagai disambar petir di siang bolong. Terus gimana kalau besok tamu-tamu datang? Dalam kemelut kebimbangan calon mempelai wanita dan keluarga besar, ternyata Allah mendatangkan laki-laki lain, saudara seperjuangan dalam komunitas kebaikan di daerah mereka tinggal ternyata menawarkan dirinya untuk menjadi suaminya. Bersedia sepenuh jiwa menjadi imamnya dan ikhlas bersanding di pelaminan meski nama yang terukir di undangan dan souvenir bukanlah namanya..
Ma sya Allah..

Balik lagi ke cerita yang sebelumnya. Balik balik terus. Maap. Hehehe,
Dari cerita teman saya yang akan menikah tadi saya merasa ada pola komunikasi yang perlu benahi. Tapi wallahu a’lam bagaimana akhirnya. Hingga akhirnya Alhamdulillah hari yang dinanti datang juga. Beliau berdua menikah dan sah sebagai pasangan suami istri.. Saya turut berbahagia.. Hingga kurang lebih sekitar 1 minggu kemudian sang istri datang dan Curhat kalo lagi ada masalah sama suaminya. Saat itu mereka buntu menyelesaikannya. Dan setelah saya dengar ceritanya saya berkesimpulan ini karena masalah komunikasi yang kurang lancar antara istri dan sang suami.
Hmm..

Dari beberapa kejadian itu, akhirnya kami baru menyadari sebuah untaian kalimat yang tidak kami pahami dari buku Ust. Salim dulu sebelum menikah. Kurang lebih redaksinya begini,
“Bahwa satu kesalahan saja yang kita lakukan saat menuju pernikahan, akan kita rasakan akibatnya saat sudah berumah tangga dan akan berpengaruh pada kebarakahan rumah tangga yang kita bina.”
Jika kita salah dalam pola komunikasi saat proses akan menikah, bisa jadi komunikasi pula yang jadi sebab pertengkaran yang muncul dalam rumah tangga kita.

Itulah kenapa Ust. Salim menganjurkan untuk sering-sering introspeksi dan beristighfar meski kita sudah menikah, siapa tahu ada salah dan khilaf yang tidak kita sadari DULU, tapi ia menjadi batu-batu yang mempengaruhi perjalanan rumah tangga kita.

Demikian persiapan mental yang perlu kita lakukan sebelum memasuki biduk rumah tangga. Masih ada 4 persiapan lain yang juga harus kita persiapkan, semoga bisa kita diskusikan di lain kesempatan.
Selamat berproses dan mempersiapkan diri.. Sama2 belajar. Belajar sama2. Karena menikah tak sekedar tentang cinta

🌸🌸🌸🌸
TANYA-JAWAB

1. Mbak Roudotul Ilmiyah: Saya mau Tanya mengenai vaksin sebelum nikah itu kan ad tuh gimana dalam pandangan islam? Apa itu perlu?
Jawab : Ada beberapa vaksinasi yg bisa dilakukan sebelum pernikahan. Tapi setidaknya 1 vaksin yg perlu dilakukan setiap perempuan saat akan menikah, yaitu vaksin TT, sbg upaya pencegahan penyakit tetanus. Vaksin TT menjadi penting bagi istri dan bayi yang kelak akan dikandungnya pasca menikah.
Suntik TT adalah salah satu persyaratan wajib bagi calon pengantin. Itulah mengapa saat mengurus berkas pernikahan ke KUA, kita harus menyertakan surat keterangan suntik TT dari puskesmas. Sebenarnya suntik TT bisa juga dilakukan di rumah sakit, bidan, atau petugas terkait. Namun lebih mudahnya bisa dilakukan di Puskesmas karena bisa sekaligus minta surat keterangan sudah vaksin.
Terkait pandangan dalam islam, hal ini memang masih ada perdebatan di sekitar kita. Rasanya akan panjang dan butuh waktu khusus untuk membahasnya. Mbak Ilmi bisa googling tulisan dr.Piprim Yanuarso. Saya secara pribadi, selama ini lebih mantap mengikuti analisa beliau terkait vaksinasi dan pandangannya dalam Islam. Semoga berkenan ✅

2. Mbak NN: Saya ada pertanyaan apakah kita blh menolak ketika ortu menetapkan batas usia menikah pdhl diri ini blm siap utk menikah? Soalnya ortu jd sering menjodoh2kan saya dg anak2 tmn2 beliau. Saya gamau pernikahan saya nanti terkesan terpaksa & terburu2.
Jawab : Satu hal yg kita yakini bahwa jodoh sudah Allah tentukan sejak kita 120 hari dalam kandungan ibu. Siapa dia, dan kapan datangnya.  Ia tidak akan datang terlambat,  sebagaimana ia juga tidak akan datang lebih cepat. Siap atau tidak siap. Itu wilayah prerogatif Allah. Tp menjadi wilayah ikhtiar kita adalah bgmn kita menjemput jodoh. Apakah mau ikut aturan Allah, atau sebaliknya. Karena kita lihat di sekitar kita, ada yg tak pernah pacaran, tapi menikah dan langgeng. Ada yg bertahun2 pacaran, akhirnya menikah dan langgeng juga. Inilah jodoh. Siapa dia, adalah prerogatif Allah. Tp bgmn kita menjemputnya, mjd wilayah kita, yg tentu jg akan ada konsekwensi di dalamnya.
Sama dengan kematian. Tanggal, jam, menit bahkan detiknya menjadi wilayah prerogatif Allah. Siap atau tidak siap. Tp menjadi wilayah kita tentang bagaimana kita menjemput kematian. Apakah khusnul khatimah, atau sebaliknya. Inilah yg kita kenal dengan konsep qada dan qadar.
Kembali pada masalah pernikahan. Sejak masa Rasulullah, kita dapati hikmah, bahwa jodoh itu bisa datang dr mana saja. Bisa dari orang tua yg menawarkan anaknya, bisa dijodohkan oleh pemimpin negrinya, bisa dari guru mengajinya (ulama), bahkan bisa pula si gadis menawarkan dirinya pada laki2 yg ingin “dipinangnya”.
Jodoh bisa datang dari manapun, namun yg harus dipastikan adalah niat dan caranya harus benar. Semua on the track pada jalur2 yg sdh Allah tetapkan.
Apakah kita boleh menolak ketika ortu menetapkan batas usia menikah? Rasanya bukan menolak, tapi mengkomunikasikan konsep pamahaman kita ttg pernikahan. Apalagi jika dirasa antimainstream, tdk sama dg kebanyakan org, maka proses komunikasi ini menjadi sebuah kebutuhan sekaligus tuntutan. Mulai dr kriteria calon suami yg kita harapkan, ikhtiar cara menjemput jodoh jika memang tanpa pacaran, konsep walimah yg kita idamkan dst. Termasuk masalah usia.
Maka jika sudah memiliki frame yg sama, akan mudah dalam ikhtiar ke depan.
Kalau jodoh, tak akan pernah tertukar. Darimanapun datangnya.  Ini wilayah iman. Wilayah keyakinan.
Jika ortu sdh ikhtiar mencarikan calon suami, kalau bkn jodoh, pasti jg ndak bakal jd menikah. Begitupun sebaliknya.
Yg paling penting adalah membangun komunikasi kepada orang tua secara ahsan terkait konsep pernikahan idaman dan fokus mempersiapkan diri menuju gerbang pernikahan. Sebagai bekal kelak dengan siapapun kita akan menikah ✅

3. Mbak Syahidah: 1. jadi niat kita menikah harus seperti apakh yg diajarkan rosul persis2nya mb ? agar tidak ad lintasan2 yg tidak ikhlas krn Allah; 2. bentuk menyengerakan menikah itu sperti apapola2 nya mb ? apakh dg membaca buku ato yg lain ?; 3. buku apa yg mb rekomendasi kan , agar kita tidak tergesa2 dlm menikah ? agar kita tergolong yg menyegerakan menikah.
Jawab : ➡ Menikah bukanlah cita2. Tapi menikah adalah sarana kita menuju cita2, yaitu masuk ke dalam surgaNya. Maka niat yg utama dalam pernikahan adalah dalam rangka menegakkan perintah Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah.
Jangan menikah karena cinta, tapi menikahlah karena surga terasa dekat bila bersamanya.
Mungkin itulah hikmah dari doa yg diajarkan Rasulullah saat memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin baru.
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ وَ بَارَكَ عَلَيْكَ وَ جَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ “Semoga Allah menganugerahkan barakah kepadamu, semoga Allah juga menganugerahkan barakah atasmu, dan semoga Dia menghimpun kalian berdua dalam kebaikan”
Dalam doa yang diajarkan Rasulullah ini, ada kata laka dan ada ‘alaika. Meskipun sama-sama keberkahan yang diminta, tetapi dengan adanya preposisi yang berbeda ini, maknanya menjadi: barakah pada hal-hal yang disenangi dan sekaligus barakah pada hal-hal yang tidak disenangi. Jadi kita mendoakan pengantin muslim senantiasa mendapatkan keberkahan baik dalam kondisi yang mereka senangi maupun tidak mereka senangi. Misalnya saat mereka diluaskan rezekinya oleh Allah, mereka berada dalam keberkahan dengan sikap syukur dan banyaknya infaq. Dan ketika suatu saat mereka berada dalam keterbatasan ekonomi, mereka juga berada dalam keberkahan dengan sikap sabar dan iffah-nya.
Barakah Allah yg menjadi standarnya. Karena ada juga yg bahagia selama di dunia, tp sebaliknya di akhirat. Ada yg berjodoh langgeng selama di dunia, tapi sama2 masuk neraka spt pasangan abu lahab dan istrinya. Naudzubillah..
Niat menikah yg benar, menurut pandangan saya setidaknya ada bbrp hal : A. Niat menjalankan perintah Allah dan mengikuti sunnah rasulullah. Menjadikan pernikahan sbg sarana ibadah
B. Niat menjadikan pernikahan sbg sarana mencapai cita yaitu menuju surgaNya
C. Niat menjaga fitnah dan menghindarkan diri dari perbuatan yg dimurkai allah
D. Niat melahirkan generasi shalih yg menegakkan agama
➡ Menyegerakan dan tergesa2 itu bedanya pada persiapan. Meski usianya masih sangat belia, tapi ketika dia sudah mempersiapkan diri secara sadar dengan matang, maka ia masuk kategori menyegerakan. Pun sebaliknya. Meski usianya sdh cukup untuk menikah, tapi jika tidak ada persiapan, maka ia termasuk tergesa2.
Apa saja yg dipersiapkan? Setidaknya ada 5 persiapan menuju pernikahan. Persiapan mental/spiritual – yg hr ini kita diskusikan, persiapan ilmu, persiapan finansial, persiapan fisik dan persiapan sosial.
Preview materi 5 persiapan ini bisa dilihat di fanpage to be wow. Termasuk materi2 lain.
Bentuk persiapan (dalam rangka menyegerakan) bisa dengan bermacam cara. Baca buku, ikut seminar/kajian/ buka link youtube ttg pernikahan dan parenting,  bisa  silaturrahim dg mereka yg telah menikah untuk menimba ilmu dan meneguk hikmah, latihan/praktek apa yg sekiranya sdh dipelajari (bljr mengatur keuangan, menyusun menu, masak, dsb), termasuk ikut komunitas to be wow ini mudah2an dlm rangka memberi pondasi dalam pernikahan yg kelak kita hadapi.
➡ buku yg direkomendasikan? Kalau saya biasanya merekomendasikan buku2 ini : dijalan dakwah aku menikah (cahyadi takariawan), indahnya merayakan cinta (salim a.fillah), men are from mars women are from venus (john gray), wonderful wife (buku terbaru pak cahyadi takariawan) plus follow twitter aimi asi/id ayah asi/tips menyusui ✅

4. Mbak Nikmatul Husna: Apa parameter bahwa persiapan kita sudah matang sblm menikah? Brp tahun?
Jawab : Tidak ada parameter khusus untuk mengkategorikan kita sudah matang atau tdk, sdh siap atau blm untuk menikah. Diri kita masing2 yg bs menjawabnya. Patokan dasar yg bs dipakai setidaknya sudah mempersiapkan 5 hal yg td sempat disinggung di pertanyaan sblmnya. Persiapan mental/spiritual, persiapan ilmu, persiapan finansial, persiapan fisik dan persiapan sosial.
Jadi bukan dg menjadikan waktu brp tahun sbg parameternya.
Kalau jodoh sudah di depan mata tapi kita merasa belum siap atau mengukur diri belum matang persiapannya bgmn? Yakin saja, allah tak pernah salah menetapkan waktu kapan pangeran itu akan meminang kita. Kalau prinsip yg dipakai suami saya saat beliau akan meminang saya : tak perlu menunggu sempurna untuk memulai, tapi teruslah bersemangat menyempurnakan saat telah memulai.
Ya krn sejatinya pernikahan itu menuntut pasangan untuk terus belajar, belajar dan belajar. Seberapapun usia pernikahan, selama apapun mereka telah hidup bersama Jadi,, tetaplah semangat belajar dan mempersiapkan diri untuk menikah Mulai Dari sekarang. Karena kita tahu, menikah tak sekedar ttg cinta.
Miris, angka perceraian di Indonesia menduduki posisi pertama se asia pasifik !
Data di BKKBN thn 2013, terjadi 40 perceraian setiap jamnya. Atau hampir 1000 perceraian setiap harinya. Ini yg terdata, padahal banyak yg tidak terdata. Dan yg makin membuat miris, 70% dr angka ini, perceraian justru muncul dari gugatan istri.
Mudah2an dg benar2 mempersiapkan diri menuju pernikahan, bisa mengurangi angka perceraian di negara kita secara signifikan. Samara sampai surgaNya. Semoga.. ✅

5. Mbak Kresta: Bagaimana menyikapi kekurangan pasangan kita yg sudah menjadi karakter/kebiasaannya, yg tidak kita suka dan membuat kesal?Dgn harapan rmh tangga ttp terjaga sakinah, mawadah, warahmah.
Jawab :
Menyikapi perbedaan karakter. Sementara saya copaskan materi pengantar saya di kulwap grup lain ya mbak. Moga di kulwap berikutnya bisa kita bahas masalah ini secara khusus.
💝 CERDAS MENYIKAPI PERBEDAAN DNG PASANGAN 💝
narsum : Euis Kurniawati (Trainer, Founder Komunitas to be wonderful wife)
Bijak Menyikapi Perbedaan Karakter Bersama pasangan
Dalam sebuah penelitian sederahana, 44% dari 300 responden menyatakan bahwa sumber permasalahan terbesar dalam hubungan mereka adalah karena perbedaan karakter ataupun cara berpikir yang mendasar.
75% dari mereka tetap berusaha untuk mempertahankan hubungan dengan alasan (kebanyakan) karena cinta, sementara 25% memutuskan untuk berpisah karena lelah menghadapi pertikaian yg tidak kunjung selesai.
Sebelum akhirnya memutuskan berpisah, kebanyakan sudah berusaha mencoba untuk mempertahankan hubungan selama lebih dari satu tahun. Ada yg berusaha untuk mendiskusikan permasalahan dengan pasangan, berusaha berubah, menyabarkan diri, mengalah, sampai yg mencoba menghindari pertengkaran dengan mendiamkan masalah. Namun, terbukti bahwa usaha tersebut tidaklah berhasil. Mengapa?
Karena ternyata kedua pihak di dalam hati belum bisa menerima perbedaan di antara kita dan pasangan. Ya, memang diskusi & pembahasan telah dilakukan. Ya, memang salah satu pihak akhirnya berusaha berubah & mengalah. Namun, pihak yg mengalah justru memendam masalah itu dalam hati dan bukannya menerima sifat & karakter pasangan ada adanya. Mereka hanya mengalah untuk menghindari pertengkaran, sementara akar permasalahan tidak dituntaskan. Akhirnya, pihak yang mengalah & berusaha berubah akan merasa tidak puas & lama kelamaan perasaan yang tertekan ini ibaratnya menjadi seperti sebuah bom waktu yg siap untuk meledak.
Saat masalah lain datang, perbedaan karakter memunculkan kembali permasalahan yg sama sampai lama kelamaan banyak pasangan yg menyerah dan mengakhiri hubungan.
Lalu, bagaimana dengan 75% responden yg berhasil mempertahankan hubungan?
Banyak pasangan yg masih bertahan mengatakan bahwa mereka berusaha berdiskusi, bersabar untuk menangani setiap permasalahan dengan kepala dingin, berusaha berubah bahkan sampai berpisah untuk sementara waktu. Ttp sama seperti para responden yang berujung pada perpisahan, rata2 mengakui bahwa segala usaha ini TIDAK memberikan perubahan permanen pada dinamika hubungan dg pasangan. Sebagian besar merasa bahwa masalah yang sama akan muncul kembali akibat perbedaan karakter diantara mereka.
Satu hal yang menjadi kunci keberhasilan para responden yang mengakui adanya perubahan positif di dalam hubungan adalah sikap MENERIMA perbedaan yang ada. Mereka tidak lagi berandai-andai apabila pasangan akan berubah menjadi lebih perhatian, menjadi tidak posesif, atau tidak lagi mementingkan teman-temannya. Mereka juga tidak mengalah sambil berharap bahwa pasangan akan berubah suatu saat nanti. Tapi, mereka berusaha untuk sadar bahwa pasangannya memang seperti itu, berusaha menerima & mencintai pasangan sebagaimana mereka adanya.
Bbrp cara yang bisa kita lakukan untuk memahami karakter dengan : 1. Mengenali latar belakang, masa lalu & kebiasaan di keluarga besar pasangan kita. 2. Mengenali type kepribadian kita & pasangan. Bisa dengan alat bantu tes personality. Apakah termasuk sanguinis, korelis, melankolis atau plegmatis 3. Mempelajari gaya komunikasi & kebutuhan emosi yg berbeda antara pria & wanita. Saya rekomendasikan baca buku men are from mars women are from venus karya John Gray. Atau bs baca resume yg saya buat
Sewaktu cara pandang kita berubah seperti ini, perubahan akan terjadi di dalam diri kita sendiri. Tuntutan kita akan berkurang, rasa ketidakpuasan mungkin tidak menghilang, tapi bisa diatasi. Kita akan jadi lebih bisa menerima dan mengerti saat pasangan melakukan hal yang memang sesuai dengan sifat dan karakternya. Ini juga akan membuat kita lebih mudah memaafkan pasangan. Perasaan dan emosi kita pun akan menjadi lebih stabil karena memang sejujurnya kita sudah bisa menerima pasangan apa adanya. Reminder untuk kita semua, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Suami kita tak sempurna, sebagaimana kita juga tak sempurna. Bukankah laki-laki dan perempuan memang diciptakan berbeda untuk saling mendukung dan melengkapi?
Selamat bermetamorfosis menjadi istri yang lebih baik lagi, lagi dan lagi  😊 ✅

6. Mbak Indri: cinta itu kan fitrah yaaa,  bagaimana mengontrol perasaan itu , karena itu kan belum halal perasaan tsb… Karna susah banget mba, saya pengen banget ga ada komunikasi,  tp saya ga enak klo mesti cuekin dan delcont contact nya; bagaimana cara menguatkan mental ketika akan menikah? Karna dari omongan2 orang suka bikin down
Jawab
➡ Betul mbak, cinta adalah fitrah setiap anak manusia. Fitrah yg harus tetap dijaga kesuciannya. Fitrah yg harus tetap diperjuangkan penjagaannya sebagaimana kehendak DIA yg memberi cinta. Karena ketika rasa yang fitrah tersebut tidak diberikan kepada mereka yang ber-hak dan dikelola dg baik, khawatir justru malah jatuh ke kubangan dosa. Naudzubillah..
Pernah diskusi dg seorang akhwat, yg sering mudah terpikat dg lawan jenis atau ikhwan. Entah krn keshalihanx, kepandaian akademisx, kelihaian komunikasix, kehandalan manajerialx, atau apa pun. Sdh banyak buku2 yg disantap, sdh sering seminar dan muwajih para ustadz yg dilahap,tdk kurang nasehat para sahabat jg dterima, tp slalu saja ‘penyakitx’ mdh kambuh. Bliau tahu itu salah, tp bingung harus bgmn. Krn smua solusi yg dtawarkan ndak mempan smua. Mulai dari perbanyak dzikir, slalu jaga niat, jangan nganggur dan bnyk hal lainx. Akhirx sy tawarkan solusi ini, dan alhmdlh ada hasil. Kalau mentok smua upaya gagal, maka hadirkan pangeran/permaisuri bayangan. Divisualisasi buram, hitam, tanpa nama, tanpa jelas dmn berada. Pangeran/permaisuri yg akan mjd pasangan qt. Ktika mulai tbesit ‘suka’, langsung bilang ke diri sendiri ‘dia bukan pangeranmu. Pangeranmu diluar sana. Jngan ‘selingkuh’ sambil pbnyak istghfr dan sgera mengalihkan perhatian kepada hal lain.
Delcont jika tidak dimungkinan, maka bisa diganti dengan mengubah namanya di hp kita dengan : JAGA HATI. Insya allah sedikit banyak akan mampu jadi reminder diri dan berpengaruh pada pola komunikasi dan interaksi dengannya. Toh belum tentu juga dia yg kelak akan menjadi imam kita.
Kalo qt brusaha lbh baek, mjaga hati dan diri, insya allah pangeran kita jg dmikian.. Qs An Nur 26. Laki2 yg baik untuk perempuan yg baik. Nama pasangan qt memang telah ditetapkan, tp kita bs ‘ikut campur tangan’ merubah kualitas calon pasangan qt dg merubah kualitas kita.
Moga dikuatkan azzam dan dimudahkan langkah dalam menjaga diri
➡Menguatkan mental ketika menikah dan bertahan dr omongan org yg suka bikin down? Kuncinya di mindset dan doa. Maka perbanyak belajar untuk memberi kemantapan hati atas apa yg kita yakini dan memohon kepada Allah agar diberi kekuatan dan pundak yg kokoh u/ istiqomah memegang prinsip yg benar dalam kacamataNya. Orang lain akan selalu punya bahan u/ dibicarakan. Apapun kondisi kita. Jika baik, ambil mjd pelajaran dan anggap sbg reminder diri. Jika tdk baik, anggap sbg vitamin gratis dr Allah. Yakin, Allah tdk memberi ujian diluar kesanggupan hambaNya ✅

7. Mbak Nana: Klo misal sblm pernikahan terjadi komunikasi 2 arah yg mnyimpang dr ta’aruf, ap hrs melakukan sholat taubat stlh nikah dn mnyadarinya??
Jawab : ust salim a.fillah dalam bukunya, beliau mengatakan -kurang lebih seperti ini : 1 kesalahan yg kita lakukan selama proses menuju pernikahan,akan kita tuai akibatnya dan akan berpengaruh pada kebarakahan rumah tangga yg kelak  kita bina. Untuk itu,  beliau menyarankan memperbanyak istighfar bagi pasangan yg telah menikah dan pernah melewati hal2 yg tidak diperkenankan oleh syariat.
Yg beliau sarankan adalah memperbanyak istighfar.
Apakah perlu sholat taubat? Silahkan jika mau dilakukan,  insya allah semakin memantapkan dan menentramkan hati. Mudah2an Allah catat sbg bentuk kesungguh2an kita yg menyesali khilaf masa lalu.

Para ulama bersepakat tentang disyari’atkannya shalat taubat. Diriwayatkan dari Abu Bakar al-Shiddiq Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ ، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah seorang hamba berbuat satu dosa, lalu ia bersuci dengan baik, lalu berdiri untuk shalat dua rakaat, kemudian memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuni dosanya.”
Dalam banyak literatur, dosa yg dimaksud disini bisa dosa besar maupun dosa kecil.
Wallahu a’lam ✅

8. Mbak NN: berapa durasi ideal proses taaruf? ketika ada kasus pihak keluarga ikhwan menginginkan akad setahun lagi sedangkan si akhwat menginginkan proses disegerakan, karena pihak akhwat merasa sudah siap. akhirnya pihak akhwat memutuskan mundur dr proses taaruf tp keluarga ikhwan tdk terima. bagaimana akhwat harus bersikap?
Jawab :
Sependek yg saya tahu,  tidak ada satupun ayat maupun hadist yg secara eksplisit menjelaskan durasi ideal dalam proses taaruf. Namun semuanya tetap mengarah pada 1 muara : semakin cepat, semakin baik.
Tidak tanpa dasar, saya rasa. Krn memang ujian hatinya sangat besar di titik ini. Fitnahpun berpotensi besar muncul di fase ini. Maka semakin mempercepat proses taaruf semakin baik. Terlebih lagi jika tdk ada pertimbangan syari yg membuat harus menunda pernikahan. Kaidahnya juga harus kita pegang erat. Menyembunyikan pinangan & mengumumkan pernikahan. Menyembunyikan pinangan berarti, baik selama proses taaruf, maupun saat telah di khitbah/dilamar, maka wajib dirahasiakan. Jangan justru makin diumbar. Apalagi di facebook diganti : bertunangan. Iya kalau jadi menikah. Kalau batal? Banyak fitnah yg akan muncul.
1hal yg juga perlu dipahami. Menikah bukanlah sedang menyatukan 2 insan saja, tapi menyatukan 2 klrg besar. Komunikasi yg baik menjadi langkah bijak untuk menjembataninya. Bisa ditanya kpd klrg ikhwan, apa alasan harus menunda pernikahan. Lalu kita bantu memikirkan solusinya. Dan kita memberi ksmptn kpd ikhwan untuk berikhtiar mengkondisikan klrgnya. Jika ia tak mampu, bisa dg meminta bantuan pada pihak ke3 yg dirasa bisa didengarkan pendapatnya dan diikuti sarannya.
Point pentingnya pada cara yg ahsan. Krn agama adalah nasehat. Dan dakwahpun harus dilakukan dg cara yg tepat. Jangan sampai justru niat baik kita salah diterima karena cara yg kita pakai kurang tepat.
Moga dimudahkan ✅

9. Mbak Iffah: Sebaiknya sebagai seorang muslimah, cara kita yg paling benar dlm mempersiapkan diri utk pernikahan bagaimana? apakah ana salah niat atau bagaimana, krn ana berproses memperbaiki ibadah dan amalan2 kita yg lain, terkadang terpikir krn nanti kalo kita bertemu dg pasangan kita kelak akan d tentukan oleh kondisi kita saat itu.. Ridho Allah tetap di usahakan dan d luruskan mjd yg utama.. Namun ad saja pikiran aneh yg terlintas.. jadi bgmn sebaiknya kita mempersiapkan diri dg cara yg benar utk mengarah ke sana? 😅
Jawab : Cara paling benar dlm mempersiapkan pernikahan? Kalau kata steve job, stay hungry stay foolish. Jgn merasa cukup dg apa yg sdh kita lakukan. Terus menambah kapasitas diri di 5 point persiapan yg kita bahas sebelumnya. Meski kadang malas atau merasa belum perlu belajar, dipaksa saja terus belajar. Mungkin tdk terpakai skrg, tp suatu saat ttp akan bisa di recall informasi di memori  dan bermanfaat untuk kita.
Banyak member to be wow yg japri ke saya, menyampaikan rasa syukur krn ternyata materi2 selama ini sangat membantu dalam proses adaptasi dg suami dan memudahkan menghadapi masalah yg ada kalanya hadir dlm biduk rumah tangga.
Memantaskan diri bukan karenanya, tapi karenaNya. Bagaimana meminimalisir pikiran2 aneh yg terlintas?
Kalau saya dulu biasanya rutin menyertakan doa pernikahan dalam setiap sholat saya. Scara tak langsung ini mjd lanhkah efektif untuk menjaga niat dan mengendalikan pikiran.
“Ya allah, jika saatnya telah datang, jodohkanlah aku dg laki2 yg shalih, yg mushlih, bersih aqidahnya, baik ibadahnya, yg bs jd imam terbaik bagi saya dan anak2kelak. Yg bs saling menguatkan di kala lemah. Saling menasehati di kala salah.
Saling mengingatkan di kala lupa. Saling memotovasi u tingkatkan kualitas dan kuantitas ibadah serta melipatgandakan produktifitas dakwah” ✅

10. Mbak NN: Bagaimana cara menolak yg ahsan bagi ikhwan yang kesannya terlalu mengejar2 kita. Sudah ditolak susah jauhnya. Kalau ditantang segera menikah belum bersedia. Notabene ikhwannya paham agama.
Jawab :
Abaikan kalau sdh ketemu ikhwan spt ini. Harus berani ambil sikap tegas. Jika sms, ndak usah dibalas. Jika tlp ndak usah di jawab. Pungkasi saja dengan kalimat : jika memang serius, silahkan datang ke rumah atau hubungi guru mengaji saya. Bahkan jika diketahui bukan kita satu2nya “korban”, bisa minta tolong pada pihak lain untuk menasehati.
Krn meski bergelar “ ikhwan” dan paham agama, tdk ada jaminan. Krn setan akan ttp menguji dan menggoda kita sesuai dg tingkat keimanan kita. Jika keimanan kita di level 7, maka yg dikirim untuk menggoda kita jg setan level 7. Pun begitu jg jika tingkat keimanan kita 9, maka akan dikirm setan level 9 untuk menggoda kita.
Pernah dalam sebuah seminar di suatu kota. Stlh selesai ngisi saya didatangi oleh seorang akhwat. Sambil berbisik dan menahan air mata, ia bilang kalau sdh tdk virgin. Saya tanya, sama siapa melakukannya? Sama ikhwan. Saya tanya lagi, brp kali melakukannya? Dijawab, lupa bunda. Krn sdh berulang kali.
Astaghfirullah. Ini terjadi pada sepasang manusia yg paham agama. Tak ada jaminan sedikitpun. Kita doakan keduanya Allah ampuni semua khilaf dan dosanya.
Sekali lagi, tak ada jaminan sedikitpun.  Maka penjagaan diri menjadi sebuah kewajiban bagi kita. Berinteraksi dg mereka yg bs menjadi pengingat kita, segera mengambil langkah tegas saat ada yg mencoba mengobrak abrik prinsip yg kita jaga.
Moga allah ridho pada tiap ikhtiar yg kita lakukan u menjaga diri ini. Insya allah saat kita menjaga diri, maka calon imam yg allah persiapkan untuk kita jg sedang menjaga diriny ✅

Alhmdlh sudah terjawab semua pertanyaannya. Mudah2an bermanfaat. Saling mendoakan moga yg sdh menikah, makin samarada pernikahannya.
Bagi yg sedang dalam masa penantian, moga dikuatkan azzam untuk terus belajar dan mempersiapkan diri memasuki gerbang pernikahan. Kita yakin, jodoh pasti bertamu. Ia tak akan datang terlambat sbgmn ia juga tak akan datang lbh cepat.
Moga kelak Allah pertemukan tmn2 dg laki2 terbaik, di saat terbaik dan dalam kondisi terbaik. Jd jodoh dunia akhirat. Jodoh sampai surgaNya

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: