Renungan Kematian

Hari ini memang tidak perlu dirayakan dengan apapun. Namun, izinkan aku berterimakasih kepada orang-orang yang rela berbaik hati meluangkan waktunya untuk mendoakanku, baik secara langsung maupun via media sosial.

Hari ini memang bukan hari yang istimewa. Hari ini jatah hidupku di dunia berkurang. Buat apa aku berhura-hura.

Duapuluh tiga tahun lalu, Ibuku melahirkan aku ke dunia, di hari yang sama saat ia resmi beranjak menuju usia 31 tahun. Beliau telah melakukan perang antara hidup dan mati demi melahirkanku. Beliau telah membawaku ke dunia ini.

Di hari ini, aku tak akan merayakannya dengan apapun. Karena memang kita tidak perlu merayakannya. Kita hanya butuh melakukan perenungan sebanyak-banyaknya. Apa yang sudah dilakukan selama 23 tahun hidup. Apakah kita sudah ‘latihan’ menjawab 3 pertanyaan malaikat saat kematian nanti. Apakah kita sudah mencicil tabungan amalan kebaikan untuk kehidupan yang sebenarnya nanti di akhirat. Apakah kita sudah menjadi anak yang soleh/ah dan berbakti kepada orangtua kita. Dan masih banyak tetek bengek lainnya yang harus dipikirkan daripada sekedar lempar tepung, bikin kue, tiup lilin, dan sebagainya.

Di usiaku yang ke-23 ini, izinkan aku untuk menuliskan keinginanku saat kematianku nanti. Aku sudah bosan meminta hal-hal baru dan hal-hal duniawi di setiap tahunnya. Aku juga takut jika nanti tak sempat berkata apa-apa sebelum kematianku, dan tidak ada yang tahu tentang hal-hal ini:

Pertama, saat kematianku, tolong jangan ratapi kepergianku. Supaya nanti aku dapat pergi dengan tenang bertemu denganNya. Menangislah seperlunya saja dan tidak usah meratap.

Kedua, jangan tinggikan tanah kuburanku.

Ketiga, saat aku akan meninggal, tuntunlah aku dengan kalimat ‘Laa ilaaha ilallah’ atau ‘Allah’.

Keempat, jangan adakan acara tahlil 7 harian, 30 harian, dan sebagainya setelah aku meninggal nanti. Karena pengadaan acara itu tidak pernah diajarkan dalam agama dan hanya akan menimbulkan beban untuk keluarga yang ditinggalkan.

Kelima, aku menitipkan anakku kepada keluarga dan teman-temanku, untuk dididik tentang kehidupan, dan diberitahu juga bahwa dulu ibunya pernah melakukan kesalahan-kesalahan sehingga membentuknya menjadi orang yang seperti sekarang.

Keenam, kuburkan aku di dekat rumahku. Supaya mudah untuk mengunjungi kuburanku.

Ketujuh, tetap doakan aku, dan beritahulah anak-anakku untuk mendoakanku. Karena hanya ada 3 amalan yang tak akan putus pahalanya walaupun orang tersebut telah meninggal, yaitu: doa anak yang soleh/ah, amal jariyah, dan ilmu yang bermanfaat.

Kedelapan, sebarkan hal-hal bermanfaat yang pernah aku tuliskan atau ucapkan, atau contohkan. Namun jangan sebarkan hal-hal tidak bermanfaat yang pernah aku tuliskan, ucapkan atau contohkan.

Kesembilan, sedekahkanlah barang-barang pribadi milikku. Karena tidak ada artinya jika ditimbun.

Kesepuluh, untuk suamiku, aku tidak tahu siapa yang akan meninggal duluan di antara kita. Aku juga tidak tahu kita berjodoh atau tidak nantinya. Tapi kita telah berjanji untuk berusaha bertemu di Surga. Jadi, kamu tentu tahu kan, maksudnya? 🙂

Semoga siapapun yang membaca, baik yang mengenal maupun tidak mengenal saya, mau memaafkan kesalahan-kesalahan saya, baik yang tidak disengaja atau disengaja, baik yang terlihat maupun tidak terlihat.

Semoga di usia yang bertambah (kelihatannya), tapi sejatinya berkurang ini, kita semakin diberi pandangan yang lebih luas akan hakikat usia kita.

Ditulis pada tanggal 29 November 2015. Untuk direnungkan pada 7 hari menjelang yang ke-24.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: