Reportase: DIY 2012 OPTIMIS(TAC)TIC Opening

Langit mulai gelap. Jam menunjukkan pukul 06.30 WIB. Kursi-kursi hitam kosong auditorium Institut français d’Indonésie (IFI) à Surabaya di Kompleks AJBS pun mulai terisi satu per satu.
Memang belum banyak yang datang saat itu. Sembari menunggu, yang sudah datang pun sibuk membolak-balik halaman newsletter ke-30 C2O Library maupun berbincang dengan kawan di sebelahnya.
Setelah separuh kursi terisi, Andriew Budiman dari butawarna pun bergegas membuka acara yang telah lama dinanti oleh para penikmat, pecinta, dan penggiat desain di Kota Pahlawan. Andriew lalu menjelaskan selayang pandang Design It Yourself 2012.
“[Ketika kita memiliki] ide, kita yakin ide itu pasti bakal heboh dan mematikan. Pada awalnya kita begitu optimis, namun ketika ide itu tidak berjalan, seketika bisa menjadi pesimis,” papar Andriew. Hal itu mungkin disebabkan kita menyusun ide-ide besar tersebut di meja yang rapi. Namun pada kenyataannya di lapangan, ternyata tak seindah yang dibayangkan. Oleh karena itu, DIY 2012 yang bertema Optimis(tac)tic ini mengajak kita semua untuk menggali taktik-taktik kecil yang praktis dan dapat menuntun strategi besar kita tetap pada jalurnya dan pada akhirnya menjaga optimisme kita tetap hidup.
Mengusung tagline ‘conference for optimist realist’, selama hampir sebulan ini, C2O Library memiliki serangkaian program yang tidak kalah menarik dengan DIY di tahun sebelumnya. Dalam acara ini, C2O mengajak berbagai pihak, mulai dari komunitas kecil, praktisi bisnis, dan akademisi yang berkaitan dengan desain, terutama di Surabaya, untuk bersama-sama mengintrospeksi diri dan berbagi cerita mengenai situasi kondisi masing-masing dalam satu forum sharing & presentasi. Berbagai disiplin desain diulas di sini, mulai dari pengantar desain, tipografi, bisnis dan manajemen desain, fashion, branding, media digital, komik, seni urban, hingga tata kota, dalam bentuk cangkruk santai dan pemutaran film yang berkaitan. 
Yang pertama adalah pemutaran film dokumenter berjudul ‘Design & Thinking’. Film tersebut bukan film biasa. Diimpor langsung dari jauh, para hadirin dapat menyaksikan film berdurasi 74:11 menit tersebut dengan subtitle Bahasa Indonesia. Tentu saja terjemahan tersebut berkat kerja keras para volunteer dari C2O. 
C2O juga mengadakan beberapa DIY Talks, yang pertama yakni Optimistalk seputar ‘Design for Life’, akan mendiskusikan bagaimana desainer mengaplikasikan desain untuk kehidupannya sendiri. Apalagi sekarang kita hidup di era ‘banjir’ informasi. “Akan ada 3 pembicara, yaitu Slamet Abdul Sjukur, Ayos Purwoaji, dan Bing Fei. Menariknya, ketiga pembicara tersebut berasal dari latar belakang bidang yang berbeda dan kematangan usia,” celetuk Andriew. 
Ada juga DIY talk dengan judul ‘Design Your Project’, lalu ‘Copyright and Creative Commons’ bersama Creative Commons Indonesia dan Indonesian Netlabel Union. “Creative Commons memudahkan untuk mencipta dan berbagi, tanpa perlu merasa hak kekayaan intelektualnya dicuri,” papar Andriew. Tahun ini juga dihelat talks berjudul ‘The Pating Tlecek Arsitektur’. 
Selama DIY 2012 ini total akan terdapat 3 kali pemutaran film, ‘Design & Thinking, Design the New Business, dan Press Pause Play.’ Tak ketinggalan, BRAngerous juga akan turut memeriahkan DIY 2012 ini dengan mengadakan aBRAkadaBRA exhibition. 
Yang paling utama, semua orang dapat mempresentasikan ide-idenya melalui DIY Ideas yang akan digelar di akhir bulan. Tak lupa, ada juga Design Trail. Nantinya peserta akan diajak mengelilingi tempat-tempat desain di Surabaya. Last but not least, ada Zine Picnic. Hampir sama seperti tahun sebelumnya, para publishers bawah tanah diundang untuk berbagi dan bertukar referensi sambil makan, tentunya. 
“Dinamika desain di Surabaya cukup menggeliat, namun tidak terlalu diperhitungkan,” ujar Andriew. Berangkat dari keinginan untuk menangkap dialog dan pikiran tersembunyi di kampus, maka acara DIY ini diselenggarakan. 
Di awal, Andriew juga sempat menyinggung, “Mengapa Surabaya tidak masuk dalam peta desain? Mungkin karena kita tidak mempunyai arsip dan dokumentasi yang bisa diakses,” ujar Andriew. 
Andriew pun tak lupa menyuguhkan situs C2O di layar proyektor. “DIY 2011 telah dipresentasikan di KUNCI Cultural Studies Center Jogjakarta pada Juni lalu dan di Konferensi Arte-Polis Bandung pada Juli lalu,” ulas Andriew. 
Yap, dan tibalah pada saat yang ditunggu-tunggu, yaitu pemutaran film dokumenter Design & Thinking. Sekedar info, ini adalah pemutaran perdana film Design & Thinking di Indonesia! Film Design & Thinking merupakan sebuah film dokumenter tentang mengeksplorasi ide. Andriew pun bergegas mempersilakan penonton untuk menyaksikan film besutan Mu-Ming Tsai tersebut. 
Film ini menyajikan pemikiran-pemikiran hebat dari para visioner dan praktisi kelas dunia. Tak tanggung-tanggung, ada David Kelley dan Tim Brown dari IDEO, Bill Moggridge dari Cooper-Hewitt National Design Museum, Coca-Cola’s Head of Design, the Dean of the Rotman School of Management, serta para karyawan Mission Bicycle Company. 
Berikut merupakan beberapa kutipan-kutipan dari para speakers: 
“Design is a tool. It’s not a luxury. It’s a discipline. Everybody needs design,” kata George M. Beylerian, pendiri Material ConneXion. 
“Design thinking is everywhere. And I think it can happenned in marketing, can happened in design, can happened in accounting. It is solutioning unconventionally.” kata Angela Yeh, pendiri Yeh Ideology. 
“Design is the act of seeing something that we want to be better. Design thinking is a term that arose in order to distinguish between what others think of as design, which is usually just the surface, to the thinking behind. Thinking is something you do first, and then you make,” ujar Paul Pangaro, CTO, CyberneticLifestyles.com dalam film tersebut. 
Film ini secara keseluruhan menampilkan para pebisnis, desainer, para social changemakers untuk menunjukkan apa pemikiran-pemikiran kreatif dan kolaborasi mereka dalam rangka menghadapi abad 21 yang ambigu ini. Mereka adalah: Alex Osterwalder, Author of Business Model Generation; Angela Yeh, Founder of Yeh Ideology; Bill Moggridge, Director of the Cooper-Hewitt, National Design Museum; Cory Smith, CEO of Hub Bay Area; Dan Formosa, Co-Founder of Smart Design; David Kelley, Founder of Stanford d.school and IDEO; Gadi Amit, Founder of New Deal Design; George Beylerian, Founder of Material ConneXion; Jack Perez, Director of Mega Shark vs Giant Octopus; Jennifer Pahlka, Founder of Code for America; Jon Pittman, VP Corporate Strategy of Autodesk; Molly Fuller, Co-Founder of Hands On Gourmet; Paul Pangaro, CTO of CyberneticLifestyles.com; Richard Grefé, CEO of AIGA; Roger Martin, Dean of the Rotman School of Management at the University of Toronto; Sarah Stein Greenberg, Managing Director of Stanford d.school; Susan S. Szenasy, Editor in Chief of Metropolis Magazine; Tim Brown, CEO of IDEO; Tony Yu-Chen Tsai, PhD Candidate of Chemical & Systems Biology, Stanford University; Udaya Patnaik, Co-Founder of Jump Associates; Vince Voron, Head of Design in Coca-Cola North America; serta Zachary Rosen & Matthew Cheney, Founders of Mission Bicycle Company. 
Film tersebut tak hanya membicarakan pergerakan design thinking, namun juga berbagi tentang kepercayaan dan proses mereka dalam mendesain, termasuk juga kritik terhadap metodologi dan ideologi, serta dasar-dasar pemikiran eksplorasi mendalam tentang apakah design thinking itu. 
Seperti yang banyak dikatakan oleh para pembicara dalam film tersebut, ‘Design Thinking’ merupakan sebuah pertanyaan ‘Mengapa’ dan menyelesaikan masalah lewat desain. Hal itu telah ada sejak lama, namun istilah tersebut baru saja muncul beberapa tahun belakangan. 
Di akhir acara, diskusi dan tanya jawab dimoderatori oleh Ayos Purwoaji dari hifatlobrain. “Surabaya harus bangga punya acara seperti ini, mari kita ramaikan.” Ayos juga sempat membuat hadirin berpikir melalui celetukannya, “Tidak setiap orang yang melakukan Design Thinking pada pekerjaannya, hidupnya terdesain dengan baik. Bisa jadi hidupnya berantakan. Jadi, apa benar Design Thinking dapat diaplikasikan?” 
Ayos pun mengkritisi sebuah pernyataan, “Untuk membuat desain yang baik, butuh banyak orang, yang disebut kolaboratif. Namun, pada kenyataannya banyak pola pikir masyarakat sekarang yaitu ‘Makin banyak kepala, makin banyak masalah’. Sebenarnya desain lahir ke dunia untuk menyelesaikan masalah,” ujar Ayos. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana menerjemahkan banyak ‘kepala’ menjadi solusi yang terintegrasi,” pungkas Ayos. 
Rangkaian acara pun berakhir pada pukul 9 malam. Film ini juga akan diputar ulang pada 25 Oktober 2012 pukul 2 siang di AV Laboratorium Jurusan Desain Komunikasi Visual Institut Teknologi Sepuluh Nopember (DKV ITS). 
Oleh: Adiar Ersti Mardisiwi, Arsitektur ITS

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: