[Resume Cepat] Kopdar #8 To be Wonderful Wife: Menjadi Menantu Idaman

Lokasi: Kebun Bibit Bratang, Surabaya

Waktu: Minggu, 7 September 2014

Narasumber: Sinta Yudisia (profesi: penulis, psikolog)

 

NB: Resume ini banyak cacatnya dan sangat tidak lengkap. Nanti kalau ada official resume dari blog To be Wonderful Wife, insyaAllah akan saya share 🙂

 

***

Menjadi Menantu Idaman merupakan cita-cita setiap perempuan, bukan? Nah, di resumecepat ini, saya akan membagikan catatan mengenai bagaimana sih, cara menjadi menantu idaman?

 

Yang perlu diingat, kita hidup di Indonesia. Negara yang masih kental dengan budaya ketimuran, yang berarti ikatan kekeluargaannya sangat kuat. Oh ya, coba perhatikan film India dan Korea. Beda bukan, dengan film barat? Selalu ada hubungan keluarga yang erat yang muncul di setiap ceritanya. Oleh karena itu, bisa disimpulkan, menjadi menantu perempuan di negara-negara timur atau di Indonesia ini sangat berat :’)

 

Ada beberapa tips untuk menjadi menantu idaman:

Tips pertama ialah SABAR. Sabar itu tidak hanya berarti diam. Sabar berarti terus maju dengan beban dan berpikir bagaimana cara mengatasi permasalahan. Sabar juga berarti siapkan energi psikis yang lebih. Sabar berarti…. mendengarkan kata-kata mertua.

Dalam hal pendekatan kepada mertua, coba tanyakan tentang anak, keluarga, dan masa lalu pasangan. Tanyakan juga, bagaimana cara memasak sesuatu. Pasti mertua Anda senang 🙂

 

Note: Biasanya, ibu mertua ditakdirkan berbeda dengan ibu kita (kebiasaannya, kemampuannya, dll).

 

Tips kedua ialah punyai PRINSIP. Bagaimana jika tidak hanya suami yang mencari nafkah, namun sang istri juga? Buat kesepakatan dengan pasangan. Kita boleh bertahan pada prinsip, namun carilah kesepakatan.

 

Tips ketiga ialah SHALAT MALAM. Coba ceritakan permasalahan Anda ke Allah. Adukan. Terkadang, ada permasalahan yang tidak bisa kita ceritakan kepada suami. Tapi kita bisa ceritakan itu kepada Allah. Tidak usah malu saat berdoa kepada Allah. Jangan sampai dengan menceritakan masalah kepada suami, kita malah jadi mengadu domba ia dengan ibunya. Naudzubillahimindzalik.

 

Tips keempat berkaitan dengan KEUANGAN. Saat masih gadis, usahakan kita punya tabungan yang banyak, agar kita punya pride di depan suami sehingga kita tidak mudah mendapatkan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

 

***

 

Beberapa pertanyaan-jawaban dari peserta kopdar kepada narasumber:

 

1. Bagaimana jika pendidikan, ekonomi, dan latar belakang agama kedua keluarga berbeda?

Lihatlah kebiasaan-kebiasaan yang harus dipelajari. Cari jalan tengah. Walaupun kondisi pasangan inferior dari kita, Anda dapat mengadjust itu dengan keluarga pasangan.

 

2. Bagaimana dengan mertua yang membanding-bandingkan menantu?

Biasanya, bagaimanapun, ibu mertua pasti cemburu pada istri. Bersiaplah untuk selalu dibandingkan. Jika kita berusaha menjadi menantu yang sempurna, hasilnya kita malah lelah lahir batin. Sehebat-hebatnya kita berusaha, pasti akan dibandingkan. Misal: kalau kita mencuci tidak pernah bersih. Namun, walaupun mertua cemburu, kita pasti akan dibanggakan beliau di luar sana.

 

3. Berikan sesuatu yang kecil untuk mertua.

 

4. Jika masih menjadi calon menantu, ingat harga diri, jangan terlalu sering berkunjung ke keluarga calon suami. Minimalisasi kontak lewat SMS atau chatting, jangan sampai curhat dengan calon suami, dikhawatirkan setelah menikah bisa diungkit-ungkit kembali. Jika memang ingin berkunjung ke rumah keluarga calon suami, datanglah bersama orangtua.

 

5. Konsultasikan/pelajari porsi hutang yang wajar bagi sebuah keluarga. Misal, di usia dua tahun pernikahan, berapa porsi hutang yang wajar.

 

6. Bagaimana teknik komunikasi yang cantik dengan mertua, agar tidak membuat beliau sakit hati, atau membuat kita menjadi menantu durhaka? Bagaimanapun, menantu statusnya adalah inferior (di bawah mertua), jadi jika ingin memberikan nasehat, coba jangan berikan nasehat dari kita, namun dari orang lain.

 

7. Orang timur suka orang yang sopan. Gunakan pakaian yang sopan. Jangan bersuara lebih keras dari mertua. Jika mertua marah, diamlah dan dengarkan saja.

 

8. Bagaimana memulai pembicaraan dengan mertua? Tanyakan kondisi kesehatan mereka, hal ini juga dianjurkan oleh Rasulullah. Buatlah sesuatu untuk mertua, misalnya kue. Setelah itu pembicaraan biasanya akan mengalir sendiri.

 

9. Perbedaan Ibu dan Ayah dengan Kakek dan Nenek dalam mendidik anak. Buat kesepakatan tentang hal itu dengan suami. Kakek dan nenek, karena faktor usia, pasti mudah lelah. Oleh karena itu mungkin anak bisa jadi kurang aman jika dititipkan dengan mereka.

 

10. Adab menitipkan anak kepada orang tua atau mertua: tanyakan kepada mereka, sejauh mana mereka bersedia dititipi anak kita. Buat pembagian tugas dengan mereka. Sebaiknya, di tahap golden age (0-5 tahun) anak memang berada di tangan ibu sendiri. Nah, ibu bisa bekerja lagi setelah anak berusia di atas 5 tahun.

 

11. Perempuan posisinya lebih rendah dari suami. Jaga izzah/harga diri kita. Jika harga diri kita bagus, pasti kita tidak akan mudah diinjak-injak.

 

Menjadi manusia, ibu, istri, anak, menantu tidak ada sekolahnya. Belajar terus. Cari kelebihan kita, dan cobalah bangga dengan diri sendiri.

 

Semoga catatan ini berguna. Aamiin.

 

pic source: http://www.catandnat.com/pages/sites/default/files/images/cat/mother-in-law-with-family2.jpg

Juga ditulis di sini.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: