RR [Renungan Ramadan] #15 – end: Selamat Malam, Malam

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ini merupakan tulisan terakhir saya di bulan Ramadan. Terima kasih sudah membaca Renungan Ramadan dari #1 sampai dengan #15 selama ini. Semoga menginspirasi 🙂

Semoga bertemu lagi di tahun berikutnya, wahai Ramadan. Semoga kita termasuk orang-orang yang benar-benar merindukan Ramadan, dan dapat meraih kemenangan yang sesungguhnya. Aamiin.

***


Selamat malam, Malam.

Hai, Malam…
Izinkan aku menikmati kesendirian.

Aku ingin berkata banyak hal kepadamu.
Saat orang-orang sedang tidur dengan nyenyaknya…
atau malah sedang meramaikan rumah Tuhan, ya?

Hai, Malam…
Aku hanyalah pungguk yang pura-pura merindukan bulan.
Aku hanyalah orang yang pura-pura merindukan Ramadan.
Nyatanya, tak banyak perubahan yang kulakukan hingga hari ini.
Hingga hari dimana kau akan pergi.

Kitab suci masih tergeletak rapi di meja ruang tamu.
Di awal Ramadan aku berjanji, akan membaca kitab suci setiap hari.
Namun apa daya, setan yang telah dibelenggu katanya,
ternyata tetap membisikiku supaya aku tak membacanya,
bahkan menyentuhnya.

Rumah Tuhan yang katanya akan kukunjungi setiap hari,
untuk menyembah Tuhanku, nyatanya hanya menjadi salah satu bualanku.
Aku lebih mementingkan acara-acara dengan teman-temanku,
daripada mengunjungi rumah Tuhanku.

Buku-buku bernuansa religi yang katanya akan kubaca lebih sering dibandingkan hari biasa,
nyatanya tergeletak dengan rapinya di ruang baca.

Frekuensi menyebut nama Tuhan yang kujanjikan akan lebih banyak pula,
nyatanya hanyalah janji palsuku saja.
Aku lebih sering membicarakan gosip terpanas di jagad hiburan,
membicarakan orang lain,
membicarakan aib-aib yang sebenarnya aku sudah tahu tak harus aku bicarakan.

Di hari-hari terakhir kita berjumpa ini,
maukah kau mendengarkan penyesalanku, Malam?

Aku benar-benar menyesal….
Untuk kesekian kalinya.
Mengapa tak kumanfaatkan waktu dengan baik.
Mengapa tak kuseriusi beribadah di bulan baik.

Akankah kita bertemu lagi di putaran selanjutnya, hai Ramadan?
Ah, aku malu, bahkan hanya untuk sekedar bertanya seperti itu.
Maafkan aku, Tuhan.

Selamat malam, Malam.
Terima kasih telah bersedia mendengarkan.

Malam ini,
aku akan menyendiri dan berdialog dengan Tuhanku,
memohon supaya dipertemukan dengannya lagi…
ya, dengannya, dengan Ramadan yang pura-pura aku rindukan.
Kuharap Tuhanku mengampuniku,
yang baru menyesal ketika lebaran sudah di ambang pintu.

Surabaya, 23 Juli 2014.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: