RR [Renungan Ramadan] #5: Untuk dan Karena Apa?

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam rangka bulan Ramadan dan program memaksa diri untuk menulis setiap hari, maka saya berusaha menulis ulang dengan bahasa saya sendiri, tulisan dari hasil apa yang saya baca. Saya beri judul RR, singkatan dari Renungan Ramadan. Semoga menginspirasi 🙂

***

Manusia dikaruniai akal untuk berpikir.
Oleh karena itu, adalah hal yang wajar, jika dalam kesendiriannya,
jika dalam kesunyian,
jika dalam kekosongan, 
terlintas dalam pikiran
mengapa ia diciptakan..
mengapa ia harus ada di dunia ini dalam kurun waktu tertentu..
mengapa kemudian ia dimatikan..
mengapa ia melakukan ini itu, dan lain sebagainya..
benar, bukan?

Kita pergi ke sekolah, kampus, atau tempat kerja,
lima hari seminggu, ataupun tujuh hari seminggu,
sebenarnya untuk apa, ya? karena apa, ya?

Mari sejenak berpikir.
Apa yang kita cari dari bersekolah tanpa henti sejak usia taman kanak-kanak, bahkan playgroup?
Apa yang kita cari dari kerja siang malam tanpa henti?
Apa yang kita cari dari perbuatan yang kita lakukan setiap detiknya?

Ilmu?
Uang?
Gelar?
Pujian manusia?
Atau apa?

Kiranya kita perlu sejenak merenungi apa tujuan kita diciptakan.
Mari sejenak membuka kitab suci, dan berhenti di surat ke-51.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)

Sudah jelas bahwa semua perbuatan yang kita lakukan harus bermuara kepada satu hal,
kepadaNya, yang Maha Segala.
Semua yang kita lakukan harus didasari niat untuk beribadah kepadaNya.

Diriwayatkan dari Amir al-Mukminin (pemimpin kaum beriman) Abu Hafsh Umar bin al-Khattab radhiyallahu’anhu beliau mengatakan : Aku mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat. Setiap orang hanya akan mendapatkan balasan tergantung pada niatnya. Barangsiapa yang hijrah karena cinta kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena menginginkan perkara dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (hanya) mendapatkan apa yang dia inginkan.” (HR. Bukhari [Kitab Bad’i al-Wahyi, hadits no. 1, Kitab al-Aiman wa an-Nudzur, hadits no. 6689] dan Muslim [Kitab al-Imarah, hadits no. 1907]).

Tata lagi niat kita yang masih berkelok,
tata lagi tujuan dan alasan kita dalam melakukan suatu perbuatan,
karena apa, sih?

Setidaknya kita harus berpikir dua kali, atau mungkin beberapa kali,
sebelum memutuskan melakukan sesuatu.

Karena segala sesuatu yang kita lakukan akan dimintai pertanggungjawaban….
Sudah barang tentu, hidup kita yang hanya sebentar ini disidangkan kelak.

Seketika itu pula, ketika hampir selesai menulis artikel ini,
saya kembali bertanya ke dalam hati,
mencoba bertanya kepada diri sendiri, karena apakah aku menuliskan ini?

Semoga kita selalu dikaruniai kemampuan berpikir dan berintrospeksi,
sehingga amalan yang kita lakukan selalu didasari niat yang lurus,
niat yang bermuara pada yang Satu.

Dalam mencintai seseorang pun, seharusnya cinta kita bukan karena orang itu, 
tapi kita mencintainya karena Allah.

“Tiga perkara yang apabila terdapat pada seseorang maka dia akan merasakan manisnya keimanan, yaitu menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai-Nya dari selain mereka berdua, tidak mencintai seseorang kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya dari kekufuran tersebut sebagaimana dia benci jika dicampakkan ke dalam api neraka.” (Muttafaq ‘alaih)


image source: http://setiawanimam.student.fkip.uns.ac.id/

Surabaya, 4 Juli 2014

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: