RR [Renungan Ramadan] #7: Ketika Harus Memilih

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam rangka bulan Ramadan dan program memaksa diri untuk menulis setiap hari, maka saya berusaha menulis ulang dengan bahasa saya sendiri, tulisan dari hasil apa yang saya baca. Saya beri judul RR, singkatan dari Renungan Ramadan. Semoga menginspirasi 🙂
***
Tersebutlah seorang gadis yang bimbang, yang merasa bingung,
ke mana ia harus melangkah setelah ini.
Ke mana ia harus melanjutkan hidupnya,
setelah seluruh prosesi fase pertama dan kedua hidup,
yang disebut masa kanak-kanak, dan masa remaja dilaluinya.
Gadis itu benar-benar merasa bingung,
mana jalan yang terbaik untuk fase selanjutnya,
yang kata orang tidak pantas untuk ditanggung kedua orangtuanya lagi…
Ketika itu, sang gadis merasa gelisah,
hampir saja menangis,
tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Pilihan-pilihan yang tersedia begitu banyak,
namun tak ada yang bisa ia pilih dengan hati yang lapang.
Sampai pada akhirnya, ia melihat sajadah terbentang lebar,
di sebuah kamar di sudut rumahnya.
Si gadis lalu mengambil air wudhu,
dan mendatangi sajadah yang terbentang itu
kemudian meminta petunjuk
dari yang Maha Mengetahui segala sesuatu.
Jika hatimu bimbang, dan bingung menimbang-nimbang, mana yang baik, ke kiri atau ke kanan…
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajari para sahabatnya untuk shalat istikharah dalam setiap urusan, sebagaimana beliau mengajari surat dari Alquran. Beliau bersabda, “Jika kalian ingin melakukan suatu urusan, maka kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu, kemudian hendaklah ia berdoa:
Allahumma inni astakhiruka bi ‘ilmika, wa astaqdiruka bi qudratika, wa as-aluka min fadhlika, fa innaka taqdiru wa laa aqdiru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma fa-in kunta ta’lamu hadzal amro (sebut nama urusan tersebut) khoiron lii fii ‘aajili amrii wa aajilih (aw fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii) faqdur lii, wa yassirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Allahumma in kunta ta’lamu annahu syarrun lii fii diini wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii (fii ‘aajili amri wa aajilih) fash-rifnii ‘anhu, waqdur liil khoiro haitsu kaana tsumma rodh-dhinii bih.
Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah pada-Mu dengan ilmu-Mu, aku memohon kepada-Mu kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan dan aku tidaklah mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara ini baik bagiku dalam urusanku di dunia dan di akhirat, (atau baik bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku), maka takdirkanlah hal tersebut untukku, mudahkanlah untukku dan berkahilah ia untukku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa perkara tersebut jelek bagi agama, kehidupan, dan akhir urusanku (atau baik bagiku dalam urusanku di dunia dan akhirat), maka palingkanlah ia dariku, dan palingkanlah aku darinya, dan takdirkanlah yang terbaik untukku apapun keadaannya dan jadikanlah aku ridha dengannya. Kemudian dia menyebut keinginanya” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Ibn Hibban, Al-Baihaqi dan yang lainnya).
Mungkin yang ia perlu lakukan saat ini adalah menata dan meluruskan niatnya,
melanjutkan hidup adalah suatu keharusan,
kita berhak membuat pilihan-pilihan,
namun bagaimana caranya, biarlah Dia yang menentukan.
Surabaya, 6 Juli 2014.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: