RR [Renungan Ramadan] #9: Panggilan Pulang

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dalam rangka bulan Ramadan dan program memaksa diri untuk menulis setiap hari, maka saya berusaha menulis ulang dengan bahasa saya sendiri, tulisan dari hasil apa yang saya baca. Saya beri judul RR, singkatan dari Renungan Ramadan. Semoga menginspirasi 🙂
***
Apa yang terlintas di benakmu tentang petualangan?
Ya, sesuatu yang bebas,
penuh tantangan, 
tidak tahu apa yang terjadi setelah ini,
dan juga…
selalu bersiap untuk menyelesaikan petualangan itu.
Hidup ini layaknya petualangan.
Kau diberi segala amunisi untuk menghadapinya.
Bisa lengkap, bisa tidak.
Bersyukurlah yang diberi kelengkapan amunisi.
Kau memulainya sejak hari ke-120 berada di rahim ibunda.
Hari di mana roh dan jasadmu bersatu.
Hari di mana takdirmu ditentukan oleh penciptamu.
Lalu kau hidup sendiri di ruang gelap nan kokoh,
yang dinamakan rahim.
Suatu hari,
mungkin saat berusia sekian puluh minggu,
kau diberi kesempatan membuka mata,
dan melihat seisi dunia.
Kau menangis sekencang-kencangnya,
entah merasa bahagia,
entah merasa marah,
entah merasa terperanjat.
Kau pun beranjak dewasa.
Hingga tiba saatnya kau mempertanyakan,
mengapa engkau dilahirkan.
Akal pikiranmu mulai berkelana,
mencari jawaban,
akan hal-hal yang memang seharusnya kau cari jawabannya.
Kau terus mencari,
berlari,
bersemangat,
dan berpindah ke sana kemari.
Namun, beberapa yang lain, 
sibuk dengan fatamorgana dunia,
hingga lupa apa tugasnya,
ya, lupa apa maksud dari penciptaannya ke dunia.
Bila kau tak sadar akan arti hidup ini,
mari segera mencari.
Jangan berdiam diri.
Bukankah kita ditugaskan untuk berpikir?
Sadarlah bahwa kita sudah diberi fasilitas berupa akal dan segala macamnya.
Jangan sampai terlambat,
kereta kehidupan melaju cepat!
Jika kau terlambat,
dan Sang Penciptamu bersiap memanggilmu,
apa yang bisa kau lakukan di akhir waktumu?
Tuhan hanya memanggil kita tiga kali,
pertama, panggilan azan, sebelum salat,
kedua, panggilan ke Rumahnya yaitu Baitullah Mekkah,
dan yang terakhir, panggilan pamungkas, yaitu kematian.
Sudah siapkah kita untuk berpulang?
Bertemu dengan Tuhan dan meninggalkan segala gemerlap dunia?
Kau tahu,
apa yang paling dekat dengan kita saat ini?
Bukan urat nadi kita,
bukan pula diri kita sendiri,
tapi…
kematian.
Dia selalu menguntitmu ke mana pun kau pergi.
Tak peduli kau sedang beramai-ramai atau sendiri.
Panggilan pulang dariNya…
Semoga aku dan kau siap, di mana saja, dan di usia berapa saja.
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” Ali Imran-185
Surabaya, 7 Juli 2014 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: