Salam dari Taiwan

Zou an! Ni hao?
Kemarin rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ya, satu mimpiku tahun ini telah tercoret, walaupun sedikit tak sesuai dengan apa yang dibayangkan sebelumnya. Aku memang mengharapkan berada di dua negara yang berbeda tahun ini, dan kupikir itu akan menjadi Jepang dan Arab. Namun, Sang Pencipta berkata lain. Dua negara yang ia berikan kepadaku adalah Singapura dan Taiwan.
Kemarin, 6 Agustus 2012 adalah hari bersejarah dalam hidupku. Aku, mewakili institusi tempatku  menimba ilmu saat ini, serta mewakili negaraku, terpilih untuk mengikuti “2012 Engineering, Chinese Language and Culture in Taiwan: A Summer Program for International Student” yang diselenggarakan di National Chung Hsing University (NCHU), Taichung, Taiwan.
Ceritanya, Senin pagi, selepas sahur bersama keluarga dan sahabatku (Atik), aku berangkat ke Bandar Udara Juanda. Matahari belum menampakkan diri, namun aku sudah diharuskan masuk ke gate 11. Ini bukan penerbangan pertamaku ke luar negeri. Ini juga bukan penerbangan pertamaku yang kulakukan sendirian. Namun entah mengapa kali ini rasanya ada yang berbeda.
Aku harus pergi sendirian, selama 2 minggu, tanpa Mama, Papa, Adik, atau siapapun orang terdekatku. Aku sedikit tak yakin aku mampu melalui 2 minggu ini dengan mulus. Apalagi ini adalah 2 minggu terakhir bulan suci agamaku. Aku ‘diwajibkan’ beribadah lebih banyak dari 2 minggu pertama. Dan itu harus kulakukan di negeri orang. Negeri yang mayoritas bukan beragama Islam. Ah, ya, bukankah Allah menghendaki kebaikan pada kita, sehingga Ia memberikan ujian kepada kita? Sehingga kita akan ‘naik tingkat’ nantinya. Aku yakin mengenai itu.
Sebelum meninggalkan Indonesia, aku melakukan Shalat Subuh dulu di sebuah mushola terpencil dekat gate 11. Tepat pukul 05.30 aku masuk ke gate dan lekas pergi ke pesawat China Airlines CI 752 untuk lepas landas meninggalkan Indonesia. Sebelumnya, aku terhenti sebentar di pemeriksaan karena aku ketahuan membawa gunting di tas ransel. Pukul 6 pagi, pesawatku itu akhirnya berangkat menuju Singapura untuk transit selama 1 jam.
Di perjalanan, aku pun sedikit heran. Tak banyak penumpang saat itu. Kutengok kiri dan kanan, tak ada yang duduk di sebelahku. Dalam satu row terdapat 8 kursi yang dipisahkan oleh 2 aisle. Aku pun menikmati kesendirian itu dan tanpa sadar, matahari dengan sinarnya yang indah dan menghangatkan, menghilangkan melankoli atas kepergianku ini. Ia muncul melewati jendela-jendela pesawat. Aku pun tersenyum dan sesekali mencoba memandang ke luar, namun terasa silau. Pesawat pun telah terbang di udara. Sejenak kuberdoa dan kuucapkan perpisahan -yang aku yakin hanya sementara- kepada rumahku, Surabaya, Indonesia.
Beberapa saat kemudian diri ini terlelap. Tiba-tiba aku dibangunkan oleh pramugari yang menawarkan makanan. Hmm lezat. Namun kujelaskan bahwa aku tidak makan dan tidak minum saat itu. Ya, aku sedang berpuasa.
Sekitar pukul 8 pagi, pesawatku sampai di Changi International Airport, Singapura. Bandara ini tetap sebagus yang kulihat di tahun 2006. Para petugas bandara yang kuduga berasal dari Malaysia, Singapura, dan sekitarnya pun tampak serius mengecek barang-barang bawaan penumpang. Ya, aku satu pesawat dengan para mbak-mbak Tenaga Kerja Indonesia. Mereka sepertinya juga akan bertolak ke Taiwan, atau mungkin Hong Kong.
Namun sayang, hanya sebentar saja aku bisa menikmati keindahan bandara tersebut. Karena statusku hanya transit, alhasil aku hanya duduk di gate D46 dan menikmati hangatnya matahari pagi. Aku sempat membuka laptop dan mencoba menyalakannya, namun nihil, baterai laptopku habis. Memang aku tidak ditakdirkan untuk menikmati internet mungkin.
Aku mencoba menahan kantuk dengan memandang matahari dan memotret keadaan di sekitar. Untungnya tak lama, kami sudah dipanggil lagi menuju pesawat. Itu berarti, aku bisa menghilangkan kantuk.
Perjalanan menuju Taipei kuhabiskan dengan tidur berkali-kali. Pramugari pun menawari makan siang. Dan aku kembali menjelaskan bahwa aku tidak makan dan tidak minum, namun aku tetap diberi makanan-makanan kecil. Aku lalu mengambil kantong yang digunakan untuk muntah, dan kubungkus butter serta peralatan makan yang kukira akan berguna nantinya. Makanan yang disodorkan kepadaku pun kubiarkan begitu saja, lebih tepatnya kutinggal tidur.
Pukul 15.30 waktu setempat, aku sudah sampai di Taiwan Taoyuan International Airport. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk berkutat dengan proses imigrasi dan baggage claim. Setelah selesai dengan semua urusan itu, aku datang ke terminal kedatangan dan celingukan mencari tulisan “Welcome to NCHU”. Ternyata ada sekumpulan mahasiswa yang membawa dua kertas bertuliskan “Welcome to NCHU” dan akhirnya kami berkenalan. Mereka tampak senang melihatku, karena aku adalah 2 orang pertama yang termasuk dalam list orang-orang yang harus dijemput saat itu. Ya, baru 2 yang datang dari 7.
Aku berkenalan dengan 4 orang itu dan hanya 2 orang yang namanya bisa kuingat. Lina dan Justin. Justin adalah yang berdiri di sebelah kiriku jika dilihat dari foto ini. Dan belakangan aku baru ingat bahwa nama orang di sebelah kiriku adalah Sam, ia juga volunteer dari NCHU.
Bahasa Inggris mereka sedikit kurang bagus, menurutku. Walaupun bahasa Inggrisku juga tidak terlalu bagus. Hanya bermodalkan nilai TOEFL 500 lebih sedikit, aku beranikan diri untuk berbicara bahasa Inggris kepada mereka, karena hanya bahasa itu saja yang dapat menghubungkan kami.
Aku sadar, aku belum Shalat Dhuhur dan Ashar. Aku harus menjelaskan kepada mereka bahwa aku belum melakukan Shalat. Aku pun berkenalan sebentar dengan Lester, delegasi dari Filipina. Beruntung bahwa dia mengetahui saat ini sedang dalam bulan Ramadhan, dan ia juga tau bahwa aku harus Shalat. Ia kemudian membantuku menjelaskan kepada Justin, Lina, dkk bahwa aku harus menyembah Tuhanku saat ini juga. Aku, ditemani Justin, mencari sebuah ruangan yang sepi, yang bisa kugunakan untuk Shalat. Setelah mungkin 15 menit berputar bandara, kami menemukan Children’s Play Room, yang sangat transparan, namun tidak ada yang sedang bermain di situ. Namun ternyata aku mendapatkan ruangan Kantor Pelayanan Tenaga Kerja di sana. Justin, dengan lihainya bercasciscus melobi petugas agar aku dapat Shalat di sana. Aku pun diizinkan. Lalu aku berkata pada Justin bahwa aku harus berdoa menghadap ke Barat, padahal kompasku tertinggal di terminal kedatangan. Kurepotkan lagi si Justin untuk menemaniku mengambil kompas dan menungguiku Shalat. Ah, xie-xie, Justin si mahasiswa NCHU tahun ketiga yang mengaku beragama Yahudi. Justin sempat kujelaskan mengenai kewajibanku Shalat 5 waktu dan ia menanggapinya, “Apakah kamu tidak capek melakukannya?”. Tentu saja kujawab ‘tidak’.
Setelah aku Shalat, aku ditemani oleh si Sam untuk membeli Sim Card Taiwan. Merknya Chung Hwa Telecom, kubeli seharga 300 NT$.
Oh ya, aku belum bercerita tentang Lester. Ia adalah seorang pemuda asal Filipina yang berusia 25 tahun. Sebentar lagi ia akan mengambil master program (S2) di NCHU. Bahasa Inggrisnya cukup baik, dan kurasa kami nyambung 🙂 Aku sedikit bercerita tentang kampusku dan kehidupanku selama ini.
Akhirnya ketujuh delegasi dari berbagai negara telah datang dan kami pergi ke menuju Kota Taichung dari Bandar Udara Taipei. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam. Di perjalanan, aku sempatkan untuk menelepon orang-orang di Surabaya. Namun hanya Papa yang mengangkat teleponku. Aku hanya ingin mengabarkan bahwa aku sudah sampai di Taiwan dengan selamat. Di bus, kami sempatkan untuk berfoto bersama dan berbincang-bincang, hingga akhirnya aku tidur lagi hingga sampai di Taichung. Kami sampai di Teacher’s Hostel pada pukul 8.00 malam waktu setempat. Ternyata kami sudah disambut oleh delegasi-delegasi yang telah sampai duluan. Dan akhirnya aku bertemu dengan Nanda, wakil dari ITS juga.
Koperku yang sangat berat itu pun coba diangkat oleh Petr dan Honza. Bule-bule lucu yang berwajah Eropa itu pun mencoba membawakan koper hingga di depan kamarku. Teman sekamarku ternyata orang Jepang dan membukakan pintu, ia bertanya siapa kami dan aku menjawab, “Eci, from Indonesia.” Kueja namaku dan gadis Jepang tersebut mengangguk. Honza yang sedikit nakal pun menjawab, “I’m your roommate. Everyone’s roommate!” diiringi gelak tawa kami bertiga.
Teman sekamarku yang orang Jepang itu menyambutku dengan hangat. Ia berusia 20 tahun, berambut pendek dan seperti orang Jepang pada umumnya, berkulit putih. Namanya Maho Kanno. Andai saja ia tahu Maho dalam istilah remaja Indonesia memiliki arti yang sangat lucu. Hahahahaha.
Kami tinggal di lantai 2 hostel tersebut. Setelah menunggu Maho mandi, kami pergi ke 7 Eleven untuk membeli cemilan dan makan sahurku. Di minimarket tersebut aku mendapatkan pelajaran bagaimana cara menyelidiki makanan yang mengandung babi. Sepulang dari minimarket, aku melaksanakan ibadah shalat Isya’ dijamak Maghrib dan tarawih. Setelah itu kami pun menghadap laptop masing-masing. Ternyata laptopku dan laptopnya memiliki merk yang sama!
Pagi ini, aku sedang mengetik cerita ini, Maho bangun sejam setelah aku bangun pagi dan ternyata aku merasakan sesuatu. Aku rindu. Rindu Surabaya. Rindu Indonesia. Rindu Papa, Mama, Adik, Atik, dan seseorang.
Ah, terlalu cepat rindu ini menyerang.
Hari ini aku akan pergi melakukan tour ke NCHU bersama teman-teman. Mungkin di sana kami akan berkenalan dengan semua delegasi dan disambut layaknya Welcome Party. Ah, semoga hari ini menyenangkan. Zai jian!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

6 Comments

  1. tetep ya ada kelakuan yang lucu di pesawat :))
    “ojo gopo, nduk”
    image orang Indonesia di depan orang asing secara nggak langsung diwakilkan olehmu,miaw..do the best, be the best! 🙂

  2. Salam kenal,
    Asyik jg baca ceritamu, unyu bgt tata bahasanya…
    Good luck ya di negeri orang…
    Good Luck juga melaksanakan ibadahnya…
    mhhmm gmn caranya tau kalo makanan mengandung babi ya ???

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: