Sampai Pada Hari Ini

Alhamdulillah kita bisa dipertemukan lagi dalam halaman ini. Rasanya, sudah lama sekali aku tak menyapamu dengan curahan-curahan hati ala anak muda masa kini. Mungkin, faktor usia dan kesibukan lah yang mempengaruhi. Ah, maafkan aku, itu hanya alibi. Menulis bisa kapan saja. Dan mungkin aku lah yang tak menyempatkan untuk menyapamu.
Saat ini, izinkan aku bercerita tentang beberapa hal. Kukira mungkin beberapa hal sudah kamu ketahui. Namun, izinkan jemari ini menari di atas tuts-tuts komputer.
Kini statusku sudah bukan mahasiswa lagi. Aku sudah menjadi seorang sarjana. Sebuah gelar yang terlihat bergengsi, namun tampak mengerikan buatku, sejujurnya. Dengan gelar seperti ini, rasanya ada batu yang besar ditimpukkan di kedua bahuku. Beban itu berarti, aku harus lebih sering berbagi ilmu. Aku seharusnya tak boleh ‘meminta’ lagi kepada kedua orang tuaku. Aku juga tak pantas menyia-nyiakan waktu. Dan aku, kini harus lebih berhati-hati dalam menata diri.
Kau tahu, mungkin bagimu, semua ini terlihat mulus-mulus saja. Proses perubahanku dari kecil, kemudian menginjak bangku TK, SD, SMP, lalu SMA, hingga kuliah dan lulus ini, nyatanya tak pernah mulus, tak semulus yang kamu bayangkan. Aku mengalami banyak sekali konflik batin, cekcok, dan juga kemungkinan terburuk dari segala yang buruk. Apa itu? Bunuh diri. Percaya? Namun Tuhan Maha Baik. Ia selalu menuntun hambanya yang tak tahu apa-apa ini menjadi tahu mana yang baik, mana yang buruk. Lalu, ya, alhamdulillah aku bisa seperti sekarang ini. Maksudku, atas segala keadaan yang baik dan buruk. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.
Aku tak pernah meremehkan kekuatan doa dan impian. Apalagi, kekuatan doa seorang wanita yang tiada duanya di dunia: Ibu. Untaian kata dan doa dari mulutnya menjadi energi tersendiri bagi sang anak. Begitu pula yang terjadi pada Ibuku dan aku. Aku sadar, atau mungkin lebih tepatnya baru sadar, bahwa kesuksesan kita tak murni 100% dari usaha kita sendiri. Ada peran dan doa banyak orang di belakang kita, ada ridho kedua orang tua dan ridho Yang Di Atas. Dan bisa jadi…. itu adalah doa wanita yang selalu bersujud lama sekali di setiap tengah malam. Jadi, jangan terlalu menyombongkan diri jika saat ini kau sedang merasa berhasil meraih sesuatu, kawan. Itu bukan murni usahamu sendiri. Aku pun begitu. Aku mencoba tetap ‘berpijak di tanah’ walaupun berpijak itu sulit. Selalu ada saja gangguan dari sana-sini yang membuat kita ‘melayang di udara’.
Sampai pada hari ini, aku berada di titik kontemplasi. Usiaku sekarang, 21 tahun lebih 10 bulan. Sedikit lagi menuju angka 22. Mau ke mana aku setelah prosesi wisuda ini? Mau jadi apa aku kelak? Impian-impian apa yang harus aku pertahankan dan aku relakan? Apa kontribusi yang bisa aku berikan kepada dunia ini? Yang jika nanti aku mati, tak hanya lenyap dari bumi, namun memberi arti.
Suara-suara hati, entah baik dan buruk, keduanya sama-sama berebut ruang di hati. Hari ini menentukan pilihan, “Baiklah, aku mau X.” lalu tiba-tiba keesokan harinya berubah menjadi, “Hmm.. sepertinya itu nampak lebih baik dari X. Ya sudah, Y saja.” Terlihat sekali arogansi diri ini. Ada pihak yang belum dilibatkan dalam menentukan pilihan. Ya, lagi-lagi, Yang Di Atas. Kamu harus berkonsultasi denganNya dalam menentukan pilihan. Pilihan apapun. Percayalah, tidak akan merugi jika kamu selalu melibatkanNya dalam setiap langkah, nafas, dan pikiranmu.
Tak semua impian yang kamu impikan harus diraih. Ada beberapa impian itu yang mungkin perlu kamu revisi. Hidup ini tak harus kaku. Ada titik-titik di mana ia bisa disesuaikan dengan keadaan. Ada impian yang mungkin bisa kau raih dalam jangka waktu yang panjang, ada pula yang dalam jangka waktu pendek. Ada impian yang kau kira itu baik bagimu, namun sesungguhnya tidak. Dan sebaliknya. Vice versa.

Suatu hari, boleh jadi kau berpikir, “Ah, aku harus selesai dengan diriku sendiri, baru nanti mencari penggenap hati,” Atau bisa saja kau melontarkan pernyataan ini dengan percaya diri, “Aku ingin menjadi kaya dan sukses dulu, baru nanti aku akan melamar anak orang.” Percayakah kau masih ada kata ‘Nanti’? Bagaimana bila hidupmu bahkan tinggal sepermilidetik lagi?
Terkadang ada beberapa hal di dunia ini, yang tak kita mengerti. Begitu juga aku. Aku tak mengerti pemikiran orang yang harus selesai dengan dirinya sendiri dulu. Ingin meraih impian-impian dulu, baru mencari pendamping hidup, katanya. Ingin berkelana ke mana-mana dulu, baru mengikat janji suci dengan orang yang disukai. Hmm… tak apa, hidup adalah proses. Mungkin mereka belum tahu bahwa lebih baik menjalani hidup bersama daripada seorang diri. Ah, aku ini hanya bicara teori. Bolehlah mereka berkata begitu. 
Oh ya, kembali pada inti pembicaraan. Bahwa sampai pada hari ini, aku memiliki visi menjadi anak, ibu, dan istri yang salehah. Itu saja. Silakan diinterpretasikan sendiri berarti sekarang aku sedang berada di lintasan yang mana. Semoga jalan hidup yang kupilih selanjutnya, jika Tuhan mengizinkan, akan menjadi barakah untukku dan untuk siapa saja. Mau melanjutkan studi magister, atau bekerja, atau menjadi pengangguran, itu pilihan. Bahkan memutuskan untuk tidak memilih pun, sejatinya adalah sebuah pilihan. Kamu sudah dewasa, dan seharusnya kamu tahu harus berbuat apa jika mengingat ajalmu tak pernah kau ketahui kapan datangnya.
Aku berharap kamu bisa memahami racauanku yang tidak terstruktur ini. Jika tidak berarti, lupakan saja. Aku hanya sekedar ingin berbagi dan menyembuhkan kepenatan pikiran dengan menulis. Terima kasih, para pembaca. Semoga urusan kita semua dilancarkan olehNya, dan jangan lupa senantiasa berdialog denganNya dan dengan kedua orangtua. 
Surabaya, 16 September 2014.
Dini hari.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: