Saya Tidak Mau Mengajarkan Matematika Pada Anak

Saya benci angka. Saya tidak suka hitungan. Saya bukan orang yang betah lama-lama menghitung deretan angka. Namun beda dengan suami.

Saya tidak mau hal itu terjadi pada anak-anak saya. Saya takut dia juga tidak suka Matematika. Tapi semoga itu tidak terjadi.

Qadarullaah materi IIP Bunda Sayang adalah tentang belajar matematika. Saya jadi tersadarkan bahwa selama ini apa yang saya pahami tentang matematika itu salah besar.

Sebenarnya apa sih matematika itu? Benarkan dia hanya seputar menghitung dan angka? Hei, kalau memang masih begitu pemikiran kita, coba cermati tulisan berikut ini:

Institut Ibu Profesional
Kelas Bunda Sayang sesi #6

MENSTIMULUS MATEMATIKA LOGIS PADA ANAK

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing. Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di  dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA.  Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa

Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan

MATEMATIKA LOGIS

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan.

Dapat diartikan juga sebagai kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya.

Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis  dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS

  • a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut
  • b. Mengamati benda-benda yang unik baginya
  • c.  Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba
  • d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan. 
  • e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung

Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya. Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan  pijakan sebelumnya.

Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA

Bermain Pasir
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

Bermain di Dapur

  • a. Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.
  • b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.
  • c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran. 
  • d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.

Belajar di Meja Makan

Saat di meja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti  ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.

Belajar Memahami Kuantitas

  • a. Ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?
  • b. Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?

Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat

  • a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau donat?
  • b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat,  mobil atau motor?
  • c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi  pohon kelapa atau  pohon jambu?
  • d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?

Kegiatan di Luar Rumah

  • a. Ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan. 
  • b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya. 
  • c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka  Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.
  • d. Permainan Tradisional. Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.
  • e. Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan. Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.
  • f. Mengajak anak berbelanja

Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :

Menambah ➡ proses menggabungkan

Mengurangi ➡ proses memisahkan

Mengalikan ➡ proses menambah/menjumlahkan secara berulang.

Membagi ➡ proses mengurangi secara berulang.

Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di  rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.

Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

 

Salam Ibu Profesional

 

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber bacaan:

Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005

Howard Gardner, Multiple Intelligence,  Gramedia, 2000

Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009

***

Menarik, bukan?

Jadi, mulai sekarang walaupun kita  ga pernah suka matematika, jangan pernah katakan Ibu ga suka matematika. Nanti anak juga jadi takut sendiri dan ga mau berdekatan dengan matematika. Untuk membiasakan dan mendekatkan pemahaman matematika di keluarga, coba baca artikel ini: http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/children-maths-how-love-subject-education-home-parents-arithmetic-times-tables-a7762851.html

Kirain belajar matematika cuma ngajari berhitung, 123, dll. Ternyata ada perbedaan untuk tiap tahap usianya, lho. Selain itu, banyak sekali pembelajaran di alam yang terkait matematika.

Belajar bentuk, warna, ukuran, pola ternyata juga melatih anak mencintai matematika, lho. Anak usia 13 bulan seperti ini sudah mulai bisa dikenalkan dengan matematika. Tentunya tanpa perlu mengajarkannya.

Nah, berikut beberapa list agenda kegiatan yang ingin saya lakukan untuk menumbuhkan fitrah belajar matematikanya:

– Memasukkan uang ke dalam celengan sambil menghitung
– Naik tangga sambil menghitung
– Menghitung bebatuan, membandingkan besar kecilnya batu
– Mengenal angka lewat buku 123 Priddy Books
– Menggambar buah-buahan, membandingkan besar kecil, warna, dll.
– Menghitung binatang dan tumbuhan di buku dongeng
– Melafalkan satu, dua, tiga sesering mungkin setiap hari
– Mengenal bentuk botol minum dan tempat makanan dengan cara membuka tutupnya (lingkaran, persegi)

dan masih banyak lagi ide lainnya. Simak di tulisan-tulisan berikutnya.

Kesimpulannya, saya tidak mau mengajarkan matematika pada anak-anak saya. Because math is around us and they will find math by themself. I am just a facilitator and will just guide and answer all his question, not teach them. Tumbuhkan fitrah belajarnya, temani mereka dengan rileks dan optimis, bukan gegabah menggegas dan menjejali mereka.

Let’s find mathematics around us!

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: