Sebelum Menikah vs Setelah Menikah

Nanti, kalau kamu sudah menikah, apalagi punya anak, kamu mungkin akan lupa dengan semua mimpi-mimpi pribadimu saat masih lajang dulu. Yang kamu pikirkan nanti adalah anak dan pasanganmu.

Saya ingat, malam itu, kata-kata penuh makna tersebut diucapkan oleh seseorang yang saya dapuk untuk menjadi perantara dalam proses pernikahan saya dengan suami. Sebut saja namanya mas F. Mas F menikah di usia 23, sedangkan sang istri 22. Saat ini mereka telah dikaruniai anak laki-laki yang lucu, sehat dan ceria.

Saya pun berpikir, “Ah, masa’, sih?”

Hari pun terus berganti. Tak terasa sekarang sudah hampir 8 bulan saya dan suami menikah. Kami pun dikaruniai janin yang saat ini berusia 6 bulan. Baru janin saja, belum lahir, kami sudah memikirkan ini-itu untuk anak kelak. Lalu saya teringat perkataan mas F pada waktu itu. Kita akan lupa dengan mimpi-mimpi pribadi kita, dan mimpi-mimpi itu tergantikan dengan mimpi baru dengan suami dan anak-anak.

Dalam hati saya teringat, dulu kan saya ingin ini, itu, ingin ke sini, ke situ, ketemu dengan ini, itu, dan lain-lain. Namun perlahan rasa itu berganti dengan, yang penting anak dan suamiku sehat, senang, kebutuhan tercukupi, dan kita bisa bersama-sama berjuang meraih surganya. Sesederhana itu.

Namun mimpi-mimpi kita tak perlu di-delete, pending, ataupun dilupakan. Hanya saja, perlu diperbarui karena nanti akan ada anggota baru dalam hidup kita setelah menikah yang harus dipikirkan dalam mimpi-mimpi kita.

Tetaplah bermimpi dan berjuang bersama 🙂

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: