Sekolah Alam Baturraden, Sekolah di Atas Awan

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Pertemuan dadakan yang tidak direncanakan biasanya malah menyimpan banyak sekali pelajaran. Saya yakin, Tuhan selalu menyelipkan maksud di balik setiap pertemuan.

Jumat sore di minggu lalu, selepas suami pulang kerja, kami berangkat dari Jogjakarta mengunjungi rumah mertua di Banyumas. Seperti biasa, saya mengupdate status di media sosial dan memberitahu kepada teman-teman yang ada di Banyumas dan Purwokerto serta sekitarnya untuk bertemu. Ini merupakan kunjungan saya yang kedua kalinya ke Banyumas dan Purwokerto. Sampailah pada hari Sabtu. Saya mengajak teman-teman Tumblr yaitu rizkaamaliafulinda dan sebelasbintang untuk bertemu. Saya juga mengajak teman suami saya yang belum pernah saya temui sebelumnya. Kami baru kenal lewat instagram. Namanya Mbak Puput Rusianingtyas. Akhirnya kami memutuskan untuk menggabungkan acara ketemuan dadakan itu dengan buka puasa bersama. Setelah berdiskusi via Whatsapp, kami memilih Dapur Prambanan, sebuah kafe baru di kawasan Purwokerto untuk bertemu. Tak disangka, Mbak Puput mengajak temannya (yang juga teman suami saya), namanya Mbak Meita Kurniasari. Mbak Meita ini secara tidak sengaja juga sudah berteman dengan saya di media sosial.

Pertemuan kami ba’da Isya malam itu berlangsung dengan sangat seru. Kami yang sebelumnya tidak saling kenal, ternyata bisa nyambung karena membicarakan tentang sekolah alam. Ada apa dengan sekolah alam?

Usut punya usut, Mbak Meita Kurniasari ini ternyata kepala Sekolah Alam Baturraden (SABar). Apakah kamu tahu Baturraden? Itu lho, tempat wisata yang terkenal di Purwokerto. Saya pun makin terharu ketika tahu Mbak Meita memberikan secara cuma-cuma kepada kami, buku yang baru diterbitkan oleh Bunda Myra Safar, salah satu founder SABar, berjudul “Sekolah di Atas Awan”. Ya, ceritanya kado untuk kami yang masih pengantin baru, hehehe.

Malam itu berlangsung seperti talkshow tentang sekolah alam. Beberapa hari lalu saya dan suami sempat berdiskusi tentang pendidikan anak kami nantinya. Apakah ingin homeschooling, disekolahkan di sekolah umum, berbasis agama, atau bagaimana? Dan malam itu kami seperti mendapatkan banyak sekali insight tentang sekolah, khususnya sekolah alam dan berbagai hal tentang anak-anak.

Saya sedikit bercerita tentang SABar, ya. SABar diinisiasi oleh Bunda Myra Safar dan Anas Rosyadi, suaminya. Berdasarkan cerita dari Mbak Meita, ternyata mereka berdua membangun sekolah karena keinginan anak mereka.

Mbak Meita juga menambahkan, ada sebuah sekolah alam yang dibangun dengan motif utama untuk bisnis. Namun, peminatnya ternyata hanya sedikit, konsep dan kurikulum kurang kuat, sehingga foundernya sendiri menyekolahkan anaknya di sekolah lain. Bagaimana kita bisa percaya dengan sekolah tersebut jika foundernya sendiri tidak percaya? Dari situlah saya belajar tentang memulai sesuatu dengan tujuan, sesuai judul buku Simon Sinek, Start with Why. Sesuai ajaran Islam juga, segala sesuatu berawal dari niatnya.

Dari cerita Mbak Meita, kami mendapatkan banyak inspirasi. Dimulai dari kisah membeli mainan LEGO. Suatu hari keluarga Bunda Myra pergi. Anak-anaknya berinisiatif patungan untuk membeli LEGO, namun tetap meminta ayahnya untuk membayar kekurangan uangnya. Bundanya pun sebenarnya ingin membelikan sebagai reward untuk anak-anaknya. Namun sang ayah malah mengajak mereka berpikir, uang untuk membeli LEGO lebih baik dibuat untuk membeli televisi saja. Harga televisi dan LEGO tersebut tidak jauh berbeda. Televisi juga akan berdampak lebih besar untuk sekolah yang mereka punyai. Televisi tersebut bisa digunakan siswa-siswi untuk menonton video. Alhasil, mereka memahami kondisi tersebut dan tidak jadi membeli LEGO. Anak-anak mereka selalu diajak berpikir setiap ada masalah. Seperti contoh, mereka patungan untuk membeli LEGO tadi.

Kami juga belajar tentang suami yang mendukung kegiatan istri. Banyak hal yang diceritakan Mbak Meita yang membuat saya dan suami berbarengan manggut-manggut. Sepulang dari sana, kami merasa terbakar. Kami ingin punya anak! Hehehe. Kami ingin anak kami nanti dididik dengan cara yang baik dan bijaksana. Aamiin. Semoga.

Sebuah quote ini semoga bisa menjadi penutup yang baik (walaupun tidak terlalu nyambung dengan isi tulisan ini)
“A child can teach an adult three things: to be happy for no reason, to always be busy with something, and to know how to demand with all his might that which he desires.”
– Paulo Coelho

Karena alam adalah tempat belajar terbaik!


Saya pun menamatkan buku Sekolah di Atas Awan sebelum kunjungan ke SABar. Akhirnya sebelum kembali ke Surabaya, saya dan suami menyempatkan datang ke SABar. Udara Purwokerto yang cukup dingin, menyambut kami di Baturaden. Namun, kehangatan sambutan dari insan yang masih lugu itu membuatku ingin berlama-lama di sana.

I will see you again, Sekolah Alam Baturraden, InsyaAllah.

Ramadhan 1436H

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: