Semua Kehamilan Beresiko [by hellomidwife]

hellomidwife:

Notulensi talkshow dalam rangka Eclampsia Awareness Day 2015 di Grand City Mall Surabaya, tanggal 6 November 2015. Disampaikan oleh dr. Muhammad Ardian, Sp.OG (K), M.Kes. (dokter konsultan senior di RSUD Dr. Soetomo), dan ibu Netti Herlina, Amd. Keb, S.Pd., M.Kes (Ketua IBI Provinsi Jawa Timur). Semoga bermanfaat.

Kehamilan merupakan hal yang alami bagi setiap perempuan dalam masa usia reproduksinya, namun, sewaktu-waktu kehamilan dapat berubah menjadi tidak normal, apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat akan mengakibatkan kematian. Terbukti dari tingginya angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia tahun 2013 sebesar 369/100.000. Penyebab kematian ibu di Indonesia salah satunya adalah eklampsia.

Eklampsia merupakan komplikasi yang dapat terjadi pada masa kehamilan dan persalinan, yang penyebab utamanya dan sampai saat ini belum diketahui. Eklampsia sering dikenal dengan keracunan kehamilan. Eklampsia harus diwaspadai oleh semua ibu hamil, sebab semua kehamilan berisiko terjadi preeklampsia/eklampsia. Tanda dan gejala dari eklampsia adalah sebagai berikut:

1.       Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg

2.       Pandangan mata kabur

3.       Bengkak pada muka, tangan, dan kaki.

4.       Nyeri kepala hebat, serta nyeri ulu hati

Faktor risiko eklampsia antara lain sebagai berikut:

1.       Ibu yang hamil anak pertama

2.       Kehamilan pertama dari suami kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, yang disebabkan oleh respon imun yang menolak adanya hasil konsepsi.

3.       Ibu hamil yang memiliki saudara perempuan, ibu, atau nenek yang pernah mengalami eklampsia.

4.       Kehamilan kembar

5.       Ibu hamil dengan diabetes melitus

Eklampsia dalam kehamilan dapat dicegah sedini mungkin, apabila ibu hamil rajin memeriksakan diri ke bidan atau dokter. Pemeriksaan kehamilan dilakukan minimal empat kali, yaitu satu kali pada trimester pertama kehamilan, satu kali pada trimester kedua kehamilan, dan 2 kali pada trimester ketiga kehamilan. Idealnya, pemeriksaan kehamilan dilakukan setiap bulan pada bulan pertama hingga bulan ke tujuh kehamilan, setiap dua minggu saat kehamilan menginjak usia bulan ke 7 sampai ke delapan, dan setiap minggu saat kehamilan menginjak usia bulan kesembilan .

Pemeriksaan yang dilakukan sebagai skrining eklampsia antara lain sebagai berikut:

1.       Pemeriksaan berat badan, untuk mengetahui asupan gizi ibu hamil. Kenaikan berat badan yang ideal pada ibu hamil adalah 0,5 kg setiap minggu, atau 2 kg setiap bulannya.

2.       Pengukuran tinggi badan, untuk mengetahui apakah ibu dicurigai memiliki panggul sempit.

3.       Pemeriksaan tekanan darah, menggunakan metode Mean Arterial Pressure(MAP) dan Roll Over Test (ROT), untuk menilai ambang batas nilai tekanan darah, sebab tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg berisiko terjadinya eklampsia.

4.       Pemeriksaan tinggi perut ibu, untuk menilai usia kehamilan dan taksiran berat janin.

5.       Pemberian tablet besi (Fe), untuk memenuhi asupan zat besi pada ibu selama kehamilan

6.       Pemberian imunisasi tetanus toxoid, pada trimester kedua kehamilan, untuk mencegah ibu dan bayi terpapar infeksi tetanus akibat dari luka saat persalinan atau akibat dari paparan alat yang tidak steril.

7.       Pemeriksaan kadar haemoglobin (Hb). Bila kadar haemoglobin ibu hamil < 11 gr%, ibu dinyatakan menderita anemia.

8.       Pemeriksaan kadar protein dalam urine. Protein dalam urine merupakan tanda bahwa ibu berisiko terjadi eklampsia.

9.       Komunikasi dan konseling terhadap ibu dan keluarga oleh tenaga kesehatan tentang kehamilan, persalinan dan komplikasinya

Selain pemeriksaan kehamilan yang rutin oleh tenaga kesehatan, pendidikan keluarga dalam menghadapi kehamilan dan persalinan juga penting untuk diketahui, tak hanya oleh ibu namun juga penting untuk diketahui oleh suami dan keluarga. Peran suami dan keluarga sangat penting, selain untuk meberikan dukungan pada ibu dalam menghadapi kehamilan dan persalinannya, juga agar dapat mengambil keputusan yang cepat dan tepat untuk meminimalkan risiko komplikasi dan risiko kematian ibu hamil. Peran masyarakat juga penting, oleh sebab itu dibentuk kader kesehatan dalam tatanan dasawarsa PKK di masyarakat, untuk membantu memfasilitasi ibu hamil di masyarakat memperoleh fasilitas kesehatan oleh tenaga medis (baik di puskesmas, bidan praktek mandiri, dokter praktek mandiri, maupun rumah sakit), sehingga ibu hamil mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat.

Semua ibu hamil berisiko, sebab itu dibutuhkan sinergi yang baik dari ibu, suami, keluarga, dan masyarakat, untuk mencegah terjadinya komplikasi pada setiap kehamilan dan meminimalkan keterlambatan penanganan di fasilitas kesehatan.Because women shouldn’t die when giving life.

Thank you for sharing, my friend, @luthfitriana.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: