Semudah Apa Sih Menerbitkan Buku Sendiri?

Semua bisa kamu lakukan sendiri dan tidak sesulit yang kamu bayangkan.

Semua ini berawal dari buku pertama kami yang berjudul Twin Path. Buku yang judulnya ditemukan Ken saat sedang berproses dengan Ersti. Buku yang dibuat dari kisah nyata kami sejak sebelum bertemu di dunia nyata hingga menjadi satu atap dalam dunia rumah tangga.

Semua bermula dari keinginan Ken untuk mewujudkan impian Ersti untuk bisa menyentuh, melihat, dan meraba buku karyanya sendiri. Buku yang mengisahkan dua manusia yang dipertemukan Tuhan ini akhirnya bisa diterbitkan juga setelah menikah. Gayung bersambut karena cukup banyak yang berminat membeli Twin Path. Jadilah kami berdua tercebur ke dalam dunia penerbitan buku, khususnya secara independen (indie).

Mulai dari melakukan penyuntingan naskah, mendesain sampul buku, mendesain perwajahan isi, melakukan strategi pemasaran dan promosi, membuat sistem pembayaran, menjadi admin pemesanan, mencari layanan percetakan, dan melakukan pengiriman buku, semua dilakukan sendiri. Tentunya masih banyak sekali kekurangan dalam prosesnya. Sangat jauh dari kata sempurna.

Pengalaman pertama selalu menjadi yang paling mengesankan. Sampai pada karya yang kedua ini, buku Kata Ayah, prosesnya dipikirkan lebih dalam dan banyak dilakukan improvisasi. Ada sebuah pepatah yang berkata:

Tell me and I forget. Teach me and I remember. Involve me and I learn. — Benjamin Franklin.

Ingin membuat buku sendiri? Ya dipraktikkan! Jika kita terlibat penuh dalam sebuah proses, maka kita akan belajar.

Pernah kebayang nggak, bukumu mejeng di salah satu rak toko buku atau perpustakaan?
Melalui tulisan ini, kami berdua, Ersti dan Ken, ingin mengupas tuntas pengalaman membuat buku Kata Ayah. Selama 9 bulan membuat buku tersebut dengan peralatan minim, yaitu 1 buah laptop dan 1 buah handphone saja. Mulai pertengahan Juli 2016 hingga terbit akhir Maret 2017, kami bergerilya dengan kedua benda itu.
Tantangan selama membuat buku diperparah dengan keputusan men-delete semua akun sosial media kami, sehingga koneksi semakin minim. Kok bisa? Tenang, in syaa Allah akan dijelaskan di artikel berikutnya.

Baiklah, langsung saja kita mulai bagian pertama cara pembuatan buku sendiri. Selamat membaca!

1. Enaknya Nulis Apa Ya?

Yang pertama… tentukan ide cerita. Tema apa yang ingin kamu usung untuk bukumu? Bagi penulis yang pertama kali membuat buku secara indie, alangkah baiknya memilih tema yang benar-benar disukai. Yang sesuai passion kamu. Kalau masih bingung, caranya gampang, kok. Ingat-ingat saja, hal apa yang sering kamu bahas kalau sedang bertemu dengan teman. Atau mungkin, apa saja sih, yang paling membuatmu resah? Jadikan kegemaran atau kegelisahan kamu itu untuk bahan bakar tulisanmu. Ada juga yang bilang, kalau kita sedang galau, sedang cinta dengan sesuatu atau seseorang, ide bisa mengalir dengan lancar, lho. Silakan dicoba, deh.

Di sela-sela kuliah atau kerja, sempatkan menulis kegelisahanmu. Siapa tahu jadi buku, lho!

Nah, ide penulisan buku Kata Ayahdilontarkan oleh Ken di siang bolong. Saat hari-hari pertama memiliki anak, Ken berkata pada Ersti tentang ide ini. Ken ingin tahu kata-kata mutiara apa saja yang sebenarnya dikatakan oleh para ayah orang sukses dan mengubah hidup anaknya. Namun, seiring waktu berjalan, dipikir-pikir, tidak hanya orang sukseslah yang kata-kata ayahnya bisa mengubah hidup. Orang biasa dan tidak terkenal sekalipun, pasti memiliki ayah yang hebat!

Contoh ide buku Kata Ayah: “Buku kumpulan kata-kata para ayah yang menginspirasi sang anak (penulis cerita tersebut)”. Sesederhana itu.

Sekarang ambil kertas atau buku catatan, tulis minimal 5 ide yang ada di kepalamu!

Singkirkan dulu ketakutan seperti: “Sudah ada belum ya ide buku kaya gini? Original gak ya ideku?” Yang penting idemu tertulis dan bisa kamu lihat secara konkret.

2. Tunggu Dulu, Apa Niatmu Menulis?

Banyak orang yang menulis buku karena hanya ingin mendapatkan pendapatan sampingan alias passive income. Banyak juga yang ingin terkenal, sepopuler Dewi Lestari, misalnya. Tidak sedikit juga yang cuma ikut-ikutan karena teman-teman selingkarannya menulis buku semua. Kalau kamu bagaimana?

Semua berawal dari niat.

Mulailah menulis dengan niat yang baik dan benar. Bayangkan karyamu nanti akan mempengaruhi jutaan pembaca. Start with why. Mulailah dari akhir. Bukumu bisa menjadi MLM pahala atau MLM dosa tergantung dari niatmu. Nah, pilih yang mana?

3. Tentukan Idemu dan… Perlukah Riset?

Mungkin setelah semua idemu tertulis, kamu mulai bingung memilihnya. Atau merasa tidak yakin karena idemu biasa saja dan sudah banyak buku tentang itu. Riset kecil-kecilan bisa sangat membantu memantapkan hati untuk memilih ide mana yang akan kamu pilih untuk dieksekusi.

Sesederhana main-main ke toko buku atau sekedar browsing di media sosial atau website toko buku. Dengan modal riset ini kamu juga lebih mudah untuk menentukan judul buku kamu.

Riset itu…. antara penting dan tidak penting. Tergantung kebutuhan kamu.

Jika sudah menentukan ide lalu menemukan banyak buku serupa di pasaran, lalu bagaimana? Sebenarnya saat meriset keyword “kata ayah” di Google dan Instagram, banyak ditemukan tema yang sama dari akun media sosial sampai film. Beberapa buku serupa juga ada. Jangan berkecil hati. Sebenarnya kita sama-sama tinggal di dunia dengan topik pembicaraan yang serupa.

Yang perlu kamu lakukan adalah meyakini bahwa ide itu benar-benar datang dari kepalamu. Jujurlah dengan itu. That’s already enough originality.

Begitulah kata Pandji Pragiwaksono di buku Indiepreneur yang sangat kami rekomendasikan untuk dibaca.

4. Tentukan Deadline

Setelah fix dengan ide kamu, jangan lupa tentukan kapan karya kamu harus jadi. Misalkan publish bukumu sebelum tanggal kelahiranmu tahun ini. Jadikan bukumu kado untuk dirimu sendiri. Tentukan juga timeline pembuatan karya kamu.

I often have to create fake deadlines for myself to finish something. Then I hit send — even if it’s not perfect. The reality is, you’ll never feel like it’s perfect. The satisfaction of hitting the send button, however, is a pretty glorious feeling. — Tobias van Schneider

Buat deadline untuk menyelesaikan bukumu. Lalu cetaklah walaupun belum sempurna. Walaupun masih banyak cacat dan kekurangan. Pada kenyataannya, kamu tidak akan pernah merasa siap untuk menerbitkan bukumu. Kamu hanya akan merasa puas jika kamu sudah benar-benar menerbitkannya.

5. Buat Kerangka Tulisanmu

Lanjut ke langkah berikutnya. Sekarang waktunya membuat kerangka tulisan. Dengan membuat kerangka tulisan, ide kamu akan tersusun secara sistematis. Hal itu akan membuat kamu tetap fokus menulis ide utama. Serta mengurangi kemungkinan ide-ide liar yang tidak penting menyelinap, sehingga bisa mengubah ide utamamu.

Kamu bisa memulainya dengan mengumpulkan beragam materi atau referensi tentang ide tersebut. Saat itu, kami memulainya dengan mencari-cari materi parenting dari seminar-seminar dan kuliah WhatsApp yang pernah kami ikuti. Ternyata, keisengan mengumpulkan starred messages di WhatsApp penting sangat berguna lho, untuk membuat sebuah buku. Mengapa memasukkan materi tersebut penting? Ini bisa menjadi nilai tambah (added value) dari hanya sekedar buku kumpulan cerita yang sudah ada di pasaran.

Contoh kerangka buku Kata Ayah:

  • Kata Pengantar
  • Pesan dari Ken untuk anak-anaknya
  • Materi Parenting tentang Negeri tanpa Ayah
  • Materi Parenting tentang Keteladanan Ayah
  • Materi Parenting tentang Membangun Ego Anak
  • Materi Parenting tentang Peran Ayah
  • Kata-kata ayah tentang agama
  • Kata-kata ayah tentang pendidikan
  • Kata-kata ayah tentang cinta
  • Kata-kata ayah tentang kehidupan
  • Kata-kata ayah tentang keberanian

Eits, tapi kamu juga bisa langsung loncat menulis tanpa membuat kerangka dulu. Tidak usah takut dan sibuk memikirkan hasil akhir dengan sifat perfeksionismu. Jangan sibuk membuat sistematika penulisan dan menentukan aplikasi apa yang terbaik untuk menulis. Cukup sediakan tangan dan keyboard atau bahkan kertas dan pena. Lalu mulailah tuangkan apapun yang kamu pikirkan dan rasakan! Setelah melihat hasilnya, kamu akan merasa lebih bersemangat. Dijamin, kamu akan lebih tertantang untuk menulis halaman demi halaman selanjutnya.

Pilih pake pena, keyboard atau smartphone?

Saat itu, kami memulainya dengan membuat satu post di media sosial tentang ide buku Kata Ayah di bit.ly/KataAyahBookProject. Tidak disangka, respon dari teman-teman cukup baik. Sebanyak kurang lebih 60 orang berbondong-bondong men-submit tulisannya. Benar-benar di luar dugaan! Cara seperti ini disebut crowd-source karya tulisan alias bikin buku rame-rame. Kamu mungkin bisa juga meniru cara ini kalau masih bingung atau belum pede menulis sendirian. Together is better.

6. Just Do It!

Untuk kamu yang sudah ngebet benar-benar ingin berkarya, khususnya dalam mewujudkan ide dengan membuat buku, cukup sampai di sini dulu saja. Just start it! Do it from now! Start small. Untuk yang penasaran ingin tahu proses di balik layar pembuatan buku Kata Ayahstay tunedIn syaa Allah kami akan mem-publish lanjutan cerita pengalaman kami melalui akun ini.

Bagaimana agar buku kamu ini benar-benar jadi dan bisa tercetak dipegang tanganmu? Tempel besar-besar sticky note bertuliskan ide atau judul buku disertai deadline dan timeline di sudut yang paling sering kamu lihat di kamar, kantor, atau mungkin di laptop. Kerjakan perlahan-lahan, sebelum semuanya tergeser dengan kegiatanmu yang seabrek.

via StartupQuote

Kalau kamu tidak malu dengan versi pertama buku kamu, berarti kamu sudah terlambat menerbitkannya! Kira-kira begitu kata Reid Hoffman, founder LinkedIn.

Bagaimana? Merasa tertantang?

Trust us. You will learn more by doing!

If not you, who? If not now, when? Jika bukan kamu, siapa lagi yang akan memperjuangkan idemu? Jika bukan sekarang, kapan lagi?


Happy writing!

With love, Ersti & Ken

PS: Jadilah pembaca pertama cerita-cerita kami selanjutnya dengan mengikuti channel Telegram Ersti&Ken.

Terima kasih atas 💙 yang kamu berikan jika tertarik membaca tulisan kami. Dengan begitu, kami akan lebih bersemangat untuk membagikan pengalaman dan cerita lebih banyak lagi 🙂


Baca juga di Medium Ersti&Ken.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: