Senandung Kalbu untuk Buah Hatiku

Selamat pagi 
Pagi ini bibir mungilmu masih terkatup
Begitu pula mata indahmu

Sudah lama ternyata ibu tak menulis lagi seperti dulu
Menulis ketika semua masih tidur
Mungkin masih lelah karena tadi habis sahur

Hari ini setahun yang lalu
Ibu mempertaruhkan nyawa
Ada sebuah status yang harus ibu perjuangkan
Ada sebuah perasaan gundah gulana yang tak terkira
Ada sebuah rasa pengharapan
Pun ada ketakutan

Semua sudah kupasrahkan kepada Sang Pemberi Nyawa
Jika saat itu saat terakhir ibu
Maka hanya doa singkat yang bisa ibu ucap
Lindungilah selalu suami dan calon malaikat kecilku yang saleh ini
Jika saat itu saat terakhir ibu
Mungkin kamu akan kesepian mencariku

Tapi Tuhan Maha Baik
Dan berkehendak lain
Ibu masih diberi kehidupan
Ibu masih diberi kesempatan
Untuk melihat wajah merahmu
Untuk mendengar azan yang terlantun dari bibir ayahmu
Untuk menyusuimu kapanpun kau mau
Untuk mendidikmu yang telah diamanahkan-Nya kepadaku

Aku masih ingat bagaimana susah dan senangnya masa-masa mengandungmu
Mulai dari menanti hadirmu dengan cemas
Serta mensyukuri kedatanganmu yang baru sebesar biji buah
Kemudian membersamaimu tigapuluh delapan minggu
Setiap harinya
Ayahmu tak pernah meninggalkan ibu barang sehari pun

Ibu ingat kala itu kami benar-benar tak tahu apa-apa soal dunia kehamilan, persalinan, pendidikan anak
Tapi kami berniat bangkit dan mempelajari satu per satu
Dengan izin Allah pintu pengetahuan dibukakan oleh-Nya
Kami seakan ditunjukkan mana model yang baik untuk diterapkan

Seiring waktu berjalan, aktivitasmu di rahim ibu mulai banyak
Kaki kecilmu menendang-nendang
Ah geli dan sedikit sakit, Nak
Kau sedang memanggil ibu, ya saat itu?

Kita adalah dua jiwa yang menjadi satu
Benar-benar satu badan
Terpisah tembok yang membuat kita saling menanti
Kau tak tahu siapa aku dan bagaimana rupaku
Namun aku tahu siapa kamu dan tak tahu bagaimana rupamu

Sekali pun bayang wajahmu tak pernah hadir di mimpiku
Hingga suatu hari ibu melihat wajahmu
Sesosok anak yang tegas dan pintar
Ibu sedikit terkejut waktu terbangun
Kamu masih anak-anak tapi terlihat pintar sekali

Ayahmu berperan besar dalam memberikan nutrisi terbaik bagimu
Selama menikah dengannya, ibu selalu disuplai dengan makanan sehat
Walaupun sesekali ibu juga merengek minta jajanan remeh yang sering ibu konsumsi zaman masih sendiri
Ya tak apa asal jangan berlebihan

Syukur tak terkira harus kuucapkan dari bibirku
Kini kau telah beranjak balita
Setapak demi setapak, kaki kecilmu melangkah tegap
Keceriaanmu setiap hari
Adalah energi kami untuk bangkit dari kemalasan dan kebodohan

Terima kasih ya Tuhan
Akhirnya aku masih punya alasan
Untuk senantiasa belajar di universitas kehidupan

Terima kasih ya Tuhan
Engkau telah izinkan aku menemukan guru terbaikku
Ialah dia yang setiap hari dalam pelukan

Maafkan ibu yang dulu pernah mempertanyakan keberadaanmu
Mengapa Ia memberimu padaku di saat yang tidak tepat
Padahal aku sendiri tak benar tahu kapan saat yang paling tepat selain saat itu

Mungkin saat kau berada di kandunganku
Ada emosi yang tak bisa Ibu bendung lagi 
Mungkin saat kau berada di rimba amniotik itu
Ada kegelisahan di hati Ibu
Sehingga keadaanmu tak nyaman dan bahagia di dalam sana

Mungkin pernah ada makanan yang aku tak tahu halal atau haramnya sempat kau makan juga
Mungkin pernah ada torehan luka yang tak sengaja kami berikan padamu
Mungkin pernah tak cukup gizi yang seharusnya kau dapatkan
Mungkin pernah kau mendengar kata-kata buruk dari lisan ibu atau ayahmu

Nak, jika memang itu semua ada yang benar
Mohon maaf sebesar-besarnya kami haturkan dari hati yang terdalam

Kesalahan masa lalu tak perlu disesali
Justru itulah yang membuat kita senantiasa mensucikan diri

Nak, Ibu tak bisa memberikan apa-apa di usiamu yang sudah satu tahun ini
Mungkin dulu Ibu pernah berjanji untuk memberikanmu rangkuman kegiatanmu satu tahun
Namun nyatanya Ibu belum sempat, Nak
Tapi ibu tahu tak harus hari ini Ibu berikan kepadamu
Ibu sudah mencicilnya sesempat Ibu
Tapi memang belum selesai

Maka dari itu, mulai hari ini
Ibu berusaha mengesampingkan urusan lain
Selain urusan yang berkaitan dengan-Nya
Untuk membersamaimu dalam fitrahmu
Untuk menjadi tempatmu pulang
Untuk menjadi pundak di mana kau bisa berurai airmata tanpa harus malu

Kelak kau dewasa akan menemui banyak tantangan
Zaman semakin edan dan sangat edan nantinya
Kuharap engkau siap menghadapinya
Karena ayah dan ibu juga telah berusaha bersiap mental mendidikmu 
Mengimunisasimu bukan mensterilisasikanmu dari bahaya godaan dunia

Kini…
Waktu kian menuju masa menyapih, ah aku makin sedih
Itu berarti… akan banyak alasan dan banyak waktu untukmu meninggalkanku
Karena kau tak lagi meminum air susu dariku

Wahai anak lelaki yang saleh yang diamanahkan pada ibu

Wahai anak yang mencerahkan hari-hari ibu

Wahai anak yang belum bisa memanggilku dengan sebutan “Ibu” walaupun sudah sekian kali aku menuntunmu mengucapkannya

Terima kasih atas segala ajaranmu pada Ibu

Doakan ibu ayah sehat selalu agar bisa mendampingi langkahmu melihat dunia

Agar kelak kau tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah peradaban dunia menjadi lebih baik

Maafkan ibu ayah jika banyak salah
Baru belajar ilmu pengasuhan tapi tetap tak pandai menghadapimu bertingkah polah
Hari ini ibu ingin berusaha membersamaimu
Menikmati setiap senyummu
Menghargai setiap pemberianmu
Mengikuti setiap gerak-gerikmu

Ibu tak lagi takut di luar sana orang berkata apa
Karena ibu tahu satu alasan yang membuat ibu teguh menyandang status dan rentetan keputusan ini
Karena aku ingin total menjadi ibumu

***

Tulisan ini kusempurnakan saat kau sedang terlelap dalam pelukanku

Surabaya yang terik, di genap satu tahun membersamai dirimu melihat dunia,
8 Juni 2017

Dari ibu yang terus belajar mencintai dan memahamimu.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: