Sepotong Hati dari Gadis di Masa Lalu

Aku teringat peristiwa siang itu di teras rumahku. Peristiwa yang tak akan pernah kulupakan seumur hidupku.

V: Hai gadis manis. Siapa namamu?
C: Hai. Salam kenal. Namaku Capella.
V: Wah, cantik sekali namamu! Seperti nama bintang saja!
C: Ya, ibuku memberikanku nama Capella agar aku bisa bersinar seperti bintang. Namamu siapa? Dari mana asalmu?
V: Namaku Venus. Aku berasal dari masa lalu.
C: Hah? Masa lalu? Apa tujuanmu datang kemari, Venus?
V: Aku ingin menitipkan sesuatu padamu…
C: . . .
V: Ini, ada sepotong hati yang ingin kubuang ke bumi.
C: Jadi, kau bukan makhluk bumi?
V: Bukan. Aku tinggal di luar bumi. Namun, kau tidak perlu tahu.
C: Tetapi, mengapa kau membuang sepotong hatimu?
V: Karena aku sudah tidak memerlukannya lagi… Di tanganku, hati ini akan terus-terusan terkoyak. Aku akan mengikhlaskannya menjadi milikmu.
C: Lalu, apa yang bisa kulakukan dengan sepotong hati ini?
V: Rawatlah ia. Balut bagiannya yang sedikit terkoyak itu. Jangan pernah rusak hati itu. Simpan ia di dalam hatimu. Jadikan satu dengan hatimu.
C: Bagaimana bisa?
V: Coba lihat ini. Ada sepotong bagian di hatimu yang belum terisi. Mungkin potongan hatiku ini bisa menambalnya.
C: Lalu… berarti nanti kau tak memiliki potongan hati ini lagi?
V: Tenang saja, aku sudah tak memerlukannya. Ingat ya, Capella, jaga ia baik-baik. Selamat memulai hidup baru. Aku akan pergi jauh dan tak pernah menemuimu lagi. Simpan ia di dalam hatimu. Jangan berikan kepada yang lain. Ingat, itu untukmu, Capella.
C: Baiklah… Terima kasih. Semoga aku bisa menjaganya dengan baik.
V: Selamat tinggal, Capella. Aku hanya sebentar saja. Lupakan aku. Hiduplah baik-baik bersama sepotong hati itu. 

Gadis itu pergi meninggalkanku begitu saja. Terbang ataukah lenyap begitu saja? Aku tak terlalu ingat. Aku tak tahu apa maksudnya yang tiba-tiba datang memberikanku sepotong hati itu. 

Tak berapa lama kemudian datanglah seorang laki-laki yang kira-kira usianya tak jauh beda dariku. Ia berjalan tergopoh-gopoh mendekatiku. Tampaknya ia sedang melihat sepotong hati yang kugenggam. Dan…

R: Hei! Tunggu sebentar. Itu hati siapa?
C: Hati… seseorang… mmm… sesuatu… entahlah aku tak tahu. Baru saja ada yang memberikan ini padaku.
R: Jadi, sekarang hati itu jadi milikmu?
C: Ya.. begitulah. Aku diberi pesan olehnya untuk menjaga ini baik-baik.
R: Baiklah, akan kuberitahu kamu. Hati itu milikku. Aku pernah memberikan hati itu untuknya. Namun, ternyata aku mengoyaknya. Aku meninggalkannya tanpa sebab. Dan aku telah membuatnya tergores dalam.
C: Ya, aku bisa melihatnya. Namun aku yakin, aku bisa memperbaikinya.

Pipi lelaki itu pun memerah. Padam. Sepertinya menahan malu dan tak tahu harus berkata apa. Ia, lelaki yang belum kuketahui namanya.

R: Kau yakin?
C: Yakin. Ini adalah titipan dari seseorang bernama Venus. Aku harus menjaganya. Walaupun akhirnya aku harus tahu bahwa hati ini awalnya berasal darimu.
R: Ya. Dialah Venus. Yang pernah kutitipi hatiku. Masa laluku. Terima kasih, . . .
C: Capella. *tersenyum*
R: Robin. *tertawa* Hahaha…

Kami pun berkenalan dan akhirnya saling bercengkerama hingga senja tiba. Lalu pulang, berjalan beriringan, dan ternyata…. menuju arah pulang yang sama.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: