Sepucuk Surat Untuk Ibu(ku)

Bu, walaupun aku tak terbiasa memanggilmu ‘Ibu’
izinkan aku memanggilmu Ibu di sini.

Bu, sering terlontar pertanyaan-pertanyaan ini di benakku
‘Bu, kenapa engkau selalu pulang malam? Tidakkah kau ingin bermanja-manja bersama anak-anakmu di rumah?’
‘Bu, kenapa engkau tidak mau membelikan itu untukku? Itu kan kebutuhanku’
‘Bu, kenapa engkau harus marah-marah bila aku tidak bangun pagi?’
‘Bu, kenapa engkau tidak mengizinkanku untuk pergi keluar bersama teman-temanku?’

Tapi kini aku mulai sadar, aku jawab sendiri pertanyaan-pertanyaan itu, Bu.
‘Ibu pasti pulang malam karena bekerja, bekerja untuk menghidupi aku. Waktu bermanja-manja insyaAllah selalu ada di malam hari.’
‘Ibu pasti tahu sekali bedanya KEINGINAN dengan KEBUTUHANku. Jadi Ibu mendidikku untuk tidak menjadi anak yang boros.’
‘Ibu marah demi kebaikanku. Kalau aku tidak bangun pagi, aku akan kehilangan rezeki, aku tidak bisa bertemu dengan anggota keluarga lain karena semuanya sudah berangkat beraktivitas.’
‘Ibu tahu, jika aku pergi bersama teman-temanku hanya akan membuang uang saja. Ibu juga butuh aku pada saat yang sama.’

Guratan-guratan di wajahmu Ibu,
hanya itulah yang membuatku ikhlas menerima semuanya
Engkau adalah Ibuku
yang selalu berjuang demi aku
dan keluargamu
Seberapa banyak uang dan tenaga yang kukeluarkan
tak kan mampu mengganti peluh yang menetes di dahi dan tubuhmu selama ini, Bu.

Maafkan aku jika selama ini aku sering mengecewakanmu.
Kalau saja Ibu tahu, aku selalu menangis jika ingat padamu, Bu.
Aku ingin menikmati saat-saat kita bersama di dunia ini
dan ingin mencintaimu karenaNya
karena aku yakin
terhadap janjiNya
orang-orang yang saling mencintai karena Allah
akan dipertemukan di surgaNya.
Aamiin.

Dari hatiku yang paling dalam,
Aku
Mencintaimu
Ibu

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published.