Short Escape to Madura, Pergi Sejenak dari Rutinitas

Sudah lamaaa sekali ingin mengajak suami dan si kecil pergi melihat indahnya Surabaya dan jembatan fenomenalnya, Suramadu. Alhamdulillah baru terlaksana minggu lalu.

Dulu udah mau ke Madura, eh tapi begitu saya ngomong Ampel, suami jadi pengen makan dan mengunjungi Ampel saja. Oke lah. Bye Madura.

Tapi alhamdulillah di waktu yang tepat, tanggal 22 April lalu di hari Sabtu, kami bisa pinjam mobil orangtua saya dan akhirnya memutuskan untuk dadakan escape to Madura. Yeeeay! 

Sok-sokan tau Madura gitu, pengennya ke semua kota. Padahal cuma ke Bangkalan aja kayaknya udah capek. Itu tuh, Bangkalan, kota paling dekat  di Madura kalo dari Surabaya. Ternyata setelah diukur di Google Maps, Madura luas juga ya. Jarak dari Bangkalan ke kota di bagian kanan pulau Madura aja 3 jam kalau naik mobil.

Sekarang PP Surabaya-Madura kalo naik mobil kena 30ribu rupiah. Baru tau nih. Perasaan dulu PP kok 60ribu ya? Apa jadi lebih murah? Bagi infonya dong buat yang tau. Buat ngejawab rasa penasaran aja.

Btw, ke mana saja kami di Madura?

Kami tidak tahu mau ke mana saja sebenarnya. Cuma modal foursquare, tripadvisor, dan you-know-who alias Mbah Google, kami googling sambil mobilnya jalan.

Sambil menikmati indahnya Jembatan Suramadu yang masih indah dari dulu, saya mengenalkan kepada si kecil bahwa ini jembatan. Semoga suatu hari kita bisa lewat London Bridge ya, Nak! Eh ga lama setelah itu, tiba-tiba langit gelap mencekam.

Ternyata begitu kami sampai di Madura setelah melewati Jembatan Suramadu, hujan deras pun turun. Keadaan jalan udah mencekam banget kayak film final destination. Heuuu. Tapi suami tetap menerjang badai demi perut keroncongannya. Akhirnya kami mencari lokasi pakai GPS tapi sayang oh sayang GPS-nya ga nyambung. Untung udah dekat, akhirnya kami cari manual. Ternyata lokasi rumah makannya ga jauh banget dari Bebek Sinjay.

Saya melihat review Rumah Makan Tera’ Bulan di tripadvisor.com. Sebenarnya saya sudah bosan dengan Bebek Sinjay dan RM Maduratna. Alhasil, saya cari rumah makan yang ramah bayi dan menyediakan makanan khas Madura. Aduuuh nulisnya bikin perut bergejolak.

Kami memesan Bebek Bengal, Soto Madura, dan juga Ca Kaylan. Minumnya pesan satu aja. Maklum keluarga hemat eh keluarga ngirit. Pesan satu minuman saja tapi yang datang alhamdulillah gelas jumbo. Kami pesan es wintermelon, yang ternyata serutan cincau. Hehehe.

Suami berkali-kali memuji karena saya memilihkan rumah makan yang tepat dan maknyuz. Beliau sukaaa banget sama Bebek Bengalnya. Kelihatan kalau beliau suka sama makanan, diomongin berkali-kali. Katanya sih ga pedes-pedes amat walaupun kalau saya lihat merah banget bumbunya.

Saya juga heran, Soto Madura kok ada kentang bulat kecil dan kuahnya merah. Ini soto termerah yang pernah saya makan. Alhamdulillah rasanya enak kayak gulai. Patut dicoba deh, pecinta kuliner!

RM ini recommended buat yang berwisata sama bayi, karena ada baby chair-nya. Ohya, juga ada musala.

Selesai makan, kami putar-putar kota Bangkalan. Sebenarnya mau cari Bangkalan Plaza. Kayak apa sih bentuknya? Oh ternyata kayak gitu. Yaudah ga jadi deh, mending putar-putar kota aja.

Berputar dan terus berputar, akhirnya kami sampai di Taman Paseban depan Masjid Agung Bangkalan. Lumayan bisa lihat kuda dan domba, juga nemu anak-anak foto-foto pakai DSLR di taman. Dugaan saya sih mereka anak SMP atau SMA. Karena matgay alias mati gaya nungguin azan Ashar, kami bertiga jalan kaki dan menemukan toko kecil. Beli es krim deh. Wah, romantis banget dong, apalagi jalannya basah dikit karena habis hujan. Udara juga dingin… Bangkalan hari itu cukup sepi. Taman Pasebannya juga sepi. Kami berasa raja dan ratu sehari di Bangkalan, wkwk.

Nah, si kecil suka banget tuh main di Masjid Agung Bangkalan. Halamannya luas banget. Kami kejar-kejaran deh sama dia setelah es krim kami habis. Alhamdulillah anakku senang di masjid.

Selesai salat Ashar, kami say goodbye sama Madura karena sudah jam setengah empat sore. Takutnya sampai Surabaya udah Maghrib. Tapi saya punya usul. Usul itu langsung saya ungkapkan ke suami. Mas, ke  Jembatan Surabaya, yuk! Itu lho, jembatan baru dekat Kenjeran. Walaupun ga baru-baru amat, tapi saya merasa masih ndeso karena sejak pulang ke Indonesia di awal 2016 lalu, kami belum pernah menjamahnya.

Ternyata di sana ada Taman Bulak dan satu taman lagi yang saya lupa namanya. Wah uapik yo! Bu Risma, I love you dan I angkat topi buat you! Keren banget, Bu. Kayak di luar negeri. Waktu kami di sana, saya sempet foto-foto sedikit buat kenang-kenangan. Itu fotonya ada di atas. Hehehe. Perkampungan di sana dicat warna-warni seperti Kampung Kali Code di Jogjakarta. Tapi yang ini lebih keren, lah.

Di sana kami juga melihat tim drum band lagi latihan. Mungkin untuk parade ulangtahun kota Surabaya, kali ya?

Surabaya sore itu maniiiis sekali. Saya belum pernah sebahagia ini keliling kota. Apalagi ditemani suami dan anak. Wuah rasanya berlipat-lipat ganda bahagianya. Dulu waktu jomblo suka jalan-jalan sendirian ke taman. Sekarang alhamdulillah udah ada gandengan.

Pulangnya kami kelaparan lagi. Tiba-tiba terlontar ide untuk menyambangi Travelmie. Sebuah kafe yang konsepnya urban camp pertama di Indonesia. Coba kunjungi website travelmie.com.

Cara menyajikan makannya terbilang unik. Makanan yang di sajikan menggunakan alat-alat camping. Seperti nesting dll. Berbagai menu dengan harga variatif dan tidak menguras kocek. Travelmie mengambil konsep urban camping dengan beberapa tenda yang didirikan membentuk letter U dan di tengahnya ada beberapa meja dan bangku lipat. Di setiap tenda disediakan lampu petromax.

Kami memesan indomie goreng mozarella sosis BBQ yang uenaaak banget. Suami memesan nasi liwet kelinci bakar madu. Saya ga tega makan daging kelinci karena kelinci hewan yang imut. Katanya sih rasanya kayak ayam. Tapi entah kenapa tetep ga berani ngicip lauk di piring suami.

 

Indomie Goreng Mozarella Sosis BBQ

Rp. 20.909

Indomie goreng spesial diasuk dengan parutan keju & sosis ditambah dengan mozarella yang dibakar rata di atas piring.

 

Liwet Kelinci Bakar Madu

Rp. 18.181

Empuk kenyalnya daging kelinci, dibakar dengan saus madu yang pedas manis juara, melengkapi rasa nasi liwet rempah santan.

Kami makan di dalam tenda. Berasa camping! Si kecil juga senang mainan di dalam tenda. Tapi ya gitu, ngeriwukin orangtuanya yang lagi makan. Padahal udah saya kasih tomat dari piring ayahnya. Eh tapi ya gitu, maunya indomie goreng! Eits tapi ga saya kasih dong. Masih kecil ga boleh makan yang mengandung pengawet dan MSG.

Ya sudah, sekian dulu curhat colongan traveling Keluarga Surga kali ini. For more info silakan googling sendiri, ya. Sekarang kan udah ga zaman tanya orang. Zamannya tanya Mbah Google.

Nantikan cerita jalan-jalan kami selanjutnya. Insyaa Allaah.

Keep traveling, Moms!

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: