Siapa yang Mengetuk Pintu Rumahku?

Terdengar suara dari balik pintu.
“Tok tok tok…”
Aku yang sedang panik mengetik halaman ke-50 tugas akhirku untuk dikumpulkan besok, segera menengok sebal ke arah pintu.
“Assalamu’alaikum…”
Ah, tidak jadi.
Aku sedang sendiri di rumah.
Ayah pernah menasehatiku waktu kecil.
“Jangan bukakan pintu jika sedang sendirian di rumah, ya, Nak.”
Terngiang pesan Ayah tiba-tiba.
“Ah, aku tak boleh membukakan pintu.”
Suara itu kembali terdengar.
“Tok tok tok…”
Jantungku berdebar ketakutan.
Di satu sisi aku penasaran siapa di sana.
Di satu sisi aku teringat pesan Ayah.
“Assalamu’alaikum…”
Aku pun menggerutu, tanpa menjawab salamnya.
“Duuuh, siapa sih, gangguin orang aja.”
Aku pun kembali mengetik lagi.
Tampaknya orang dibalik pintu sadar kalau tidak ada orang di rumahku ini.
Tiba-tiba pintu dibuka.
“Lho. Mina… Kamu ini kok ga bukain pintu sih. Kan ada Abi nih. Dipersilakan masuk, kek,” tiba-tiba suara tegas Ayah disusul wajahnya yang kemudian tampak.
Namun tiga detik setelah melihat wajah ayah, aku hanya bisa melongo lebar hingga air liur menetes.
Terkesima. Terpana. Termehek-mehek. Ups. Yang terakhir tidak.
“A-a-ab-abi??” teriakku terbata-bata.
Senyuman seorang laki-laki berkulit sawo matang, mengenakan tas ransel, dan mengenakan kupluk.
Aku tidak tahu apa warna wajahku saat itu, yang jelas, aku tahu aku dalam kondisi gado-gado. Bingung, senang, dan berdebar.
Dalam hatiku aku juga mengucap syukur bahwa saat itu aku sedang dalam kondisi berpakaian panjang lengkap dari atas sampai ke bawah. Karena baru pulang dari kampus dan langsung mengerjakan laporan tugas akhir, tanpa ganti baju terlebih dahulu.
“Assalamu’alaikum, Mina!” ujar lelaki tampan itu dengan senyum 5 jarinya.
Apa? Tampan? Psst.
 
 
“Jadi, kapan kamu pergi ke dan kembali dari Jerman? Kok ga pernah bilang aku sama sekali? Harusnya kamu hubungin aku lewat email dong.” ujarku bertanya. Eh bukan bertanya sih, menyerocos, menanyakan tiga pertanyaan sekaligus. Ya, aku sedang kepo.
“Jadi begini Mina. Aku memang tidak pernah memberitahumu semenjak kita lulus SMA. Aku pergi ke Jerman karena kedua orangtuaku sekolah lagi di sana. Mereka berdua memutuskan untuk sama-sama mengambil S3 di sana. Nah, kebetulan aku yang saat itu sudah menggenggam ijazah SMA, langsung saja didaftarkan orang tuaku ke sebuah universitas di Jerman. Aku tidak sempat….”
“Ah…. ya…. Jadi…. begitu ya,” aku pun memanggut-manggut perlahan sambil mengenang masa lalu.
“Hmmm.. aku tidak sempat memberitahu siapapun di Indonesia karena sehari setelah kugenggam ijazahku, orangtuaku segera mengajakku ke sana. Aku pun meninggalkan Indonesia dengan segala kenangannya. Termasuk, buku telepon dan buku catatan-catatanku. Jadi, aku tidak bisa mengontak siapapun di Indonesia.”
“Ah, kamu, jahat, Bi,” kata-kata itu melenggang begitu saja dari bibirku.
“Hah? Jahat ya. Maafkan aku Mina. Sekarang aku sudah ada di depanmu dan akan mengabarkan sesuatu….” ucap Abi dengan intonasi sedikit memelan.
 
 
“Hei. Ngobrolin apa nih? Dua insan yang sudah empat tahun tidak bertemu ini ya. Ckckckck” ayah pun membawakan piring berisi snack dan tiga gelas sirup jeruk.
“Apa sih, Yah. Mau tau aja. Hehehe. Obrolan anak muda nih,” ujarku pada Ayahku yang kepo.
“Beritahu ayah dong, ayah kan masih muda. Masih 25 tahun…” Ayah pun mencoba melucu.
“Dibalik dulu lilinnya, Om. Kiri sama kanannya ketuker. Hihihi,” terukir senyum manis di bibir Abi saat meledek ayah.
“Hahahaha kamu ini bisa saja Bi, Abi. Eh iya, kabar Pak Warsito dan Bu Warsito bagaimana?” tanya Ayah sok akrab.
“Alhamdulillah, baik-baik saja beliau berdua Pak. Sudah lulus dari Jerman dengan gelar Dr. Ing.” ujar Abi dengan manis.
“Wah, salut saya. Sudah tua tapi masih punya semangat belajar yang tinggi. Pantes anaknya juga begini. Hehehe,” Ayah pun memuji mereka.
“Hehehe ndak Pak, bisa saja. Oh iya, saya kesini sebenarnya mau menyampaikan sebuah kabar Pak. Ada surat yang tertinggal. Sudah empat tahun lalu. Sebenarnya mau saya kirimkan ke rumah ini, tetapi waktu itu terburu-buru dan ya, terjatuh di rumah saya, hingga empat tahun berlalu. Untung masih ada. Coba dibaca Pak, dibaca, Mina.” ujar Abi penuh teka-teki.
 
 
“Jadi…. Nak Abi kesini bermaksud…. mengambil puteri semata wayang saya ini?”
“Tepat sekali, Pak,” jawab Abi.
Aku yang besok harus mengumpulkan tugas akhir pun wajahnya mendadak memerah seperti kepiting direbus di suhu 1000 derajat celcius.
“Bi…… ngomong langsung aja kek daritadi, ga usah pake nunjukin surat ini dulu. Hehehe,” Ayah pun
“Mina, apa kamu mau diambil oleh laki-laki ini?” tanya Ayah sambil tertawa.
“Hahahaha… aku terserah ayah saja,” aku menjawab dengan standar. Padahal ada beribu-ribu kata kegembiraan yang ingin kuluapkan.
Ya, tujuh tahun sudah aku memendam rasa kepada lelaki ini, lelaki yang jahat, meninggalkanku begitu saja selama empat tahun dan baru hari ini rasa ini terbalaskan.
“Maafkan aku ya Mina. Waktu itu aku tidak sempat mengatakan perpisahan sementara sama kamu. Surat yang mau aku antarkan ini saja terjatuh di ruang tamu. Aku tidak bisa menghubungimu sama sekali dari sana. Dan untungnya…… Allah mempertemukan kita kembali setelah empat tahun,” tak terasa air mata membasahi pipi Abi.
Aku ingin menghapus air matanya. Tapi belum boleh. Kan belum mahram.
“Jangan menangis, Bi. Sekarang kan sudah jelas semuanya,” ujarku menghibur.
“Aku menangis terharu saja kok, Mina. Wajar,” Abi menjawab dengan sangat menyejukkan.
Lega.
Rasa leganya lebih daripada menyelesaikan laporan tugas akhir. Padahal laporanku toh belum selesai, hahaha.
 
 
“Yah, kita bicarakan ya, tanggal berapa pernikahan kalian nanti,” Ayah pun langsung mengalihkan pembicaraan.
“Ah iya, Pak. Saya sih maunya secepatnya saja. Biar tidak usah menunggu lama lagi. Kalau bisa satu atau dua minggu ini,” ujar Abi mantap. Berbeda sekali dengan Abi yang masih ingusan kelas 3 SMA dulu. Kini ia telah menjadi lelaki sejati.
“Iya Yah, aku setuju. Tidak usah lama-lama. Selepas aku sidang, kami akan menghubungi masjid di kota, menghubungi keluarga masing-masing, membuat undangan dan menyebarkannya serta melakukan serangkaian persiapan lainnya. InsyaAllah cepat, Yah,” ujarku.
“Hmmm…. baiklah kalau kalian berdua sudah sama-sama siap. Ayah setuju. Alhamdulillah puteri ayah tak sendiri lagi. Terbit senyum di bibir Ayah diiringi senyum kami berdua.
 
 
Ibu, andaikan Mina bisa memberitahukan kabar ini padamu. Bahwa Mina akan menikah dengan lelaki yang sudah lama kau jodoh-jodohkan denganku sejak SMA, Abi. Andaikan Mina bisa memberitahukannya padamu. Ya, nanti Mina akan datang ke pusaramu dan mengabarkan berita ini.
 
Ya, hari ini, dia yang mengetuk pintu rumahku, baru saja membawa kabar gembira. Aku mau membukakan pintu, bukan pintu rumah, tetapi pintu hati, tentunya hanya untuk Abi, calon suamiku.
 
Surabaya, 9 Januari 2013

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

1 Comment

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: