Siapkah Kamu Menjadi Seorang Arsitek?

Tulisan ini bisa kamu baca juga di sini
 
***
 
Terlahir dari bapak dan ibu yang dua-duanya dosen arsitektur, tentunya membuatku TERPENGARUH. Sejak kecil aku sudah diberi kertas, spidol, pensil warna, buku, Lego®, building blocks, dan lain-lain. Mereka adalah sahabat sejati sejak aku kecil.
Cita-citaku sebenarnya ialah menjadi guru, sesuai arti nama belakangku. Namun, aku suka menggambar, apalagi sejak dulu sudah terbiasa melihat kesibukan dunia kedua orangtuaku. Lambat laun, saat duduk di bangku SMA, dan mulai galau jurusan (eaaa …), aku pun galau ingin masuk jurusan arsitektur yang terlihat keren itu atau ke jurusan lain yang lebih keren.
Aku memantapkan hati dan berjuang mati-matian agar lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru (dulu namanya SNMPTN). Tuhan Mahabaik. Aku akhirnya berjodoh dengan pilihan pertamaku: Jurusan Arsitektur ITS. Tentunya setelah sebelumnya diterima di universitas lain lewat jalur PMDK dan gagal di beberapa seleksi penerimaan sebelum SNMPTN.
Kamu pasti mengira, terlahir dari kedua orangtua yang seperti itu, berarti cita-citaku pasti menjadi arsitek?
Hmmm, baiklah kamu salah. Singkat cerita, aku baru-baru ini sadar kalau cita-cita dan passion-ku bukan di situ. Aku memang BISA menggambar, namun aku TIDAK SUKA menggambar. Ternyata aku hanya suka mencorat-coret. Aku memang BISA merancang, namun aku TIDAK SUKA merancang. Nah, tetapi aku SUKA menulis. Walaupun sebenarnya aku tidak tahu benar teori tentang menulis. Berawal dari buku diari yang kupunya sejak kecil, aku rajin menuliskan apa saja di sana. Selepas lulus, tentu saja lowongan pekerjaan menjadi editor buku di sebuah penerbit lebih menarik hatiku ketimbang lowongan drafter, asisten arsitek, atau apapun itu yang berkaitan dengan arsitektur.
Sampai di kalimat ini, mungkin masih ada yang belum tahu apa definisi “arsitek”. Berikut pengertian “arsitek” dari beberapa sumber.
Seorang arsitek, adalah seorang ahli di bidang ilmu arsitektur, ahli rancang bangun atau ahli lingkungan binaan,” kata Wikipedia.

 

“A person who designs buildings and in many cases also supervises their construction,” kata Oxford Dictionary.
“Ar·si·tek /arsiték/ n 1 ahli dl merancang dan menggambar bangunan, jembatan, dsb, biasanya sekaligus sbg penyelia konstruksinya; 2 perencana (pencipta suatu paham, negara, dsb),” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Nah, kamu masih berkeinginan untuk menjadi seorang arsitek? *senyum jahat*
First of all, aku ingin meluruskan pandanganmu terhadap profesi ini. Arsitek bukanlah seseorang yang bekerja di lingkup yang sempit. Arsitek bukanlah seseorang yang bekerja hanya membuat gambar kerja sebuah bangunan, lalu dibayar sesuai lembar gambar yang dihasilkan. Arsitek bukanlah seseorang yang hanya mengawasi pekerjaan pembangunan suatu gedung. Tidak, tidaklah sesederhana itu. Ia bertanggungjawab mulai dari prapembangunan, proses pembangunan, hingga pascapembangunan sebuah bangunan. Lingkup pekerjaan arsitek sangat luas! Mulai dari skala produk, skala interior ruangan, bangunan tunggal, komplek bangunan, hingga perkotaan!
Kemudian, kamu mungkin butuh informasi real ini. Semuanya dari pengalaman dan pengamatanku:
1. Mahasiswa arsitektur hampir semua tahu bahwa ia akan menjadi seseorang yang memiliki tanggungjawab yang sangat berat dan proses pengerjaan sesuatu yang sangat melelahkan. Di bangku perkuliahan, kamu akan diajari untuk mengawalinya dengan observasi atau survei lapangan. Kemudian, kamu harus mengemukakan fakta-fakta yang diamati di lapangan. Setelah itu, memetakan masalah-masalah yang terdapat di lapangan. Baru menganalisis apa sebenarnya yang harus diselesaikan. Hasil rancangan seorang arsitek dituntut untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan tersebut. Tentunya dengan mempertimbangkan kriteria-kriteria hingga akhirnya menjadi sebuah konsep rancangan. Dari konsep-konsep yang ada itulah, sang arsitek dapat memulai pekerjaannya.
 2. Arsitek hampir selalu bekerja dengan diagram, gambar, warna, dan tulisan. Kamu akan melihat tumpukan kertas-kertas dan peralatan sekaligus bahan maket yang berserakan di rumahmu.
3. Kata dosenku, “Arsitek seharusnya sering berjalan-jalan melihat dunia luar.” Buat kamu yang hobi traveling, ini dia jurusan yang tepat dan inilah saatnya! Tapaki penjuru bumi, amati, rasakan, dan ambilah kesimpulan tentang segala fenomena di dunia!
4. Arsitek dituntut harus banyak tahu. Ilmu bisa dicari dari membaca buku, menghadiri seminar, berselancar di internet, dan lain-lain. Ah, rasanya sekarang menuntut ilmu tidak harus di dalam kelas, ya kan?
5. Arsitek hampir selalu berpikir, menganalisis, merencana dan menggambar. Jika mengalami kebuntuan? Bangun semangat dari dalam diri dan cari inspirasi di mana saja, misalnya ke laut.
6. Last but not least, menjadi arsitek adalah pekerjaan yang keren berat.
 Aha, aku pun tahu jawabannya! Aku bisa menggabungkan passion menulisku dengan ilmu arsitektur. Singkat cerita, di penghujung tahun ketiga saat mahasiswa, aku mengajukan diri untuk magang selama dua bulan di sebuah studio penulisan buku arsitektur di ibukota. Setelah menunggu satu bulan lamanya, ternyata si bos menjawab lamaranku dan aku pun diterima menjadi staf magang! Yippie! Sekali dayung, dua tiga empat lima pulau terlampaui. Di sana aku mendapatkan banyak ilmu dan bonus bertemu arsitek-arsitek terkenal.
Kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau kok. Walaupun kuliah di jurusan X, tapi kamu juga bisa mengombinasikan X dengan passion-mu di bidang lain. Masih belum tahu apa sih sebenarnya passion-mu itu? Ke laut aja dulu.
Ke depannya, kamu yang mungkin akhirnya sadar untuk tidak terjun menjadi arsitek, kamu masih bisa bebas memilih mau jadi apa nantinya. Bisa menjadi desainer interior, kerja di kontraktor, bikin buku tentang arsitektur, jadiinstagrammer atau fotografer arsitektur, guru menggambar, bahkan bisa juga jaditravel writer, tapi menulis detail tentang arsitekturnya. Seru, kan?
Akhirnya, bagaimanapun juga, saat ini kita semua ternyata adalah arsitek. Lho, kok bisa? Ya, kita adalah arsitek untuk kehidupan sendiri. Sedangkan Tuhan adalah Maha Arsitek yang menciptakan para arsitek. Maka, tetaplah berdoa kepada Tuhan agar jurusan yang kamu pilih dan kamu rencakanan matang-matang, mau arsitektur ataupun bukan, diridhai oleh-Nya.
Setelah wisuda, aku makin percaya, belajar arsitektur empat tahun ini tidak ada ruginya. Percaya deh! Walaupun nantinya kamu mungkin bakalan jadi … arsitek rumah tangga yang baik :3
*
Adiar Ersti Mardisiwi
Mantan Mahasiswa Arsitektur,
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: