Menyusuri Surabaya, si Kota Pahlawan

Katanya, cinta tak pernah mengenal jarak. Cinta pun tak pernah mengenal waktu. Jika kau lihat ada sesuatu di hatiku yang sudah berkerak, masihkah aku perlu memberitahu bahwa aku sudah terlalu rindu?
Sepakat?
Baiklah, mari kita mulai dengan sebuah rasa rindu yang membara. Ada satu kata yang jika berani kamu sebut di hadapanku saat aku sedang berkelana, akan membangkitkan rasa rindu yang membahana.
Aku memang tak dilahirkan di kota itu oleh ibuku. Aku juga tak terlalu paham sejarah kota berlambang Ikan Sura dan Buaya itu. Jika kamu bertanya, siapa walikota nomor 2 di Surabaya? Sudah barang tentu, aku tak tahu. Namun, aku bukanlah warga baru. Tetapi jika kamu mau tahu sesuatu, dua puluh dua tahun yang lalu, aku menumpang lahir di negeri orang. Tiga setengah tahun kemudian, aku mulai mengenal surga yang katanya dinamakan “Surabaya”.
Kini, aku baru saja berumahtangga dan harus pergi dari Surabaya. Sebuah kota yang tak layak disebut kampung halaman. Baru beberapa waktu berlalu di kota tempatku mengikuti suamiku, namun sudah barang tentu, rindu ini telah bertalu-talu.
Mari kuajak menyusuri kampung halamanku ini. Siapkan kacamata, topi, dan alas kaki, karena perjalanan kita akan panjang (dan panas) sekali!
Di sebelah utara, ada kuliner yang menggiurkan. Mari kita ke Kawasan Kampung Ampel.
Setelah kita berlelah-lelah menyusuri bagian utara,  mari beranjak ke timur. Ekowisata Mangrove Wonorejo.
Hari Minggu nih, pikiran penat? Yuk, kita main ke Surabaya Carnival Night Market dan Taman Hiburan Rakyat.
Sudah waktunya Shalat Dhuhur. Mari ikut aku ke Masjid Al-Akbar yang monumental.
Sudah malam, waktunya menyantap kuliner maknyus dan membius. Kuajak kamu pergi menikmati Food Festival Surabaya. Oh ya, aku lupa, tiap tahun ada Pasar Malam Tjap Toendjoengan di sini.
Jangan kaget. Sebentar lagi kita akan menginjakkan kaki di Museum Santet. Psst, murah kok harganya.
Mari makan es krim di Zangrandi sambil menikmati ramainya lalu lintas di Surabaya. Walaupun begitu, tenang saja, Surabaya tak semacet di ibukota.
DI depannya, ada Gedung Balai Pemuda yang memiliki Rumah Bahasa Surabaya. Di sana, kamu bisa belajar gratis banyak bahasa-bahasa di dunia.
Mari berjalan sedikit ke arah barat. Kita berbelanja ke Tunjungan Plaza sambil menyusuri Jalan Tunjungan yang melegenda.
House of Sampoerna. Surabaya Heritage Track. Kamu pilih track jam berapa? Jika masih nanti, mari kita masuk ke museumnya terlebih dahulu, menikmati art gallery.
Oh ya, aku lupa, ternyata kamu juga hobi bersepeda. Mari ikuti aku ke Taman Bungkul. Di sana ada kegiatan Car Free Day yang sangat ramai tiap hari Minggu pagi. Ambil sepedamu untuk dikayuh, tapi ingat ya, jangan mengeluh
Mungkin mau salat dengan nuansa berbeda? Singgahlah ke Masjid Cheng Hoo. Di sana lah masjid berhias ornamen oriental (bernuansa Cina).
Hmm.. ada yang lupa. Kunjungi juga bangunan paling ikonik di Surabaya, Tugu Pahlawan.
Nampaknya kamu sudah agak lelah. Izinkan aku bercerita. Dengarkan, ya. Tak lama lagi, Surabaya berbenah, Monorail dan Tram akan segera dibangun.
Apartemen di beberapa bagian kota mulai terlihat batang hidungnya. Tapi janganlah kamu gundah gulana, ini waktunya pergi ke taman kota bersama sanak saudara. Beragam taman ada di Surabaya. Kunjungi saja Taman Ekspresi, Taman Apsari, Taman Bungkul yang tadi kusebut, Taman Korea, Taman Skate dan BMX, Taman Sulawesi, dan masih ada banyak lagi. Surabaya, surganya taman kota. Di sana aku dapat bersembunyi dari hiruk pikuk kota.
Jika kamu bingung kemana harus membunuh waktu di malam Minggu, ajak saja yang tercinta berwisata ke Jembatan Suramadu.
Surabaya dengan segala hiruk pikuknya. Surabaya dengan segala keras kepribadian orang-orangnya. Surabaya dan segala cinta yang ada di dalamnya. Semuanya membuatku selalu ingin cepat-cepat pulang ke rumah walaupun sudah berkelana ribuan kilometer jauhnya.
Suatu saat, mungkin aku pergi jauh dari Surabaya. Ragaku boleh jauh dari Surabaya, namun jiwaku, tak akan pernah jauh darinya.
Tahukah kamu akan walikota yang tiba-tiba namanya tersiar harum seluruh dunia? Ialah Bu Risma, ia ubah tempat maksiat menjadi tempat yang bermanfaat.
Jika sedang sangat rindu padanya, aku selalu memutar lagu Dara Puspita yang berjudul “Surabaya”.

Surabaya, Surabaya oh Surabaya
Kota kenangan, kota kenangan
tak kan terlupa
Disanalah, disanalah, di Surabaya
Pertama tuk yang pertama
kami berjumpa

Kuteringat, masa yang telah lalu
Sribu insan, sribu hati, terpadu satu
Surabaya, di tahun empat lima
Kami berjuang, kami berjuang
bertaruh nyawa

Surabaya adalah tempat bagi orang-orang bermodal nekat. Surabaya, walaupun udaranya panas dan melahirkan orang-orang berkepribadian keras.
Surabaya memang kini bukan lagi kampung. Namun, ia tempat berpulang sekaligus tempatku bernaung. Mencari arti kehidupan hingga kini pun harus pergi untuk akhirnya kembali lagi.
Akhirnya kucukupkan saja perjalanan kita bersama. Terima kasih karena kamu telah bersedia meluangkan waktu. Sesekali berkunjunglah ke kampung halamanku. Hati-hati kamu bisa jatuh cinta.
Keep traveling!
Artikel ini kutulis setahun lalu dan kuperbaiki lagi.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

2 Comments

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: