Surat Kecil Untuk Bapak dan Ibuku

Hai Ma, Hai Pa.
Oh ya, tunggu sebentar.
Aku sudah mencoba mengganti panggilanmu.
Aku panggil Ibu dan Bapak, ya.

***

Ibu,
saat ini kau sedang tertidur lelap.
Tubuhmu sudah tak seperti dulu lagi.
Sedari pagi hingga senja, kau bantu Bapak mencari nafkah,
untuk menghidupi keluarga kecil kita.
Saat malam kau menyelimuti dua anakmu,
memastikannya aman dari gangguan nyamuk,
walaupun kau selalu marah bila selimut itu akhirnya kami singkirkan
secara tidak sengaja dengan kaki-kaki kami saat tidur.

Ibu,
tak terhitung berapa kali engkau mengingatkan kami,
untuk meletakkan segala sesuatunya dengan rapi.
Namun kami hanya memasukannya ke telinga kanan, dan mengeluarkannya ke telinga kiri.

Ibu,
kau orang terpasrah yang pernah kukenal.
Mungkin jika aku menjadimu,
aku akan menangis setiap hari,
mendengarkanmu bercerita tentang apa yang terjadi setiap harinya,
membayangkan betapa kuatnya hati dan fisikmu,
di usia yang sudah separuh abad ini.

Suatu hari aku pernah menentangmu.
Pernah juga berkata ‘ah’, ‘huh’, ‘halah’ dan sebagainya padamu.
Rasanya jengkel sekali saat kau berkata padaku tak bisa mengoperasikan ini dan itu,
lalu aku berkata ‘ah, begitu saja tidak bisa.” dengan ketusnya.
Pernah aku mencoba pulang malam, bahkan mungkin dini hari.
Saat jam sudah menunjukkan angka satu.
Lalu aku pulang,
menembus lengangnya jalanan,
dan sesampainya aku di rumah,
melihatmu dan atau Bapak, masih menungguiku.
Memastikanku selamat sampai menjejakkan kaki di rumah.
Kau pun menginterogasi, dari mana aku, bersama siapa, mengapa hingga larut malam.
Seiring waktu, aku mengulanginya lagi.
Aku pun bosan dengan pertanyaan-pertanyaan itu, lalu masuk kamar dan membanting pintu,
menekuk bibir, dan membanting badan ke tempat tidur.

Ibu,
mungkin aku dulu pernah sekali waktu mengatakan hal buruk,
entah apa, aku lupa. Dan ternyata kau juga lupa, Bu.
Kau pun melayangkan spatula ke bibirku.
Berdarah, Bu. Berdarah, saat itu.
Aku pun kesakitan.
Sampai saat ini, masih terasa sakitnya jika diingat-ingat.

Ibu,
aku tak pernah mau terlahir merepotkanmu.
Tetapi, mungkin aku memang ada di dunia untuk menjadi cobaan bagimu dan Bapak.
Jika memang benar begitu, maafkan aku.

Ibu,
dulu, saat aku kecil,
bahkan mungkin sampai beberapa waktu belakangan ini,
engkau tidak mau membelikanku ini, membelikanku itu,
cukup membuatku kecewa, Bu.

Ibu,
suatu siang baru-baru ini,
aku pernah meminta sesuatu darimu,
meminta dibelikan ini dan itu,
lalu kau berkata,
“Nanti dulu ya, adikmu sedang butuh laptop.”
aku pun terdiam.
Ah ya, seharusnya aku tak boleh lagi meminta dibelikan ini dan itu.

Ibu,
tahun lalu, saat aku pergi meninggalkanmu dalam waktu yang cukup lama,
waktu yang paling lama menurutku,
aku mencoba pulang malam lagi,
dan pamanku berkata “Nanti kamu akan tahu rasanya jika sudah menjadi orangtua.”
Aku pun terdiam.
Merenung.
Benarkah begitu?

Ibu, kulihat dari bangku komputer ini,
rambutmu dihiasi warna yang memudar itu. Kelabu.
Kau tertidur dengan lelapnya, paling awal dari semuanya,
tetapi kau bangun paling pagi setiap harinya.
Memang saat ini sudah bukan kau lagi yang memasak makanan di rumah setiap harinya,
namun kau selalu memastikan makanan sudah tersedia di meja,
sebelum seluruh penduduk rumah beranjak pergi ke luar.

Ibu,
maafkan aku yang pernah menyakitimu,
membuatmu sakit hati, sakit fisik,
bahkan sakit hati dan fisik menjadi satu.
Aku memang selalu merepotkan.

Aku pernah membuatmu memikirkanku,
saat aku malas mengerjakan tugas.
Aku pernah membuatmu malu,
saat aku bertindak seperti tak pernah dididik orangtuanya di rumah.

Aku malu jika mengingatnya.
Pantaskah seorang anak berlaku seperti itu semua tadi kepada kedua orangtuanya?

Seiring waktu berjalan,
musim berganti,
aku pun berpikir dan perlahan menyadari, Ibu adalah segala-galanya,
di mana pusat keridhoanNya adalah pada ridho sang Ibunda.
***

Bapak,
bagaimana kabarmu?
Rasanya kita makin jarang bertemu.
Aku sibuk ini.
Kau sibuk itu.
Agaknya rumah makin sah jika disebut tempat transit.

Bapak,
sedari aku lahir,
kau selalu mendokumentasikan hidupku.
Jika kau tak melakukannya,
mustahil aku bisa membayangkan hidupku di masa lalu.

Bapak,
setiap peluh yang kau keluarkan,
memang untuk keluargamu,
di sela-sela kesibukanmu yang padat merayap,
hadiah-hadiah dan kejutan-kejutan selalu kau siapkan dengan sigap,
untukku, Ibu, dan adik.

Bapak,
suatu pagi Ibu berkata bahwa kau telah membelikan kebaya untuk kukenakan pada wisuda.
Aku terperanjat.
Bahkan untuk mengurus kebaya wisuda saja bukan main malasnya aku.
Kucoba kenakan kebaya itu, dan ternyata pas sekali di badanku.
Tidak terawang dan tidak panas.
Warnanya pun merah marun.
Benar-benar cocok.
Kau memang satu selera denganku, Pak.
Bahkan kau membelikan kebaya tanpa mengajak anak gadismu ini.
Dan ketika aku bertanya padamu,
bagaimana itu semua terjadi,
maksudku bagaimana kebaya itu bisa pas di badanku,
kau menjawabnya dengan sederhana,
mencobakan kebaya itu pada mbak-mbak penjaga.
Aku pun tertawa.

Bapak,
suatu hari kau minta dibuatkan buku,
namun aku tak kunjung memenuhi janjiku itu,
bahkan hingga aku diwisuda.
Namun janji tetaplah janji,
dan aku akan memenuhinya,
dan buku itu akan bertengger dengan rapi di rak buku kita nanti.

Bapak,
Ibu,
anak perempuanmu satu-satunya ini,
memohon maaf, belum bisa membanggakan kalian berdua,
bahkan di usia yang sudah dua dekade ini.

Bapak, Ibu,
maafkan aku yang terlalu merepotkanmu,
sedari dikandung badan, hingga detikku menuliskan ini.

Bapak, Ibu,
suatu hari nanti,
aku dan seseorang yang akan berjuang bersama denganku kelak,
haruslah banyak belajar darimu,
agar dapat kuat menjalani berbagai ujian hidup yang menempa,
agar dapat membahagiakanmu, seperti membahagiakan kedua orangtuanya sendiri.

Teriring doa untukmu berdua, di setiap lima waktuku.

Maafkan aku yang terlalu melankolis.
Namun, aku percaya, menulis adalah merapikan kenangan,
mengabadikan pikiran, serta menyembuhkan.

Mungkin mengasah kemampuan memasak, menjahit, dan lain-lain itu bisa dilakukan belakangan.
Yang terpenting, aku harus belajar untuk berhenti menyakiti Bapak dan Ibu terlebih dahulu.


Salam rindu dan hormat dari anak gadismu yang sedang duduk menulis dan menumpahkan air mata.

Surabaya, 23 September 2014.

 

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: