Surat Untuk (Calon) Anakku

Assalamu’alaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat, ya. Semoga kamu selalu diberi kesehatan dan perlindungan oleh Allah SWT.

Hmm… Mungkin baru beberapa tahun lagi setelah tanggal surat ini dibuat, kamu baru bisa membaca surat dari Ibu. Tetapi tidak apa-apa, biarkan saja Ibu menulis ini dulu, ya, Nak.
Saat ini Ibu masih berusia 21 tahun. Saat ini Ibu belum tahu kapan kamu akan tinggal di rahim Ibu. Ibu juga belum tahu seperti apa rupamu kelak. Tetapi Nak, izinkan Ibu bercerita sedikit, ya. Mudah-mudahan kamu mau membacanya.

Saat ini, yang Ibu pikirkan ialah kesehatanmu, Nak. Sebenarnya Ibu adalah perempuan yang kurang peduli terhadap kesehatan Ibu sendiri. Saat masih mahasiswa kemarin, Ibu sering pulang malam, tidur tidak teratur, makan dan minum sekenanya, olahraga mungkin satu tahun hanya beberapa kali, ke luar rumah tidak memakai penutup hidung dan juga sarung tangan, suka makan bervitsin, minuman bersoda dan yang manis-manis, dan masih banyak lagi… Tetapi semakin kemari, Ibu takut, Nak. Ibu takut jika kebiasaan-kebiasaan buruk seperti itu Ibu pertahankan, akan menjadikan kamu tak lahir sehat nantinya. Ibu perlahan mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk itu satu persatu. Tentunya belum maksimal. Tetapi Ibu akan berusaha.

Jujur, Ibu takut sekali. Sekarang yang ada di pikiran Ibu hanya kamu, Nak. Kalau Ibu boleh bilang, ya kamu lah yang membuat Ibu berubah. Aneh ya, ada seseorang yang bisa berubah karena seseorang yang belum ada di dunia ini? Hehehe. Biarkan saja. Nyatanya memang begitu, Nak.

Nak, sudah tugas Ibu memilihkan Bapak yang hebat untukmu. Itu sudah Ibu usahakan sejak dahulu. Sejak beberapa tahun yang lalu, Ibu tidak mau punya pacar lagi, Nak. Ibu merasa, punya pacar itu tidak ada gunanya. Lebih baik laki-laki yang serius saja langsung datang ke rumah. Semoga nanti kamu juga seperti itu ya, Nak. Oleh karena itu, Ibu sangat hati-hati dalam memilihkan Bapak untukmu. Karena nantinya kami berdua akan berkolaborasi untuk membuatmu hidup, membesarkanmu, serta menjadikanmu anak yang soleh dan atau solehah :”) InsyaAllah… Sembari kamu belum ada di dunia ini, Ibu dan Bapak akan terus belajar untuk mendidik dan membesarkanmu kelak. Nanti akan Ibu ceritakan bagaimana cara memilih lelaki yang baik.

Nak, Ibu tidak mau lagi bermain-main dalam hidup ini. Ketika Ibu ingin bermain-main, Ibu selalu ingat kamu. Rasanya waktu ini harus dimanfaatkan secara maksimal sebelum kamu ada di dunia. Ibu tidak mau jika nanti kamu sudah lahir, Ibu dan Bapak belum bisa mengurusmu. Makanya, waktu yang ada saat ini Ibu gunakan untuk membaca buku, mengikuti seminar, kelas gratis, membaca artikel, bertanya-tanya pada yang ahli, serta merencanakan konsep mendidikmu kelak, Nak.

Ibu tidak mau gagal dalam mendidik dan membesarkanmu. Ibu ingin nantinya kita sama-sama bisa bertemu di Surga, Nak. Semoga malaikat turut mengamini.
Oh ya, sementara sekian dulu ya, Nak. Ibu mau melanjutkan aktivitas yang lain dulu. Nanti akan Ibu ceritakan lebih lengkap ketika kita sudah bisa berkomunikasi saja, ya. Nanti Ibu ingin sekali membacakanmu cerita setiap hari, sejak kamu bisa membuka mata dan melihat dunia.

Eh, sebenarnya, Ibu tidak tahu, nanti kalau sudah besar kamu akan membaca tulisan ini atau tidak. Ibu pun tidak tahu, ketika kamu membaca surat ini, Ibu masih hidup atau tidak. Ibu pun lebih tidak tahu lagi, kamu nantinya akan lahir ke dunia atau tidak. Tetapi yang Ibu tahu… Ibu cinta padamu, Nak. Jauh… jauh sebelum kamu ada di dunia ini, Ibu sudah mencintaimu.

Terima kasih sudah mau membaca surat dariku, Nak.

Surabaya, 24 Oktober 2014. 
Dari Ibumu.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: