Tibalah Waktunya Berdamai dengan Diri Sendiri

Tibalah Waktunya Berdamai dengan Diri Sendiri

#hari3 #tantangan10hari #komunikasiproduktif #kuliahbunsayiip

DAILY REVIEW KELUARGA SURGA

Tanggal: SABTU, 4 FEBRUARI 2017

Tempat: Mobil Uber -> Rumah Orangtuaken -> Griya Keluarga Surga

Daily review keluarga Surga merupakan forum keluarga inti kami yang dilaksanakan setiap hari untuk mengevaluasi apa yang sudah kami lakukan, akan kami lakukan, serta hal menarik apa yang kami temukan. Sebisa mungkin kami libatkan anak untuk mengikuti review ini walaupun dia belum bisa mengerti, agar dia mendengarkan.

***

WHAT’S INTERESTING

Forum Daily Review keluarga kami kali ini dilaksanakan di perjalanan kami dari rumah ke rumah orangtua saya naik Uber. Lalu dilanjutkan di rumah orangtua.

Oke langsung saja cerita tentang topik hari ini. Dilihat dari judulnya, topik hari ini masih mirip dengan hari kemarin. Tentang berdamai. Tapi kali ini berdamai dengan seseorang yang paling dekaaaat dengan kita. Siapa? Tunjuk diri sendiri.

Di sesi komunikasi produktif hari ini, saya ingin berfokus menjadi pendengar yang baik. Saya berusaha mendengarkan setiap penjelasan suami saya tentang seminar yang dia ikuti hari ini. Oh iya, sekedar info, suami saya suruh ikut sesi hening Adjie Santosoputro atau Adjie Silarus, si mindfulness practicioner itu. Sesi hening kali ini berjudul “Berdamai dengan Diri Sendiri”. Sesi itu diadakan di Sittara Resto, sebuah restoran makanan India di Jl. Hayam Wuruk, Surabaya.

Setengah hari saya ditinggalkan suami di rumah dan saya membebaskan dia untuk menikmati acara itu. Padahal sebenarnya saya yang kepingin dan butuh banget berdamai dengan diri sendiri. Hehehe.

Damai banget kan, liat gambar ini? Benar, saya juga ingin sedamai ini kepada diri saya sendiri.

Nah, balik ke topik. Jadi, selama di mobil Uber, di rumah orangtua, sampai sepulang acara pernikahan sekalipun, suami saya terus mempresentasikan hasil seminar yang dia ikuti tadi. Saya pun berulangkali terperangah, tersenyum, trenyuh, dan sedih ketika mendengarkan dan melihat handout seminar tersebut.

Ada apa gerangan dengan materi “Berdamai dengan Diri Sendiri?” Ternyata selama ini saya terkena penyakit membenci diri sendiri. Penyakit itu sudah dalam tahap akut. Mungkin pikiran saya ini 50%nya untuk membenci diri saya sendiri. Alhasil saya jadi suka mengeluh, suka menyalahkan, suka terburu-buru/tidak menikmati momen/kurang mindful, suka berprasangka, suka iri, dan lain-lain.

Suami bercerita tentang dirinya yang ingin menyadari dan memaafkan sifat perfeksionisnya. Lalu saya berkaca pada diri sendiri, apa sebenarnya yang ingin saya sadari dan maafkan?

Di hari ketiga ini, kami mencoba menikmati pembicaraan walaupun sesi harus dipisah menjadi tiga tempat. Mengapa seperti itu? Karena kami ingin benar-benar utuh menyampaikan-menerima informasi dari seminar sehingga tidak ada yang miss. Kami ingin semua jelas tersampaikan sehingga terasa manfaatnya.

Mindfulness: sadar utuh hadir penuh, di sini – kini.

WHAT’S CHANGED

Pertama, kami tetap bisa melakukan komunikasi produktif walaupun sesi komunikasi tidak dilakukan di rumah. Bahkan terbagi menjadi tiga subsesi, yaitu di mobil, di rumah orangtua, dan di rumah sendiri. Yang kedua, saya makin bisa fokus mendengarkan penjelasan suami karena saya beri dia kebebasan menjelaskan semua isi seminarnya. Memang sesekali saya masih tidak sabar untuk ingin menimpali perkataan suami di tengah ia asyik menjelaskan. Saya keburu ingin menimpali perkataannya. Entah cuma ingin berkata “Eh tapi kan blablabla” atau “Oh jadi gitu, kalau gini blablabla” padahal ia belum selesai bicara. Ketiga, kami jadi saling menatap, tersenyum, menggunakan bahasa tubuh, dan benar-benar menikmati sesi komunikasi ini. Kami senang komunikasi dilakukan di akhir hari karena malam di rumah kami benar-benar hening. Terakhir, alhamdulillah setelah suami panjang lebar menceritakan ke saya, di penghujung malam, saya bisa tersenyum, memandang diri dengan penuh syukur, memandang anak suami dengan penuh cinta, mengecupnya, lalu menulis tulisan ini dengan penuh energi.

 

Ciptakanlah surga sebelum Surga di rumahmu.

Salam sejuk,

Keluarga Surga

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

2 Comments

  1. Aku paling suka tulisan yang ini. Meski kelihatannya sedikit dan sederhana tapi aku bisa belajar banyak. Terima kasih ya, Mbak Ecci 🙂

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: