Tips Membuat Proyek Keluarga

Masih ingat proyek-proyek keluarga yang sempat Keluarga Surga buat selama 10 hari kemarin? Kali ini, saya ingin berbagi cerita tentang suka duka membuat proyek keluarga. Di bagian setelahnya, ada sedikit tips bagaimana membuat proyek ala keluarga kami.

Silakan mampir dulu ke: Keluarga Surga Ready for Ramadan: My Family Project Institut Ibu Profesional

Selama 10 hari, kami membuat proyek keluarga untuk dijalankan bersama. Sukanya banyak. Dukanya, kadang harus gantian. Ketika saya sedang menjalankan proyek, si kecil bersama ayahnya, dan sebaliknya. Tapi kadang, si kecil juga kami ajak terlibat agar ia tahu apa yang sedang orangtuanya kerjakan. Misalnya saat membersihkan rumah, si kecil saya gendong keliling rumah sambil membereskan mainan, melipat karpet, dll.

Walaupun tantangan dari Institut Ibu Profesional hanya 10 hari, tapi kami masih terus melanjutkannya dengan proyek harian kami: Senin Sedekah, Selasa Santai, Rabu Babu, Kamis Romantis, Jumat Sehat, Sabtu Kuliner, dan Minggu Bertamu. Semua itu kami buat agar kami tidak bosan. Terutama, kami adalah suami-istri yang kerjanya dari rumah saja. Tentunya diperlukan banyak variasi kegiatan untuk mencegah kebosanan.

Tips membuat proyek keluarga a la Keluarga Surga:

  1. KONSISTEN! Tidak ada kesuksesan tanpa konsistensi. Di Keluarga Surga, sangat sulit untuk menerapkan konsistensi. Tapi, tantangan Institut Ibu Profesional-lah yang membuat kami berusaha konsisten. Alhamdulillah cukup bisa menyetorkan tulisan setiap hari.
  2. Jalani dengan Bahagia. Apa gunanya kalau proyek selesai, tapi yang ada hanya capek, mengeluh, dan saling menyalahkan ketika proyek tidak berjalan lancar. Yang penting semua anggota keluarga bahagia, terlibat, dan menikmati (sadar penuh hadir utuh) saat melaksanakan proyek-proyeknya.
  3. Tidak Berhasil Tidak Apa-Apa. Fokuslah pada proses, bukan hasil. Yang penting semua anggota keluarga sudah berusaha menjalankannya dengan sebaik mungkin. Apalagi kalau masih ada anak bayi, seperti keluarga kami, sering ditemui proyek yang kurang mencapai target maksimal.
  4. Libatkan Semua Anggota. Libatkan semua, ayah, ibu, nenek, kakek, tante, om (kalau ada), bahkan anak yang masih bayi. Kekompakan keluarga kita diuji saat membuat proyek-proyek keluarga ini. Supaya kompak di luar, kita harus mulai dari kompak di dalam, dong? 🙂
  5. Fokus dari Masalah dan Mulailah dengan Bismillah. Di awal, kami mendata masalah-masalah apa saja yang ada di keluarga kami. Lalu kami mulai dengan memberi nama (naming) proyek keluarga yang akan kami jalankan. Nama yang dipilih diusahakan seru dan membangkitkan semangat. Ketika sudah terkumpul, tentukan PJ, atur jadwal, target, dan alat yang dibutuhkan. Mulailah dengan bismillah!

Terima kasih untuk suamiku yang sudah mau direpoti untuk ikut tantangan ini. Semoga keluarga kita semakin kompak luar-dalam. Terima kasih banyak untuk anakku yang mau diajak orantuanya untuk seru-seruan yang bermanfaat. Ayah Ibu ingin mengajarkan betapa pentingnya kekompakan keluarga, Nak. Apalagi keluarga kita bervisi surga. Harus benar-benar kompak!

Walau banyak kurangnya, target belum tercapai, tapi kami jalani semua dengan bahagia dan dengan bismillah.

Terima kasih kepada Institut Ibu Profesional yang telah memberikan tantangan menarik untuk para keluarga di Indonesia. Semoga tantangan di tugas berikutnya lebih menarik dan kreatif lagi!

Untuk Indonesia yang Lebih Kuat dari Keluarga

Siswi Institut Ibu Profesional,

Adiar Ersti Mardisiwi

NB: Tulisan ini dibuat dalam rangka tugas Aliran Rasa Materi ke-3 IIP Bunda Sayang

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: