Tulisan Kolaborasi: Bukan Bromo Biasa


Tulisan dan foto-foto di bawah ini merupakan kolaborasi oleh: Alifia Nurrizky Virrayani dan Adiar Ersti Mardisiwi.

Bulan kedua, tanggal ketujuh, tahun keduaribu tigabelas. Hari itu akan selalu kami ingat untuk selamanya. Hari itu adalah pertamakalinya saya, Vira, mengemudikan kendaraan di tempat menanjak dan berliku. Tidak main-main, kali ini destinasi liburan saya dan empat orang teman saya saat itu adalah Gunung Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Welcome to Bromo!

Awalnya, kami hanya ingin liburan murah ke Bromo karena tanggal itu sudah sangat dekat dengan tanggal awal perkuliahan kami di semester baru. Segala kemungkinan sudah kami perhitungkan untuk meminimalisasi pengeluaran dana dan pilihan kami adalah membawa kendaraan sendiri ke tempat tujuan.

Topi ala Bromo yang sangat terkenal.

Sore itu, jalanan yang menanjak lumayan membuat perasaan kami seperti naik roller coaster. Mengikuti arah jalan yang menanjak, berkelok-kelok, menurun, lalu naik lagi dan begitulah seterusnya.  Jalanan saat itu cukup lengang, mungkin karena menjelang Maghrib. Sempat mobil sewaan kami saat itu ‘bertatap muka’ dengan kendaraan lain di sebuah tikungan. Momen itu membuat saya deg-degan. Mobil kami mundur perlahan-lahan, dan teman-teman saya pun sempat panik. Apalagi saya. Namun beruntunglah kami, hal itu dapat kami lalui hingga akhirnya sampailah kami di Cemoro Lawang, tempat kendaraan diparkir setelah sekitar empat jam perjalanan. Kami tidak heran, daerah tersebut ditumbuhi banyak sekali pohon Cemara. Beberapa penduduk setempat dengan menggunakan sarung tenun khas daerah tersebut menawarkan villa, hotel, dan berbagai tempat penginapan untuk kami. Namun, kami telah memutuskan sejak awal, untuk menghemat biaya dengan menginap di dalam mobil kami.

Lapar. Makan di Warung Tante Tolly.

***

Hari mulai gelap, seharusnya kami lelah karena telah menghabiskan waktu empat jam perjalanan. Tetapi semua itu tidak terasa ketika kami melihat bintang yang luar biasa bertaburan di langit yang pekat. Seperti halnya berlian yang ditaburkan begitu saja di suatu permukaan yang luaaaas sekali!

Setelah itu, saya Ersti, dan Ciput, junior saya di kampus yang baru kenal hari itu juga, membeli topi khas Gunung bromo, kami segera mengabadikan momen indah berlima hingga lelah, kemudian bermain dan bercerita-cerita bersama hingga menjelang pergantian hari. Setelah dirasa cukup, kami bergegas untuk tidur supaya dapat bangun pada pukul 3 pagi. Kami sengaja berangkat dari Surabaya pada siang hari, supaya pada malam harinya dapat kami gunakan untuk beristirahat dan paginya untuk melihat matahari yang menyibakkan sinarnya dari sela barisan pegunungan.

Beratapkan langit bertabur bintang, beralaskan tanah.

Lalu tibalah pada saat yang telah kami tunggu. Dini hari menjelang Subuh, dengan mata yang masih sangat ingin dipejamkan, kami bertekad berjalan dalam gelap, menembus segala batas demi mencapai tujuan akhir. Berkali-kali kami menolak tawaran para penduduk untuk mengantar kami dengan sepeda motor ataupun Jeep menuju Penanjakan. Jalanan saat itu gelap sekali karena sepanjang perjalanan menuju ke puncak Gunung Bromo memang tidak ada lampu, kami hanya mengandalkan penerangan telepon genggam kami yang setiap beberapa menit cahayanya meredup. Beruntunglah kami, lagi-lagi, lampu-lampu sorot Jeep dan ojek yang sesekali melintas sedikit membantu mengarahkan kami menuju jalan yang benar. Kami tidak dapat melihat dengan jelas, kaki-kaki kami hanya meraba jalanan aspal yang tidak mulus, pasir yang di berapa sisi menggunung dan jalanan yang cukup menanjak. Semua itu membuat kami agak membungkuk melaluinya.

Setelah melalui perjalanan buta di pagi buta tersebut, sampailah kami pada tangga yang konon katanya, setiap orang yang menghitung akan menghasilkan jumlah yang berbeda-beda (karena capai menaikinya). Setelah sukses melewatinya, duduklah kami di atas kawah yang mengepulkan asapnya dan meniupkan bau belerang ke hidung-hidung kami. Indah sekali!

Mengepul di udara.

Fajar di bromo.

Tangga menuju puncak.

Beberapa saat setelah kaki kami menapak di Gunung Bromo, kami membentangkan sajadah untuk melaksanakan salat Subuh. Mungkin itu adalah salat terkhusyuk kami, karena di antara kebesaranNya yang nyata, kami bersujud kepadaNya. Kami pun duduk berjejer berlima, saling menghangatkan badan yang menggigil, bahkan sampai matahari pagi menyapa kami dengan menyemburkan warna yang luar biasa indah. Jauh lebih indah dari sekadar lukisan di atas kanvas. Ini adalah lukisan terindah yang pernah kami lihat. Lukisan dari atas gunung suci, Brahma.

Salat Subuh di puncak Gunung Bromo. (Kanan: Gunung Batok)

Pukul delapan pagi, kami meninggalkan area Gunung Bromo setelah makan bakso yang hangat di dekat tempat pangkalan ojek motor. Kami berlima pun memutuskan untuk kembali ke tempat parkir mobil dengan menggunakan ojek motor. Sepuluh ribu rupiah kami keluarkan masing-masing dari dompet kami untuk membayar jasa pak ojek yang begitu perkasa melewati jalanan penuh pasir dan bebatuan.

Sudah mirip film ‘5 cm’ belum ? (Kiri-kanan: April, Ersti, Vira, Ciput, Riyan)

Penanjakan dilihat dari puncak Gunung Bromo.

Suasana di sekitar parkir sepeda motor.

***

Akhirnya, 2392 meter di atas permukaan laut, kami berlima ada di sana pada hari Jumat, 8 Februari 2013. Ibu Pertiwi, satu kekayaan yang Kau miliki telah berhasil kami nikmati. Bersiap untuk destinasi mendadak selanjutnya!



Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: