[Tulisan]: Wonderful Wife?

Duapuluh satu. Sebuah usia pada fase di mana seseorang mulai bisa dikategorikan ideal untuk berkeluarga. Sekarang saya sedang menapaki usia itu. Nah, inilah saat yang tepat dan belum terlambat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, berkontribusi seluas-luasnya, sebelum benar-benar berkeluarga nantinya. Oleh karena itu, melabuhkan diri di komunitas-komunitas, berlari mencari majelis-majelis ilmu, dan berdiskusi dengan yang sudah lebih berpengalaman agaknya menjadi agenda sehari-hari saya (dan mungkin sebagian dari Anda) dalam mengisi hari-hari di usia duapuluhan ini. 


Suatu malam, tersebutlah sebuah post hasil share dari seorang kawan, di laman facebook yang saya baca sambil tiduran santai di ruang keluarga. Post yang cukup panjang, namun menarik. Karena berlabel GRATIS. Hahahaha. Ya, itulah post tentang komunitas To Be Wonderful Wife, yang disingkat To Be WoW. Saya perhatikan kembali isi post tersebut beberapa kali dan setelah meyakinkan diri, saya segera mendaftar ke nomor WA yang tersedia di poster acara. 


Menciptakan generasi penerus yang beradab, dimulai dari sekarang. Kapan? Sekarang. Ya, sekarang. Bukan nanti, bukan besok, bukan dua atau lima tahun lagi. Mengapa sekarang? Karena saya yakin, tak ada yang tahu mengenai usia seseorang. Bisa jadi kita sudah tak ada umur sedetik lagi. 

Yup, daripada kebanyakan bicara, lebih baik langsung saja saya share materi kopdar pertama komunitas To Be WoW di SDIT Al Uswah pada tanggal 25 Mei 2014 kemarin. Catatan ini saya ambil dari tobewow.wordpress.com:

Ahad, 25 mei 2014
Oleh: Euis Kurniawati
Dalam perbincangan seputar pernikahan, seringkali kita mendengar istilah “menyegerakan atau tergesa-gesa?”
Sebenarnya apa yang membedakan 2 kalimat ini? Apakah soal berapa lama kita ada dalam masa penantian? Ataukah tentang seberapa cepat dan pada usia berapa kita bertemu sang pangeran dan bersanding di pelaminan?
Ternyata tak sepenuhnya demikian.
Menyegerakan dan tergesa-gesa lebih pas jika dimaknai dalam konteksnya seberapa lama persiapan yang kita lakukan untuk menuju gerbang pernikahan. Ia berbicara masalah waktu dan seberapa matang persiapan.
Ust Salim A.Fillah misalnya, beliau menikah di usia 20 tahun. Tapi sejak usia 15 tahun beliau telah mempersiapkan diri. 5 tahun persiapan. Ini namanya menyegerakan.
Berbeda dengan seseorang yang menikah di usia 30 tahun misalnya, tapi baru melakukan persiapan dengan penuh kesadaran 6 bulan sebelum menikah. Ini masuk kategori tergesa-gesa.
Beberapa tahun lalu, saat saya masih bujang, saya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek di kota Batu. Saat itu hampir tengah malam, kami berhenti sejenak dan saya turun dari mobil untuk pesan nasi goreng di seberang alun-alun kota apel ini. Ternyata di sana sudah ada beberapa anak punk yang ngumpul dan ngobrol heboh. Secara fisik penampilan mereka tidak jauh beda dengan anak-anak punk kebanyakan. Rambut di cat warna warni, pakai tindik di beberapa titik, pakaian dominan hitam dan bertampang “sangar”. Bukan berniat mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi karena volumenya tidak kecil, mau ndak mau saya juga bisa ikutan dengar.
Ada yang menarik, saat salah satu dari mereka bercerita dengan sangat antusias tentang pacar barunya. Tentang keindahan fisiknya, tentang kemolekan tubuhnya, tentang kelincahan sikapnya. Wow banget deh menurutnya. Tapi tiba-tiba ada salah seorang diantara meraka yang tanya: emang kamu mau jadikan istri?
Spontan dijawab oleh sang pacar: ya enggak lah.. Yang bener ajaaa. Aku kalau cari istri ya yang sholehah, minimal jilbaban, biar bisa ndidik anak-anakku ntar!”
Mak jlebbbbb..
Saya terkejut dengan jawaban spontannya.
Anak-anak punk yang dalam bayangan saya agak “ngeri dan sesuatu” ternyata mereka juga mendambakan sosok istri yang baik sebagai pendamping hidupnya dan ibu dari anak-anaknya kelak.. Ma sya Allah…
Apalagi kita, in sya Allah.. Pasti juga mendambakan sosok suami yang baik, yang shalih dan bisa menjadi imam bagi kita dan anak-anak kita kelak.
Tapi pertanyaannya adalah : apakah kita sudah mempersiapkannya??? Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan? 
5 persiapan menuju pernikahan
Paparan berikutnya hanya bersifat preview. Materi lebih detail akan disampaikan di pertemuan-pertemuan berikutnya oleh pemateri yang sesuai bidangnya.
1. Persiapan Ruhiyah / Mental
A. Ujian & Tanggungjawab
Persiapan mental kita menuju pernikahan adalah dengan membangun wacana yang benar, meletakkan paradigma yang proposional tentang sebuah organisasi bernama pernikahan. Bahwa ia tidak hanya berisikan sebuah keindahan dan segala hal yang menyenangkan semata. Akan ada ujian dan tanggung jawab besar disana.
Kita dapati sosok mulia Ibunda Khadijah, misalnya. Lembut, keibuan, dermawan, kaya, support perjuangan dsb. Semua laki-laki pasti tidak menolak jika dapat sosok istri seperti itu. Tapi tidak semua laki-laki siap beristri dengan wanita yang rentang usianya jauh diatasnya. Jika ia bersedia, belum tentu keluarga besar kedua belah pihak bisa menerimanya. Apalagi budaya masyarakat saat ini yang ada stigma kurang pas kalau anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang lebih muda.
Ngomong-ngomong saya termasuk yang ini lho. Kebetulan Allah menjodohkan saya dengan berondong ganteng yang usianya lebih muda 2 tahun dari saya. Hhehehe,
Kita dapati pula sosok Aisyah yang tidak hanya shalihah, tapi juga cantik, cerdas, dan lincah. Semua laki-laki pasti ingin mendapatkan sosok demikian, tapi tidak semua laki-laki siap menghadapi sikap cemburu beliau yang bisa banting piring di depan tamu..
Dalam pernikahan selalu ada ujian. Ujian tentang bagaimana beradaptasi dengan laki-laki asing yang menjadi suami kita berikut keluarga besar beliau dengan karakter atau latar belakang yang tak sama, misalnya.
Contoh, saya beberapa kali menjumpai ada diantara kawan-kawan yang sering update status di FB ataupun status di bbm dan berkeluh kesah tentang sikap suaminya. Terkadang bahkan masalah yang sangat sederhana tapi bisa memicu ketidaknyamanan. Misal pencet pasta gigi dari tengah, padahal kebiasaan kita pencet dari bawah. Misal kalau habis makan kotoran di piring tidak pernah dibuang langsung ke tempat sampah padahal kebiasaan kita sebaliknya. Misal suami tidak pernah mengembalikan barang-barang di tempat semula dan ditaruh berserakan, padahal kita memiliki kebiasaan rapi. Dan sebagainya.
Yang jadi pertanyaan; Kenapa di publish di medsos? Entahlah, beberapa mengaku biar suaminya tersindir dan sadar. Beberapa mengaku suaminya gak bakal tahu karena memang gak punya FB, postingan itu sekedar untuk menyalurkan emosi dan bikin plong.

Tapi apakah memang demikian penyikapan yang tepat? Apakah tidak justru memicu permasalahn lain di kemudian hari?
“Kalau kita menikah karena kecantikannya, tunggulah sampai Allah mempercepat buruk wajahnya.”Tampan : nilainya 0Kaya : nilainya 0Keturunan terhormat : nilainya 0Kalau dapat suami yang baik agamanya nilai 1Dapat suami baik agama, dan ganteng/kaya nilainya 10Dapat suami baik agama, ganteng, kaya, dari keturunan terhormat, wah itu yg asyik. Bonusnya banyak. Hehehe,Hmm..Men are from mars, women are from venus karya Jhon Gray. Ndak terlalu mahal kok, sekitar 45.000. Kalau di Surabaya bisa cari di TB Togamas Pucang. *bukan iklan :pIstri: Bajunya bagus yah?Suami: Ambil aja. Beli lah..Istri: Tapi mahalSuami: Demi istriIstri: Lagi banyak keperluan bulan iniSuami: Ya udah ga usah beliIstri: … Hmm, ok, mau deh beliSuami: ……….Istri: Aku bagus ga pake ini?Suami: BagusIstri: Tapi kayaknya aku kelihatan gemuk kalau pake iniSuami: Ya udah pake yang lain *solutif*Istri: Tuh kaaaaan… AKU GEMUK!Suami: -_-’Suami: Aku anter yaIstri: Ga usah, aku bisa sendiriSuami: Ok dehIstri: Jadi… Mas tega aku pulang sendiri!Suami : @_@@ID_AyahASI @aimi_asi @tipsmenyusui untuk belajar.“Ma, Pak Adri memang saat ini ndak berpenghasilan tetap, tapi in sya Allah yang penting beliau tetap berpenghasilan. Walaupun kami gak pernah pacaran, tapi saya lebih mantap kalau meneruskan proses dengan beliau, daripada dengan anak teman mama yang dokter itu. Dia nggak “ngaji” seperti aku, Ma. Ngerokok lagi.. Bismillah Ma, kalau memang Pak Adri yang dipilih Allah jadi pendampingku, aku ndak terlalu khawatir kesulitan ekonomi kedepannya. Aku yakin nikah itu mengkayakan. Yakin, karena itu janji Allah. Gak mungkin kan Allah mau ingkar janji?”Dan alhamdulillah, sekitar 7 bulan juga kami menempati kos-kosan hingga akhirnya Allah beri rizki dari arah yang tak terkira dan bisa beli rumah sendiri (tanpa subsidi dari orang tua maupun saudara) di kawasan perumahan yang nyaman, 5 menit dari kampus ITS. Impian yang dulu kami pikir bisa diraih saat setidaknya sudah 10-15 tahun berumah tangga, tapi Alhamdulillah terwujud saat belum genap 2 tahun pernikahan. Mohon maaf, tiada maksud menyombongkan diri. Bukan karena hebatnya kami, tapi mutlak karena Rahmat dan karunia dari Allah. Cerita ini disampaikan semoga bisa makin meyakinkan kita bahwa janji Allah itu benar. Jangan pernah takut miskin karena menikah, karena Allah pasti memampukan. Lebih bersyukur lagi ketika hikmah ini pun akhirnya di-aamiin-i pula oleh orang tua dan keluarga. Bahagia… Syukur kami tiada henti…

Kita juga berbicara Tanggung jawab yang tak ringan terlebih saat telah dikaruniai keturunan, misalnya. Itulah kenapa dikatakan menikah itu memenuhi setengah agama. Karena tanggung jawabnya pun tak ringan.
Itulah kenapa paradigma yang benar dalam memandang pernikahan harus benar-benar kita siapkan sejak awal, biar ndak terkejut dan shock saat menghadapinya. Biar kita juga siap dengan berbagai sikap yang bijak dan tepat saat menghadapinya. Bahwa menikah tak sekedar berbicara tentang cinta dan romantisme, tapi ada ujian dan tanggung jawab besar yang menyertainya.
Pada pertemuan-pertemuan berikutnya akan dibahas detail tentang ini, in syaa Allah.
B. Syukur dan Sabar
Persiapan ruhiyah/mental yang kedua adalah dengan membangun paradigma kita bahwa pasti akan dipergilirkan antara nikmat dan ujian, dipergilirkan suka dan duka, dipergilirkan gelak tawa dan derai air mata. Itulah kenapa sabar dan syukurpun akan menjadi sebuah keniscayaan dalam biduk rumah tangga. Hanya saja sisi-sisi kemanusiaan kita lebih sering mudah bersyukur saat kondisi lapang, tapi sulit bersabar dalam kondisi yang sulit dan sangat tidak menyenangkan. In sya Allah dipertemuan-pertemuan berikutnya akan dibahas detail tentang masalah ini. Misal tentang bagaimana manajemen konflik dengan pasangan atau keluarga, dan sebagainya.
C. Mengubah Ekspektasi Menjadi Obsesi
Persiapan ketiga dalam lingkup ruhiyah atau mental ini adalah berbicara tentang mengubah espektasi menjadi obsesi. Apa maksudnya?
Seringkali saat masih single kita berharap, berespektasi kelak mendapatkan sosok suami yang shalih, yang bisa jadi imam yang baik untuk kita. Tidak salah, memang. Tapi akan “sakit dan mengecewakan” jika espektasi ini ternyata tidak kita dapati dalam dirinya kelak.
Alangkah indah seandainya kita ubah espektasi ini menjadi sebuah obsesi. Berpikir, kira-kira apa ya yang bisa aku lakukan untuk suamiku kelak agar ia bisa jadi imam yang baik untukku? Apa ya yang bisa aku bantu nanti saat sudah menikah agar suamiku bisa jadi ayah juara untuk anak-anakku, dan sebagainya.
D. Menata Ketundukan pada Semua Ketentuan-Nya
Persiapan keempat dalam dimensi Ruhiyah/mental selanjutnya adalah menata ketundukan pada semua ketentuan-Nya. Memastikan bahwa semua on the track dalam tiap prosesnya. Jika menikah adalah sesuatu yang baik, maka segala sesuatunya kita pastikan juga baik dalam versi-Nya.
Baik saat menyiapkannya.
Baik saat dalam proses menuju pernikahannnya (berkenalan, lamaran, dan sebagainya).
Baik pula saat mengarungi bahtera berikutnya..
Dulu sebelum menikah saya pernah membaca salah satu buku karya penulis favorit saya, Ust. Salim. A. Fillah.
Mungkin sering kita dengar tentang hadits bahwa wanita (dan sebaliknya bagi laki-laki) dinikahi karena 4 hal bukan? Karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan karena agamanya.
Tapi saat itu saya terhenyak dengan redaksi lainnya yang kurang lebih begini (ndak hafal, buku pas lagi dipinjam):
Maksudnya kalau ada laki-laki tampan yang datang meminang bukan berarti kita terima pinangannya nunggu dia nggak ganteng lagi lho ya.. Hehehe, Tapi kalau kita menikah karena gantengnya, silau dengan ketampanannya, maka bisa jadi dia akan menjadi suami kita tapi setelah itu Allah akan mempercepat hilangnya ketampanan yang kita puji-puji itu..
Begitu juga dengan 2 hal yang lainnya.
Kalau kita menikah karena keturunannya, tunggu saja sampai Allah membuka aib dan menurunkan kehormatannya.
Kalau kita menikah karena hartanya, tunggu saja sampai Allah menghilangkannya.
Apakah berarti kita tidak boleh menikah dengan laki-laki yang ganteng, kaya dan dari keturunan terhormat? Tentu saja bukan demikian. Di sini menegaskan bahwa kebaikan agama lah yang jadi standar utama kita.
Agama : nilainya 1
Kalau dapat suami tampan dan kaya. Berarti nilainya 0
Menata ketundukan pada-Nya dalam tiap proses, termasuk untuk urusan niat. Ini pengalaman pribadi, menjadi hikmah pribadi setidaknya bagi saya dan suami.
Niat kami berdua in sya Allah seperti pasangan lainnya. Menjalankan perintah agama, mengikuti sunnah, menghindari fitnah, membentuk keluarga dakwah yang nantinya bisa bermanfaat bagi kebaikan lingkungan masyarakat dan bangsa yang lebih luas. Tidak ada yang salah menurut kami dengan niatan ini. Tapi saya dan suami punya lintasan pikiran yang lain. Mohon digaris-bawahi. Lintasan pikiran. Bukan niatan.
Saat itu suami punya lintasan pikiran bahwa kalau sudah nikah enak ntar punya PW alias Pendamping Wisuda saat seremonial kelulusan. Yap, kami menikah memang saat suami saya masih berstatus mahasiswa, semester 9. Kondisi “mengharuskan” suami nambah 1 semester karena amanah masa jabatan beliau sebagai presiden BEM Unair saat itu belum tuntas. Hmm, pendamping wisuda. Pasti asyik ya, ada yang bisa digandeng saat wisuda. Tapi kondisi real ternyata berkata lain. 14 Maret kami menikah, April ternyata Alhamdulillah saya positif hamil. Dan di bulan April itu juga suami akan wisuda. Tapi beberapa hari sebelum yudisium saya mengalami pendarahan hebat yang mengharuskan saya bedrest 1 minggu lebih di tempat tidur dan melewatkan impiannya bergandengan saat wisuda. Tapi Alhamdulillah kandungan saya masih bisa dipertahankan sampai lahir Tsabita Kamila Hasana, putri pertama kami.
Niat saya menikah seperti tadi disebutkan di atas. Tapi saya juga punya lintasan pikiran, bukan niatan. Ah, enak ntar kalau sudah nikah ada yang nyari maisyahndak lagi ngerepotin orang tua, ndak perlu bingung masalah maisyah.
Tapi yang terjadi berbeda. Setelah menikah kami sepakat keluar dari rumah orang tua untuk segera belajar mandiri dan di sana saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan lintasan pikiran tadi. Kami pernah ada dalam kondisi minim uang. Pernah hanya bisa beli telur 2 biji, beras 2 kg. Pernah juga “terpaksa” beli soto ayam di langganan kami yang hanya dengan uang 5000 bisa dapat kuah soto plus potongan ayam yang tidak sedikit. Kenapa beli soto? Biar kalau kuah sotonya habis, sisa potongan ayamnya bisa dicuci dan diolah lagi untuk bikin sop dan sebagainya.
Saat itu kami mencoba introspeksi dan baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada bulan-bulan di awal pernikahan kami saat itu MUNGKIN adalah teguran Allah untuk meluruskan paradigma kami. Bagi suami saya, PW mungkin tidak perlu dijadikan sebuah lintasan pikiran apalagi naudzubillah jika menjadi pemicu kesombongan. Bagi saya, kesulitan ekonomi saat itu seolah menjadi tamparan keras dari Allah untuk mengingatkan bahwa rizki itu bukan dari suami. Tapi mutlak dari Allah Sang Penjamin Rizki..
Berdua kami tersadar, menangis dan beristighfar bersama. Memohon ampun atas khilaf yang mungkin tidak pernah kami sadari selama ini dalam melalui proses menuju pernikahan. Alhamdulillah sejak saat itu kehidupan rumah tangga termasuk kondisi ekonomi kami berangsur-angsur membaik.
Cerita lain. Ada seorang kawan yang bercerita tengah berproses dengan seorang laki-laki. Dari cerita beliau saya merasa intensitas dan cara berkomunikasinya kurang ahsan dan perlu dibenahi.
Tidak berdua-duaan seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram melainkan ketiganya adalah syetan. Yup, tapi apakah makna berdua-duaan itu hanya dalam dimensi fisik saja? Kalau sms-an, bbm-an, inbox FB, mention-mentionan di twitter, apakah jugandak termasuk dalam konteks berdua-duaan??
Menurut saya, itu termasuk berdua-duaan.
Kembali ke cerita. Saya merasa beliau dan calonnya perlu membenahi pola komunikasi mereka. Biarpun sudah khitbah atau dilamar sekalipun, belum tentu dia akan jadi suami kita. Loh kok? Iya lah. Sebelum ada ijab qabul alias akad yang diucapkan belum bisa dikatakan dia PASTI akan jadi suami kita bukan? Pernah ada cerita di ujung pulau Jawa, seorang perempuan yang akan menikah, semua persiapan sudah matang dilakukan, undangan telah disebar, kwade-catering telah di pesan, bahkan souvenir bertuliskan nama ke-2 mempelai pun telah siap dibagikan. Ternyata takdir Allah berkata lain.
2 hari sebelum hari H pernikahan, pihak calon mempelai pria tiba-tiba memutuskan sepihak batal menikah! Bagai disambar petir di siang bolong. Terus gimana kalau besok tamu-tamu datang? Dalam kemelut kebimbangan calon mempelai wanita dan keluarga besar, ternyata Allah mendatangkan laki-laki lain, saudara seperjuangan dalam komunitas kebaikan di daerah mereka tinggal ternyata menawarkan dirinya untuk menjadi suaminya. Bersedia sepenuh jiwa menjadi imamnya dan ikhlas bersanding di pelaminan meski nama yang terukir di undangan dan souvenir bukanlah namanya..
Ma sya Allah..
Balik lagi ke cerita yang sebelumnya. Balik balik terus. Maap. Hehehe,
Dari cerita teman saya yang akan menikah tadi saya merasa ada pola komunikasi yang perlu benahi. Tapi wallahu a’lam bagaimana akhirnya. Hingga akhirnya Alhamdulillah hari yang dinanti datang juga. Beliau berdua menikah dan sah sebagai pasangan suami istri.. Saya turut berbahagia.. Hingga kurang lebih sekitar 1 minggu kemudian sang istri datang dan Curhat kalo lagi ada masalah sama suaminya. Saat itu mereka buntu menyelesaikannya. Dan setelah saya dengar ceritanya saya berkesimpulan ini karena masalah komunikasi yang kurang lancar antara istri dan sang suami.
Dari beberapa kejadian itu, akhirnya kami baru menyadari sebuah untaian kalimat yang tidak kami pahami dari buku Ust. Salim dulu sebelum menikah. Kurang lebih redaksinya begini,
“Bahwa satu kesalahan saja yang kita lakukan saat menuju pernikahan, akan kita rasakan akibatnya saat sudah berumah tangga dan akan berpengaruh pada kebarakahan rumah tangga yang kita bina.”
Jika kita salah dalam pola komunikasi saat proses akan menikah, bisa jadi komunikasi pula yang jadi sebab pertengkaran yang muncul dalam rumah tangga kita.
Itulah kenapa Ust. Salim menganjurkan untuk sering-sering introspeksi dan beristighfar meski kita sudah menikah, siapa tahu ada salah dan khilaf yang tidak kita sadari DULU, tapi ia menjadi batu-batu yang mempengaruhi perjalanan rumah tangga kita.
In sya Allah pada pertemuan-pertemuan berikutnya kita akan bahas detail tentang dimensi menata ketundukan kepada semua ketentuan-Nya ini.
2. Ilmiyah Tsaqafiyah / Ilmu pengetahuan.
Ada banyak hal ternyata yang HARUS kita pelajari dan pahami sebelum masuk gerbang pernikahan, bahkan bagi mereka yang telah menikah pun pasti akan merasakan hal yang tidak jauh berbeda, butuh selalu belajar, butuh selalu menimba ilmu. Karena dinamika rumah tangga begitu luas, begitu kompleks, dinamis. Akan lebih membantu jika sebelum menemui masalah kita sudah punya wacana tentang itu dan tahu bagaimana bertindak dengan tepat. Akan berbeda kalau sekedar trial-error. Ibarat kita akan beli sebuah peralatan elektronik misalnya, pasti ada buku petunjuk tentang penggunaannya dan antisipasi apa yang harus dilakukan agar tidak rusak. Begitu pula dengan pernikahan.
Mungkin saat kita berupaya menambah wawasaan kita, misal dengan baca buku / buka link-link artikel, akan ada bersitan pikiran, “Aduh.. Rasanya kok hampa ya, males, kayaknya belum terlalu urgent belajar ini.” 
Hmm.. Paksakan saja terus baca, yakinkan diri saja, mungkin ndak terasa manfaatnya saat ini, tapi suatu saat nanti info ini PASTI akan sangat berguna.
Beberapa ilmu yang perlu kita pelajari sebelum menikah, antara lain:
A. Fiqh
Pernah ada cerita seorang kawan yang kebetulan habis ngisi taklim ibu-ibu paruh baya di sebuah kota, banyak dari mereka yang belum ngerti kalau ternyata ada kewajiban mandi junub setelah berhubungan suami istri. Kewajiban itu saja mereka belum paham, apalagi caranya. Padahal rata-rata sudah menikah bukan dalam hitungan bulan. Tapi sudah bertahun-tahun bahkan banyak yang usia pernikahannya diatas 10 tahun. Lalu bagaimana dengan sholatnya selama ini? Wallahu a’lam..
Jika istri telah bersih dari haidh, apakah boleh berhubungan dengan suami meski ia belum bersuci (mandi besar)? Ini juga masuk bahasan fiqh.
Termasuk juga tentang apakah beda status najis pada pipis bayi laki-laki dan bayi perempuan? Fiqh pula yang akan menjawabnya. Dan masih banyak contoh yang lainnya.
In sya Allah pada pertemuan-pertemuan berikutnya akan diundang ustadz yang kompeten untuk membahas masalah ini.
B. Komunikasi Pasangan
Ilmu tentang komunikasi pasangan perlu kita pelajari sebelum menikah. Karena pada dasarnya karakter, dan ciri khas masing-masing juga tidak sama. Jika tidak diilmui bisa berpotensi konflik dan memicu pertengkaran.
Misal bagi seorang wanita kalau ada masalah, ia akan senang bercerita dan didengarkan. Berbeda dengan laki-laki yang lebih memilih menyendiri dan berkontemplasi.
Memiliki “ruang” sendiri alias “masuk goanya” adalah cara yang khas bagi seorang laki-laki untuk menyelesaikan masalahnya. Kalau kita sebagai istri tidak memahami karakter ini, bisa-bisa kita malah menuduhnya tidak perhatian dan lari dari masalah. Padahal memang demikian caranya menyelesaikan masalah.
Contoh lagi; Saat seorang wanita bilang “tidak apa-apa”, sebenarnya ia sedang “apa-apa”. Berharap sang suami memahaminya, tapi alih-alih demikian, yang ada suami menangkapnya memang “tidak apa-apa”. Bukan gak peka, tapi memang hampir semua laki-laki demikian sebagai ciri khasnya.
Ada buku bagus yang ga ada salahnya masuk list daftar buku yang perlu kita beli.
Berikut beberapa cuplikannya:
Fragmen 1
Fragmen 2
Fragmen 3
Jadi wahai para istri, mulailah belajar menyampaikan uneg-uneg yang ada, mulailah berlatih menyampaikan ide dan perasaan yang sebenarnya, tak perlu pakai bahasa kiasan, tak usah pakai bahasa ambigu. Kenapa? Karena memang laki-laki diciptakan tidak bisa menangkap itu. Ia bukan paranormal yang bisa mengerti bahasa hati kita. So, sampaikanlah. Komunikasikanlah.
Jangan sampai karena tuntutan alam bawah sadar kita untuk menjelma menjadi sosok istri yang shalihah kemudian memangkas keberanian kita untuk menyampaikan pendapat dan uneg-uneg di dada. Hati-hati, jika tidak disalurkan dengan tepat, ia bagai bola es yang terus menggelinding membesar dan berbahaya.
Kalau ndak bisa ngomong langsung bagaimana? Biasa perempuan, bisa jadi belum ngomong udah nangis duluan. Ga jadi ngomong deh.. Hehehe.. Banyak jalan menuju Roma. Pointnya kan yang penting terkomunikasikan, caranya bisa beragam. salah satunya dengan saling diskusi via bbm/WA. Dalam bentuk tulisan. Kalau ga bisa juga? Tunggu aja di paparan materi pertemuan-pertemuan berikutnya. ^_^
C. Parenting
Hal lain yang perlu kita ilmui sebelum menikah adalah seputar dunia parenting. Waktu kita sedikit, belum puas belajar tentang menjadi istri yang shalihah tiba-tiba saja kita harus mengemban amanah menjadi ibu. Maka mengilmuinya jauh sebelum menikah menjadi sebuah kebutuhan, bahkan bisa dibilang tuntutan.
Misal seputar kehamilan, apakah ngidam itu ilmiah dan memang ada secara medis? Atau justru ternyata itu hanya dikenal di Indonesia saja?
Apakah kita sudah cukup faham tentang all about ASI? Tentang asi eksklusif, tentang Inisiasi Menyusui Dini (IMD), dan sebagainya. Terkadang banyak juga yang masih kebingungan saat pertama kali melahirkan dan asi belum lancar keluar sudah buru-buru mau dikasih sufor. Eits, tunggu dulu. Bayi baru lahir ternyata bisa bertahan 48-72 jam tanpa minum lho, karena ia masih menyimpan cadangannya saat masih dalam kandungan.
Asi keluar tapi dikit bangettt, kasihan takut kurang. Emang mau dikasih seberapa, Bu? Lha wong lambung dedek bayi yang baru lahir memang cuma sebesar kelereng. Bagi saya pribadi dan suami (libatkan pula ia untuk belajar) lebih sering ngakses akun twitternya
Contoh lain tentang parenting misalkan, jika ada anak kecil lari-lari kemudian ia terjatuh dan menangis, apa yang biasanya para orang tua kebanyakan katakan?
Bisa jadi antara 2 opsi ini:
“Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!”. Padahal dengan jawaban seperti ini anak akan belajar untuk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya.
Atau jawaban kedua:
“Waduh jatuh, sudah cup, cup, ya sayang, lantainya nakal ya? Sini Bunda pukul ya lantainya”. Dari sini anak akhirnya belajar mencari kambing hitam atas kegagalannya. Padahal akan lebih pas kalau kita sebagai orang tua meresponnya dengan “Wah jatuh ya, lain kali lebih hati-hati ya Sayang. Jalannya pelan-pelan aja”.
Hmm.. Banyak sekali PR yang dipelajari di point parenting ini. In sya Allah dipertemuan-pertemuan berikutnya akan kita bahas lebih detail dengan para ahlinya..
D. Skill Domestik Rumah Tangga
Bisa masak, Mbak?|Bisa dong, masak soto, gulai, kari, iga sapi panggang dll. Tapi dalam bentuk mie instan. Hehehe…
Yap, memasak seringkali lekat dengan tugas seorang istri. Walaupun kalau dilihat bagaimana sisi Islam memandang urusan-urusan domestik seperti memasak, mencuci, dan sebagainya itu sejatinya adalah kewajiban suami. Sama seperti sebuah hadist yang mengatakan tamu adalah raja. Tapi hadist ini ditujukan bagi tuan rumah agar bisa melayani dan menjamu tamunya dengan baik. Hadist ini tidak ditujukan bagi tamu yang kemudian dijadikan patokan agar ia menuntut diperlakukan bagai raja. Begitu juga dengan urusan domestik ini. Meskipun itu kewajiban suami, tapi bukan berarti istri lepas tangan.
Oleh karena itu meng-ilmui skill ini mutlak diperlukan.
Bagaimana menyusun menu makanan dengan gizi seimbang.
Bagaimana mengolah makanan sisa, misalnya ketidaktahuan banyak ibu kalau ternyata sayur bayam ndak boleh dipanasi karena akan jadi racun.
Bagaimana menyajikan makanan yang lezat meski tanpa vitsin dan MSG.
Termasuk yang paling simpel mengenal rempah-rempah sederhana. Karena masih banyak saya jumpai adik-adik mahasiswi yang ternyata masih bingung untuk membedakan mana kencur, kunci, jahe dan laos. Masih bingung mengenali mana merica dan mana ketumbar. Masih tidak yakin mana daun salam dan mana daun jeruk purut…
Semoga kedepan kita bisa bahas ini di pertemuan-pertemuan berikutnya. Beberapa diantaranya nanti kita akan langsung praktek saat pertemuan.
3. Persiapan Jasadiyah / Fisik
Setidaknya dalam persiapan ini kita memasang 3 target berdasar prioritasnya:
A. Primer
Target primer kita adalah memastikan diri kita sehat dan aman dari penyakit. Terutama kesehatan reproduksi. Terkadang keluhan-keluhan ringan semasa gadis kalau tidak disikapi dengan tepat bisa menjadi sesuatu yang tidak nyaman saat berumah tangga. Misal tentang keputihan, pola menjaga kebersihan daerah kewanitaan, dll. In sya Allah pada pertemuan berikutnya akan ada pembahasan khusus tentang ini bersama praktisi kesehatan langsung.
Di point ini juga seolah menegaskan kepada kita untuk memastikan semua yang masuk ke dalam tubuh adalah sesuatu yang baik dan tidak berpotensi menimbulkan penyakit. Misal menghindari junk food, makan pentol dengan saus yang merah menyala, dan sebagainya.
B. Sekunder
Target kedua kita adalah bugar dan tangkas. Ga gampang lemas, ndak mudah sakit. Gesit, cekatan.
Bisa dibayangkan kalau seorang ibu gampang lemas dan sakit, pasti akan kerepotan menjalankan amanahnya secara maksimal. Oleh karena itu target sekunder ini perlu diperjuangkan. Salah satunya dengan olah raga.
Coba bertanya pada diri kita masing-masing. Kapan terakhir kita berolah raga?
Jangan-jangan jawabannya adalah saat SMA. Saat pelajaran penjaskes di sekolah. Wow, Sudah berapa lama itu???? Hehehe..
Untuk itu, in sya Allah setiap hari Sabtu, seluruh member komunitas to be WOW akan diwajibkan berolah raga dalam bentuk apapun yang disuka. Boleh badminton, bersepeda, senam, renang atau bahkan sekedar lari dan lompat di tempat. Agar olah raga bukan menjadi hal yang memberatkan, tapi justru menyenangkan dan ringan kita lakukan.
C. Tersier
Target ketiga dalam persiapan fisik sebelum menikah adalah beauty and charm. Mudah-mudahan di pertemuan yang akan datang bisa dibahas tentang masalah ini dari ahlinya. Semoga bisa mengundang salah satu salon muslimah untuk membagi ilmunya tentang bagaimana menjaga kesehatan kulit dan rambut. Perawatan wajah minimal apa dan bagaimana yang bisa kita lakukan mandiri di rumah untuk menjaga kesehatan dan kecantikan wajah, dan sebagainya.
4. Persiapan Finansial
Setidaknya ada 3 hal penting yang perlu kita siapkan sebelum menikah. Membangun wacana dengan benar, meletakkan paradigma yang proposional tentang:
A. Bahwa di point ini kita tidak berbicara tentang berapa banyak materi yang dimiliki oleh calon pangeran kita. tapi bicara potensi dan kesungguhannya untuk bertanggung jawab sepenuhnya sebagai kepala keluarga.
Banyak hikmah yang sering saya dapat seputar point ini dari para sahabat dan kerabat yang lebih dulu menikah. Namun ijinkan saya berbagi kisah tentang pengalaman pribadi saya.
Dulu suami melamar saya saat beliau belum lulus kuliah. Saat itu beliau memang sudah berpenghasilan dengan aktifitasnya sesekali mengisi training-training mahasiswa atau memeriahkan acara dengan menjadi MC. Tapi bisa dibayangkan berapa penghasilannya. Tentu tidak bisa dikatakan besar.
Orang tua sempat bertanya kepada saya saat itu : “Yakin mau nikah sama Mas Adri? Belum lulus kuliah, gak punya penghasilan tetap. Terus ntar kamu mau dikasih makan apa? Mending nikah aja sama si fulan anak teman mama itu, pekerjaannya sebagai dokter lebih menjanjikan.”
Hm.. Saya buang jauh-jauh pikiran bahwa orang tua saya materialistis. Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, ndak ada orang tua yang menginginkan anaknya hidup susah. So, wajar kalau pernyataan itu meluncur dari bibir beliau.
Alhamdulillah, dulu sebelum menikah saya sudah suka baca-baca buku dan artikel seputar pernikahan. Jadi punya argumen untuk menepis kekhawatiran beliau. Saya sampaikan saat itu dengan lembut,
Bareng-bareng kami buka buku Ust. Salim yang mencuplik penggalan Quran surat An-Nur: 32
“Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui”
Kami juga buka cuplikan ttg hadist yg jangan menikah krn harta, ada warning disana yg sdh sy singgung di resume sblmnya. Alhamdulillah stlh itu orang tua ACC sy melanjutkan proses dg bliau sampai akhirnya gerbang pernikahan itu nyata di dpn mata.
Meski sempat mengalami kondisi sulit ekonomi, tapi kami merasa banyak campur tangan Allah disana.
Misal saat kami memutuskan pisah dari orang tua untuk belajar mandiri, kami sempat bingung. Mau pindah kemana? Mau ngontrak rasanya nggak mungkin. Ngga ada uangnya kalau langsung bayar penuh di depan. Pilihannya cari kos-kosan suami istri. Tapi alhamdulillah waktu mengisi training di Banyuwangi, ada peserta yang baru kenal di sana menawarkan rumah anak beliau ditempati oleh suami dan saya. Karena sang pemilik sedang melanjutkan studi S3 di Australi bersama keluarga kecilnya. Kami tinggal bawa badan aja. Lingkungan nyaman, Rumah bagus, AC, mesin cuci, spring bed, cooking set, semua lengkap.. Gratis.
Ma sya Allah, rasanya nggak percaya. Seneng banget.
Tapi kami disana cuma sekitar 7 bulan, karena pekerjaan suami cukup jauh kalau harus dijangkau dari tempat tinggal pinjaman kami saat itu. Akhirnya kami pindah haluan, cari kos-kosan suami istri dibilangan Raya Prapen Surabaya. Kamar ukuran 3×4 plus kamar mandi dalam, menjadi catatan jejak perjalanan rumah tangga kami. Biar mungil tapi hangat.
Semoga rumah tangga kita semua Allah beri kelancaran rezeki, kebarokahan harta. Berkah berlimpah, hingga sanggup menebar kemanfaatan yang lebih luas dengan harta kita. In sya Allah..
B. Persiapan kedua terkait finansial ini adalah tentang kemampuan kita sebagai istri untuk mengelola keuangan. Berapa pun nafkah yang diperoleh suami, bisa dikelola dengan bijak. Perencanaan keuangan bisa masuk ke dalam point ini. Termasuk perencanaan menu masakan yang dihidangkan tiap harinya. Ndak selamanya harus sesuai budget, perlu sesekali kita belanja dibawah budget, agar selisihnya bisa di saving untuk membuat menu yang lebih istimewa di hari lainnya. Termasuk pula tips tentang “amplop”, sudah memasukan sejumlah uang ke dalam beberapa amplop sesuai posnya, menghindari campur-campur alokasi dan akhirnya bengkak alias over budget.
In sya Allah pertemuan-pertemuan berikutnya akan dibahas tentang masalah ini.
C. Persiapan ketiga dalam konteks finansial ini adalah tentang membangun paradigma yang tepat (bukan benar) setelah kita menikah dan dikaruniai anak. Apakah menjadi wanita karier atau “cukup” menjadi ibu rumah tangga. Karena tiap kita pasti tak sama. Sudut pandang, kebutuhan dan daya pikul kita berbeda. Maka jadi mungkin, apa yang baik buat saya, belum tentu tepat buat yang lain. In sya Allah akan dibahas detail berikutnya.
5. Persiapan sosial
Persiapan terakhir untuk menuju pernikahan adalan persiapan sosial. Setidaknya ada 2 hal. Pertama tentang bagaimana membangun komunikasi dengan keluarga besar tentang konsep pernikahan idaman. Bagi kita yang memilih menikah dengan cara yang tidak seperti kebanyakan orang pasti akan jadi tantangan. Misal memilih menikah dengan calon yang dipilihkan guru ngaji dan tanpa pacaran. Misal memilih menikah tanpa menggunakan ritual dan perlengkapan adat istiadat, misal konsep menikah dengan memisah tamu laki-perempuan dan meminimalisir standing party, dan sebagainya. Proses membangun wacana, melobi bahkan sampai melibatkan orang tua untuk hadir menyaksikan konsep pernikahan yang kita idamkan menjadi sebuah nilai plus kalau dilakukan jauh-jauh hari bahkan tidak menjadi masalah meski belum ada calonnya. Hehehe…
Kedua tentang persiapan sosial ini adalah mengasah kemampuan bersosialisasi dan berkontribusi di masyarakat.
Berbeda ketika masih single dan menyandang status anaknya bapak/ibunya dengan ketika sudah menyandang predikat istri Pak Fulan. Mulai buang kebiasaan acuh tak acuh dan merasa cukup dengan sekedar melempar senyum, menganggukan kepala kemudian masuk rumah dan tutup pintu sepulang kuliah/kerja.
Mulailah silaturahim dan menjalin komunikasi dengan tetangga sekitar kita. Tak ada salahnya pula menawarkan bantuan untuk menemani anak-anak kecil sekitar mengerjakan tugas sekolahnya, meskipun 1 pekan sekali. Tak ada salahnya pula menyambung keakraban dengan mereka meski hanya dengan membagi 1 bungkus permen.
Mulai juga untuk mengambil peran dan kontribusi di lingkungan kita tinggal. Meskipun saat ini kita berstatus sedang rantau di tanah orang. Terlibat dalam kepanitiaan Agustusan, aktif di karang taruna atau mengambil kontribusi sebagai remaja masjid terdekat.
Trust me it’s work.. Akan sangat bermanfaat bagi kita saat kelak berumah tangga jika sudah terbiasa bersosialisasi dan berkontribusi di masyarakat sejak masih muda.
———————————————————————————————
Alhamdulillah tuntas juga ngetik resume materi pertemuan pertama to be Wonderful Wife. Sekali lagi, apa yang disampaikan hari itu adalah sebuah preview, pengantar untuk materi-materi lain yang akan disampaikan pertemuan-pertemuan berikutnya oleh para pakarnya masing-masing. Semoga kita tetap bersemangat bermetamorfosis bersama untuk menjadi istri skaligus ibu yang amazing untuk suami dan anak-anak kita kelak.
Karena sejatinya hidup itu adalah belajar.
Belajar sama sama.
Sama sama belajar.
Semoga yang belum Allah pertemukan dengan tulang rusuknya, kelak Allah temukan dengan laki-laki terbaik, disaat terbaik dan dengan cara yang terbaik. Semoga kelak rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah. Membangun cinta, sampai surga-Nya..
—— END ——
InsyaAllah setiap selesai kopdar, akan saya share materi kopdar komunitas ini 🙂
Semoga bermanfaat 😀

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: