[Tulisan]: Wonderful Wife?

Duapuluh satu. Sebuah usia pada fase di mana seseorang mulai bisa dikategorikan ideal untuk berkeluarga. Sekarang saya sedang menapaki usia itu. Nah, inilah saat yang tepat dan belum terlambat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, berkontribusi seluas-luasnya, sebelum benar-benar berkeluarga nantinya. Oleh karena itu, melabuhkan diri di komunitas-komunitas, berlari mencari majelis-majelis ilmu, dan berdiskusi dengan yang sudah lebih berpengalaman agaknya menjadi agenda sehari-hari saya (dan mungkin sebagian dari Anda) dalam mengisi hari-hari di usia duapuluhan ini.

 

 

Suatu malam, tersebutlah sebuah post hasil share dari seorang kawan, di laman facebook yang saya baca sambil tiduran santai di ruang keluarga. Post yang cukup panjang, namun menarik. Karena berlabel GRATIS. Hahahaha. Ya, itulah post tentang komunitas To Be Wonderful Wife, yang disingkat To Be WoW. Saya perhatikan kembali isi post tersebut beberapa kali dan setelah meyakinkan diri, saya segera mendaftar ke nomor WA yang tersedia di poster acara.

 

 

Menciptakan generasi penerus yang beradab, dimulai dari sekarang. Kapan? Sekarang. Ya, sekarang. Bukan nanti, bukan besok, bukan dua atau lima tahun lagi. Mengapa sekarang? Karena saya yakin, tak ada yang tahu mengenai usia seseorang. Bisa jadi kita sudah tak ada umur sedetik lagi.

 

Yup, daripada kebanyakan bicara, lebih baik langsung saja saya share materi kopdar pertama komunitas To Be WoW di SDIT Al Uswah pada tanggal 25 Mei 2014 kemarin. Catatan ini saya ambil dari tobewow.wordpress.com:

 

Resume Materi To Be Wonderful Wife

# Pertemuan 1, Ahad, 25 Mei 2014

Oleh: Euis Kurniawati

 

Dalam perbincangan seputar pernikahan, seringkali kita mendengar istilah “menyegerakan atau tergesa-gesa?”

Sebenarnya apa yang membedakan 2 kalimat ini? Apakah soal berapa lama kita ada dalam masa penantian? Ataukah tentang seberapa cepat dan pada usia berapa kita bertemu sang pangeran dan bersanding di pelaminan?

Ternyata tak sepenuhnya demikian.

Menyegerakan dan tergesa-gesa lebih pas jika dimaknai dalam konteksnya seberapa lama persiapan yang kita lakukan untuk menuju gerbang pernikahan. Ia berbicara masalah waktu dan seberapa matang persiapan.

Ust Salim A.Fillah misalnya, beliau menikah di usia 20 tahun. Tapi sejak usia 15 tahun beliau telah mempersiapkan diri. 5 tahun persiapan. Ini namanya menyegerakan.

Berbeda dengan seseorang yang menikah di usia 30 tahun misalnya, tapi baru melakukan persiapan dengan penuh kesadaran 6 bulan sebelum menikah. Ini masuk kategori tergesa-gesa.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih bujang, saya sedang dalam perjalanan ke rumah nenek di kota Batu. Saat itu hampir tengah malam, kami berhenti sejenak dan saya turun dari mobil untuk pesan nasi goreng di seberang alun-alun kota apel ini. Ternyata di sana sudah ada beberapa anak punk yang ngumpul dan ngobrol heboh. Secara fisik penampilan mereka tidak jauh beda dengan anak-anak punk kebanyakan. Rambut di cat warna warni, pakai tindik di beberapa titik, pakaian dominan hitam dan bertampang “sangar”. Bukan berniat mencuri dengar pembicaraan mereka, tapi karena volumenya tidak kecil, mau ndak mau saya juga bisa ikutan dengar.

Ada yang menarik, saat salah satu dari mereka bercerita dengan sangat antusias tentang pacar barunya. Tentang keindahan fisiknya, tentang kemolekan tubuhnya, tentang kelincahan sikapnya. Wow banget deh menurutnya. Tapi tiba-tiba ada salah seorang diantara meraka yang tanya: emang kamu mau jadikan istri?

Spontan dijawab oleh sang pacar: ya enggak lah.. Yang bener ajaaa. Aku kalau cari istri ya yang sholehah, minimal jilbaban, biar bisa ndidik anak-anakku ntar!”

Mak jlebbbbb..

Saya terkejut dengan jawaban spontannya.

Anak-anak punk yang dalam bayangan saya agak “ngeri dan sesuatu” ternyata mereka juga mendambakan sosok istri yang baik sebagai pendamping hidupnya dan ibu dari anak-anaknya kelak.. Ma sya Allah…

Apalagi kita, in sya Allah.. Pasti juga mendambakan sosok suami yang baik, yang shalih dan bisa menjadi imam bagi kita dan anak-anak kita kelak.

Tapi pertanyaannya adalah; apakah kita sudah mempersiapkannya??? Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan?

 

5 persiapan menuju pernikahan

Paparan berikutnya hanya bersifat preview. Materi lebih detail akan disampaikan di pertemuan-pertemuan berikutnya oleh pemateri yang sesuai bidangnya.

 

1. Persiapan Ruhiyah / Mental

A. Ujian & Tanggungjawab

Persiapan mental kita menuju pernikahan adalah dengan membangun wacana yang benar, meletakkan paradigma yang proposional tentang sebuah organisasi bernama pernikahan. Bahwa ia tidak hanya berisikan sebuah keindahan dan segala hal yang menyenangkan semata. Akan ada ujian dan tanggung jawab besar disana.

Kita dapati sosok mulia Ibunda Khadijah, misalnya. Lembut, keibuan, dermawan, kaya, support perjuangan dsb. Semua laki-laki pasti tidak menolak jika dapat sosok istri seperti itu. Tapi tidak semua laki-laki siap beristri dengan wanita yang rentang usianya jauh diatasnya. Jika ia bersedia, belum tentu keluarga besar kedua belah pihak bisa menerimanya. Apalagi budaya masyarakat saat ini yang ada stigma kurang pas kalau anak gadisnya menikah dengan laki-laki yang lebih muda.

Ngomong-ngomong saya termasuk yang ini lho. Kebetulan Allah menjodohkan saya dengan berondong ganteng yang usianya lebih muda 2 tahun dari saya. Hhehehe,

Kita dapati pula sosok Aisyah yang tidak hanya shalihah, tapi juga cantik, cerdas, dan lincah. Semua laki-laki pasti ingin mendapatkan sosok demikian, tapi tidak semua laki-laki siap menghadapi sikap cemburu beliau yang bisa banting piring di depan tamu..

Dalam pernikahan selalu ada ujian. Ujian tentang bagaimana beradaptasi dengan laki-laki asing yang menjadi suami kita berikut keluarga besar beliau dengan karakter atau latar belakang yang tak sama, misalnya.

Contoh, saya beberapa kali menjumpai ada diantara kawan-kawan yang sering update status di FB ataupun status di bbm dan berkeluh kesah tentang sikap suaminya. Terkadang bahkan masalah yang sangat sederhana tapi bisa memicu ketidaknyamanan. Misal pencet pasta gigi dari tengah, padahal kebiasaan kita pencet dari bawah. Misal kalau habis makan kotoran di piring tidak pernah dibuang langsung ke tempat sampah padahal kebiasaan kita sebaliknya. Misal suami tidak pernah mengembalikan barang-barang di tempat semula dan ditaruh berserakan, padahal kita memiliki kebiasaan rapi. Dan sebagainya.

Yang jadi pertanyaan; Kenapa di publish di medsos? Entahlah, beberapa mengaku biar suaminya tersindir dan sadar. Beberapa mengaku suaminya gak bakal tahu karena memang gak punya FB, postingan itu sekedar untuk menyalurkan emosi dan bikin plong.Tapi apakah memang demikian penyikapan yang tepat? Apakah tidak justru memicu permasalahn lain di kemudian hari?

Kita juga berbicara Tanggung jawab yang tak ringan terlebih saat telah dikaruniai keturunan, misalnya. Itulah kenapa dikatakan menikah itu memenuhi setengah agama. Karena tanggung jawabnya pun tak ringan.

Itulah kenapa paradigma yang benar dalam memandang pernikahan harus benar-benar kita siapkan sejak awal, biar ndak terkejut dan shock saat menghadapinya. Biar kita juga siap dengan berbagai sikap yang bijak dan tepat saat menghadapinya. Bahwa menikah tak sekedar berbicara tentang cinta dan romantisme, tapi ada ujian dan tanggung jawab besar yang menyertainya.

Pada pertemuan-pertemuan berikutnya akan dibahas detail tentang ini, in syaa Allah.

B. Syukur dan Sabar

Persiapan ruhiyah/mental yang kedua adalah dengan membangun paradigma kita bahwa pasti akan dipergilirkan antara nikmat dan ujian, dipergilirkan suka dan duka, dipergilirkan gelak tawa dan derai air mata. Itulah kenapa sabar dan syukurpun akan menjadi sebuah keniscayaan dalam biduk rumah tangga. Hanya saja sisi-sisi kemanusiaan kita lebih sering mudah bersyukur saat kondisi lapang, tapi sulit bersabar dalam kondisi yang sulit dan sangat tidak menyenangkan. In sya Allah dipertemuan-pertemuan berikutnya akan dibahas detail tentang masalah ini. Misal tentang bagaimana manajemen konflik dengan pasangan atau keluarga, dan sebagainya.

C. Mengubah Ekspektasi Menjadi Obsesi

Persiapan ketiga dalam lingkup ruhiyah atau mental ini adalah berbicara tentang mengubah espektasi menjadi obsesi. Apa maksudnya?

Seringkali saat masih single kita berharap, berespektasi kelak mendapatkan sosok suami yang shalih, yang bisa jadi imam yang baik untuk kita. Tidak salah, memang. Tapi akan “sakit dan mengecewakan” jika espektasi ini ternyata tidak kita dapati dalam dirinya kelak.

Alangkah indah seandainya kita ubah espektasi ini menjadi sebuah obsesi. Berpikir, kira-kira apa ya yang bisa aku lakukan untuk suamiku kelak agar ia bisa jadi imam yang baik untukku? Apa ya yang bisa aku bantu nanti saat sudah menikah agar suamiku bisa jadi ayah juara untuk anak-anakku, dan sebagainya.

D. Menata Ketundukan pada Semua Ketentuan-Nya

Persiapan keempat dalam dimensi Ruhiyah/mental selanjutnya adalah menata ketundukan pada semua ketentuan-Nya. Memastikan bahwa semua on the trackdalam tiap prosesnya. Jika menikah adalah sesuatu yang baik, maka segala sesuatunya kita pastikan juga baik dalam versi-Nya.

Baik saat menyiapkannya.

Baik saat dalam proses menuju pernikahannnya (berkenalan, lamaran, dan sebagainya).

Baik pula saat mengarungi bahtera berikutnya..

Dulu sebelum menikah saya pernah membaca salah satu buku karya penulis favorit saya, Ust. Salim. A. Fillah.

Mungkin sering kita dengar tentang hadits bahwa wanita (dan sebaliknya bagi laki-laki) dinikahi karena 4 hal bukan? Karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan karena agamanya.

Tapi saat itu saya terhenyak dengan redaksi lainnya yang kurang lebih begini (ndak hafal, buku pas lagi dipinjam):“Kalau kita menikah karena kecantikannya, tunggulah sampai Allah mempercepat buruk wajahnya.”

Maksudnya kalau ada laki-laki tampan yang datang meminang bukan berarti kita terima pinangannya nunggu dia nggak ganteng lagi lho ya.. Hehehe, Tapi kalau kita menikah karena gantengnya, silau dengan ketampanannya, maka bisa jadi dia akan menjadi suami kita tapi setelah itu Allah akan mempercepat hilangnya ketampanan yang kita puji-puji itu..

Begitu juga dengan 2 hal yang lainnya.

Kalau kita menikah karena keturunannya, tunggu saja sampai Allah membuka aib dan menurunkan kehormatannya.

Kalau kita menikah karena hartanya, tunggu saja sampai Allah menghilangkannya.

Apakah berarti kita tidak boleh menikah dengan laki-laki yang ganteng, kaya dan dari keturunan terhormat? Tentu saja bukan demikian. Di sini menegaskan bahwa kebaikan agama lah yang jadi standar utama kita.

Agama : nilainya 1Tampan : nilainya 0Kaya : nilainya 0Keturunan terhormat : nilainya 0

Kalau dapat suami tampan dan kaya. Berarti nilainya 0Kalau dapat suami yang baik agamanya nilai 1Dapat suami baik agama, dan ganteng/kaya nilainya 10Dapat suami baik agama, ganteng, kaya, dari keturunan terhormat, wah itu yg asyik. Bonusnya banyak. Hehehe,

Menata ketundukan pada-Nya dalam tiap proses, termasuk untuk urusan niat. Ini pengalaman pribadi, menjadi hikmah pribadi setidaknya bagi saya dan suami.

Niat kami berdua in sya Allah seperti pasangan lainnya. Menjalankan perintah agama, mengikuti sunnah, menghindari fitnah, membentuk keluarga dakwah yang nantinya bisa bermanfaat bagi kebaikan lingkungan masyarakat dan bangsa yang lebih luas. Tidak ada yang salah menurut kami dengan niatan ini. Tapi saya dan suami punya lintasan pikiran yang lain. Mohon digaris-bawahi. Lintasan pikiran. Bukan niatan.

Saat itu suami punya lintasan pikiran bahwa kalau sudah nikah enak ntar punya PW alias Pendamping Wisuda saat seremonial kelulusan. Yap, kami menikah memang saat suami saya masih berstatus mahasiswa, semester 9. Kondisi “mengharuskan” suami nambah 1 semester karena amanah masa jabatan beliau sebagai presiden BEM Unair saat itu belum tuntas. Hmm, pendamping wisuda. Pasti asyik ya, ada yang bisa digandeng saat wisuda. Tapi kondisi real ternyata berkata lain. 14 Maret kami menikah, April ternyata Alhamdulillah saya positif hamil. Dan di bulan April itu juga suami akan wisuda. Tapi beberapa hari sebelum yudisium saya mengalami pendarahan hebat yang mengharuskan saya bedrest 1 minggu lebih di tempat tidur dan melewatkan impiannya bergandengan saat wisuda. Tapi Alhamdulillah kandungan saya masih bisa dipertahankan sampai lahir Tsabita Kamila Hasana, putri pertama kami.

Niat saya menikah seperti tadi disebutkan di atas. Tapi saya juga punya lintasan pikiran, bukan niatan. Ah, enak ntar kalau sudah nikah ada yang nyari maisyahndak lagi ngerepotin orang tua, ndak perlu bingung masalah maisyah.

Tapi yang terjadi berbeda. Setelah menikah kami sepakat keluar dari rumah orang tua untuk segera belajar mandiri dan di sana saya merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan lintasan pikiran tadi. Kami pernah ada dalam kondisi minim uang. Pernah hanya bisa beli telur 2 biji, beras 2 kg. Pernah juga “terpaksa” beli soto ayam di langganan kami yang hanya dengan uang 5000 bisa dapat kuah soto plus potongan ayam yang tidak sedikit. Kenapa beli soto? Biar kalau kuah sotonya habis, sisa potongan ayamnya bisa dicuci dan diolah lagi untuk bikin sop dan sebagainya.

Saat itu kami mencoba introspeksi dan baru menyadari bahwa apa yang terjadi pada bulan-bulan di awal pernikahan kami saat itu MUNGKIN adalah teguran Allah untuk meluruskan paradigma kami. Bagi suami saya, PW mungkin tidak perlu dijadikan sebuah lintasan pikiran apalagi naudzubillah jika menjadi pemicu kesombongan. Bagi saya, kesulitan ekonomi saat itu seolah menjadi tamparan keras dari Allah untuk mengingatkan bahwa rizki itu bukan dari suami. Tapi mutlak dari Allah Sang Penjamin Rizki..

Berdua kami tersadar, menangis dan beristighfar bersama. Memohon ampun atas khilaf yang mungkin tidak pernah kami sadari selama ini dalam melalui proses menuju pernikahan. Alhamdulillah sejak saat itu kehidupan rumah tangga termasuk kondisi ekonomi kami berangsur-angsur membaik.

Cerita lain. Ada seorang kawan yang bercerita tengah berproses dengan seorang laki-laki. Dari cerita beliau saya merasa intensitas dan cara berkomunikasinya kurang ahsandan perlu dibenahi.

Tidak berdua-duaan seorang laki-laki dan perempuan yang bukan mahram melainkan ketiganya adalah syetan. Yup, tapi apakah makna berdua-duaan itu hanya dalam dimensi fisik saja? Kalau sms-an, bbm-an, inbox FB, mention-mentionan di twitter, apakah jugandak termasuk dalam konteks berdua-duaan??

Menurut saya, itu termasuk berdua-duaan.

Kembali ke cerita. Saya merasa beliau dan calonnya perlu membenahi pola komunikasi mereka. Biarpun sudah khitbah atau dilamar sekalipun, belum tentu dia akan jadi suami kita. Loh kok? Iya lah. Sebelum ada ijab qabul alias akad yang diucapkan belum bisa dikatakan dia PASTI akan jadi suami kita bukan? Pernah ada cerita di ujung pulau Jawa, seorang perempuan yang akan menikah, semua persiapan sudah matang dilakukan, undangan telah disebar, kwade-catering telah di pesan, bahkan souvenir bertuliskan nama ke-2 mempelai pun telah siap dibagikan. Ternyata takdir Allah berkata lain.

2 hari sebelum hari H pernikahan, pihak calon mempelai pria tiba-tiba memutuskan sepihak batal menikah! Bagai disambar petir di siang bolong. Terus gimana kalau besok tamu-tamu datang? Dalam kemelut kebimbangan calon mempelai wanita dan keluarga besar, ternyata Allah mendatangkan laki-laki lain, saudara seperjuangan dalam komunitas kebaikan di daerah mereka tinggal ternyata menawarkan dirinya untuk menjadi suaminya. Bersedia sepenuh jiwa menjadi imamnya dan ikhlas bersanding di pelaminan meski nama yang terukir di undangan dan souvenir bukanlah namanya..

Ma sya Allah..

Balik lagi ke cerita yang sebelumnya. Balik balik terus. Maap. Hehehe,

Dari cerita teman saya yang akan menikah tadi saya merasa ada pola komunikasi yang perlu benahi. Tapi wallahu a’lam bagaimana akhirnya. Hingga akhirnya Alhamdulillah hari yang dinanti datang juga. Beliau berdua menikah dan sah sebagai pasangan suami istri.. Saya turut berbahagia.. Hingga kurang lebih sekitar 1 minggu kemudian sang istri datang dan Curhat kalo lagi ada masalah sama suaminya. Saat itu mereka buntu menyelesaikannya. Dan setelah saya dengar ceritanya saya berkesimpulan ini karena masalah komunikasi yang kurang lancar antara istri dan sang suami.Hmm..

Dari beberapa kejadian itu, akhirnya kami baru menyadari sebuah untaian kalimat yang tidak kami pahami dari buku Ust. Salim dulu sebelum menikah. Kurang lebih redaksinya begini,

“Bahwa satu kesalahan saja yang kita lakukan saat menuju pernikahan, akan kita rasakan akibatnya saat sudah berumah tangga dan akan berpengaruh pada kebarakahan rumah tangga yang kita bina.”

Jika kita salah dalam pola komunikasi saat proses akan menikah, bisa jadi komunikasi pula yang jadi sebab pertengkaran yang muncul dalam rumah tangga kita.

Itulah kenapa Ust. Salim menganjurkan untuk sering-sering introspeksi dan beristighfar meski kita sudah menikah, siapa tahu ada salah dan khilaf yang tidak kita sadari DULU, tapi ia menjadi batu-batu yang mempengaruhi perjalanan rumah tangga kita.

In sya Allah pada pertemuan-pertemuan berikutnya kita akan bahas detail tentang dimensi menata ketundukan kepada semua ketentuan-Nya ini.

(BERSAMBUNG PART 2)

 

InsyaAllah setiap selesai kopdar, akan saya share materi kopdar komunitas ini 🙂

Semoga bermanfaat 😀

Juga ditulis di sini.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: