Ummi dan Abi adalah Anugerah Terindah: Sebuah Review Buku “Letters to Karel”

Judul Buku: Letters to Karel (Hardcover + Full Color, Art Paper)

Harga: Rp 100.000,00

Jumlah halaman: viii + 221

Kalau ada malaikat tanpa sayap yang turun ke dunia, bisa jadi ia adalah kedua orangtuamu. Berbahagialah kamu yang memiliki kedua orangtua masih lengkap.

***

Pertama kali saya melihat buku ini ialah dari sebuah status yang berseliweran di halaman Facebook. Saya langsung jatuh cinta pada sampulnya. Impresi saya langsung positif pada buku ini padahal saya belum tahu apa isi dan judul bukunya. Setelah saya pelototi dengan seksama, judul buku -yang akan terbit kala itu- adalah “Letters to Karel”.

Awalnya saya berpikir buku ini berisikan surat dari seorang gadis kepada pacarnya yang bernama Karel. Eh, lalu saya bertanya-tanya “Namun, mengapa ada gambar seorang pria mengangkat bayinya?” Saya pun makin penasaran. Saya klik untuk memperbesar gambar buku itu. Oh, ternyata ada tagline: Kumpulan Surat Inspiratif Seorang Ayah untuk Anaknya. Lalu saya add fanpage dan Facebook Nazrul Anwar, sang penulis buku ini.

Oh, perlahan saya paham. Buku ini dilahirkan karena sang Ayah (Abi) bermaksud menyampaikan pesan-pesan kepada sang buah hati yang telah ditinggal ibu (Ummi)nya. Sang ibu menghembuskan nafas terakhir setelah berhasil melahirkan sang bayi. Dada saya semakin sesak karena membayangkan bagaimana menyedihkannya buku ini. Bayi tanpa dosa itu diberi nama, Karel Sulthan Adnara. Di dalam buku ini, pembaca akan tahu mengapa sang bayi diberi nama seperti ini.

Tanpa berpikir panjang, saya lalu memesan buku ini secara online. Lalu buku ini pun tiba di rumah beberapa hari setelah saya memesannya. Segera saya tuntaskan untuk membaca pada malam hari sebelum tidur, supaya mendapatkan chemistry. Biar greget.

Halaman pertama buku itu saya buka perlahan-lahan. Lalu saya melihat tulisan:

Buku Letters to Karel ini dipersembahkan

sebagai hadiah ulang tahun untuk:

 

Almh. Ratna Sogian Siwang

[4 Juli 1986 – 17 Oktober 2013]

 

Happy Birthday, Ummi

I am sorry for being late

Saya pun bergumam, “Wah, ibu ini masih muda. Super sekali.”

Beranjak ke halaman berikutnya, sang penulis menyampaikan bahwa istrinya itu meninggal akibat pendarahan pasca melahirkan. Sepeninggalnya, Abi menulis surat-surat untuk mengenalkan Ummi pada Karel dan menuliskan perjuangannya membesarkan Karel tanpa sosok Ummi.

Ternyata sang Ummi memang super. Banyak hal-hal yang bisa dipelajari dari kutipan-kutipan ucapannya, seperti berikut:

Buat apa kuliah tinggi-tinggi kalau tidak bisa jadi istri dan ibu yang baik.

 

Udah dapet hikmahnya apa? 

 

Mau dinikmati, mau diratapi, keadaannya tetap sama, prosesnya tetap berjalan. Tapi kalau dinikmati manfaatnya pasti akan lebih banyak. Jadi lebih baik ikhlas menerima semuanya dan lakukan yang terbaik.

 

Abi, ummi ga mau kemana-mana. Ummi hanya ingin mendampingi abi dan anak-anak kita kelak. Jadi istri dan ibu yang baik buat anak-anak. Jadi terserah abi mau kerja di mana, mau tinggal di mana, ummi akan ikut abi, menyesuaikan dengan abi.

 

Daripada abi yang sakit, mending ummi saja yang sakit. Tidak tega melihat abi sakit.

 

Alhamdulillah ya, masih dikasih ujian, berarti Allah masih sayang sama kita.

Saya sempat terperanjat ketika tahu bahwa sebelum sang Ummi meninggal dunia, ia mengupdate status di Path dan menulis seperti ini:

Sungguh kelahiran, kematian, rizqi dan jodoh itu sudah Allah tentukan sejak di lauhul mahfudz, tak ada yang bisa mengubahnya kecuali Allah.

Seperti firasat, bukan?

Di bagian belakang buku, pembaca juga diberitahu, apa yang akan dilakukan Sang Abi sepeninggal istri yang dicintainya itu. Di sana disebutkan bahwa ia boleh mencari pendamping hidup yang baru, asalkan:

Jika Ummi tidak bisa menjadi istri yang baik, jika ummi tidak bisa memberikan keturunan, dan jika Ummi meninggal terlebih dulu.

 

Entah kenapa saya merasa, kalau kamu lebih layak mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada saya.

Sang penulis yang juga sebagai ayah dari Karel menuliskan banyak sekali pelajaran hidup dengan kalimat-kalimat yang sederhana namun menggugah jiwa. Ia begitu pandai menulis surat untuk Karel. Saya berharap suatu saat Karel pasti bangga dan terharu karena kedua malaikat tanpa sayapnya ini sangat menyayanginya, terlihat dari surat-surat dalam buku ini.

Lalu, mari membahas fisik buku. Buku ini terdiri dari 35 bab. Salah satu bab yang paling mengesankan ialah bagian ke-31: “Skenario Allah Memang Selalu Indah, Karel”. Di sana dijelaskan sepak terjang sang Ayah dalam mencarikan ASI untuk Karel. Benar-benar perjuangan yang layak diapresiasi. Sedikit banyak, pembaca juga dapat belajar akan kesabaran, perjuangan, ketulusan cinta, serta keikhlasan. Selain tentunya kita akan mendapatkan apa yang harus dilakukan seorang bapak single parent dalam mengurus anaknya. Ilmu yang sangat berharga, bung.

Secara tampilan, buku ini memiliki layout yang sederhana dan bersih. Beberapa kutipan dari sang Ummi dituliskan dalam ukuran huruf yang lebih besar. Walaupun terdapat beberapa kesalahaan ejaan, tetapi itu hanyalah sebagian kecil dan tak mengurangi pesan-pesan kebaikan dari buku ini.

Di bagian terakhir buku ini sang Abi memberikan bonus. Yaitu, surat dari Ummi. Tentu saja yang membuat surat itu adalah sang Abi, namun dengan bahasa Ummi. Oh ya, sang Ibu yang bernama Ratna ini pernah mengenyam pendidikan di Jerman. Ia berpesan supaya Karel juga menjelajah dunia nanti saat besar.

Seseorang yang pergi meninggalkan kita harusnya kita iringi dengan doa, bukan air mata. Karena doa-lah yang lebih banyak membantu orang tersebut di alam kubur sana. Sedangkan air mata, cenderung membuat kondisi jadi lebih buruk.” – Ummi

Pada akhirnya, sesuai kata terakhir di bagian Pengantar buku ini:

Selamat membaca, selamat mengambil hikmah, jangan lupa sediakan tisu.

Buku ini sejatinya adalah kumpulan surat-surat yang dimuat di Facebook Nazrul Anwar. Menulis itu merapikan kenangan, menulis itu menyembuhkan. Selamat, Nazrul Anwar telah melakukan hal yang tepat.

Cover depan dan belakang buku Letters to KarelCover depan dan belakang buku Letters to Karel

Testimoni dari pembaca setia Letters to Karel (sebelum dibukukan)

Testimoni dari pembaca setia Letters to Karel (sebelum dibukukan)

Saya yakin, sang Ummi pasti bahagia di sana, melihat suami dan anaknya menjalani hidup dan tumbuh dengan sabar.

Dan pada kalimat terakhir ini, izinkan saya menuliskan: Almarhumah Ummi Ratna Sogian Siwang dan Abi Nazrul Anwar adalah anugerah terindah untuk Karel Sulthan Adnara.

Penasaran?

Sneak peek

Sneak peek

Rating: *****

 

Sumber gambar: FB page Nazrul Anwar

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: