Untuk adikku. Adikku yang cuma satu.


Dik,
Mbakmu ini sadar kalau kamu sudah gede.
Mbakmu ini sadar kalau kamu bukan lagi bayi kecil yang mau diajak naik odong-odong keliling kampung.
Mbakmu ini sadar kalau kamu ingin bebas.

Bau parfummu setiap akan berangkat ke sekolah, menyengat.
Untung kau laki-laki.
Jika perempuan,
sudah kularang kau pergi ke luar rumah dengan bau parfum sekejam itu.

Setiap kuajak pergi, hampir sering kau tolak ajakanku.
Alasannya, “Sudah, pergi sendiri saja. Aku mau pergi sama teman-teman.”

Setiap azan berkumandang, kuingatkan dirimu shalat.
“Dik, ayo shalat.”
Begitu seterusnya hingga mulutku berpindah ke belakang.
Namun tak juga kau hiraukan.
Aku pun mengelus dada.
Ya, dan akhirnya kau pun shalat.
Namun di akhir waktu shalat.

Setiap kusentuh dirimu sedikiiiit saja, kau hampir sering memarahiku.
Tak hanya aku.
Kadang bapak, ibu pun kau perlakukan begitu.

Acapkali kujumpai kau bercengkerama dengan handphone dan laptop.
Sering pula kau kutuk koneksi internet yang melamban.
Amarahmu meledak.
Padahal kau pun sebenarnya tak tahu siapa yang seharusnya kau marahi, kan?

Motormu kau modifikasi sedemikian rupa.
Mbak saja sampai bingung mengapa helm-mu lebih mirip gudik daripada sebuah helm.
Penuh dengan tempelan stiker band-band rock kemarin sore.
Tetapi aku bersyukur tak ada nama girlband atau boyband.

Mbak kehilangan kamu yang dulu, Dik.
Di saat kita bisa memakai baju dan sandal kembar bergambar Pokemon.
Bertukar pakaian dan apa sajalah.
Berlari-lari di pantai, lalu bapak pun mengabadikannya.
Bermain bulu tangkis di depan rumah.
Naik sepeda berboncengan ke minimarket dekat rumah.
Bermain game balap motor dan mobil berdua.
Naik sepeda keliling perumahan.
Menghafal ayat kursi, kau yang ajari aku, Dik. Saat aku belum paham apa itu ayat kursi sebenarnya. Terima kasih, Dik.
Bermain game ular-ularan di handphone ibu, yang kala itu masih monofonik dan monokrom, monoton. Tapi mbak rindu saat-saat itu.
Serta menulis bersama di buku harian masing-masing.

Kadangkala, mbak hanya bisa tersenyum kecil
Kala melihat foto laki-laki kecil berseragam oranye terang
yang entah bagaimana ekspresinya sebenarnya
Tertawa? Menahan sakit perut? Atau tak kuat menahan blitz kamera?
Foto itu ada, dan akan terus ada di atas piano.

Ya, begitulah, Adikku.

Dik,
Mbakmu, ibumu, dan bapakmu
selalu berdoa agar kau menjadi lelaki tangguh idaman surga, bukan hanya idaman wanita.

Izinkan mbak berkata di sini,
Jagalah shalat lima waktumu.
Jangan sampai Al-Qur’anmu berdebu.
Maksud mbak, bacalah, bukan dibersihkan setiap kali.
Ingatlah selalu penciptamu dan dua orang pahlawan yang harus selalu kau hormati hingga akhir hayatmu nanti,
Bapak dan Ibu.

Biarkan sekarang kau apakan mbakmu ini.
Asalkan kau bisa memetik pelajaran dari ini nantinya.
Agar bisa berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi, Dik.

Aku tahu, itulah yang namanya berontak.
Aku pun pernah mengalaminya.

Aku tahu, sebenarnya kau ingin berteriak, 
“Aku sudah dewasa!”

Maka, kubiarkan saja kau begitu.
Itulah hidup.
Penuh dengan liku-liku.
Ah, sudahlah, jadi tambah pilu hatiku.
Dik,
sudah ya, begitu dulu.
Mungkin surat kecil ini akan mbak simpan dulu.
Mungkin nanti mbak taruh di tas sekolahmu.
Atau mungkin di tempatmu biasa memakai parfum.
Agar kau menemukannya tiba-tiba lalu membacanya.
Ya, nanti pada akhir bulan ke delapan.
Biar surat ini mbak simpan dulu.

Terima kasih, adik kecilku.
Walau kini kau sudah tak kecil lagi.
Adik yang selalu kutunggu waktu itu,
dan sampai sekarang.
Yang kepulangannya dari sekolah atau dari manapun selalu kutunggu.

Malam ini,
mbak hanya bisa memandangmu
mbak ketik surat ini,
sembari kau tidur dengan damai bersama ibu

Teriring doa serta peluk hangat,
yang mungkin hanya bisa mbak lakukan saat kau sedang tidur.

Untuk adikku.
Adikku yang cuma satu.

Surabaya, 6 Juli 2012, 2:12 pagi.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: