Untuk Eyang Uti yang Telah Pergi

2 April 2015. Kamis pagi. Ba’da Subuh. Aku tak pernah menyangka bahwa Eyang Utiku akan pergi secepat itu. Bukannya tidak sadar jika kematian itu adalah keniscayaan, namun, semua ini sepertinya tidak bisa dinalar. Eyang Utiku telah pergi.
26 Maret 2015. Kamis pagi. Ba’da Subuh. Hari itu aku akan pergi ke Kuala Lumpur. Aku telah menandai tiga hari untuk berlibur. 26-28 Maret 2015. Semuanya sudah kususun dengan rapi, dengan teman seperjalananku, Mbak Novita Praci Putri. Tiba-tiba saat Subuh, aku dibangunkan oleh Mama. Beliau berkata bahwa Eyang Uti harus segera dibawa ke rumah sakit. Eyang tidak bisa berbicara. Aku pun tidak percaya, padahal malamnya saat aku, Mama, dan Papa pamit untuk pergi ke mall, Eyang Uti masih menjawab pamit kami dengan baik. Alhasil, sorenya aku pun menjenguk Eyang Uti di kamar 1105 bersama Mbak Novi yang baru datang dari Jogja. Eyang tampak baik-baik saja namun tidak bisa berbicara dengan baik. Katanya, beliau terkena afasia. 
Afasia adalah gangguan fungsi bicara pada seseorang akibat kelainan otak. Orang yang menderita afasia tidak mampu mengerti maupun menggunakan bahasa lisan. Penyakit afasia biasanya berkembang cepat sebagai akibat dari luka pada kepala atau stroke, tetapi juga dapat berkembang secara lambat karena tumor otak, infeksi, atau dementia. Evaluasi medis dari penyakit ini dapat dilaksanakan oleh ahli penyakit saraf hingga ahli patologi bahasa. – Wikipedia.org
Eyang yang biasanya masih lancar berbicara, saat itu bisa berbicara namun tidak jelas. Memang, dulu eyang pernah terkena stroke, saat Eyang Kakungku masih hidup. Mungkin kali ini strokenya kambuh lagi , pikirku.
Aku dan Mbak Novi pun berpamitan pada Eyang Uti untuk pergi berlibur. Sempat terbesit perasaan untuk membatalkan perjalananku hari itu karena Eyang harus terbaring di rumah sakit. Namun aku berpikir, aku telah menabung untuk pergi berlibur dan merencanakannya sejak 3 bulan lalu, aku tidak mungkin membatalkannya… Begitu pikirku saat itu. Apalagi, aku mendapatkan tiket promo untuk pulang-pergi. Dan malam harinya, aku dan Mbak Novi pun tetap jadi terbang ke Kuala Lumpur. 
28 Maret 2015. Sabtu pagi. Aku dan Mbak Novi telah berpisah. Mbak Novi pergi ke Singapura, sedangkan aku pulang ke Surabaya. Malam harinya, aku tidur sendirian di surau bandara. Setelah salat Subuh, aku segera pergi ke tempat check-in. Malangnya, aku terlambat check-in… Aku segera mencari cara bagaimana agar aku tetap bisa pulang hari itu. Tenggorokanku rasanya tercekat. Air mataku pun meleleh dan aku bingung. Namun untungnya aku segera menelepon papaku dari telepon di bandar udara Kuala Lumpur. Akhirnya aku pun memesan tiket untuk penerbangan berikutnya. Aku pun sampai di Surabaya pada jam 12.00 WIB. Sepulangnya dari Kuala Lumpur, kami lalu pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Eyang Uti. Suasana di rumah sakit ramai sekali. Banyak yang menjenguk Eyang Uti. Hingga malam, aku dan yang lain pun berada di rumah sakit menjaga Eyang Uti. 
29 Maret 2015. Minggu. Keluargaku mengadakan acara ulang tahun pernikahan ke-25 Mama dan Papa. Sejujurnya pikiran kami melayang ke rumah sakit pada malam itu. Hari itu keluargaku absen berkunjung ke rumah sakit untuk mempersiapkan acara itu.
31 Maret 2015. Selasa. Om ku menuntun Eyang mengabsen nama anak dan cucunya. Eyang pun bisa mengucapkannya dengan lancar. Kami pun terheran-heran. Tanteku sempat merekam progress eyang yang membaik.
Hari itu juga hari ulang tahun om ku. Kami meniup lilin bersama dan mendoakan om yang berulang tahun. Eyang juga kami berikan secarik kertas bertuliskan kalimat-kalimat dzikir dalam huruf yang tercetak besar untuk dibaca. Alhamdulillah Eyang bisa membacanya walaupun bunyi yang keluar dari mulutnya tidak bisa bagus.
1 April 2015. Rabu.  Aku akan pergi rapat, namun Mama menyuruhku untuk membelikan pampers Eyang Uti yang sudah tinggal 1. Aku pun segera berangkat ke rumah sakit dan membelikan pampers untuk Eyang. Mama pun mengirim pesan singkat di handphoneku, kata dokter Eyang Uti sudah boleh pulang kok, besok Jumat. Namun ada yang lain dengan kata ‘pulang’ yang kutangkap. Perasaanku tidak enak. 
Hari itu, aku berada di rumah sakit hingga malam, menunggu Papa dan Mama datang dari kampus, untuk pulang bersama. Sebelumnya, aku dan Eyang sempat menonton drama korea dan berita di televisi rumah sakit. Eyang juga sempat menyuruhku menggantichannel televisi dan menanyakan itu berita tentang apa. Setelahnya, Eyang Uti sempat mencolekku dan ingin mengatakan sesuatu. Namun parahnya, aku dan tanteku tak bisa mengartikan apa perkataannya. 
Mama berkata padaku, besok malam jumat kita baca yasin bersama di kamar eyang.
“Eyang mau baca buku? Besok aku bawakan buku ya?” Eyang pun mengangguk. Kami pun pulang. Sebelumnya papaku sempat menggenggam tangan Eyang Uti dan menuntun Eyang untuk berdoa.
Namun, saat menunggu Mama di lift untuk pulang, Mama tak kunjung masuk ke lift. Rupanya, mama masih mengurus Eyang di kamar. Perasaan mama tidak enak. Namun Mama tidak bisa menjaga Eyang Uti karena Mama harus membuat materi kuliah untuk besok. Akhirnya, kami (aku, Mama, Papa, Om, dan Tante) pun pulang, dan tinggal pembantuku seorang dirilah yang malam itu menjaga Eyang Uti di kamar.
2 April 2015. Kamis pagi. Mama bangun tengah malam dan membaca surat yasin di rumah. Setelah itu pembantuku menelpon, katanya Eyang Uti muntah-muntah dan memegang tangan pembantuku. Aku, mama, dan papa pun segera melaju ke rumah sakit. Saat berada di dalam mobil menuju rumah sakit, aku berdoa, “Jika memang Eyang Uti masih diizinkan untuk hidup, maka sembuhkanlah beliau. Namun jika tidak, dan jika kematian adalah yang terbaik untuknya, maka kami ikhlaskan Eyang Uti. Al fatihah untuk Eyang Uti…” mataku pun berkaca-kaca di mobil.
Kami pun bergegas menuju lantai 11. Sesampainya di kamar, kulihat dokter dan suster-suster pun mengelilingi tempat tidur Eyang dan membantunya agar bisa bernafas lagi. Namun tiba-tiba, “Jantungnya sudah tidak berdetak lagi,” ujar dokter muda berambut panjang itu. Aku pun tidak percaya. Segera ku berlari melihat eyang uti yang telah diberi selang dan alat-alat seperti yang pernah kulihat di televisi. Benar, garis panjang menerus, terus bergerak di layar hitam. Ada angka yang naik turun, kadang 6, kadang 20an, kadang 40an, katanya sih angka oksigen. Aku tidak tahu. Yang jelas kugenggam tangan Eyang yang sudah tak bernafas lagi itu. Namun tetap kubisikkan, “Allah…Allah” di telinganya. Nihil. Eyang tidak bereaksi. Tangis pun pecah seruangan. Padahal, aku berjanji akan membawakan buku hari itu. Aku belum bisa memenuhi janjiku kemarin malam. Pagi itu, aku melihat Mama salat Subuh di depan jasad Eyang Uti. 
Aku dan Mama naik mobil ambulans rumah sakit untuk membawa jenazah Eyang ke rumahku. Di perjalanan keluar dari rumah sakit, tiba-tiba langit mendung dan hujan gerimis, seakan turut bersedih atas kepergian Eyang. Namun tak berapa lama setelah itu, langit kembali cerah. Jenazah Eyang telah sampai di rumah. Para ibu-ibu tetangga segera meronce bunga-bunga, mempersiapkan tempat untuk memandikan jenazah Eyang, dan lain-lain. Saat itu, sempat kuabadikan wajah Eyang. Berbeda dengan yang tadi di rumah sakit. Wajah Eyang kali ini bersih dan cerah. Beliau seperti tersenyum. Tenang dan damai melihat wajahnya. Setelah disucikan, didoakan, dan disalatkan, jenazah Eyang kami berangkatkan ke pemakaman Hastana Klegen, Klaten. Aku, Om, dan Tanteku duduk di ambulans. Kami pun sampai di Klaten sekitar jam 7 malam. Walaupun di perjalanan sempat hujan dan setelahnya juga hujan, namun saat proses penguburan Eyang, tidak hujan sehingga acara berjalan dengan lancar. Alhamdulillah. Eyang pun dikuburkan di sebelah makam Eyang Kakungku, di kavling yang telah dipersiapkan sejak lama. Di bawah pohon yang rindang di pemakaman itu. Kini mereka telah bertemu lagi :’)
Hari itu merupakan kali pertamaku mengikuti prosedur pengurusan jenazah, mulai dari dibersihkan oleh pihak rumah sakit, dibawa di ambulans, dimandikan, dishalatkan, hingga dikebumikan. Namun sayang hari itu aku tidak bisa ikut menyalati eyang uti. Aku baru tersadar, mungkin janjiku membawa dan membacakan buku ternyata adalah buku Yasin. Dan akhirnya benar, buku Yasinlah yang kubacakan di depan jasad Eyang Utiku di rumah. Dari mobil ambulans, sore itu aku melihat pelangi yang cantik dan besar sekali di sekitar Ngawi. Semoga kepergianmu menjadi kaca bagi kami yang masih hidup di dunia ini, untuk bersegera mempersiapkan kematian yang pasti akan datang menghampiri.
Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Hujan pagi ini mengiringi kepergianmu menghadap Allah, Eyang Uti. Terima kasih karena beberapa tahun ini selalu menemani. Maafkan pula bila cucumu belum bisa membahagiakanmu. Buku yang janji akan kubawakan dan kubacakan hari ini hanya tinggal janji. Eyang Sri Darni Pudyowibowo dimakamkan di Hastana Klegen, Klaten, 2 April 2014.Innalillahi wa inna ilaihi raajiun. Hujan pagi ini mengiringi kepergianmu menghadap Allah, Eyang Uti. Terima kasih karena beberapa tahun ini selalu menemani. Maafkan pula bila cucumu belum bisa membahagiakanmu. Buku yang janji akan kubawakan dan kubacakan hari ini hanya tinggal janji. Eyang Sri Darni Pudyowibowo dimakamkan di Hastana Klegen, Klaten, 2 April 2014.
Tahlilan untuk Eyang UtiTahlilan untuk Eyang Uti
Wisuda September 2014Wisuda September 2014
Eyang uti yang setahun belakangan salat Maghrib berjamaah bersama keluargaku…
Eyang uti yang masih bersemangat membaca buku dan mengikuti perkembangan berita dan acara di televisi…
Eyang uti yang selalu perhatian terhadap aktivitasku dan keluarga…
Eyang uti yang sudah beberapa tahun belakangan, sejak aku SMA menemani di rumahku, hingga aku tugas akhir dan lulus menjadi sarjana…
Eyang uti, ibu yang hebat, nenek yang hebat… yang melahirkan 5 orang anak dan 12 orang cucu.
Aku akan ingat pesanmu Eyang, untuk tidak menyusahkan kedua orangtua. Eyang, semoga aku bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku kelak. Semoga aku bisa mencontoh kekuatan hati dan fisikmu selama menjadi ibu dan nenek. Semoga aku bisa menjadi anak yang solehah agar doa-doaku sampai kepadamu dan kepada kedua orangtuaku… Semoga engkau tenang di sana. Sampai berjumpa lagi di SurgaNya kelak, Eyang, InsyaAllah…
Tempat tidur eyang di kamar Mama kini tidak ada lagi yang menghuni. Klintingan eyang untuk memanggil pun sudah tidak akan pernah berbunyi lagi. 
Semua yang hidup akan merasakan mati.
Anak, menantu, dan cucu Eyang @ Lebaran 2014.
Anak, menantu, dan cucu Eyang @ Lebaran 2014.

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: