Visi Misi Pernikahanku oleh Riestantya Reissa Fanny

Visi Misi Pernikahanku

Tulisan ini dipublish untuk mengikuti giveaway buku rabbit hole dan kata ayah => http://adiarersti.com/gratis-buku-rabbit-hole-dan-kata-ayah-buat-kamu-giveawayfrombabyk/

Dibuat pertengahan 2016 ketika usia menginjak 23 tahun artinya sudah 2 tahun melewati batas minimal bagi perempuan boleh menikah dari Kementerian Agama di negeri ini

“mana pacarmu mbak?kenalin”

“sudah punya calon?”

Baik, ini saat yang tepat untuk mengambil langkah. Taaruf menjadi pilihan saya sejak tahun 2012 dan semenjak itu saya selalu berdoa jangan dekatkan saya dengan laki- laki ketika saya belum siap.

Kembali menegakkan punggung menatap layar menulis tiap kata bermakna dalam proposal taaruf yang insyaAllah menjembatani saya bertemu dengan jodoh.

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Visi pernikahan

Menjadikan keluarga sakinah mawadah wa rohmah yang nantinya sebagai ladang pendidikan yang utama baik agama maupun ilmu dunia

Sakinah, dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memberikan kasih sayang kepada anggota keluarganya sehingga memiliki rasa aman, bahagua senantiasa mengusahakan kesejahteraan dunia akhirat. Kelak akan berkumpul bersama di surga, seperti firman Allah SWT dalam QS At-Thuur 21.

Mawadah, kasih sayang yang lahir dari interaksi fisik

Rahmah, kasih sayang yang lahir dari interaksi batin

Misi pernikahan

  1. Terbuka dan jujur dalam segala urusan
  2. Selalu musyawarah dalam memutuskan sesuatu
  3. Saling menjaga kehormatan keluarga
  4. Menjaga komunikasi dengan baik
  5. Tanpa henti belajar agama bersama dan berusaha dakwah dalam hal apapun
  6. Belajar untuk berwirausaha

Ada kalanya kita tidak bisa menjelaskan sesuatu dengan verbal, tulisan jadi pilihan. Kelak ketika saya menikah, bisa jadi saya merasa lelah atau bosan. Semoga tulisan ini menjadi salah satu pengingat.

Untuk kriteria pasangan, saya membagi menjadi dua hal:

Fisik

Tinggi melebihi saya dan memiliki IMT ideal (bagi orang kesehatan seperti saya, IMT menjadi salah satu indikator apakah sehat/ tidak)

Non Fisik

Pendidikan min S1 profesi/ S2, bidang yang digeluti  kesehatan/ pangan/ teknik

Sudah memiliki pekerjaan tetap dan tabungan untuk menikah

Setia dengan saya dan keluarga

Bersedia menerima kekurangan saya dan keluarga serta membimbing saya ke jalan yang Allah ridloi

Tidak merokok

Kelak bersedia untuk berbagi tugas dalam mengurus rumah

Bersedia menyisihkan rezeki untuk beramal.

Kelahiran tahun 1990- 1992. Suku jawa, asal kelahiran dan domisili Jawa Timur/ Jawa Tengah/ DIY (kriteria dari orangtua).

Februari 2017 Allah menakdirkan bertemu dengan seseorang melalui tukar proposal. Semoga kita bisa saling kuat menguatkan iman hingga mitsaqon gholizho nanti InsyaAllah 2017.

Namun anehnya, kamu datang ketika aku mulai ikhlas, tidak menggebu gebu mencari. Aku yang tidak mengenal dirimu diharuskan bertemu denganmu dengan cara yang tidak diduga. Betapa semua ini karenaMu. Oh ya pertama kali bertemu, rasanya biasa saja, tenang.

.

.

.

Sebagai pembaca blog http://adiarersti.com dan http://kennikoop.com saya tertarik pada setiap tulisan yang dibuat pasutri ini, diantaranya:

1) http://kennikoop.com/2017/05/26/makanan-halal-dan-toyib/

Mengonsumsi makanan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia.  Membaca tulisan dari mas yang singkat dan tepat sasaran ini, menyadari bahwa untuk memenuhi kebutuhan dasarpun kita wajib memenuhi rambu dariNya. Halal dan toyib, dua kata sederhana namun bermakna dalam. Sebagai calon istri dan ibu ini perlu diperhatikan

2) http://adiarersti.com/resep-mendoan-mrewul-purwokerto-yang-maknyus/

Pertama kali makan mendoan kala kuliah di Jogja, tepung tebal dibalutkan di tempe tipis. Kurang mengenyangkan bila mengincip satu saja. Sebagai seorang visual, membaca tulisan mbak membuat saya membayangkan mendoan itu ada di depan mata, siap untuk saya santap sebagai takjil buka puasa nanti. Aromanya sudah terbayang membuat saya teringat masa perjuangan di kota rantau dua tahun lalu. Rupanya mendoan asli Purwokerto. Semoga saja saya bisa kesana suatu saat nanti, ngapakers hehe.

3) Tulisan mbak yang paling menarik topik mengenai pernikahan, parenting, keluarga. Yang paling “menohok” bagi saya yang sedang dalam proses, adalah tulisan yang saya kutip dibawah tulisan saya,

menjadi ibu yang berprofesi di rumah menjadi impian saya sejak sma, rasanya nyaman bekerja di rumah tak lupa mengurus rumah tangga, bermain belajar bersama anak dan harapan saya kelak bisa membentuk usaha di rumah sehingga suamipun berprofesi di rumah. untuk meraih impian ini saya ambil sekolah di bidang kesehatan dan saya menulis kriteria non fisik dari suami yaitu mendalami bidang kesehatan/pangan/teknik yang diharapkan kelak bisa membuat usaha di rumah kami.

 “memangnya kenapa kalau aku jadi ibu rumah tangga http://adiarersti.com/memangnya-kenapa-kalau-aku-cuma-ibu-rumah-tangga/”

Inilah senandung kalbuku.

Maukah kau mendengarnya?

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena terpaksa.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena malas melanjutkan studi yang sudah pernah kutempuh di strata dua, di negeri nan jauh di sana.

Aku menjadi ibu rumah tangga, karena sadar penuh akan amanah yang diberikan-Nya.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan karena dia, bukan karena siapa-siapa.

Aku menjadi ibu rumah tangga, bukan untuk anakku, bukan untuk suamiku juga.

Aku menjadi ibu rumah tangga, karena aku tahu, kunci surga salah satunya ada di sana.

Hanya karena-Nya dan untuk-Nya.

Aku tahu pasti akan konsekuensinya.

Aku tahu pasti akan perkataan orang.

Aku tahu pasti akan apa yang aku pertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Aku tidak melanjutkan pendidikanku bukan karena aku tak mampu, tapi saat ini memang aku memilih untuk tak mau.

Universitas kehidupanlah tempatku sekarang menuntut ilmu.

Aku tak mau mengorbankan amanah-Nya untuk keegoisanku mengejar impian duniawi semata.

Aku tak mau menggadaikan kesenangan pribadi, mengejar karier setinggi mungkin, mengejar harta benda yang menggoda, mengorbankan tugas utamaku sebagai istri dan ibu.

Satu hal yang perlu kau tahu, aku ingin menjadi ibu karena sadar, bukan karena tiba-tiba, bukan karena tak sengaja, bukan karena coba-coba.

Jadi, memangnya kenapa kalau aku nantinya jadi ibu rumah tangga?

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: