Wanita dan Masakannya

Sesungguhnya semua anak perempuan itu pada akhirnya akan bisa memasak. Bisa. Bukan pintar. Tinggal tunggu saja waktu yang tepat. – Adiar Ersti Mardisiwi, 2015
#dapurngawur

Menikah, pergi jauh dari orang tua, dan belum bisa memasak adalah tiga hal yang sedang saya jalani bersama.

Mungkin benar bahwa setiap wanita tidak harus bisa memasak. Bagi calon-calon suami yang sedang mencari calon-calon istri, kebanyakan memiliki kriteria ‘harus bisa masak’. Tapi ada juga yang kriterianya ‘tidak harus bisa masak’ atau ‘mau belajar’ –> wah yang ini harus dilestarikan 😀

Tapi akhir-akhir ini saya jadi belajar banyak tentang memasak. Bukan tentang pengetahuan bagaimana cara memotong bawang dengan cepat, merebus ayam sebaiknya berapa lama, dan lain-lain. Lebih dari itu. Melainkan tentang hal dibalik memasak itu sendiri. Maksud saya, ada hikmah yang saya dapatkan dibalik memasak.

Jika seorang wanita bisa memasak, lalu dia menikah, maka bersiaplah mendapatkan senyuman termanis sepanjang hari karena masakanmu telah habis dimakan tanpa bersisa oleh suamimu dan anak-anakmu. Setiap kamu lihat sepulang sekolah kotak bekalnya habis dan terdengar dari bibirnya, “Masakan mama enak, deh!” pasti benih cinta makin tumbuh subur di antara kalian. Memasak pun jadi terasa indah karena dilakukan untuk ibadah, yaitu menyenangkan anak-anak dan suami.

Namun jangan bersedih wahai wanita-wanita yang belum bisa memasak. Saat ini bersyukurlah telah tersedia situs-situs dan blog-blog resep masakan yang tersedia di seluruh jagad maya (terpujilah wahai situs ’cookpad.com’). Kamu tak perlu susah-susah ke Gramedia untuk membeli buku resep yang harganya menguras hati dan dompet. Cukup ketikkan apa yang ingin kamu masak, enter, dan…. tadaaa! Resep dari berbagai belahan dunia bisa kamu tiru!

Masak saja. Masak terus. Masak sampai kamu bosan! Cemplungkan saja bumbu-bumbu yang tertulis di resepnya. Ikuti saja cara membuatnya. Tak apa terkadang masakanmu terasa kurang manis, kurang asin, gosong, kurang matang, mbegar/melebar semua kulitnya (kalau masak masakan berkulit), sampai bentuknya tidak sedap dipandang tapi rasanya oke. Percayalah…. masak bukan main sulap 🙂Jadi, terima saja. Seminggu dua minggu mungkin rasa dan bentuknya masih hancur. Tapi kalau keterusan…. ya tetap semangatlah belajar!

Experience is the best teacher. Mungkin benar kutipan yang selalu muncul di buku bermerk Sinar Dunia, yang kita punyai saat duduk di bangku sekolah dulu. Pengalaman memasak berupa sejuta kegagalan alias ketidaklezatan ialah hal yang lumrah dan akan menjadi guru terbaik kita. Percaya, deh.

Tidak ada wanita yang ‘tidak’ bisa masak. Semua orang sejatinya bisa masak kok. Yang ada hanyalah wanita atau orang yang ‘belum’ bisa masak.

Kan cuma masak doang… Nyontoh resep juga bisa. Cemplang-cemplung bumbu (apalagi kalau bumbu instan) juga pasti enak. Oiii, ternyata tidak segampang itu, kawan. Memasak butuh hati, cinta, energi positif, serta separuh seni, agar rasa dan tampilannya enak. Agar enak di mata, hidung, mulut, dan perut penikmatnya.

Indikator masakan enak –biasanya– ialah yang selezat masakan rumah. Yang membuatmu jika memakannya menerbangkan ingatanmu ke rumah nun jauh di sana. Masakan rumah, biasanya pun masakan mama 🙂 Iya kan?

Setelah tinggal jauh dari orang tua, dan terpaksa harus bisa masak (karena kalau beli di luar harganya bikin wajah cemberut dan dompet meringis), saya jadi sadar bahwa memasak adalah hal yang penting. Penting banget. Apalagi kalau mudah lapar…

Masakan yang saya dan suami buat bersama pun seringnya gagal. Tapi tentu saja tetap kita makan. Sesekali pernah berhasil, dan rasanya sudah mirip masakan mama di rumah. Wow, senangnya! (Kadang sampai terharu sendiri). Rasanya ingin menyuapkan masakan itu ke Mama dan bilang, “Ma, ini lho aku sudah bisa masak seperti yang mama ajarkan/yang mama bikinkan dulu.” :“) Ah Mama…

Jadi… wahai wanita, jauh hari sebelum menikah, sebaiknya belajar masaklah selagi bisa. Kalau tidak mau, tidak apa-apa sih. Semoga suaminya kaya sehingga bisa makan di luar terus (tapi perhatikan juga gizinya, ya). Semoga suaminya bisa masak sehingga bisa diajari sama suaminya. Semoga suaminya mau menerima kita yang baru belajar masak setelah menikah dengannya. Aamiin aamiin… 😀

Marilah menuntut ilmu memasak selagi bisa. Jangan menyerah dan teruslah akrabkan diri dengan dunia perdapuran.
Semangat!

masakanku di mesir 2

masakanku di mesir 4

masakanku di mesir 5

masakanku di mesir 3

Kalau kamu ingin baca tulisan-tulisan saya yang lainnya, bisa baca daftar tulisan saya di: Daftar Isi

Download E-book gratis di: twinpath.kindipress.com/downloads

Dapatkan update info terbaru tentang ide-ide dari saya dan suami di medium.com/ersti-ken

Tinggalkan Pesan

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: